Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Jumat, 31 Desember 2010

Badai Pasti Berlalu, Jihad Selamanya!

Risalah ini ditulis langsung oleh M. Jibriel Abdul Rahman a.k.a Prince of Jihad ditujukan Kepada para sahabat-sahabat seperjuangan dan para mujahid dan mujahidah muda di bumi Indonesia yang ku cintai karena Allah.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh¦

Subhanallah, segala puji bagi Allah yang dengan kitab-Nya telah menerangi hati. Shalawat dan salam buat pimpinan mujahidin, Muhammad shallallahu alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Dengan izin Allah, Aku dapat menulis kembali untuk sahabat-sahabat yang aku cintai karena Allah. Puji syukurku kepada Rabbul Izzati, yang memberikan ku kekuatan berupa kesabaran dan keistiqamahan untuk diri ini, dalam melalui setiap detik waktu dimana kebebasanku dirampas oleh para thaghut-thaghut yang mereka hanya takut kepada manusia selain Pencipta-nya. Semua rahmat Allah ini, berupa ujian dan sebagainya, ku jadikan sebagai bekal untuk di akhirat sana. Jalan jihad yang kupilih selama ini adalah jalan yang terbaik yang ku rasakan, walau kadang ada saja bisikan-bisikan syetan yang hampir saja membuatku lemah, namun shalat dan taqarrub ilallah saja yang bisa membangkitkan segala bentuk kegundahan ini.

Subhanallah, hampir 5 bulan ku disini. Hari-hari sulit itupun berlalu, yang ada sekarang ketenangan dan ketentraman. Selama ini ku selalu merasakan bahwa setiap perjuangan jihad yang kita tempuh harus ada duri-duri yang menghalang, namun perhatikanlah wahai mujahid dan mujahidah para sahabatku, di saat engkau meridhai dan selalu ikhlas dalam segala hal yang menimpamu, kau akan selalu merasa dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, walau kadang air matamu harus menetes di pipi mu, lalu mengalir, sedang hati mu bak dicincang-cincang oleh pisau-pisau sehingga membuat sesak di dada mu dalam menahan segala kepedihan oleh siksaan dan hinaan para musuh-musuh dien ini. Demi Allah, badai pasti berlalu, Allahu Akbar! Indahnya berjuang di jalan Allah, kenapa kau harus takut dan mundur! Setiap jihad yang kau tempuh, semuanya akan berakhir dengan kemuliaan.

Wahai para pemuda/pemudi: mujahid dan mujahidah fie sabililah sedang apa kalian di luar sana? Apa yang kalian cari untuk hidup yang fana ini? Untuk siapakah kalian hidup? Apa yang telah kalian korbankan buat agama Allah ini? Masihkah kalian berkutat dalam sebuah permasalahan yang tidak ada habisnya dengan berdebat kusir dan saling menyalahkan? Apa kalian tidak malu dengan musuh-musuh dien ini yang mereka telah mempersiapkan kekuatan mereka untuk menghabisi kalian dan kehormatan wanita-wanita muslimah di luar sana? Hasbunallah wanikmal wakiil.

Ikhwani wa akhwati rahimakumullah

Semua diantara kita bisa berbicara apa saja dengan apa yang ia miliki dari sedikit ilmu yang ia teguk dengan mempelajarinya. Namun apa itu sudah cukup untuk menjadikanmu mulia?! Sebanyak mana ilmu yang kau miliki, sehingga kadang kau merasa lebih baik dari orang lain. Hati yang bersih putih itu bisa menjadi hitam gara-gara kau menyombongkan diri dengan kehebatan yang kau rasakan kaulah yang paling benar di muka bumi ini. Sungguh ironis, bila ada manusia yang tidak pernah tawadhu’ dengan ilmu yang Allah karuniakan. Apa sih manfaatnya menjadi manusia takabur, hatinya penuh kedengkian, serta tidak suka sahabatnya merasakan kegembiraan, dan ia lebih suka menggunjing dan menebar fitnah sehingga membuat manusia lain terjerumus ke dalam api neraka! Apa ini akhlak pemuda dan pemudi yang mengaku-ngaku berjihad di jalan Allah?! Sedangkan ia belum pernah diuji dengan kesusahan dan kesulitan.

Hati ini kadang perlu nasehat dan teguran agar tidak lalai. Motivasi dan tahridh Insya Allah bisa membuat hati yang keras menjadi lembut. Semua ini perlu keikhlasan, Demi Allah, Aku sedih bila ada diantara sahabat-sahabat yang Aku kenal atau tidak, terjebak dalam hal-hal yang semestinya ia tidak perlu jatuh di dalamnya.

Mungkin kadang kalian merasa aneh, kenapa Aku agak sedikit emosi dan kasar dalam mengutarakan berbagai bentuk perkara, dari hal tahridh dan motivasi. Demi Allah, karena Aku adalah pemuda seperti kalian, yang juga merasakan segala hal kesulitan dalam setiap tindakan yang terjadi. Kegelisahan terhadap hal-hal yang terjadi pada ummat ini, sehingga kadang melihat kedzaliman-kedzaliman yang terjadi di muka bumi ini membuat kita semua menjadi pemuda-pemudi yang peka zaman dan tampil menjadi sosok-sosok militan yang kadang saja melebihi orang-orang yang berpengalaman dalam hal itu.

Dari sederet hal dan masalah dalam perjuangan ini, Allah subhanahu wa ta’ala, memberikan Aku sedikit ilmu, yang Aku berharap ilmu ini bisa bermanfaat buat mujahid-mujahid muda di luar sana. Semoga semua nasehat dan motivasi yang bisa Aku sampaikan ini bisa membuat kalian lebih dewasa untuk menghadapi segala rintangan dalam membela agama Allah ini. Tujuan yang mulia ini tidaklah mudah saudaraku, bahkan cita-citaku ingin menjadi pemuda pengukir sejarah dengan darah, yang pastinya dengan dakwah dan jihad. Namun semua ini bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia butuh banyak pengorbanan, jiwa raga, darah, dan segalanya.

Ikhwani Fillah

Selalu sebelum ini, Aku sering menyampaikan betapa pentingnya persatuan dan ukhuwah, serta aqidah. Ilmu dan amal. Ucapan tanpa perbuatan apalah artinya? Begitu juga istiqamah dan kesabaran. Semua pengalaman telah mengajarkan ku bagaimana dan untuk apa? Bagaimana caranya atau metode terbaik dalam dakwah dan jihad, dan untuk apa kita berjuang fie sabilillah. Sementara itu kita mengetahui bahwa menjadi mujahid di jalan Allah tidaklah gampang dan membuahkan banyak problematika dalam urusan duniawi serta kehidupan ke depan. Renungkan hadits-hadits dan pengalaman mujahid yang ikhlas dalam menjalani ujian-ujian di medan dakwah dan jihad ini beserta seluruh tantangannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung kepada besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya. Siapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berikut:

“Siapa yang dikehendaki Allah padanya suatu kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah (diberi cobaan) kepadanya.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Malik)

Subhanallah, berdasarkan hadits-hadits berikut, dan berbagai pengalaman para mujahid yang ikhlas dalam berjihad, diperoleh data bahwa berbagai bentuk ujian yang ditemui dalam medan jihad fie sabilillah, yang sering menimpa ke atas mereka, sebagai berikut:

1. Mujahid itu menjadi asing di tengah masyarakat maupun di tengah keluarga sendiri. Karena reaksi ini muncul disebabkan kebodohan dan kekurangan ilmu jihad itu sendiri. Biasanya mujahid tidak banyak yang kuat menghadapi tantangan ini, karena masih ada pertalian darah dan cinta, diantara istri, anak, orang tua dan lain-lain. Dan jika kita terus pada prinsip jihad ini, bisa jadi mereka sendiri yang akan melaporkan kita kepada para thaghut dan memboikot perjuangan kita.

