Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Wanita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

-Betapa Mudahnya Perempuan Tertipu-

Berdasarkan dari betapa mudahnya wanita diperdaya oleh lelaki/cowok. Bahkan dengan sangat angkuhnya wanita sering berpendapat bahwa dirinya tidak akan mudah termakan rayuan gombal lelaki. Itu benar, karena dimasa sekarang ini tidak ada lelaki yang bibirnya bisa mengucapkan rayuan gombal seperti film-film Indonesia tempoe doeloe. Tetapi dengan pendidikan dan teknologi yang berkembang, metode kami berubah (red:cowok).Kami bisa memanfaatkan semua SDM dan SDA yang ada di sekitar kami untuk menunjang tegaknya diagnosa “SERIUS” dihadapan target (wanita). Apakah property ''nebeng''? Oh tidak! Bahkan hanya dengan kesederhanaan, malah jadi pamungkas yang cukup jitu untuk meluluhkan hati wanita incaran kami. Karena dengan kesederhanaan dan property seadanya, akan mendatangkan kesan ketulusan dan bersahaja. Yang kemudian menimbulkan cinta sepenuh hati, berakibat kepasrahan. Ini fokusnya, kepasrahan yang artinya diriku sepenuhnya kuserahkan padamu, termasuk my virgin (klo masih).Wahai wanita, tidak semua diantara kami kaum lelaki mengincar hartamu, yang merupakan incaran kami sebenarnya adalah SEX, sejauh mana dirimu memberikan rasa penasaran kepada kami, selama itu pula kami sanggup bersandiwara dengan sekuat tenaga kami. Mengapa kami sebut sandiwara? Karena kami menyimpulkan bahwa yang telah beristeri saja masih banyak yang selingkuh (meski tidak semuanya).Pernikahan yang kejelasan statusnya dilindungi oleh hukum agama dan UU Negara, masih sering kami injak-injak.Apalagi status pacaran? Yang sama sekali tidak dikuatkan oleh peraturan manapun. Artinya seorang cowok bisa saja berpacaran dengan seribu cewek dalam waktu bersamaan atau sebaliknya. Maka jadilah pemuda-pemudi bangsa ini sebagai pakar zina, dari yang kecil sampai yang besar.Tapi masalah jadi bangsa apa bukan urusan kami, selagi kami masih bisa menikmati kenikmatan dunia lewat tubuh wanita secara FREE, maka paradigma ''Pacaran sebagai proses penjajakan'' akan selalu kami sebarkan dengan cara apapun.

Sex dengan pacar sendiri sangat berbeda rasanya dengan sex dengan pelacur manapun dengan harga pakai berapapun. Sebab wanita yang selalu jadi target kami tentunya bersih, sehat, bebas penyakit menular seks (PMS), terawat dan terdidik. Soal kaya atau miskin si target itu bisa disesuaikan. Maksudnya apabila kami telah sukses memperdaya hati target, maka keadaan keuangan akan sangat mudah dikendalikan berdasarkan scenario ''rasa pengertian'' yang kami ciptakan di hati target. Pulsa yang kami keluarkan untuk menjalin kedekatan tidak sebanding dengan kenikmatan yang menanti kami.Target berjilbab? Bisa sukses bisa juga tidak.Usaha kami dalam berburu ''kenikmatan'' terhadap target berjilbab memerlukan beberapa trik tambahan. Tetap bersikap sederhana, apa adanya, bersahaja, pengakuan terhadap kekurangan diri, bersikap humoris dan sedikit bumbu religi yang didapat dari ceramah ustadz-ustadz di televisi bisa jadi referensi tambahan.Usaha kami sukses terhadap target yang berjilbab yang juga masih berpakaian ketat, sehingga jilbab kadang-kadang hanya menutupi rambutnya dan tidak menutupi ukuran ''hardware'' indahnya. Kulit target yang halus mulus karena sering tertutup dari polusi udara dan matahari memberikan sensasi yang tidak sama dengan target tidak berjilbab pada umumnya.

Luar biasa!!!

Usaha kami gagal apabila target berjilbab tapi juga berpakaian yang lebar, sehingga tidak tampak keindahannya lewat mata secara fisik, tapi kami sangat yakin dibalik pakaian yang lebar itu tersimpan lebih banyak keindahan. Kami kurang pasti penyebab kegagalan usaha kami terhadap target tersebut, bisa jadi keteguhan target dalam memegang keyakinan bahwa keindahan yang mereka miliki merupakan ''harta berharga'' yang hanya akan disuguhkan kepada suami mereka nantinya. Kenyataan yang menggembirakan adalah target ''kokoh'' semacam ini berjumlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan total target ''empuk'' yang banyak tersedia di sekitar kami.Pada umumnya target menginginkan ''keseriusan''. Ketidaktahuan mereka terhadap makna kata serius ini yang sering kami manfaatkan sebagai peluluh hati mereka. Trik yang kami gunakan bermacam-macam, mulai dari kirim sms yang bertuliskan ''Aku serius lho sama kamu'', telepon diatas jam 23.00 (tarif murah) untuk bicara panjang lebar dengan topik yang dipilih secara random. Ini trik yang paling sederhana dan cukup jitu untuk target yang masih lugu atau pura-pura lugu soal keseriusan hubungan. Maksudnya walau target sudah mengerti tentang trik yang kami jalankan dalam meraih target, tapi seiring waktu dan semangat kami yang tidak berputus asa dalam menjalankan skenario, cepat lambat target yang dulunya pura-pura lugu akan luluh akhirnya melihat semangat tulus palsu kami. Jika tujuan utama kami yaitu tubuh indah target belum didapatkan, maka bukti keseriusan palsu kami dapat dikuatkan dengan memboyong mereka ke orang tua kami atau sebaliknya, kami bersedia diboyong ke orang tua target. Sampai disini saja keberanian kami untuk bermain dengan kata serius, untungnya karena 99% target telah takluk pada level trik ini.

Kenyataan yang juga menggembirakan kami adalah apabila ternyata orang tua kami atau oramg tua target juga memiliki paradigma ''Pacaran adalah proses penjajakan'' atau ''Pacaran adalah proses yang harus dilalui oleh remaja normal''.

Luar biasa!!!

Target yang telah beranggapan bahwa ''inilah jodohku'', dengan paradigma ini kami telah mendapatkan kepercayaan penuh dari segala pihak untuk memperlakukan target semau kami. Termasuk menikmati kenyamanan sensasi seks penuh gratisan yang kami tunggu-tunggu selama perjuangan. Tidak perlu buru-buru, karena kami sangat dan sangat memperhatikan situasi, kondisi dan domisili.
Soal dikemudian hari kami bosan dengan target yang sudah habis manisnya karena kami hisap atau muncul target baru yang lebih segar, maka skenario pelepasan diri dapat dijalankan dengan berbagai alasan. Sangat mudah melakukannya mengingat semua manusia memiliki kekurangan, kekurangan inilah yang harus diangkat ke permukaan dan menjadi pokok bahasan yang berlanjut dengan putusnya hubungan. Alasan ketidak cocokan bisa menjadi penangkal pertanyaan orang tua masing-masing pihak.Putus. Juga merupakan jalan baru bagi kami untuk memulai skenario pengejaran target baru. Tampang berduka, bahkan tampang tegar paska putus pun bisa menjadi pesona di hadapan target baru ini. Tentunya kami tidak meninggalkan trik-trik peluluhan hati yang kami terapkan terhadap target-terget sebelumnya seperti sederhana, tampil apa adanya, bersahaja, sedikit ditambah bumbu humoris karena target pada umumnya ingin dekat dengan orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum dalam setiap keadaan. Target selalu ingin merasakan aman, nyaman, disayang, diperhatikan (beberapa). Maka sedaya upaya kami akan ciptakan suasana tersebut hanya didekat kami. Persepsi bahwa di dekat kami maka target merasa aman, nyaman, tenang, tersenyum, dan damai merupakan paradigma yang harus kami ciptakan di dalam kepala target.Untuk kesekian kalinya kami selalu sukses dalam pencapaian tujuan kami, menjadikan kami sangat berpengalaman dan cerdas dalam program ini, dengan atau tanpa hambatan sama sekali. Sungguh indah dunia ini, dipenuhi dengan target-target berpendidikan tapi bodoh yang menunggu giliran untuk kami habisi.

''Ahh, saya kan gak pernah serius klo pacaran, ngapain takut!''

Jika terget berfikiran seperti kata-kata di atas, maka pemikiran seperti ini juga merupakan peluang besar bagi kami untuk memulai skenario peluluhan hati. Yang kami utamakan lebih dahulu adalah mengadakan ikatan super tidak jelas bernama Pacaran, soal cinta atau tidak, itu cuma masalah waktu. Trik-trik yang kami lancarkan akan mengubah keadaan hati target seiring waktu yang dilalui bersama-sama dan komitmen semu tentang pacaran yang kami atau orang lain ciptakan.

''Ahh, tidak semua cowok seperti itu, cowokku ga gitu and ga mungkin begitu!''.

Kata-kata sejenis ini merupakan tolak ukur keberhasilan skenario BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya) yang nantinya menjadi peluang besar untuk mendapatkan tubuh target di kemudian hari. Karena salah satu yang kami ingin bentuk adalah pendapat target bahwa kami adalah cowok yang berbeda dengan cowok pada umumnya.
Jika Anda wanita berpenampilan menarik atau tidak, bertubuh indah baik tertutup atau tidak, mencari keseriusan hubungan, mencari cinta dari sesama manusia tanpa pemahaman yang jelas…
Maka Anda target kami berikutnya!!!