2. Karena menjadi mujahid adalah orang asing dalam masyarakat, maka lapangan kerja dan rezeki halal menjadi sempit, serta selalu diawasi oleh thagut, dimusuhi oleh masyarakat, difitnah, dihina dan direndahkan dengan berbagai perkara yang menyakitkan.

3. Disebabkan sumber mencari rezeki halal menjadi sulit dan sempit, dan sulit beradaptasi di masyarakat, maka nafkah yang diperoleh menjadi terbatas, bahkan menjadi miskin.

4. Dikarenakan keluarga memboikot, masyarakat memusuhi, bahkan rezeki dan nafkah hampir-hampir sulit untuk diperoleh untuk diri sendiri dan keluarga, sehingga situasi ini membuat jiwa dan iman menjadi goyah dan goncang, dan membuat dirinya bertanya, apakah jihad ini harus dilanjutkan?! Atau mundur sejenak demi memperbaiki ekonomi keluarga?!

5. Berbeda dengan ujian ketika berada langsung di medan perang itu sendiri, bentuk ujian menjadi berbeda, ingat dengan dunia, perasaan takut dan khawatir menyelubungi diri, bahkan khawatir dengan serangan-serangan musuh yang begitu dahsyat dari segala penjuru. Dalam kondisi begini, sedangkan persiapan sangatlah minim dibanding pasukan musuh. Selain kekhawatiran dan rasa takut, para mujahidin juga akan merasakan kelaparan, sakit badan akibat tembakan peluru musuh-musuh Islam.

6. Sehingga bilamana mujahidin itu ditangkap, maka para musuh-musuh akan berlaku kejam terhadapnya, menyiksanya tanpa belas kasih, dan mencaci dengan cacian yang menyakitkan. Maka benarlah firman Allah Azza wa Jalla: “Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu, dan mereka ingin kamu (kembali) kafir.” (QS Al Mumtahanah (60): 2)

Subhanallah, banyak mujahid yang gugur menghadapi bentuk ujian berikut, bahkan berbalik menjadi spionase (mata-mata/intel) bagi pihak thaghut dalam memata-matai para mujahidin.

Ikhwani wa Akhwati Fillah

Sedikit kisah dariku dalam mengalami tindakan bejat para musuh-musuh dan thaghut ini sewaktu berada dalam tawanan mereka. Semoga kisah ini juga mewakili para mujahid yang lain, dan menjadi ladang amal untukku, dan semoga Allah menjada keikhlasan kami dalam jihad ini. Allahumma amien.

Satu ketika, sewaktu Aku dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Mataku ditutup menggunakan plastik, lalu ditempeli lakban serta tangan dan kaki diborgol. Mereka para musuh Allah ini tidak segan-segan lagi untuk menyiksaku, sungguh naif sekali mereka, Demi Allah ikhwah, mereka ini lebih hina dari binatang, pengecut, hanya mampu menyiksa kita dengan kondisiku terikat. Bahkan kata-kata penghinaan terhadap jihad sering muncul, ditambah dengan ludahan dari mulut busuk mereka. Qaatalahumullah…

Tidak dinafikan, situasi seperti itu akan membuat hati kita hancur, bahkan pasrah, sehingga di saat itu ingin saja lidah ini mengucapkan kata-kata menyerah serta berbalik menjadi kufur. Berat sekali ujian-ujian para da’i dan mujahid ikhwani fillah…

Sebenarnya banyak lagi kisah, namun suatu saat nanti Aku akan ceritakan, Insya Allah. Maha Suci Allah, semua ini Aku dan teman-teman mujahid yang lain lalui dengan ikhlas, walau ada juga yang tidak tahan. Semoga mereka bisa sabar dan istiqamah.

Melalui hal ini, ada juga ujian lain yang Aku rasakan, bahkan lebih pelik lagi. Kita selalu disalahkan, bahkan dituduh dengan tuduhan yang keji. Bagiku, Aku berjuang untuk mencari keridhaan Allah dan menikmati semua pengalaman ini dengan ikhlas dan sabar, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya.

Dari sedikit kisah dan motivasi ini, saudaraku yang Aku cintai karena Allah… para mujahidin dan mujahidah muda sekalian, renungkanlah, dan muhasabahlah… mengapa kita tidak bisa bersatu…?! Mengapa kita suka berpecah dan saling menggembosi? Bukankah semua amalan itu bukan untuk siapa-siapa juga. Semua kembali untuk diri masing-masing. Ketauhilah, cepat atau lambat Allah akan memperlihatkan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang istiqamah dan mana yang tidak. Justru bagi yang kerjanya hanya bisa berkoar-koar dan memecah belah umat inilah yang akan sengsara, karena ilmunya tidak bermanfaat untuk manusia, tapi justru membuat kebencian diantara manusia.

Apa yang telah Anda berikan untuk agama Allah ini? Karya apa yang Anda berikan untuk izzatul Islam? Sehingga manusia mengingat dan mendapat manfaat darinya? Berbuatlah walaupun sedikit, dewasalah dan rendahkanlah emosi serta kesombongan sesaatmu itu. Karena tidak ada manfaatnya juga untuk dirimu jika kamu menyombongkan diri terhadap orang lain. Ilmu itu milik Allah, kapan saja Allah bisa memuliakan kamu dan menghinakan kamu. Sadarlah, ummat ini butuh manusia-manusia yang luar biasa, yang bisa menuntun mereka ke satu barisan yang bisa membawa mereka ke surga. Jadi, jangan jadi manusia yang dangkal, seolah-olah ilmu Allah itu sedikit. Pelajari cara yang terbaik untuk menyampaikan dakwah dan jihad ini, dia tidak akan selesai jika kamu selalu memvonis, atau mengkafirkan mereka!

Nabi adalah sosok qudwah hasanah, sosok terbaik dalam menyampaikan dakwahnya. Namun banyak diantara kita tidak memperhatikan hal-hal realita kekinian yang ada. Kita ini berhadapan dengan manusia abad 21, yang butuh metode dakwah yang hebat serta modern, namun tidak keluar dari koridor Al Qur’an dan As Sunnah. Lihatlah Dr Syaikh Abdullah Azzam (rahimahullah), sungguh luar biasa, dia bisa menyatukan kaum muslimin dari timur ke barat, sehingga seluruh ummat Islam berkumpul di bawah satu bendera jihad di waktu jihad Afghan. Bahkan para mujahid-mujahid kala itu sangat menghormati hal-hal khilafiyah diantara mazhab yang dianut, dan sewaktu itu rakyat Afghanistan yang bermazhab Hanafi tidak pernah mempermasalahkan mujahid yang bermazhab Syafi’i. Luar biasa, Anda tahu kenapa? Karena hati mereka telah bersatu, dalam ukhuwah dan aqidah, dan andai ada khilaf, mereka menyelesaikannya dengan baik.

Lalu bagaimana kondisi kita saat ini? sangat memprihatinkan sekali ikhwani fillah. Sebelum Aku ditangkap, Aku sempat melihat hal-hal pelik ini, bahkan disini (penjara), Aku mendengar kabar dari beberapa saudaraku yang konsisten dalam dakwah ini, mereka bercerita kondisi yang terjadi diantara yang mengaku mujahid atau da’i, justru sebaliknya saling menjegal, menjatuhkan di forum-forum Islam, merasa argumentasinya paling bagus, bahkan memvonis khawarij dan murji’ah sementara tidak tahu dengan makna tuduhan itu, serta tidak punya unsur malu dan tawadhu’. Hasbunallah wa nikmal wakil…

Percayalah, Anda yang termasuk melakukan hal tersebut sudah membuat gembira para thaghut dan mencoreng nama jihad dan mujahidin itu sendiri. La hawla wa laa quwwata illa billah… Apa kalian mengaku beriman kepada Allah, sedangkan kalian belum diuji?

Coba renungkan surat Al Ankabut, ayat ke 2 – 3 “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS Al Ankabut (29): 23)

Janganlah sombong wahai orang-orang yang lupa diri, Allah lebih mengetahui orang-orang yang benar, dan mana yang berdusta, dan bukan hanya mengaku-ngaku beriman! Bertaqwalah kepada Allah! Dan bertaubatlah dan jadilah manusia yang bermanfaat.

Maka kembalilah kepada Al Qur’an dan As Sunnah di saat semua hal yang kau perbuat telah melenceng. Menjadi manusia yang baik itu mudah, selalu muhasabah dan melihat pada kelemahan diri sebelum melihat atau menunjuk kepada diri orang lain. Ingat dengan falsafah jari sewaktu menunjuk, satu buat orang yang ditunjuk, selebihnya untuk diri kita.

Saudaraku yang Aku cintai karena Allah…

Aku bukanlah pemuda yang sempurna, bahkan lebih banyak kekurangannya dari kelebihannya. Namun Allah memberikan pelajaran berharga dengan harusnya Aku beruzlah di penjara ini. Banyak hikmah dan manfaat yang aku dapatkan, sehingga Aku juga ingin kalian sepertiku, walau tidak semua bisa seperti ini. Paling tidak menjadi yang terbaik buat perjalanan jihad ini adalah impian kita semua. Sehingga saling menasehati dalam kesabaran dan kebaikan adalah kerja terbaik bagi cikal bakal mujahid fie sabilillah. Sebelum kita dipilih menjadi mujahid yang hebat atau agung seperti Syaikh Abdullah Azzam, Syaikh Usamah, dan lain-lain, maka kita harus mulai dari hal-hal yang sederhana, dan melalui segala rintangan dan ujian ini dengan penuh sabar dan istiqamah.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS At Taubah (9): 111)

Surga, oh surga yang indah, Aku ingin surga yang indah ini, dan itulah janji Allah buat para mujahidnya. Begitu juga kalian. Tapi kita harus terbunuh sebagai syuhada’ dulu ikhwah. Bila mana kita sudah berani menjadikan jihad fie sabilillah ini sebagai program hidup ini (yuqtal aw yaghlib) membunuh atau terbunuh, berperang atau diperangi, menang atau mati di jalan Allah, maka orang itu termasuk muflihun sejati. Namun hanya segelintir manusia seperti ini menjadi pilihan Allah, Baadiruu…. Segeralah mengejarnya… Allahu Akbar!

Semoga Allah memilih kita sebagai mujahid dan mujahidahnya, dan bersatu dalam barisan mujahidnya sehingga kita meraih syahid di dalamnya. Maafkan Aku atas segala kesalahan dan do’akan Aku agar istiqamah dalam ujian ini, dan diberikan kemenangan dalam segala urusan. Aku mencintai kalian karena Allah, teruslah berjuang, dengan apapun semampu kalian. Bangkitlah dan perangilah thaghut sampai hari kiamat. Semoga kita bisa bertemu lagi di alam bebas. Yang benar hanya milik Allah, yang salah dari pribadi Aku. Ilal liqo’, Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar! Wal Izzatu lillah…!

Surat Dari Mujahid Kepada Ibunya

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang!

Segala puji bagi Allah – Tuhan semesta alam, tempat kita memuji dan meminta bantuan dan pengampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan perbuatan kita. Sungguh, tak seorang pun bisa menyesatkan orang-orang yang telah Allah bimbing ke jalan yang lurus, dan tidak ada yang akan mampu membimbing ke jalan yang lurus orang-orang yang telah Allah sesatkan. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya! Kemudian …

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi Wa barakatuh!

Kedamaian dan rahmat menyertaimu, Ibu tersayang! Saya telah lama bertanya-tanya bagaimana menyampaikan pikiran dan perasaanku terhadapmu, dan saya memutuskan untuk menulis surat ini. Semoga Ayah tidak tersinggung karena surat ini ditujukan kepadamu, orang yang selalu ia jaga dan pedulikan, saya sangat menghargai itu, tetapi yang paling dekat dan sayang kepada setiap orang – adalah Ibu! Nabi (saw) berkata: “Surga berada di bawah kaki ibumu!”

Agar tidak mengundang kemarahan musuh Allah atau pun orang-orang yang dengan sukacita menyerangmu dengan berbagai interogasi dan panggilan ke polisi, dan juga agar tidak membuat banyak lidah kerabat kita mengeluarkan fitnah mereka, saya tidak akan menyebut nama.

Saya berterima kasih kepadamu, Ibu, untuk semua kesulitan yang Ibu derita demi kebahagiaan saya, sejak Ibu mengandung saya selama berbulan-bulan yang tidak mudah tentunya, dan berakhir dengan kenyataan bahwa saya menjadi saya sekarang – seorang muslim, seorang Mujahid yang selalu mencari pengampunan dan surga. Semoga Allah membalasmu untuk setiap peluh yang Ibu keluarkan saat saya dilahir ke dunia ini, untuk kegelisahan, untuk air mata, untuk malam-malam dimana Ibu terjaga, dan untuk hari-harimu yang sulit.

Karena Ibu selalu menanamkan kesalehan sejak masa kanak-kanak, karena bertahun-tahun yang dihabiskan untuk pendidikan saya, karena segala kesulitan yang Ibu tepis, maka saya tidak perlu apa-apa dan tidak akan merasa kehilangan. Dengan karunia Allah Yang Maha Kuasa dan dengan usaha Ibu, masa kecil saya adalah masa dimana saya tidak pernah kehilangan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Rizki ini dari Allah melalui tanganmu, Ibu. Yang paling penting bagi setiap anak, kehangatan dan kebaikan orang tua, dan saya tidak pernah sedikitpun merasakan kurangnya kehangatan, kasih sayang dan perhatian darimu. Jadi saya sangat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih padamu atas segalanya!

Ibu yang mulia, sebagian besar hidupmu terjadi di negara kafir komunis di mana orang-orang yang dipaksakan dengan cita-cita dan nilai-nilai yang palsu. Sepenuhnya orang-orang kafir itu ingin menghilangkan rasa takut setiap orang terhadap Tuhan, dan hal itu terjadi pada hari-hari kita, tetapi mereka tidak akan pernah memadamkan cahaya Allah, dan Alhamdulillah, Allah-lah yang senantiasa membimbing kami ke jalan yang lurus, dan membuat kita sebagai muslim dalam arti yang sesungguhnya!

Tidak dapatkah Ibu melihat bagaimana orang-orang Kabardian, Balkar, dan Karachay berubah, mereka yang menyebut diri mereka Muslim, mereka yang sejak lahir tahu bahwa anggur dan vodka adalah haram dan daging babi itu dilarang? Apa yang terjadi dengan rasa malu mereka? Apa yang terjadi pada kemanusiaan mereka? Dan apa yang tersisa dari kesalehan mereka?