Wahai wanita, ketahuilah bahwa seorang laki-laki yang benar-benar serius terhadapmu akan datang kepada orang tuamu dengan berkata ''Pak, saya ingin menikahi putri Bapak, sekarang saya punya penghasilan Rp…../bulan, dst'',

sedangkan laki-laki yang benar-benar serius ingin menghabisimu akan datang langsung kepadamu dengan berkata ''Maukah kamu jadi pacarku?''

Puncak kehinaan wanita ketika ia menerima tembakan seorang lelaki untuk jadi kekasihnya.

Puncak kemuliaan wanita ketika orang tua/walinya mempertimbangkan lamaran seorang lelaki untuk jadi isterinya.

Hancurkan harga diri wanita dengan pacaran, muliakan diri dengan . . . . . . . . .?????????


Sumber : NN

diunduh dari http://www.wahdah-kendari.co.nr/

Anak, perhiasan sekaligus ujian


Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia “(QS. Al-Kahfi:46)
Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.
Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).
Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:
إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬‌ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun:15)
Jangan kita terpedaya!
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat
Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:

(وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤
(وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (٣٥
(قُلۡ إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٦
وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ
(لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (٣٧


Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:”Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Dan mereka berkata:”Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab”.

Katakanlah:”Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). (QS. Saba’: 34-37)
Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya…
Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.


Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.


Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:
“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))


Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.

Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu.

Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.


Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.

Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,

dan anak-anak yang selalu bersama dia,
dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,

kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.

Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur’an).

Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (QS. Al-Muddatstsir: 11-17)
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran.
Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.
Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.

(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. Al-Muddatstsir: 26-29)

Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini?
Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala. Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.


Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda:
“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Walloohu a’lam bish showab.


*Ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari buku “Mencetak Generasi Robbani, Pustaka Darul Ilmi untuk jilbab.or.id*

Wanita Yang Dimurkai Allah


PERKARA YG AMAT DIBENCI ALLAH PADA SEORANG WANITA

Kepada wanita yang tidak menutup aurat Allah berfirman, Hiduplah dengan
apa yang kau suka. Allah melaknati wanita yang sengaja mendedahkan auratnya kepada lelaki yang bukan muhrim.


Perempuan yg memakai kain yang tipis + jarang, untuk menarik perhatian
lelaki bukan muhrim atau memakai segala yg mendatangkan keghairahan kepada
orang lain maka dia tidak akan mencium bau syurga.

Wanita yg jahat lebih buruk dari 1000 org lelaki yg jahat.


WANITA YG DIMURKAI OLEH ALLAH

Sebagaimana Allah suka dgn wanita yg yg solehah, Allah juga sgt murka kpd
beberapa jenis wanita. Oleh itu sgt perlu bagi kita mengetahui perkara yg
dapat menyebabkan kebencianNya supaya kita terhindar dari kemurkaanNya.
Kemurkaan Allah pada hari kiamat sgt dahsyat sehingga nabi2 pun sgt takut.
Bahkan Nabi Ibrahim pun lupa bahawa dia mempunyai anak yg bernama Nabi
Ismail krn ketakutan yg amat sangat. Abu Zar r.a meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w
bersabda:

Seorang wanita yg berkata kpd suaminya, semoga engkau mendapat kutukan Allah, maka dia dikutuk oleh Allah dr atas langit yg ke7, mengutuk pula segala sesuatu yg dicipta oleh Allah kecuali 2 jenis makhluk yaitu manusia & jin.

Ab.Rahman bin Auf meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w bersabda:

Seorang yg membuat susah kpd suaminya dlm hal belanja atau membebani sesuatu yg suaminya tidak mampu maka Allah tidak akan menerima amalannya yg wajib & sunnatnya.

Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w bersabda:

Kalau seandainya apa yg ada dibumi ini merupakan emas & perak serta dibawa
oleh seorang wanita kerumah suaminya. Kemudian pada suatu hari dia terlontar
kata2 angkuh, engkau ini siapa? Semua harta ini milikku, engkau tidak punya harta apapun, maka hapuslah semua amal kebaikannya walaupun banyak.

Nabi s.a.w adalah seorang yg sangat kasih pada ummatnya, terlalu menginginkan keselamatan bagi kita dr azab Allah. Beliau menghadapi segala rupa penderitaan, kesakitan ,keletihan & tekanan. Begitu juga air mata & darah baginda telah mengalir semata-mata krn kasih-sayangnya terhadap kita.

Maka lebih-lebih lagi kita sendirilah yg wajar berusaha utk menyelamatkan diri kita, keluarga kita & seluruh ummat baginda. Sebagai penutup ikutilah kisah seterusnya ini sebagai iktibar bagi kita.

Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut:

Saya bersama Fatimah berkunjung kerumah Rasulullah & kami temui beliau
sedang menangis. Kami bertanya kpd beliau, mengapa tuan menangis wahai
Rasulullah? Beliau menjawab, pada malam aku di Isra�kan kelangit, daku melihat org sedang mengalami berbagai penyeksaan...maka bila teringatkan mereka aku menangis.

Saya bertanya lagi, wahai Rasulullah apakah yg tuan lihat? Beliau bersabda: Wanita yg digantung dgn rambutnya & otak kepalanya mendidih. Wanita yg digantung dgn lidahnya serta tangannya dipaut dr punggungnya sedangkan aspal yg mendidih dari neraka dituangkan ke kerongkongnya. Wanita yg digantung dgn buahdadanya dari balik punggungnya sedangkan air getah kayu zakum dituang ke kerongkongnya. Wanita yg digantung, diikat kedua kaki & tgnnya ke arah ubun2 kepalanya serta dibelit dibawah kekuasaan ular & kala jengking. Wanita yg memakan badannya sendiri serta dibawahnya tampak api yg menyala-nyala dgn hebatnya. Wanita yg memotong badannya sendiri dgn gunting dr neraka. Wanita yg bermuka
hitam & memakan ususnya sendiri. Wanita yg tuli, buta & bisu dlm petineraka sedang darahnya mengalir dari rongga badannya(hidung,telinga,mulut) & badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra. Wanita yg berkepala spt kepala babi & keledai yg mendapat berjuta jenis siksaan.

Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, Wahai ayahku, cahaya mata kesayanganku... ceritakanlah kpd ku apakah amal perbuatan wanita2 itu.


Rasulullah s.a.w bersabda, Wahai Fatimah, adapun tentang : Wanita yg digantung dgn rambutnya krn dia tidak menjaga rambutnya (dijilbab) dikalangan lelaki.
Wanita yg digantung dgn lidahnya krn dia menyakiti hati suaminya dgn
kata-katanya. Kemudian Nabi s.a.w bersabda: Tidak seorang wanita yg menyakiti hati suaminya melalui kata-katanya kecuali Allah akan membuatnya mulutnya kelak dihari kiamat, selebar 70 zira� kemudian akan mengikatnya dibelakang lehernya.

Adapun wanita yg digantung dgn buah dadanya krn dia menyusui anak org lain
tanpa izin suaminya. Adapun wanita yg diikat dgn kaki & tangannya itu krn dia keluar rumah
tanpa izin suaminya, tidak mandi wajib dr haidh & nifas. Adapun wanita yg memakan badannya sendiri krn suka bersolek utk dilihat lelaki lain serta suka membicarakan keaiban org.
Adapun wanita yg memotong badannya sendiri dgn gunting dari neraka kerana
dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan org yg banyak dgn maksud supaya org melihat perhiasannya dan setiap org jatuh cinta padanya krn melihat perhisannya.
Adapun wanita yg diikat kedua kaki & tangannya sampai ke ubun2nya & dibelit oleh ular & kala jengking krn dia mampu mengerjakan solat & puasa, tetapi dia tidak mahu berwudhuk & tidak solat serta tidak mahu mandi wajib.

Adapun wanita yg kepalanya spt kepala babi & badannya spt keledai krn dia
suka mengadu-domba(melaga-lagakan org) serta berdusta. Adapun wanita yg berbentuk spt anjing krn dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.

Dan ada diantara isteri nabi2 yg mati dlm keadaan tidak beriman kerana mempunyai sifat yang buruk. Walaupun mereka adalah isteri manusia yang terbaik dizaman itu. Diantara sifat buruk mereka: Isteri Nabi Nuh suka mengejek & mengutuk suaminya. Isteri nabi Lut suka bertandang ke rumah org.