Lagi pula, orang-orang yang semasamu mungkin bisa sedikit melihat dimana gagasan mengenai kehormatan, penghargaan dan penghormatan bagi orang tua, kesopanan, dan seterusnya begitu ditaati. Orang tua pada saat itu mungkin berbuat kesalahan, meskipun diam-diam, tetapi mereka selalu berusaha untuk menanamkan kesalehan kepada anak-anak mereka!

Bahkan saya ingat suatu saat ketika gadis-gadis itu malu untuk tampil di depan umum tanpa jilbab, dan jika terlihat berduaan dengan seorang laki-laki, itu dianggap sebagai aib. Mereka yang tidak dapat menyingkirkan kebiasaan buruk, seperti merokok dan lain-lain, menyembunyikan diri mereka dari yang lebih tua, bahkan pada saat mereka ada di usia tua. Para pemuda menghormati dan menghargai pendahulu mereka, mereka bahkan malu untuk makan di hadapan orang-orang tua. Inilah kesopanan yang dilandaskan pada keimanan! Jika seorang pria tidak mempunyai rasa malu, maka ia tidak memiliki iman! Tetapi kafir (semoga Allah mempermalukan mereka) selalu bekerja keras! Rasa malu kita sebagai Muslim dan rasa malu para perempuan Muslim itu tidak ada lagi.

Dalam kata-kata Musa Mukozhev (semoga barakah Allah menyertainya) dalam salah satu Khutbah Jumat: “Orangtua mengirim anak perempuan mereka untuk berzina, dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan itu, karena perempuan ini bertemu dengan pria yang ingin ia temui!”

SubhanAllah! Seberapa keras mereka berusaha untuk membuat anak-anak mereka menjadi bagian dari penghuni neraka! Orangtua membesarkan anak-anak mereka dalam demokrasi di bawah hukum-hukum kafir, memberi mereka uang untuk membeli bir dan rokok, dan berkata: “Dia masih melakukan itu sendiri dan tidak pernah meminta orang lain untuk melakukan hal yang sama.” Anak-anak merokok dan minum alkohol di hadapan orang tua, dan menonton film tidak senonoh, bersama-sama. Dan kemudian orang tua yang aneh dan tidak lagi memiliki rasa malu itu bertanya-tanya di mana orang-orang kafir ini muncul di jalanan. Tapi ini tidak mengejutkan. Ini kebijakan yang jelas orang-orang kafir – untuk memberantas Islam dan menghancurkan kaum muslim. Mereka menyebarkan kebejatan dan kejahatan, dalam rangka untuk mencapai kesejahteraan di negeri kita di bawah hukum-hukum kufur dan syirik!

Mereka para gerilyawan, yang pernah menjadi teror dan menimbulkan kepanikan bagi tentara kafir selama perang Rusia-Kaukasia, sekarang malah melayani orang-orang kafir, dan siap untuk memerangi kaum muslimin dalam rangka mendapatkan kepuasan gyaurs (orang-orang kafir).

Para gerilyawan, yang belum pernah mendamaikan diri atas penghinaan dari kafir, sekarang tunduk kepada kafir Rusia untuk mendapatkan sepotong lemak di meja mereka.

Orang-orang muslim yang tulus yang tidak ingin menerima rezim kafir karena tidak ingin hidup dalam kehinaan, kini menjadi warga negara kafir Rusia dan secara sukarela merayakan hari raya kaum Kristen dan pagan, ikut serta minum vodka pada Paskah Kristen.

Ibu sudah mendengar semua ini dari saya berkali-kali, tapi sekali lagi saya katakan pemikiran ini sekarang, ketika saya meninggalkan rumah dan bergabung dengan orang-orang yang berperang di jalan Allah, Ibu akan memahami dan mendengar saya, dengan pertolongan Allah!

Semua yang saya lakukan, saya melakukannya demi Allah. Dan surat ini, juga saya tulis demi Allah, karena saya ingin Ibu bahagia dengan saya, dan bangga bahwa anak Ibu adalah salah satu hamba Allah yang berusaha untuk mengangkat Firman Allah di bumi! Pikirkanlah, Bu, tidakkah Ibu memiliki apa yang bisa Ibu banggakan dari saya dan mujahedin lain?

Kami berjihad di jalan Allah dan tujuan kami adalah untuk mengangkat firman Allah di bumi ini tinggi-tinggi! Dan apa yang lebih indah daripada firman Allah dan janji-janji-Nya? Kami meninggalkan rumah dan memilih jalan ini dengan berkah Allah sehingga negeri kita bisa bebas dari ketidakpercayaan dan kepalsuan, sehingga keturunan kita tidak perlu melihat tanah kita tercemar dengan ideologi kafir, dan bisa hidup dengan hukum Allah, dan menghayati agama Allah sejak mereka lahir!

Ibu selalu bilang saya tidak boleh berbeda dengan orang lain, tidak boleh “bergaul”, menghindarkan diri dari segala hal yang terkutuk, karena semua itu akan membuat saya dipecat dari pekerjaan, orang-orang akan berpaling dari saya, akan saya dianggap sebagai “Wahhabi”, radikal, dan sebagainya., dan polisi dapat menahan saya kapanpun dengan konsekuensi lebih lanjut! Tapi esensi agama kita – yakni mendorong untuk melakukan kebaikan dan menahan dari keburukan!

Bagaimana mungkin saya tidak berbeda dan tidak “bergaul” jika ada begitu banyak kotoran? Karena untuk menjadi seperti orang lain yang Ibu inginkan, berarti saya perlu minum, merokok, bersumpah sumpah serapah, menceritakan lelucon kotor, untuk berbicara tentang perempuan, terlibat dalam perzinaan, mencari lebih banyak uang, karier, dan lain-lain. Pikirkanlah, Bu, apakah Ibu benar-benar lebih suka saya bersikap seperti orang-orang seperti itu? Semoga Allah menuntun mereka ke jalan yang lurus! Atau apakah Ibu ingin anak Ibu meretas jalan ke surga melalui tindakannya sekarang, dan mendapat hak syafaat di sisi Allah bagi orang yang mereka cintai, mendapatkan syahid di jalan Allah?

Saya tidak bisa seperti orang lain, Bu. Saya tidak ingin menjadi orang lain, saya ingin menjadi seorang Muslim! Saya ingin masuk ke dalam surga Firdaus! Bagaimana mungkin saya memilih karier dan kekayaan dunia ini, sedangkan berkah surga yang tak terbatas dijanjikan oleh Allah kepada orang beriman!

Bagaimana saya bisa mengabaikan rahmat yang besar dari Allah yang Dia tunjukkan kepada saya ketika Dia membawa saya keluar dari lumpur dan membuat saya benar-benar menjadi muslim? Saya bersumpah kepada Allah, satu hari di bawah naungan Islam bagi saya adalah lebih dari bertahun-tahun tinggal dalam ketidaktahuan, satu doa bagi saya lebih berarti daripada semua kekayaan yang ada di planet ini!

Saya ingin Ibu mengerti bahwa sekarang tidak mungkin kita menjadi kaum muslimin yang tenang, karena orang-orang kafir itu menyerbu tanah kita, nilai-nilai kita telah berubah, dan sekarang mereka berusaha untuk memalingkan kita dari agama kita. Dalam Islam, tidak ada konsep: “Beribadahlah dalam rumah dan tidak boleh berbeda dari orang kebanyakan, dan dan di luar rumah, hiduplah sesuai dengan hukum yang didirikan orang-orang kafir”.