Semoga Allah beri kita kekuatan untuk mengamalkan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Kalau kita tidak berasa takut atau merasa perlu berubah... maka kita kena khuatir . Takut kita tergolong dlm mrk yg tidak diberi petunjuk oleh Allah. Nauzubillahi min zalik.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke
dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera putera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera suadara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan terhadap wanita,
atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah
mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(QS: 24:31)

Fungsi wanita bukan sekadar seorang isteri-ibu

WANITA kerap dikaitkan dengan pelbagai peranan penting dalam menjamin keharmonian rumah tangga, masyarakat dan negara. Namun, hakikatnya, sama ada kita sadar atau tidak, peranan yang dikhususkan kepada wanita itu diselewengkan sehingga menimbulkan berbagai kesan buruk.Ini terbukti dengan bertambahnya jumlah wanita yang rusak akhlak, banyaknya kasus perceraian, serta berleluasanya perbuatan kriminal yang dilakukan oleh anak muda akibat daripada salah asuhan atau pengaruh lingkungan. Fenomena ini sewajarnya dipandang serius karena keutuhan masyarakat pada masa akan datang banyak bergantung kepada sejauh mana wanita menangani permasalahan ini secara bijaksana.
Peranan utama wanita
Firman Allah bermaksud: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Surah Adz-Dzaariyat, ayat 56).
Ayat di atas jelas menunjukkan bahawa peranan atau tanggungjawab utama wanita adalah sama dengan lelaki yaitu mengabdikan diri kepada Allah. Adalah menjadi kewajipan wanita Muslim untuk berusaha sebaik mungkin agar dapat menjadi seorang insan yang tunduk dan patuh kepada-Nya, semata-mata dengan melaksanakan segala perintah Allah dan rasul-Nya. Mereka juga hendaklah menjauhi segala perkara yang ditegah.
Kekuatan iman yang jitu adalah aset terpenting bagi seorang wanita agar menjadi benteng bagi mengharungi sebarang bentuk cabaran.
Wanita dan keluarga/rumah tangga
Peranan wanita dalam keluarga atau rumah tangga adalah amanah yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya, yang bermaksud:
“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah an-Nisaa’, ayat 58)
Dalam sesebuah rumah tangga, dua peranan utama yang sewajarnya dimainkan oleh seseorang wanita iaitu sebagai isteri dan ibu. Seorang isteri sentiasa mendampingi suaminya sama ada dalam keadaan susah atau senang. Ibu pula terbabit secara langsung dalam memberi pendidikan kepada anak-anak serta menjaga hal ehwal rumah tangga dengan bantuan suami.
Wanita dan pekerjaan
Islam membenarkan wanita keluar bekerja berdasarkan kepada keperluan seperti ketika ketiadaan suami, ketidakupayaan suami atau bekerja dalam jawatan yang memerlukan khidmat wanita seperti doktor, tenaga pengajar kepada kaum wanita serta bidang lain yang bersesuaian.
Bagaimanapun menurut Islam, keharusan wanita untuk keluar bekerja mestilah mengikut batas syarak iaitu:
Kerja itu mesti bersesuaian dengan sifat kewanitaan.
Kerja itu tidak menjejaskan peranannya sebagai isteri dan ibu
Bertujuan murni sama ada untuk membantu keluarga atau menyampaikan kesedaran Islam kepada wanita lain
Sentiasa memelihara kehendak syarak seperti menutup aurat.
Sentiasa menjaga tata susila dan terhindar daripada berlakunya pergaulan bebas dengan lelaki.
Mendapat restu daripada penjaga, bapa atau suami.
Mengelak daripada melakukan perkara yang boleh membawa fitnah sama ada dari segi tindakan, cara berpakaian atau mengenakan perhiasan.
Apa yang pasti dengan keluarnya wanita bekerja tidak akan mengubah atau mengabaikan tanggungjawabnya utama sebagai serikandi dan bidadari dalam rumah tangga.
Wanita dan tanggungjawab sosial
Apabila memperkatakan peranan dan sumbangan wanita dalam pembangunan masyarakat dan negara, sejarah membuktikan bahawa sejak zaman Rasulullah, wanita secara aktif memainkan peranan mengikut batas ditetapkan. Misalnya, wanita bersama-sama lelaki mempelajari ilmu dan petunjuk Islam. Ada di antara mereka meriwayatkan hadis, bahkan Saidatina Aishah menunjukkan ketokohannya sebagai seorang yang mencapai kedudukan ilmu tinggi, sehingga sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Osman bertanya kepadanya mengenai ilmu faraid.
Wanita juga berperanan sama dengan lelaki dalam usaha membendung keburukan yang berlaku dalam masyarakat kerana ini adalah tanggungjawab setiap Islam.
Firman Allah bermaksud: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah daripada yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Surah Ali Imran, ayat 110).
Kepincangan dan kebejatan, terutama di kalangan muda-mudi hari ini sewajarnya menarik perhatian wanita untuk sama-sama berganding bahu mencari penawar paling mujarab.
Tugas ini berat dan memerlukan kesabaran, ibarat menarik rambut dalam tepung, rambut tak putus dan tepung tidak berselerak.
Menangani peranan wanita secara bijaksana
Keadaan semasa secara tidak langsung memaksa wanita memainkan peranan seimbang di antara alam rumah tangga dan dunia masyarakat luar. Hal ini sebenarnya cabaran besar kepada wanita dan meletakkan wanita di persimpangan.
Persoalannya ialah sejauh mana seseorang wanita itu mampu melaksanakan semua tanggungjawab di atas serentak atau wajarkah mereka mengabaikan salah satu daripadanya? Jawapannya, pasti terletak di tangan wanita.
Sesungguhnya wanita sentiasa memerlukan bantuan dan sokongan daripada semua pihak agar dapat menjalankan tanggungjawab dengan lebih berkesan.
Perkara berikut adalah di antara panduan yang boleh digunakan oleh wanita untuk membantu mereka menjalankan tanggungjawab itu:
Sentiasa memantapkan keimanan kepada Allah dan meyakini akan pertolongan-Nya. Keimanan mendalam akan dapat melahirkan wanita yang yakin pada dirinya sendiri dan mampu meneroka segala potensi anugerah Allah.
Melengkapkan diri dengan tiga ciri utama
Ilmiah iaitu mengetahui sebanyak mungkin ilmu agama dan ilmu lain, termasuk hak sebagai wanita menurut perspektif Islam.
Siasah iaitu cuba memahami perkembangan politik tempatan dan antarabangsa untuk meluaskan fikiran dan pandangan sebagai seorang wanita yang peka kepada isu semasa.
Amaliyyah iaitu mengamalkan apa yang dipelajari dan difahami secara ilmiah.
Mendapatkan sokongan dan pengiktirafan dari orang yang paling hampir sama ada suami, ibu bapa atau keluarga. Sokongan dan kebersamaan mereka ini menjadi penggerak utama kepada tugas seorang wanita.
Mempelajari secara bersungguh-sungguh bagaimana untuk menguruskan masa dengan lebih sistematik.
Perlu ada perancangan kerja dan melaksanakan kerja mengikut susunan keutamaan.
Sentiasa menjalin hubungan yang baik dengan keluarga mentua seperti menjaga hubungan baik dengan keluarganya sendiri.
Sentiasa menilai perlakuan diri sendiri atau memuhasabah untuk mengukur sejauh mana baik buruknya sesuatu tindakan atau perkara yang dilakukan.
Sentiasa beristighfar dan memohon keampunan kepada Allah di atas kesilapan yang dilakukan sama ada disedari atau tidak.
Berlapang dada di atas teguran-teguran membina yang diberi oleh sesiapa sahaja untuk memperbaiki diri.
Melakukan kerja kebajikan umum secara amal supaya pelaksanaannya menjadi lebih mudah dan tersusun.
Berbahagialah wanita yang dapat menjalankan tugas di atas dan memainkan peranannya sebagai seorang wanita cemerlang mengikut kaca mata Islam. Yakinlah dengan janji Allah sebagaimana firman-Nya bermaksud: “Sesiapa yang mengerjakan amal salih, sama ada lelaki atau wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang sudah mereka kerjakan.” (Surah an-Nahl, ayat 97).
Sumber: http://zalina.blogdrive.com/

Perempuan di “Otak” Lelaki

Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab?
Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?
Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata.
Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda
malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda
melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!
Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan.
Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini. Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan
beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini.
Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).
Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan
keseksian.
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilemma seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa.
Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?
So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk dimata
Sumber: http://junis.uni.cc/

Apa yang dicari?

Dunia semakin panas
Wanita memanas
Pakaian terbatas
Bikin hati panas
Semua kualami
Semua kujalani
Semua kujumpai
Semua kulalui
Katanya …
Ingin dihargai
Ingin dihormati
Ingin dilindungi
Ingin disayangi
Dirinya sendiri …
Tak pernah menghargai
Tak pernah menghormati
Tak pernah melindungi
Tak pernah menyayangi
Maksiat sekarang sudah merajalela
Mulai dari temenan
Beranjak pacaran
Darisitulah semakin meningkat
Mulai berpegang tangan
Beranjak ciuman
Berpakaian ngetat
Biar cowok mendekat
Pake wewangian
Biar dapet perhatian
Cewek sekarang
siapa yang gak butuh duit ?
Semua dijalani
Biar cepet dapet duit
Jual Diri
Jual kesucian
Jual cinta
Jual apa aja biar dapet duit
sumber: Anonim

Ketika Cinta Berbuah Dilema

Special untuk mereka yang sedang terjebak dalam lorong-lorong dilema
bernama “cinta”.
Ketika Cinta Berbuah Dilema
eramuslim – Suatu hari Fatimah binti Rasulullah Saw, berkata kepada
Sayidina Ali, suaminya. “Wahai kekasihku, sesunguhnya aku pernah
menyukai seorang pemuda ketika aku masih gadis dulu.”
“O ya,” tanggap Sayidina Ali dengan wajah sedikit memerah. “Siapakah
lelaki terhormat itu, dinda?”
“Lelaki itu adalah engkau, sayangku,” jawabnya sambil tersipu,
membuat sayidina Ali tersenyum dan semakin mencintai isterinya.
Percakapan romantis Siti Fatimah dengan Sayidina Ali di atas mungkin
sudah menjadi hal biasa bagi para suami isteri. Tetapi tidak bagi
mereka yang belum menikah. Percakapan-percakapan romantis yang sering
ditemukan dalam buku-buku pernikahan itu sungguh sangat imajinatif
bagi para lajang yang sudah merindukan pernikahan, sekaligus juga
misteri, apakah ia bisa seromantis Siti Fatimah dan Sayidina Ali?
Alangkah bahagianya, seorang pemuda yang sejak lama memimpikan
obrolan-obrolan romantis akhirnya sampai di terminal harapan, sebuah
pernikahan suci. Apa yang selama ini menjadi imajinasinya saat itu
akan ia ungkapkan kepada isterinya. “Wahai kekasihku, ada satu kata
yang dari dulu terpenjara di hatiku dan ingin sekali kukatakan
kepadamu, aku mencintaimu.”
Tetapi, kebahagiaan ini hanya milik mereka yang telah dikaruniai
kemampuan untuk mengikat perjanjian yang berat (mitsaqan ghalidha),
pernikahan itu. Bagi mereka yang masih harus melajang, semuanya masih
hanya mimpi yang terus menggoda.
Terkadang, ada pemuda yang tidak kuat melawan godaan imajinasinya.
Keinginan untuk mengungkapkan cinta itu tiba-tiba sangat besar
sekali. Tetapi kepada siapa perasaan itu harus diungkapkan? Sementara
isteri belum punya, kekasih pun tidak ada. Karena kata pacaran sudah
lama dihapus dalam kamus remajanya. Tapi, dorongan itu begitu besar,
begitu dahsyat.
Awalnya, kuat. Sampai tibalah sebuah perjumpaan. Sebuah rapat
koordinasi di organisasi kemahasiswaan atau dalam tugas kelompok dari
sekolah telah mempertemukan dua pesona. Imajinasi itu kembali menari-
nari.
“Nampaknya, dibalik jilbabnya yang rapi ia adalah gadis yang
kuimpikan selama ini.”
“Oh, ketegasannya sesuai dengan penampilannya yang kalem, dia mungkin
yang kuharapkan.”
Dan cinta itu hadir.
Tetapi, sudahkah saatnya cinta itu diucapkan? Padahal mengikat
perjanjian yang berat belum sanggup dilakukan. Lalu apa yang harus
dilakukan ketika dorongan untuk mengatakan perasaan semkain besar,
teramat besar? Hingga perjumpaan dengannya jadi begitu mengasyikkan;
menerima sms-nya menjadi kebahagiaan; berbincang dengannya menjadi
kenikmatan; berpisah dengannya menjadi sebuah keberatan;
ketidakhadirannya adalah rasa kehilangan.
Indah. Tapi ini adalah musibah! Interaksi muslim dan muslimah yang
semakin longgar telah menggiring mereka kepada dua dinding dilema
yang semakin menyempit dan begitu menekan. Cinta terlanjur hadir.
Meski indah tapi bermasalah. Mau menikah, persiapan belum cukup atau
kondisi belum mendukung. Menunggu pernikahan, seminggu saja serasa
setahun. Melepaskan dan memutuskan komunikasi, cinta terlanjur
bersemi. Menjalani interaksi seperti biasa, semuanya membuat hati
semakin merasa bersalah.
Apa yang bisa dijadikan solusi? Jawabannya akan sangat panjang lebar
jika yang dijadikan landasan adalah realita dan logika. Tetapi,
marilah kita bicara dengan nurani dan keimanan, agar semua bisa
terselesaikan dengan cepat dan tuntas.
Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya?
Masihkah memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor
satu dan satu-satunya? Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa
mengeliminir cinta kepada seseorang yang telah menjauhkan dari
keridhaan-Nya. Cinta macam apa yang menjauhkan diri dari keridhaan
Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnya membuahkan benci
Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya?
Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah
ataukah “dia”?
“Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!” (al-Hadits)
Wallahu a’lam.

DUHAI PUTRIKU DENGARLAH NASEHAT AYAHMU…..

Seorang ayah yang sangat peduli dengan kehormatan dan kesucian putri-putrinya juga kaum wanita muslimah umumnya. Menulis untaian nasehat yang sarat dengan makna, nasehat dari seorang ayah yang tulus yang tidak menginginkan keburukan terjadi pada setiap putri muslimah, inilah dia nasehatnya…
Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri,dan berjumpa dengan banyak orang…Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.

Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan! Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.
Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial,kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?
Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah. Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit. Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas,
Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab :
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york. Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun akan menjadi baik.(wallahul musta’an).
Disarikan dari buku : Ya ibnati oleh Ali Thanthawi
Sumber: PendidikanISLAM.or.id 

Bila Hati Dimabuk Cinta

Penyakit yang satu ini banyak menghinggapi kawula muda, sedikit sekali yang selamat dan dampaknya pun begitu hebat..bagaimana solusinya…?
Walaupun efek yang ditimbulkan penyakit al-‘isyq (mabuk cinta) sangat hebat dan sulit melepaskan diri dari jeratannya, namun bukanlah suatu hal yang mustahil apabila penderitanya bisa sembuh dan selamat dari penyakit ini. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya obat itu mujarab bagi orang yang menerimanya. Adapun orang yang yang mencampuradukkannya niscaya obat itu tidak berguna baginya. “ Maka orang yang benar-benar ingin sembuh, dia harus berupaya berobat. Namun jika tidak, niscaya penyakit akan tetap bercokol bahkan bisa jadi bertambah parah.
Berikut ini beberapa terapi yang dapat menyembuhkan dari mabuk asmara:

Ikhlas kepada Allah
Jika seseorang yang terkena penyakit al-‘isyq benar-benar ikhlas dan menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan tulus, niscaya Allah akan menolongnya dengan cara yang tiada pernah terlintas di hatinya. Dia akan menyingkirkan segala penghalang menuju jalan taubat.
Berdo’a
Merendahkan diri kepada Allah, secara tulus menyerahkan diri kepada-Nya, ikhlas, dan memohon kepada-Nya dengan segala kerendahan agar disembuhkan dari penyakit.
Menahan pandangan
Ketika seorang hamba menahan pandangannya maka hati turut menahan syahwat dan keinginannya.
Banyak berpikir dan berdzikir
Hendaklah setiap orang senantiasa ingat bahwa seluruh perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban. Seharusnya ia berpikir bahwa perbincangan dengan kekasihnya akan ditanyakan nanti di hari kiamat. Hendaklah dia berpikir betapa malu dirinya kelak ketika Allah mencela perbuatannya.
Menjauh dari orang yang dicintainya
Sebab memisahkan diri dan menjauh akan mengusir bayangan orang yang dicintai dalam hatinya. Hendaklah ia bersabar menanggung perpisahan beberapa saat walaupun sulit pada awalnya. Seiring dengan waktu, seluruh masalah akan menjadi mudah.
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat
Sebab, mabuk cinta adalah karena kesibukan hati yang kosong. Hatinya akan dipenuhi bayang-bayang kekasihnya. Tetapi ketika ia sibuk dengan hal-hal lain maka cintanya akan memudar, rindunya akan hilang dan akhirnya ia dapat melupakannya.
Menikah
Sebab pernikahan itu mencukupi segalanya, penuh berkah dan menjadi solusi. Jika orang yang dicintainya adalah wanita yang mungkin dinikahinya maka hendaklah ia menikahinya. Jika sulit menikahinya hendaklah memohon kepada Allah untuk memudahkannya. Jika ia tak bisa menikahinya karena sebab-sebab tertentu, maka hendaklah ia bersabar dan memohon kepada Allah agar diberi jalan keluar.
Menengok orang sakit, mengiringi jenazah, menziarahi kubur, melihat orang mati, berpikir tentang kematian dan kehidupan setelahnya.
Senantiasa menghadiri majelis ilmu, duduk bersama orang-orang zuhud dan mendengar kisah-kisah orang shalih.
Memangkas habis ambisi dengan membuang rasa putus asa disertai dengan keinginan keras untuk dapat menundukkan hawa nafsu.
Selalu konsisten menjaga sholat dengan sempurna, menjaga kewajiban-kewajiban sholat, baik berupa kekhusyukan dan kesempurnaannya secara lahir dan bathin.

Menjaga kharisma agar tidak jatuh kepada kedudukan yang hina dina, tidak jatuh dalam perbuatan yang tercela dan segala bentuk yang dapat menghalangi keutamaan. Orang-orang yang memiliki harga diri tidak pernah mau terikat menjadi budak sesuatu. Lihat saja, betapa hawa nafsu menyebabkan orang-orang mulia menjadi hina.
Menjaga kemuliaan diri, kesucian dan menjaga kehormatannya
Hal ini akan membuat seseorang jauh dari perkara yang akan meruntuhkan harga dirinya ataupun yang akan menjatuhkan martabatnya.
Membayangkan cela yang terdapat pada diri orang yang dicintainya
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya manusia penuh dengan najis dan kotoran. Dan orang yang dimabuk cinta melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna. Karena cinta, ia tidak dapat melihat aib kekasihnya. Sebab hakikat segala sesuatu dapat disingkap dengan timbangan yang adil. Sementara yang menjadi penguasa atas dirinya adalah hawa nafsu yang zhalim. Itu akan menutupi seluruh cela hingga akhirnya orang yang dilanda cinta melihat kekasihnya yang jelek menjadi jelita. “
Memikirkan akan ditinggal pergi orang yang dicintainya, baik ditinggal mati atau ditinggal pergi tanpa keinginannya atau ditinggal karena sudah bosan.
Memikirkan akibat perbuatannya
Orang yang berakal adalah orang yang dapat menimbang apakah cintanya itu akan melahirkan kenikmatan ataukah kesengsaraan.
Hendaknya orang yang ditimpa ujian seperti ini mengetahui bahwa ujian hidup merupakan sebab munculnya nilai keutamaan seseorang. Jika dia bersabar maka akan tampaklah keutamaannya, sempurnalah kemuliaannya dan derajatnya akan meningkat kepada level yang lebih tinggi.
Memikirkan betapa banyak hal-hal yang bermanfaat menjadi luput disebabkan menyibukkan diri dengan cinta seperti ini. Orang-orang yang mulia lebih mengutamakan santapan akalnya, walaupun tabi’atnya berusaha menggiringnya kepada syahwat jasmani.
Melihat kondisi para pemabuk cinta
Bagaimana derita yang mereka tanggung. Bagaimana hidup mereka yang dikucilkan oleh masyarakat. Betapa berantakan segala urusan dunia dan akhirat mereka. Bandingkanlah orang-orang yang menghabiskan hidup untuk cinta buta dengan orang-orang yang memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur dan keinginan yang kuat.
Demikanlah di antaranya obat-obat yang dapat menangkal dan menyembuhkan penyakit mabuk asmara. Seperti yang telah disebutkan di atas, semua obat ini tidak akan manjur bila yang melakukannya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh ingin sembuh dari penyakitnya. Kita bermohon kepada Allah agar menjauhkan kita dari jalan-jalan kehancuran dan membimbing kita kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam
*Diringkas dari kitab Al-‘isyq, Bila Hati Dimabuk Cinta karya Muhammad Ibrahim Al-Hamd, penerbit Pustaka At Tibyan Solo