Alhamdulillah, kita adalah muslim, dan harus hidup di bawah naungan hukum-hukum Allah, pergi ke masjid kapan dan di manapun kita mau, berjenggot dan berjilbab secara terbuka untuk menghindarkan diri dari fitnah, mengambil jizyah dari orang-orang kafir yang seharusnya berada dalam posisi lebih rendah daripada Muslim! Dan karena kita tidak bisa bebas melaksanakan agama kita, Allah menyeru kita untuk berperang di jalan-Nya dan meninggikan firman-Nya!

Dan kita akan bekerja keras sampai akhir hayat di jalan Allah, sampai firman Allah tegak di atas segalanya di bumi dan tidak akan ada hukum lain daripada hukum Allah! Saya sangat sakit hati oleh kenyataan bahwa Ibu tidak mendukung saya dalam hal ini. Mengapa Ibu tidak bercita-cita untuk melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, dimana kaum ibu mengirim anak-anak mereka untuk berjihad dan mendesak mereka untuk menjadi bersemangat di jalan ini?

Allah berfirman dalam Quran:
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At Taghabun [64]: 15)

Ingat cerita tentang perempuan yang tidak ada memiliki apa-apa untuk dikorbankan dalam jihad kecuali rambut dan putranya. Ia memotong rambut dan menjalinnya menjadi sebuah cambuk bagi mujahidin, dan mengirimkan putranya untuk berperang, dengan menitipkan pesan pada putranya itu untuk memberikan hidupnya di jalan Allah! Dan betapa senangnya saat ia mengetahui bahwa anaknya syahid di jalan Allah!

Ingat Asma, putri Abu Bakr, yang buta. Ia memerintahkan putranya untuk melepaskan baju besi yang melindungi dirinya dengan mengatakan: “Seseorang yang ingin surga tidak berpakaian seperti itu!” Dan mendesaknya untuk berperang sampai ia syahid di jalan Allah!

Ingat ibu-ibu yang anak-anak mereka tewas dalam pertempuran dengan orang-orang kafir, bersukacita dan berkata: “Sesungguhnya kami semua milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali”!

Sayangnya, Ibu tidak bisa melampaui cinta untuk anak Ibu ini, dan mengizinkan saya untuk itu. Ibu harus menempatkan cinta Ibu bagi Allah dan Rasul-Nya di atas cinta untuk putra Ibu dan mendukung jihad saya! Meskipun Ibu berdiri di hadapan Allah lima kali sehari, dan menangis dalam doa kepada Yang Mahakuasa, mungkin Ibu tidak pernah sekalipun meminta kepada Allah untuk membuat saya syahid!

Saya sangat sakit hati karena opini publik lebih penting bagi Ibu. Ibu lebih mengutamakan pendapat orang-orang yang ada dalam kebodohan dan sikap keras kepala mereka yang menjadikan mereka tetap berpaling dari kebenaran. Manakah yang lebih penting bagi Ibu, mereka atau Allah?

Sekarang kerabat kita menjauhi Ibu dan saya tahu itu sangat sulit bagi Ibu, melihat sikap seperti itu dari orang-orang yang telah Ibu bantu dan Ibu cintai. Tapi sekarang Ibu tidak memiliki apapun, dan sepertinya mereka tidak lagi membutuhkan Ibu. Dalam masyarakat saat ini, orang tua, yang tidak ada gunanya, ditolak oleh semua orang!

Semua upaya untuk mengumpulkan segala hal bagi saya, untuk memperoleh pekerjaan bergengsi, untuk melihat bagaimana saya mendapatkan rasa hormat dan kemuliaan di tengah-tengah masyarakat kotor ini, semua mimpi ini melesat! Sadarlah, Ibu! Apakah orang-orang sebelumnya yang kaya, membawa harta yang mereka kumpulkan setelah mereka mati? Apakah posisi yang tinggi dalam masyarakat membantu mereka? Saya bersumpah demi Allah, tidak!

Untuk berusaha untuk hidup menurut hukum Allah, untuk melakukan salat, membayar zakat, memberi sedekah, untuk melakukan perbuatan baik dan tindakan yang akan diletakkan di dalam timbangan kita di hari kiamat, melakukan tugas-tugas Ibu terhadap sesama mu’min, dan menghargai jihad di jalan Allah, inilah yang harus kita lakukan.

Apakah kita tidak memiliki contoh jelas kesalahpahaman palsu ini dipaksakan pada kita oleh kebijakan kafir? Ingat Vasya Temrokov, pengusaha, dan keluarganya, dengan istana dan kekayaan. Apakah dia membawa segalanya kecuali amal perbuatannya, dan apa yang tersisa dari kekayaan yang melimpah, dan mungkin hanya keluarganya memperoleh keuntungan dari kekayaannya! Ingat Valeriy Kokov (tentang berapa banyak kerusakan yang telah ia lakukan bagi umat Islam di republik dan bagaimana ia bersemangat dalam perang dengan agama Allah tidak akan saya bicarakan, dia sudah mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan!)

Apakah posisinya menolongnya? Atau apakah seorang presiden tidak mati? Dan di mana seluruh kekayaan yang dikumpulkan dengan penipuan dan pencurian? Mungkinkah itu akan membantu keluarganya? Tapi tidak! Di hadapan Allah semua manusia akan berkumpul hanya dengan perbuatan mereka! Semua orang akan mati, dan setelah kematian semua akan menerima balasan untuk perbuatan dan tindakan mereka, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencipta!

Allah berfirman dalam Quran:
“Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan” (QS Al An’am [6]: 26-29)

Insya Allah, menanggapi Allah Yang Berkuasa atas semesta alam, Presiden saat ini, Arsen Kanokov, dengan kekayaan yang tak terhitung tidak akan membantunya, begitupun dengan kursi kepresidenannya, maupun keluarga atau teman-temannya, baik Putin maupun Medvedev! Tidak ada satupun! Dan pada hisabnya hanya akan semua uang kotor yang diperoleh dari riba, semua kebohongan dan penipuan terhadap orang-orang yang bodoh, dengan dalih bahwa ia tidak melakukan apapun kecuali untuk membantu negara, dan menginvestasikan uangnya dalam perekonomian republik.

Semua tindakannya bertentangan dengan Islam dan kaum muslim. Dan pembangunan masjid pusat dari uang haram dan membangun sebuah gereja Kristen dengan kubah emas. Bisakah seorang Muslim membangun sebuah kuil kafir dan dekat dengan masjid? Dan tentu saja, salib, yang diserahkan oleh orang-orang kafir dalam upacara pembukaan Rusia FSB di Nalchik, akan diletakkan pada timbangannya di hari kiamat.

Kenyataan yang tersembunyi dari orang-orang sebagai kebenaran lainnya, dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya: Ia dianugerahi dengan St. Sergius dari gelar Radonezh II, oleh Alexy II yang sangat patriarkal, untuk menghormati ulang tahun ke-450 masuknya Kabardino-Balkaria ke Rusia. Sebuah kombinasi mengerikan dari semua yang dibenci Allah!

Allah berfirman tentang mereka:
“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (QS Ali Imran [3]: 176)

Saya ingin benar-benar tinggal bersama Ibu, terus menjagamu, bertani, mendidik anak-anak dalam Islam, beribadah kepada Allah dan menjalani kehidupan yang penuh dengan damai, tapi sekarang semua itu tidak mungkin terjadi selama Muslim masih ada dalam situasi semacam ini, dan sementara di negeri kita yanga ada hanya hukum kufur bukannya hukum Allah!