Saudariku, Kembalilah ke Rumah…

Sungguh merupakan musibah besar yang melanda umat Islam tatkala kaum muslimah keluar dari rumahnya dalam keadaan berpakaian tetapi telanjang. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa perempuan-perempuan semacam itu tidak akan mencium bau surga. Beliau bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya… (salah satunya) para wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berlenggak-lenggok. Rambut kepala mereka seperti punuk unta, mereka itu tidak akan mendapatkan baunya surga padahal bau surga itu bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim). Saudariku, kalau engkau masih mau mendengar nasihat Nabimu maka kenakanlah jilbabmu dengan benar!!

Mengekor Barat

Memang sejak jauh hari Nabi telah memperingatkan bahwa akan ada diantara umat ini yang mengikuti budaya orang-orang terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Imam Bukhori telah mencatat sabda Beliau, “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti gaya hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai-sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhobb (sejenis biawak) niscaya ada di antara kalian yang ikut masuk pula ke dalamnya.”
Lihatlah wanita-wanita muslimah di sekeliling kita, bukankah selama ini sebagian besar dari mereka menjadi korban budaya barat yang kafir itu? Hampir segalanya mereka tiru; mulai dari cara berpakaian, cara berinteraksi dengan lawan jenis, bahkan sampai pola pikir yang hedonis (mencari kesenangan dunia semata) dan ujung akhirnya mereka turut bercampur baur dengan kaum lelaki di kantor-kantor, di parlemen dan restoran-restoran. Kini terbuktilah perkataan Nabi yang mulia, dan sungguh sangat ironi tatkala mereka melakukan ini semua dengan bertameng emansipasi yang digembor-gemborkan oleh barat.

Ikutilah Jejak Ibunda

Duhai saudariku, andaikata apa yang kalian lakukan ini dengan bercampur baur bersama kaum pria di pemerintahan, di kantor-kantor adalah kemaslahatan untuk kaum muslimah tentulah para isteri Nabi dahulu adalah orang pertama yang melakukan perbuatan sebagaimana yang kalian lakukan sekarang ini? Lalu mengapa kalian melakukan apa yang tidak mereka lakukan? Apakah kalian merasa lebih cerdas dari ibunda ‘Aisyah yang menyadari kesalahannya tatkala berani memimpin pasukan ketika terjadi perang Jamal? Beliau benar-benar menyesal karena melalaikan sebuah sabda Rosululloh, “Tidak akan pernah beruntung kaum manapun yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (HR. Bukhori). Cobalah bandingkan dengan sebagian kaum muslimah dewasa ini yang dengan bangga memamerkan auratnya di layar kaca yang ditonton oleh ribuan pasang mata! Atau mereka yang dengan berapi-api berteriak-teriak berdemo di jalan-jalan dengan dalih untuk membela hak kaum muslimin, dan lebih lucunya lagi berdalil dengan perbuatan Aisyah yang telah disesali tersebut. Atau mereka yang berkoar-koar di atas mimbar demi mendapatkan kursi DPR serta rela bercampur baur dengan lelaki yang bukan mahromnya. Allohu akbar!!, hanya kepada-Nya lah kami mohon pertolongan.

Kembalilah ke Istanamu

Seorang muslimah yang sholihah yang senantiasa menjaga dirinya, memiliki rasa malu dan memelihara kehormatannya itulah yang dipuji oleh syari’at. Dengan aktivitasnya mengurus rumah dan membekali dirinya dengan ilmu syar’i atau mendidik anak-anak maka dengan demikian ia telah turut serta berusaha mewujudkan masyarakat islami. Melalui tangan-tangan dan didikan merekalah akan terlahir pemuda-pemudi yang berbakti kepada Alloh dan Rosul-Nya. Namun sayang sekali betapa sedikitnya wanita semacam ini.
sumber: http://muslim.or.id/

Keluarnya Wanita Dari Rumahnya

Judul Asli: Keluarnya Wanita Dari Rumahnya Untuk Menuntut Ilmu dan Bekerja Menurut Perspektif Al Qur’an dan As Sunnah.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia. Amma ba’du (adapun sesudah itu).
Ada seorang muslimah yang ingin menjadi isteri dan anak yang shalihah akan tetapi kini dia tengah kebingungan, di satu sisi saat ini wanita sangat dibutuhkan di rumah, tapi di sisi lain mereka juga sangat dibutuhkan di luar rumah. Sebagai contoh, ustadzah yang diundang untuk mengisi kajian di suatu majelis, itu bagaimana? Bukankah itu juga keluar rumah? Lalu bagaimana dengan menuntut ilmu di bangku kuliah. Bukankah itu juga terjadi campur baur. Muslimah itu kini sedang menempuh studinya di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta. Dia ingin meneruskan cita-cita ayahnya yang tertunda untuk menjadi seorang enterpreneur, tanpa meninggalkan tugasnya sebagai isteri jika telah menikah kelak. Bagaimanakah solusinya? (disadur dari pertanyaan akhwat tersebut).
Setelah membaca pertanyaan tersebut, seolah-olah beban yang sangat berat berada di pundak penulis. Hal ini disebabkan permasalahan yang ditanyakan merupakan musibah besar yang cukup pelik dan ironisnya hal itu melanda banyak kaum muslimah di negeri kita ini, wallaahul musta’aan (Allah lah tempat kita meminta pertolongan).
Maka dengan memohon pertolongan dari Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, kami akan menguraikan permasalahan ini satu persatu menurut pandangan Al Qur’an dan As Sunnah dengan penjelasan para ulama’, semoga Allah berkenan membukakan hati kita untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya.
Pembahasan ini terdiri dari beberapa bagian yang terkait satu sama lain, ada pembahasan lain yang kami angkat di sini meskipun hal itu tidak ditanyakan. Hal ini kami pandang perlu karena perkara tersebut telah banyak dilanggar oleh saudari-saudari kami -semoga Allah memberi taufiq kepada kita dan mereka-.
Syari’at Allah Yang Mahabijaksana Penuh Dengan Kasih Sayang
Sesungguhnya salah satu akidah Islam yang kita tidak boleh sedikitpun memendam keraguan tentangnya adalah bahwasanya syari’at yang diturunkan oleh Allah kepada ummat manusia adalah aturan yang telah sempurna yang akan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku cukupkan nikmat-Ku atasmu dan Aku telah ridha Islam menjadi agama bagimu.” (Al Maa’idah: 3)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidaklah tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian.” (HR. Ath Thabrani, sanadnya shahih, lihat ‘Ilmu Ushul Bida’ karya Syaikh Ali Hasan hafizhahullah)
Dan merupakan keyakinan kita pula bahwa syari’at Islam bukan dibuat oleh manusia, akan tetapi dia bersumber dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui segala perkara yang bermanfaat dan yang membahayakan hamba-hamba-Nya. Syari’at yang diwahyukan-Nya kepada manusia terbaik sepanjang perjalanan hidup manusia, seorang Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, seorang Rasul yang berbicara dengan bimbingan wahyu dan tidak bersumber dari hawa nafsunya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm: 1-4)
Sehingga meninggalkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya merupakan tindakan membodohi diri yang akan melemparkannya ke lembah kesesatan dan kemudian menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lalu mereka memiliki pilihan lain. Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)
Maka kami mengajak diri kami pribadi dan segenap kaum muslimah yang bercita-cita untuk menjadi wanita shalihah untuk bersemangat dalam mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya, mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih (generasi pendahulu yang shalih) supaya bisa mengeluarkan diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita dari kegelapan syirik dan kekufuran menuju cahaya tauhid dan keimanan; dari kegelapan bid’ah dan kesesatan menuju cahaya sunnah dan hidayah; dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan. Percayalah wahai saudariku, tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari kesesatan di dunia dan siksa pedih api neraka kecuali kecuali dengan ketakwaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-Rasul-Nya, maka kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (Ath Thalaq: 8-11)
Perintah Untuk Tetap di Rumah
Saudariku, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada segenap wanita beriman untuk lebih banyak tinggal di rumah-rumah mereka, dan supaya tidak keluar kecuali ada kebutuhan yang memaksanya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tinggallah kalian tetap di rumah dan jangan berhias dan bertingkahlaku (tabarruj) seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaaikanlah zakat dan tatilah Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33)
Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, “Hendaklah kamu tetap di rumahmu -artinya tetaplah di dalamnya, karena hal itu lebih menyelamatkan dan menjagamu- Dan jangan berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu -artinya janganlah kamu (wahai kaum wanita) memperbanyak keluar rumah dalam keadaan bersolek atau memakai harum-haruman seperti kebiasaan wanita-wanita jahiliyah dahulu yang sama sekali tidak berilmu dan tidak kenal agama, maka perintah ini semua turun dalam rangka menolak kejelekan dan penyebab-penyebabnya…” (Taisir Al Karim Ar Rahman cet. Muassasah Ar Risalah hlm. 668)
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah setelah membawakan ayat di atas beliau pun membawakan beberapa riwayat yang menerangkan maksud ayat ini, kami nukilkan sebagiannya. Beliau berkata: Hendaknya kamu tetap tinggal di rumahmu- artinya hendaknya kamu senantiasa tinggal di rumahmu, jangan keluar tanpa ada keperluan; di antara keperluan yang syar’i adalah (keluar rumah) untuk mengerjakan shalat di masjid asalkan syaratnya terpenuhi yaitu sebgaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kamu larang hamba-hamba Allah (wanita) untuk mendatangi masjid-masjid Allah, akan tetapi hendaknya mereka keluar (rumah) dalam keadaan tidak memakai wewangian.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka”…
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaithan akan menghias-hiasinya dan wanita yang paling dekat dengan rahmat Rabbnya adalah yang berada di dalam rumahnya.” (HR. Tiridzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 6690)… (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim cet. Maktabah Taufiqiyah hlm. 245-246).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Pada asalnya wanita memang harus lebih banyak beraktivitas di dalam rumahnya, sehingga dia tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat, seperti untuk shalat berjama’ah di masjid, shalat Ied di lapangan, berobat, menuntut ilmu, berbelanja dan lain sebagainya.
2. Apabila ada keperluan yang menuntut untuk keluar rumah maka ada adab-adab yang harus diperhatikan oleh muslimah (akan kami sebutkan hal itu sebentar lagi, insya Allah).
3. Turunnya perintah ini semata-mata bertujuan untuk menjaga dan memelihara kehormatan, keselamatan dan kesucian kaum wanita serta membentengi mereka dari berbagai kejelekan serta menutup celah-celah yang menjurus ke sana. Maka ingatlah wahai saudariku, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya tinggalnya seorang wanita di rumahnya itu merupakan ibadah dan ketaatan kepada Allah yang engkau akan memperoleh pahala yang besar apabila engkau melaksanakannya ikhlash karena-Nya, betapa indahnya syari’at Islam ini sampai-sampai detik-detik yang kau lalui di rumahmu itu bernilai pahala bagimu… Subhaanallaah! Ingatlah wahai saudariku, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya tinggalnya wanita di rumahnya merupakan syari’at Rabbaniyah yag diturunkan dari sisi Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha mengetahui yang nampak maupun yang tersembunyi…(disadur dari Nashihati li Nisaa’ karya putri Syaikh Muqbil; Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyah cet. Daarul Haramain hlm. 101)
Adab Wanita Keluar Rumah
Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan oleh kaum wanita apabila mereka keluar rumah agar langkah-langkah yang mereka ayunkan tidak membuahkan petaka dan murka Ar Rahman serta penyesalan di hari kemudian. Adab-adab ini dihimpun dari nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah beserta keterangan atau kesimpulan para ulama’:
1. Mengenakan jilbab sesuai tuntunan syari’at (penjelasannya akan disebutkan sebentar lagi insya Allah).
2. Tidak memakai harum-haruman.
3. Merendahkan suara langkah kakinya agar bunyi sandalnya tidak terdengar. (lihat QS. An Nuur: 31).
4. Apabila seorang wanita pergi bersama saudarinya, sementara di sekitar itu terdapat beberapa orang lelaki maka jangan berbincang-bincang dengan saudarinya, ini bukan berarti suara wanita termasuk aurat, akan tetapi terkadang ketika kaum lelaki mendengar suara wanita hal itu dapat menimbulkan fitnah/godaan (di dalam hatinya).
5. Apabila dia telah bersuami maka harus seizinnya.
6. Apabila perjalanan yang ditempuhnya termasuk kategori safar maka harus ditemani oleh mahramnya (contoh: ayahnya, kakak kandungnya yang laki-laki, dsb).
7. Tidak boleh berdesak-desakan dengan kaum lelaki.
8. Senantiasa menghiasi diri dengan rasa malu.
9. Menundukkan pandangan (terhadap lawan jenis).
10. Tidak menanggalkan pakaian lapis luarnya selain di rumah suaminya apabila hal itu ditujukan untuk ber-tabarruj (bersolek), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya (lihat Nashihati li Nisaa’ karya putri Syaikh Muqbil; Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyah cet. Daarul Haramain hlm. 99-100).
Maka perhatikanlah pakaianmu, pakaian saudari-saudarimu yang hampir setiap hari keluar rumah dengan tidak memperdulikan adab-adab islami ini, Subhaanallaah… demikiankah cara kalian berterimakasih terhadap Allah yang telah menciptakan kalian?, Rabb yang telah menganugerahkan rizki dari langit dan bumi untuk kalian?? Belum lagi tingkah laku mereka yang rela memajang kecantikannya di depan para lelaki yang bukan mahramnya, ditambah parfum yang melekat di badan mereka menusuk hidung dan diumbar dimana-mana… tanpa rasa malu! Innaa lillaahi wa innnaa ilaihi raaji’uun, Ya Rabbi ampunilah kami…
Kini Saatnya Berjilbab Sesuai Syari’at
Saudariku, mumpung pintu taubat masih terbuka lebar, maka marilah kita perbaiki diri kita untuk meraih keridhaan Allah dan menghindarkan diri dari murka-Nya. Ingatlah bahwa perintah berjilbab itu datang dari Dzat yang Mahabijaksana lagi Mengetahui segala maslahat dan bahaya yang akan menimpa seorang hamba. Marilah kita simak dengan seksama ayat yang diturunkan Allah untuk melindungi kesucian dan kehormatan kaum wanita.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)