Allah berfirman dalam Quran:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Anfal [8]: 39)

Aku mohon Ibu, Ibu yang sangat saya sayangi, pertimbangkanlah kembali posisimu. Berhentilah menyalahkan orang lain karena saya pergi berjihad. Mulailah menerima dan berterima kasih pada mereka saudara-saudara saya yang oleh karunia Allah mereka berjihad sebelum saya, hingga istri saya yang tak pernah berhenti memberikan dukungan dan pengertiannya.

Jangan mendengarkan segala macam perkataan orang-orang bijak yang mengklaim diri mereka penasihat spiritual, yang menggunakan fakta bahwa orang-orang lainpun mendengarkan mereka. Mereka, yang dipimpin oleh para antek kafir ini (maksud saya adalah Pshihachev), tidak akan pernah berbicara tentang kebenaran. Semoga Allah memberi mereka balasan penuh untuk semua perbuatan mereka dan semua kata-kata yang mereka tujukan terhadap umat Islam.

Ibu tersayang, saya minta maaf untuk semuanya! Kita semua hanya bagian dari manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan, tetapi bagi saya sangat penting bahwa Ibu memaafkan saya untuk segalanya dan ridha dengan saya. Saya ingin kembali di hadapan Allah dengan hati yang tenang, karena keridhaan Allah ada dalam keridhaan orangtua. Saya tahu apa yang Ibu alami setiap kali mereka menyerang saudara-saudara saya, dimana orang-orang kafir melakukan operasi khusus terhadap mujahidin. Setiap kali Ibu mungkin berpikir bahwa saya bisa berada di sana, dan mengharapkan bahwa mereka akan memberitahu anda tentang hal itu. Dan dari pikiran-pikiran dan pengalaman, itulah, hati ibu pun mulai menyusut akibat rasa sakit dan rasa takut Ibu terhadap hidup saya.

Tapi saya mohon pada Ibu, khawatirlah pada Akhirat kita, karena, ketika kita berdiri di hadapan Allah, kita takut hanya kepada Allah. Bagaimanapun, Allah Penguasa semesta alam berjanji bahwa jika Ibu tidak merasa takut kehilangan anak, harta, hidup dan semua hal-hal duniawi, dan menghabiskan rasa takut Ibu hanya kepada Allah, Ibu tidak akan tahu rasa takut pada hari penhisaban, dan Ibu tidak akan perlu bersedih! Kita harus mencari keridhaan Allah, dan harus memimpin jihad di jalan-Nya, meninggikan kalimat Allah di bumi.

Allah berfirman:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 216)

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (QS At Tawbah [9]: 38-39)

“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” (QS An Nisaa [4]: 74-75)

Saya tidak mampu mendengar langsung dari Ibu bahwa Ibu sudah ridha terhadap saya sebagai anak, dan maafkan saya atas segalanya, tapi jika Ibu mengatakan hal ini kepada Allah, maka ini sangat cukup bagi saya!

Saya mohon maaf untuk segala sesuatu, tapi saya tidak menyesal karena saya telah memilih jalan ini dan tidak merasa bersalah untuk itu. Sebaliknya, saya berharap untuk menerima penghargaan Allah, bahwa Dia akan memperkenankan saya masuk ke surga Firdaus dalam rahmat-Nya, dan saya bersyukur kepada Allah karena telah membawa saya untuk berjihad di jalan-Nya! Allah memilih orang-orang terbaik dan membuat mereka muslim! Lalu Ia memilih yang terbaik dari kaum muslimin dan membuat mereka Mujahidin! Dan kemudian yang terbaik dari Mujahidin Allah adalah membuatnya syahid di jalan-Nya!

Saya harap Ibu mau bergabung dalam berperang di jalan Allah dan mengikuti satu-satunya jalan yang benar sekarang! Untuk melakukan ini, Ibu hanya perlu memahami bahwa semua orang yang pernah menentang Islam dan kaum muslim, dan melawan kita, adalah musuh-musuh Allah.

Ibu tersayang, jangan pernah membiarkan ketika seseorang menyinggung atau merendahkan kaum muslimin, bantulah saudara-saudara kita yang sepenuhnya berjuang di jalan Allah dengan apapun yang Ibu mampu, bantulah Mujahedin, dan jika perlu, lindungi mujahedin dari incaran kaum kafir, dan kemudian Allah akan membuat Ibu sebagai salah satu yang memperoleh keberhasilan di dunia ini dan di dunia yang Kekal nanti.

Ibu, mintalah pada Allah, Yang Maha Pemurah, bahwa anak Ibu mati syahid, dan bahwa Allah membawa saya ke dalam surga Firdaus, di mana mengalir sungai-sungai selamanya! Berdoalah bahwa Allah membuat kita dan keturunan kami shalih, bahwa Dia menguatkan kita di jalan-Nya dan melimpahi kita dengan kesyahidan! Dan kemudian Ibu bisa bersukacita bahwa pada hari kiamat, Ibu dengan izin Allah akan mendapat syafaat!

Ibu, saya tahu betapa sulit ini semua bagi Ibu, tetapi balasan Allah untuk semua itu sangat besar, dan ketika Ibu mendengar, insya Allah Ta’ala, bahwa Allah telah memberikan kepada anak Ibu kesyahidan di jalan Allah, jangan lupa ayat Quran:

“SESUNGGUHNYA KITA MILIK ALLAH DAN KEPADA-NYA KITA KEMBALI!”"

Kedamaian dan berkah Allah menyertaimu, Ibu terkasih! Saya sedang terburu-buru untuk pergi ke Surga, dan saya berharap untuk bertemu dengan Ibu di sana!

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Saudariku, Bagaimanakah Engkau Bergaul?

Berlebihan dalam bergaul adalah penyakit parah yang menyebabkan segala maksiat. Berapa banyak kenikmatan yang dihilangkan oleh percampuran dan pergaulan? Berapa banyak permusuhan yang ditanamkan oleh pergaulan? Berapa banyak pergaulan menanamkan di dalam hati pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan gunung yang kukuh, sedangkan pengaruh tersebut di dalam hati tidak dapat hilang?

Maka, di dalam pergaulan yang berlebihan terdapat kerugian dunia dan akhirat. Hendaknya seorang hamba hanya mengambil pergaulan sekadar kebutuhan dan menjadikan manusia di dalam pergaulan itu menjadi empat bagian. Bila salah satu bagian bercampur dengan bagian lainnya dan tidak membedakan bagian-bagian itu, maka akan masuk kepadanya kejahatan.