Kata ‘jilbab’ jamaknya ‘jalaabib’, yaitu pakaian yang menutup seluruh tubuh dari kepala sampai kaki; atau menutup sebagian besar tubuh, dan dipakai di bagian luar sekali seperti halnya baju hujan. Jilbab mempunyai syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Mujaddid Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah dalam bukunya Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yaitu:
1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan (yaitu muka dan telapak tangan, menurut pendapat yang lebih kuat/rajih).
2. Tidak untuk berhias, atau tidak terdapat hiasan pada pakaian itu sendiri.
3. Kainnya harus tebal, tidak boleh tipis.
4. Kainnya harus longgar, tidak ketat.
5. Tidak diberi wewangian atau parfum.
6. Tidak menyerupai pakaian lelaki.
7. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.
8. Tidak untuk mencari popularitas/libas syuhrah.
Bagi yang hendak meneliti dan membaca lebih dalam tentang masalah ini maka kami sangat menganjurkan para muslimah agar membaca kitab beliau tersebut, dan kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh beberapa penerbit dengan judul Jilbab Wanita Muslimah atau judul yang senada. (Lihat juga Ensiklopedi Wanita Muslimah karya Haya binti Mubarak Al Barik, penerbit Darul Falah, hlm. 149-151)
Menuntut Ilmu Adalah Wajib
Setelah kita mengetahui bahwa apabila seorang muslimah keluar dari rumahnya harus memenuhi adab-adab islami dan menggunakan busana yang syar’i, maka ini bukan berarti menjadi penghalang bagi saudari-saudari kami yang rindu menjadi wanita shalihah untuk menuntut ilmu syar’i, ilmu Al Qur’an dan As Sunnah, sebab kewajiban menuntut ilmu adalah kewajiban pertama bagi setiap hamba -baik laki-laki maupun perempuan- yang harus didahulukan sebelum seseorang berkata dan beramal, bahkan sebelum berakidah!!
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (yang haq) kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu.” (Muhammad: 19). Berdasarkan ayat ini Al Imam Al Bukhari rahimahullah membuat sebuab bab di dalam kitab Shahihnya dengan judul: Bab Al ‘Ilmu qablal Qaul wal ‘Amal (Ilmu itu harus didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara atas dasar wahyu pun telah menegaskan kewajiban ini di dalam sabdanya, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya no. 2837, dan para imam yang lain, dishahihkan Al Albani dalam Takhrij Ahaadits Musykilatul Faqr, lihat Hushulul Ma’mul karya Syaikh Abdullah Al Fauzan hlm. 13).
Ilmu yang wajib dituntut setiap individu adalah ilmu syar’i yang harus diketahui setiap muslim (yang hukumnya fardhu ‘ain) yaitu segala ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf (orang yang sudah terbebani aturan syari’at) dalam urusan agamanya, semacam dasar-dasar keimanan dan pokok-pokok syari’at Islam, dan (ilmu tentang) segala keharaman yang wajib dijauhinya, dan apa-apa yang dibutuhkannya dalam bermua’amalah dan semacamnya yang tergolong perkara yang menjadi sarana terwujudnya suatu kewajiban maka wajib pula hukumnya mempelajarinya.
Imam Ahmad mengatakan: “Wajib hukumnya (seorang hamba) menuntut ilmu yang bisa menegakkan agamanya”, maka beliau pun ditanya: “Contohnya apa?” Beliau menjawab, “Yaitu perkara yang tidak boleh dia bodoh tentangnya: (seperti) shalatnya, puasanya dan sebagainya.” Dan di antara ilmu yang paling wajib dipelajari oleh setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah ilmu mengenali Rabb Yang patut disembah olehnya, mengenal Nabinya dan mengenal agamanya sebab setiap orang akan ditanya tentangnya di alam kubur nanti.
Inilah yang mendorong Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah untuk menulis sebuah kitab yang sangat bagus berjudul Tsalatsatul Ushul (Tiga Landasan Utama) maka kami menghimbau kepada saudari-saudari kami yang rindu menjadi wanita shalihah untuk membaca dan mempelajari buku menarik yang sudah banyak terjemahannya ini…
Semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua untuk istiqamah menuntut ilmu syar’i, sambutlah surga wahai saudariku… karena Allah Jalla Jalaaluhu telah membentangkan jalan kemudahan bagimu untuk meraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama) niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) (Disadur dengan penambahan, dari Hushulul Ma’mul karya Syaikh Abdullah Al Fauzan hlm. 12-13).
Saudariku, rasa malu merupakan bagian keimanan, karena orang yang tidak punya rasa malu niscaya akan berbuat semaunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya salah satu ajaran kenabian yang pertama yang didapatkan oleh manusia adalah, ‘Apabila kamu tidak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu’.” (HR. Al Bukhari).
Akan tetapi rasa malu tidaklah menghalangi seorang muslimah untuk menuntut ilmu syar’i. Sebagaimana sebuah kisah teladan yang amat menarik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya: Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, beliau berkata, ‘Ummu Sulaim pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu menyampaikan kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila mimpi basah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Ya, apabila dia melihat air maninya” Maka Ummu Salamah menutupi wajahnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah perempuan juga mengalami mimpi basah (sehingga keluar mani)?” Beliau menjawab, “Ya, tentu saja, taribat yadaak (arti letterlux-nya: tanganmu penuh debu, maksud beliau ialah menyayangkan perkataan Ummu Salamah, Wallaahu a’lam), …kalau tidak, lantas darimanakah asal kemiripan anak dengan ibunya?” (lihat Nashihati li Nisaa’ hlm. 188).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bolehkah bagi wanita untuk menghadiri majelis ta’lim dan pelajaran fikih yang diadakan di masjid-masjid?”
Beliau menjawab: Boleh bagi wanita untuk menghadiri majelis ta’lim, baik itu berupa pelajaran fikih hukum atau fikih akidah atau tauhid, dengan syarat tidak boleh menggunakan wewangian atau bersolek, dan harus berjauhan dari laki-laki dan tidak bercampurbaur dengan mereka, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik barisan wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling buruk adalah yang paling depan.” (HR. Tirmidzi). Hal tersebut karena barisan yang paling depan paling dekat dengan laki-laki daripada barisan yang paling belakang, sehingga barisan paling akhir lebih baik daripada barisan depan. (Fatawal Mar’ah, 1/102, dinukil dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita jilid 3 hal. 275).
Muslimah Duduk di Bangku Kuliah, Bolehkah?
Kini jelaslah bagi kita bahwa ilmu yang dimaksud dalam dalil Al Qur’an maupun As Sunnah yang wajib kita tuntut adalah ilmu syar’i. Dan telah jelas pula bagi kita bahwa pada asalnya seorang wanita muslimah itu harus lebih banyak beraktifitas membina keluarga di rumah dan mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi isteri yang shalihah dan menjadi ibu yang penuh kasih sayang yang mampu mendidik anak-anaknya agar bisa menjadi generasi penerus yang unggul, yang menjadi harapan ummat di masa depan.
Lalu bagaimanakah kalau ada di antara muslimah -bahkan realita sekarang ini banyak sekali jumlahnya- yang begitu berkeinginan menempuh studi di bangku kuliah-kuliah umum. Maka kami katakan, masuknya para muslimah berbondong-bondong ke berbagai perguruan tinggi umum baik negeri maupun swasta adalah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri pada masa ini. Yang apabila kita cermati ternyata banyak sekali kemunkaran yang kita jumpai di kebanyakan perguruan tinggi tersebut, sebutlah contoh di antaranya; ikhtilath (campur baur pria dan wanita).
Padahal bercampurbaurnya lelaki dan perempuan merupakan sumber fitnah (bencana), oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan berbagai upaya demi menutup pintu fitnah ini. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sudah selesai mengucapkan salam (sesudah shalat) maka para wanita berdiri setelah beliau menyelesaikan salamnya, dan beliaupun berdiri sebentar di posisinya sebelum berdiri. Kami berpendapat hal itu beliau lakukan agar kaum wanita bisa pulang sebelum sempat ada seorang lelaki pun yang berpapasan dengan mereka.” (lihat Nashihati li Nisa’ hlm. 119-120).
Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik shaf kaum lelaki adalah yang paling depan dan shaf yang paling buruk adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaf kaum perempuan adalah yang paling belakang dan shaf yang paling buruk adalah yang terdepan.” (HR. Tirmidzi). Perhatikanlah, hal ini beliau lakukan di sebuah tempat suci yaitu masjid, yang orang tidak akan sembrono bertindak yang bukan-bukan, lalu bagaimana lagi di tempat-tempat umum yang diliputi suasana keduniaan, pikirkanlah…
Itu salah satu contoh. Dan kita memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita selama ini. Lantas bagaimana, apakah kita akan mengajak seluruh wanita muslimah yang kuliah di berbagai perguruan tinggi yang di situ terjadi ikhtilath untuk keluar dan menghentikan studi mereka? Sebelumnya kita harus berpikir dengan jernih dalam menyikapi permasalahan ini, agar tindakan yang diambil nantinya tidak justru membuahkan kemungkaran yang juga tidak kalah besarnya yaitu jauhnya kaum muslimah dari bimbingan ilmu syar’i karena aksi keluar kuliah. Kenapa demikian?
Mari kita cermati, bukankah banyak di antara kaum muslimah, saudari-saudari kita yang bisa mereguk ilmu syar’i dengan menghadiri kajian-kajian di sekitar kampus dan justru menjadi kesulitan dan menemui berbagai hambatan kalau harus keluar dan pulang ke rumahnya yang jauh dari ta’lim (pengajian -ed) dan bahkan jauh dari toko buku-buku Islam dan sarana menuntut ilmu yang lainnya. Oleh karena itu kami menasihatkan kepada diri kami pribadi dan para akhwat sekalian untuk bertakwa kepada Allah sepenuh kemampuan kita masing-masing. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya “Maka bertakwalah kepada Allah sepenuh kemampuan kalian.”
Sekali lagi di sini kami menghimbau kepada para akhwat sekalian agar berpikir jernih dan bertanya serta berkonsultasi langsung kepada ahli ilmu atau para ustadz dalam perincian masalah ini agar keputusan yang diambil merupakan keputusan terbaik yang akan mendatangkan manfaat bagi ukhti sekalian. Di sini perlu kami ingatkan bahwa kondisi perkuliahan di kampus itu berlainan, ada fakultas yang memang di situ kaum wanita sangat diperlukan, seperti di kedokteran, kebidanan dan keperawatan, yaitu dalam rangka menangani pasien-pasien wanita. Ada pula fakultas yang di situ kaum wanita (begitu pula pria) bahkan mendapatkan ancaman besar rusak agamanya, seperti kuliah di filsafat. Maka jawaban untuk permasalahan ini butuh perincian yang harus dibicarakan dengan pertimbangan yang matang. Wallaahu a’lam bish shawaab.