Pertama, teman bergaul itu laksana makanan, tidak mungkin bisa ditinggalkan pada waktu siang dan malam. Apabila ia telah mengambil kebutuhannya dari orang itu, ia akan meninggalkan

pergaulan dengannya. Apabila ia membutuhkannya lagi, maka ia akan kembali padanya, begitu seterusnya. Orang macam ini lebih kuat dari api yang merah. Mereka itu adalah para ulama yang tahu tentang Allah dan perintah-Nya, tipuan-tipuan musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya. Bergaul dengan kelompok ini membawa keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kedua, teman bergaul itu laksana obat. Yaitu, yang dibutuhkan ketika datang penyakit. Maka, selama engkau sehat, engkau tidak perlu bergaul dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak boleh tidak, pasti kamu bergaul dengannya dalam kemaslahatan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau orang yang dibutuhkan dalam macam-macam hubungan pekerjaan, hubungan sosial, bermusyawarah dan pengobatan dan lain-lainnya. Apabila engkau telah menyelesaikan kebutuhanmu dari bergaul dengan kelompok ini, maka akan ada kelompok ketiga.
Ketiga, mereka adalah orang yang bergaul dengannya bagaikan penyakit dengan berbagai macam tingkatan, bentuk, kekuatan dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya bagaikan penyakit yang ganas dan penyakit menahun. Teman seperti ini tidak memberikan keuntungan baik dalam agama maupun dalam kehidupan dunia. Malah, jika engkau bergaul dengannya, engkau akan merugi dalam agama dan dunia atau salah satu dari keduanya. Orang macam ini, jika engkau bergaul dengannya dan berhubungan erat denganmu, maka ia bagaikan penyakit kematian yang sangat mengerikan.
Di antara mereka ada yang bagaikan penyakit gigi, sangat menyiksamu. Jika ia meninggalkan kamu, maka rasa sakitnya akan hilang. Ada juga teman bergaul yang seperti penyakit demam. Yaitu, orang yang berat bicara dan dibenci pikirannya. Dia adalah orang yang tidak baik pembicaraannya sehingga engkau dapat mengambil manfaat (dari pembicaraannya). Dia tidak pandai mendengarkan sehingga ia dapat mengambil manfaat darimu. Dia tidak mengetahui dirinya, sehingga ia metelakkannya sesuai posisinya.

Bahkan, kalau berbicara, maka bicaranya seperti tongkat, memukul hatipara pendengar. Sedangkan, ia merasa bangga dan senang dengan perkatannya. Maka, dia bagaikan mengeluarkan kentut dari mulutnya setiap kali berbicara. Sedangkan, dia menyangka bahwa ia bagaikan parfum yang mengharumkan majelis. Apabila dia diam, maka ia lebih berat dari setengah penggilingan padi yang besar yang tidak kuat di bawa atau ditarik di atas tanah.

Wanita Shalihah

Wanita Shalihah

Imam Syafi’i berkata, “Tidak ada seorangpun yang duduk di sampingku dari orang yang berat kecuali aku dapatkan di sisi tempat ia berada lebih rendah dari sisi yang lain.” Suatu hari aku melihat di sisi syaikh kami (Ibn Taimiyah -guru Ibnul Qoyyim) seorang dari jenis ini. Syaikh membawanya, sedangkan saya sudah melemah kekuatanku untuk membawanya. Maka, syaikh menoleh kepadaku dan berkata, ‘Mempergauli orang yang berat bagaikan demam empat (demam yang datang setiap hari keempat). Akan tetapi, ruh kita telah kecanduan penyakit demam. Sehingga, sudah menjadi kebiasaannya.’ Atau sebagaimana yang ia katakan.”
Secara umum, mempergauli penentang demam bagi ruh adalah perkara yang terhamparkan dan mesti ada. Barangsiapa yang dunia tidak berpihak kepadanya, yaitu dengan diuji dengan satu orang semacam ini, maka dia tidak harus mempergauli dan mencampurinya. Hendaklah ia bergaul dengan orang jenis ini dengan baik sehingga Allah menjadikan baginya jalan keluar.
Keempat, teman bergaul yang hanya akan mendatangkan kebinasaan bagaikan memakan racun. Jika kebetulan menemaninya, maka hendaklah ia makan penawar racun. Kalau diberikan taufik akan mendapatkan obat yang menyelamatkan dari racun ini, yaitu seorang teman yang shalih yang akang menyelamatkan dari musibah ini. Kalau tidak (mendapatkan teman yang shalih), maka lebih baik di-ta’ziyah (karena kebinasaannya). Alangkah banyaknya orang macam ini di kalangan manusia, semoga Allah tidak meperbanyak orang macam ini. Mereka itu adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang menentang sunnah Rasulullah bahkan menyerukan kepada yang sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang mencegah dari jalan Allah dan mengharapkannya bengkok. Maka, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah dan menjadikan sunnah mejadi bid’ah. Mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar dan menjadikan yang munkar menjadi ma’ruf.
Jika kamu sucikan tauhid diantara mereka, mereka mengatakan, “Kamu mencela kemuliaan para wali dan orang-orang saleh”. Jika kamu murnikan ittiba’ mengikuti Rasulullah, mereka berkata, “Kamu telah memusnahkan para ulama yang patut diikuti.” Jika kamu menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan dirinya sendiri dan sifat-sifat yang disifatkan oleh Rasulullah tanpa berlebihan dan kekurangan, mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang musyabbihin (yang menyerupakan Allah).”

Jika kamu memerintahkan sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari perbuatan baik dan kamu melarang sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya larang dari perbuatan munkar, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah orang-orang yang terkena fitnah”. Jika kamu mengikuti sunnah dan meninggalkan yang bertentangan dengannya, maka mereka mengatakan, “Kamu termasuk orang-orang ahli bid’ah yang menyesatkan”.
Apabila kamu memutuskan tali keduniaan karena hanya beribadah menuju Allah dan kamu tinggalkan mereka berkubang dalam bangkai dunia, maka mereka mengatakan, “Kamu adalah termasuk orang-orang yang terkacaukan”. Jika kamu meninggalkan apa yang telah kamu kerjakan dan kamu mengikuti hawa nafsu mereka, maka kamu di sisi Allah termasuk orang-orang yang merugi dan di sisi mereka termasuk orang-orang yang munafik.
Pegangan yang terkuat adalah hanya dengan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya dengan cara membuat marah mereka. Jangan pedulikan teguran-teguran dan cacian-cacian mereka. Jangan hiraukan celaan dan kebencian mereka. Karena itu adalah inti dari kesempurnaanmu, sebagaimana dikatakan dalam syair.

Dan apabila datang pencelaanku dari orang-orang yang kurang, maka itu adalah saksi sesunnguhnya aku yang lebih baik.

Dan sungguh menambahkan kecintaanku kepada diriku, bahwa diriku dibenci oleh orang yang tidak berguna.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjuan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan biak sampai hari pembalasan.

Biadab, Tentara Zionis Serang Rumah Sipil dan Membakar Al-Qur’an

TEPI BARAT-- Tak puas dengan penyiksaan dan perusakan rumah milik penduduk Palestina, kini tentara Zionis Israel kembali berulah dengan membakar Al-Qur’an, kitab suci ummat Islam.

Tentara Zionis dilaporkan membakar Al-Qur’an saat melancarkan serangan tengah malam terhadap keluarga Palestina di Tepi Barat.

Shar Beida mengatakan pada Senin (25/10/10) bahwa ia dan putrinya dipisahkan dalam ruangan berbeda oleh tentara Israel yang menyerang rumahnya untuk menangkap suaminya, Ismail.

“Ketika saya keluar saya sangat terkejur menemukan Qur’an kami berada di tangga depan rumah telah hangus terbakar,” ujarnya seperti yang dilansir AFP.

“Mereka mengambil Qur’an dari rumah kami dan membakarnya di gang depan rumah,” ujar ibu berusia 40 tahun.

Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang terbakar diperlihatkan kepada wartawan AFP yang mendatangi rumahnya.Militer Israel menolak untuk berkomentar terkait peristiwa ini.

Di awal bulan ini, di selatan Tepi Barat terdapat grafiti penghinaan terhadap Islam dan penghancuran mesjid dengan membakar Al-Qur’an dan sajadah di dalamnya.