Bolehkah Wanita Bekerja ?
Sekarang kan zamannya emansipasi, kaum wanita boleh-boleh saja terjun di dunia kerja bersaing bersama kaum pria! Barangkali para pembaca yang budiman akan mendapati komentar semacam itu di tengah-tengah masyarakat. Bahkan lebih parah dari itu, ada sebagian kaum wanita yang sudah nekat menggeluti berbagai macam bidang yang sebenarnya tak pantas merka sentuh, seperti tinju, sepak bola, angkat besi, di sisi lain ada pula yang aktif terjun alam demonstrasi dan demokrasi menjadi ‘bintang jalanan’ dan ikut berebut kursi di pemerintahan, dan yang lebih parah dari itu yang terjun dalam dunia entertainment/hiburan sebagai bintang film atau sinetron yang rajin mengobral kecantikan di layar kaca, … yang dengan bangga mereka berkata ‘ini adalah ekspresi seni, inilah wujud kemajuan wanita modern’ [?!] Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun, ini adalah musibah besar bagi ummat Islam yang amat sedikit orang yang menangisi dan berkabung karenanya, ini bukan kemajuan tapi kemunduran bahkan kejatuhan kemuliaan ummat Islam!!!
Maka sebenarnya setiap orang muslim yang masih beres akidahnya tentu tidak akan mengatakan dan bersikap sebagaimana mereka yang sudah terbuai dengan mimpi-mimpi barat, sebab seruan yang mengajak para muslimah keluar dari rumahnya dan ikut terjun di lapangan kerja yang bercampurbaur antara lelaki dengan wanita adalah seruan orang-orang barat yang kafir, sebuah seruan yang dipoles sedemikian rupa agar merdu terdengar namun pada hakikatnya menjauhkan muslimah dari jati dirinya sebagai sosok wanita shalihah yang tekun dan sabar membina diri dan rumah tangganya. Ini bukan berarti kami menyatakan bahwa wanita dilarang bekerja, namun kenyataan yang sangat memprihatinkan di atas adalah satu hal yang harus kita perbaiki bersama-sama, Bukankah seorang putri jelita akan menjadi hina dan terancam kesuciannya apabila kita tempatkan di sebuah gubuk reyot di tengah hutan yang dikelilingi srigala dan binatang-biatang buas lainnya?? Renungkanlah wahai saudari-saudariku…
Berikut ini kami sampaikan kepada ukhti sekalian sebuah fatwa yang berkenaan dengan hal ini.
Pertanyaan 892:
Lajnah Da’imah lil Ifta’ (Komite tetap untuk fatwa di Saudi Arabia) ditanya: “Apa hukum wanita yang bekerja? Dan lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan bagi seorang wanita bekerja di dalamnya?”
Jawaban:
Tidak seorang pun yang berselisih bahwa wanita berhak bekerja, akan tetapi pembicaraan hanya berkisar tentang lapangan pekerjaan apa yang layak bagi seorang wanita, dan penjelasannya sebagai berikut:
Ia berhak mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan oleh wanita biasa lainnya di rumah suaminya dan keluarganya seperti memasak, membuat adonan kue, membuat roti, menyapu, mencuci pakaian, dan bermacam-macam pelayanan lainnya serta pekerjaan bersama yang sesuai dengannya dalam berumah tangga. Ia juga berhak mengajar, berjual beli, menenun kain, membuat batik, memintal, menjahit dan semisalnya apabila tidak mendorong pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syara’ seperti berduaan dengan selain mahram atau bercampur dengan laki-laki lain, yang mengakibatkan fitnah atau menyebabkan ia meninggalkan hal-hal yang harus dilakukannya terhadap keluarganya, atau menyebabkan ia tidak mematuhi perintah orang yang harus dipatuhinya dan tanpa ridha mereka (Majallatul Buhuts Al Islamiyah 19/160, dinukil dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Jilid 3 hlm. 168).
Lahan Pekerjaan Yang Cocok Bagi Wanita
Salah satu prinsip utama yang dipegang oleh Islam adalah keadilan dan hikmah, yaitu menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Begitu pula dalam masalah memilih lahan pekerjaan yang tepat bagi kaum wanita. Di sini kami nukilkan sebuah fatwa yang semoga bisa menjawabnya dan menjadi bahan pertimbangan bagi saudari-saudari kami yang rindu menjadi wanita shalihah.
Pertanyaan ke 891:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya: “Apa lahan pekerjaan yang dibolehkan bagi perempuan muslimah yang mana ia bisa bekerja di dalamnya tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran agamanya?”
Jawaban:
Lahan pekerjaan wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan untuknya seperti pekerjaan mengajar anak-anak perempuan baik secara administratif maupun secara pribadi, pekerjaan menjahit pakaian wanita di rumahnya dan sebagainya. Adapun pekerjaan dalam lahan yang dikhususkan untuk orang laki-laki maka tidaklah diperbolehkan baginya untuk bekerja pada lahan tersebut yang akan mengundang ikhtilath sedangkan hal tersebut adalah fitnah yang besar yang harus dihindari. Perlu diketahui bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Saya tidaklah meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan.” (Muttafaq ‘alaih). Maka seorang laki-laki harus menjauhkan keluarganya dari temat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya dalam segala kondisi (Fatawa Al Mar’ah 1/103, dinukil dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Jilid 3 hlm. 167, dengan sedikit perubahan).
Hukum Wanita Bekerja di Luar Rumah
Berikut ini kami nukilkan penjelasan seputar kendala yang harus dihadapi apabila wanita bekerja di luar rumah, dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bekerja di luar rumah itu pada dasarnya tidak boleh baginya, syarat apa saja yang harus dipenuhi apabila dia memang terpaksa harus bekerja di sana dan dampak yang muncul akibat wanita bekerja di luar rumahnya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.
Kendala-Kendala Wanita Bekerja
Pekerjaan wanita di luar rumah merupakan siksaan baginya, karena seorang wanita tidak bisa bekerja atau melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum pria dalam banyak hal. Karena kondisi fisik wanita yang lemah, dan juga dia tidak memiliki kemampuan fisik seperti yang dimiliki seorang pria, bahkan dia di bawah seorang pria karena sebab-sebab sebagai berikut:
  1. Karena haid, pada waktu haid dia harus beristirahat, dan tidak boleh diberi beban berat agar tidak terjadi hal-hal yang menyangkut kesehatannya yang justru akan merusak dirinya dan mengganggu kelancarannya aktifitasnya.
  2. Karena hamil, pada waktu hamil seorang wanita merasakan berbagai kesulitan dan tubuhnya merasa lemah sehingga dia tidak mampu bekerja.
  3. Karena melahirkan dan nifas. Dalam kondisi tersebut, seorang wanita juga merasakan berbagai beban dan penderitaan, dia kehilangan darahnya. Oleh sebab itu pada saat demikian dia tidak boleh dibebani pekerjaan.
  4. Menyusui dan merawat anak. Selama dua tahun seorang ibu harus merawat anaknya (bayinya), selalu menyertainya, mengurusi segala kebutuhannya, dan mendidiknya, Dan disamping itu dia masih pula menangani banyak lagi pekerjaan ruumah demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup antara suami isteri serta anak-anaknya, dan jika hal ini dia tinggalkan, maka akan menjadi bencana bagi segenap keluarganya.
  5. Susunan tubuh. Tubuh seorang perempuan yang hamil, melahirkan anak, merawatnya serta menyusuinya, pastilah sangat berbeda dengan tubuh seorang lelaki yang tidak menanggung semua beban itu.
Beberapa Dalil Haramnya Wanita Bekerja di Luar Rumah
  1. Kewajiban berhijab baginya seperti yang telah diterangkan di muka.
  2. Haram ber-tabarruj dan menampakkan perhiasan dan bagian-bagian yang indah lainnya, sedangkan bekerja di luar rumah akan menyebabkan terjadinya tindakan seperti itu.
  3. Haram baginya bercampur dengan lelaki yang bukan mahramnya, sedangkan bekerja di luar rumah sangat memungkinkan terjadinya hal itu.
  4. Seorang perempuan adalah aurat dan intan permata yang indah yang harus dipelihara dan dijaga.
  5. Seorang perempuan akan selalu disibukkan mengurus putra-putrinya, urusan rumahnya dan urusan suaminya, dan memang hal-hal demikian itulah yang sesuai dengan fitrah seorang wanita.
Syarat Wanita Bekerja di Luar Rumah
Keterpaksaan (darurat) dilihat dari segi keurgensiannya. Oleh karena itu apabila seorang perempuan terpaksa harus bekerja di luar rumahnya, maka dia haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Mendapatkan izin dari walinya, yaitu ayah atau suaminya untuk sebuah pekerjaan yang halal seperti menjadi tenaga pendidik para siswi, atau menjadi perawat khusus bagi pasien wanita.
  2. Tidak bercampur dengan kaum laki-laki atau melakukan khalwat (berdua-duaan) dengan lelaki lain.
  3. Tidak berlaku tabarruj dan menampakkan perhiasan yang dapat mengundang fitnah.
  4. Tidak memakai wangi-wangian yang menyengat hidung atau parfum yang membangkitkan birahi seseorang.
  5. Memakai hijab/jilbab menurut ketentuan syara’.
Dampak Wanita Bekerja di Luar Rumah
  1. Menelantarkan putra-putrinya, mereka kurang mendapatkan kasih sayang, perawatan dan pendidikan langsung dari sang ibu.
  2. Para wanita yang bekerja di luar rumah, pada umumnya sekarang ini berbaur dengan laki-laki, bahkan terkadang mereka ber-khalwat dengannya. Dan tindakan seperti itu sudah barang tentu haram hukumnya, mencoreng nama baiknya, meruntuhkan nilai moralnya dan sikap keagamaannya.
  3. Para wanita yang bekerja di luar rumah, mereka pada umumnya melepas hijabnya, sering bepergian dan memakai parfum-parfum atau make-up yang dapat mengundang birahi kaum laki-laki atau menggoda mereka. Nabi bersabda, “Saya tidaklah meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan.” (Muttafaq ‘alaih)
  4. Perempuan yang bekerja di luar rumah, dapat kehilangan sifat dan naluri keperempuanannya, kehilangan kasih sayang kepada putranya disamping juga akan meruntuhkan sistem keluarga, tidak ada lagi keharmonisan dan saling tolong menolong di dalamnya.
  5. Seorang wanita telah ditakdirkan mencintai perhiasan, memakai emas, pakaian-pakaian yang bagus dan lain sebaginya: maka jika dia keluar rumah untuk bekerja, ia akan bersikap boros karena banyaknya perhiasan dan pakaian serta asesoris lain yang dibelinya sehingga melebihi batas-batas keperluannya, maka ia pun termasuk orang yang berlaku israf (pemborosan) yang dilarang oleh agama. (Ensiklopedi Wanita Muslimah, Haya binti Mubarak Al Barik, Penerbit Darul Falah cet ke 12 Ramadhan 1424 H, hlm. 159-162, dengan sedikit perubahan).
Demikianlah sekelumit penjelasan yang bisa kami nukilkan ke tengah para pembaca yang budiman, dan semoga bisa ini bisa menjadi acuan dalam mengatasi permasalahan serupa yang menimpa kaum muslimah di negeri kita, Ya Allah bimbinglah kami menuju surgamu yang indah dan peliharalah kami dari jalan-jalan yang akan mengantarkan kami ke dalam azab nerakamu yang amat pedih.

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design