Sebelumnya, di Amerika, seorang pendeta di Florida, Bob Old melakukan aksi pembakaran Al-Qur’an bersama rekannya. Beberapa hari setelah aksi penodaan itu dilakukan, sang pendeta mengalami kecelakaan tragis dan tewas di dalam mobilnya yang terbakar.

Penistaan Al Quran Ala Doktor UIN Yogya

Pada 5 November 2009, saya mendapat undangan untuk berbicara dalam sebuah seminar di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seminar bertema ”Islam dan Tantangan Pemikiran Global” itu diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pesantren Modern Gontor cabang Lombok. Seminar dibuka oleh Gubernur NTB, Tuan Guru Zainul Majdi. Turut memberikan sambutan adalah pimpinan Pondok Pesantren Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan Tuan Guru Sofwan Hakim, ketua Forum Kerjasama Pesantren se-NTB. Seminar dihadiri sekitar 300 pimpinan dan guru-guru pesantren se- NTB. Tim pembicara dari INSISTS dipimpin oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

Tampaknya, bagi para ulama dan tokoh Islam di NTB, isu liberalisasi Islam sudah cukup akrab dengan mereka. Mereka mengakui, sejumlah masalah yang dibahas dalam seminar sudah terjadi juga di daerah mereka, meskipun dalam skala yang belum masif seperti di sejumlah kota di Pulau Jawa. Salah satu masalah yang sudah mulai dilontarkan kaum liberal di NTB adalah soal ”Desakralisasi al-Quran.” Ada seorang tokoh yang mengaku sempat berdiskusi dengan seorang mahasiswa IAIN Mataram, yang bertanya kepadanya: ”Apakah al-Quran itu benar-benar suci atau dianggap suci?”

Mendengar pertanyaan itu saya menjawab dengan agak bercanda, ”Tanyakan pada si mahasiswa, apakah dia benar-benar manusia atau dianggap manusia?”

Dalam seminar di NTB, isu ”desakralisasi al-Quran” memang disinggung juga oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Gubernur NTB yang juga kandidat doktor ilmu Tafsir di Universitas al-Azhar Kairo, bahkan menguraikan cukup panjang sejarah serangan kaum orientalis terhadap Islam, termasuk terhadap al-Quran. Ia menunjukkan sejumlah contoh kesungguhan dan kesabaran para orientalis dalam menyerang Islam. ”Sehingga dalam pertarungan ini, siapa yang lebih sabar yang akan menang,” ujarnya seraya mengajak para peserta seminar untuk meningkatkan kesabaran dalam berjuang.

Proyek ”desakralisasi al-Quran” memang termasuk salah satu tema pokok dalam liberalisasi Islam. Mengikuti tradisi kajian al-Quran model orientalis, sejumlah pemikir liberal tampak berusaha keras meyakinkan kaum Muslim, bahwa al-Quran bukanlah sebuah kitab suci, tetapi kitab yang dianggap suci. Ada yang berusaha keras menulis artikel untuk membuat kaum Muslimin ragu-ragu terhadap kebenaran dan keotentikan al-Quran. Dia mencoba meyakinkan, bahwa al-Quran adalah kitab biasa-biasa saja, yang juga mengandung kesalahan secara tata bahasa. Tentu saja, pekerjaan semacam ini akan sia-sia saja. Meskipun si penulis mendapatkan imbalan tertentu di dunia.

Pikiran semacam ini tampaknya cukup luas merasuki pemikiran kalangan akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Islam saat ini. Tentu kita masih ingat, bagaimana seorang dosen IAIN Surabaya yang pada 5 Mei 2006, menerangkan posisi Al-Quran sebagai hasil budaya manusia. Dia katakan, “Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput. Sebagai budaya, Al-Quran tidak sakral. Yang sakral adalah kalamullah secara substantif.”

Sebuah jurnal yang diterbitkan di IAIN Semarang edisi 23 Th. XI/2003, menulis di sampul belakangnya: ”ADAKAH SEBUAH OBJEK KESUCIAN DAN KEBENARAN YANG BERLAKU UNIVERSAL? TIDAK ADA! SEKALI LAGI, TIDAK ADA! TUHAN SEKALIPUN!” Di pengantar redaksinya juga ditegaskan: ”Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

Mengapa kaum liberal giat dalam mengkampanyekan tema ”desakralisasi al-Quran”, bahwa al-Quran bukanlah kitab suci? Ternyata, jika kita cermati, tujuan mereka adalah ingin memberikan legitimasi terhadap masuknya berbagai metode penafsiran al-Quran, di luar ilmu Tafsir al-Quran. Dengan meletakkan posisi al-Quran sebagai teks biasa, teks sastra, teks budaya, atau teks sejarah, yang sama dengan teks-teks lain, maka dimungkinkan masuknya model pemahaman al-Quran yang baru, seperti hermeneutika.

Di NTB itulah, saya lebih berkesempatan membaca sebuah buku berjudul Arah Baru Studi Ulum al-Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya karya seorang dosen STAIN di Jawa Timur, yang juga doktor lulusan UIN Yogyakarta. Sebut saja inisialnya ”AW”. Tesis master dosen ini juga sudah diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, yang juga menolak kesucian al-Quran. Buku Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an, semakin menegaskan, adanya kecenderungan dan gerakan penghancuran ulumul-Quran para ulama Islam, digantikan dengan teori-teori ilmu sosial para ilmuwan Barat. AW sangat getol dalam mempromosikan penggunaan hermeneutika untuk – katanya – memahami pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani. Seperti biasa, para pengguna hermeneutika biasanya melakukan proses desekralisasi teks al-Quran. Itu pula yang dilakukan dosen STAIN ini. Simaklah pandangan penulis tentang al-Quran berikut ini:
”Dalam karya ini, saya membedakan antara wahyu, al-Qur’an, dan Mushaf Usmani. Ketiganya adalah tiga nama yang kendati mengacu pada satu substansi, tetapi kadar muatan ketiganya berbeda. Wahyu sebagai pesan otentiks Tuhan masih memuat keseluruhan pesan Tuhan; al-Qur’an sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab oral memuat kira-kira sekitar 50 persen pesan Tuhan; dan Mushaf Usmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab tulis hanya memuat kira-kira tiga puluh persen pesan Tuhan. Jika selama menjadi wahyu masih memuat keseluruhan pesan Tuhan, tidak demikian halnya ketika telah menjadi al-Quran dan Mushaf Usmani. Hal itu terjadi, bukan karena Tuhan tidak mampu menjamin keabadian pesan-Nya, melainkan karena keterbatasan Bahasa Arab yang dijadikan wadah pesan Tuhan yang tak terbatas itu.” (hal.vii).

Saya sangat prihatin dan sekaligus kasihan membaca berbagai uraian dalam buku ini. Sebab, buku ini ditulis oleh seorang dosen agama dan doktor lulusan UIN Yogya. Selain disebarkan melalui tulisan, dosen ini tentu juga mengajarkan pemikirannya kepada para mahasiswanya. Banyak sekali kekacauan dan kerancuan pemikirannya, yang tentu saja memerlukan terapi yang sangat serius. Marilah kita lihat contoh-contoh kekacauan berpikir dosen yang dinyatakan lulus doktornya di UIN Yogya dengan predikat cum laude ini. Dia menulis sebagai berikut:
”Ketika pesan Tuhan diwadahkan ke dalam bahasa Arab itu, maka Muhammad sebagai agen tunggal Tuhan yang juga sebagai masyarakat Arab memilih lafaz dan makna tertentu yang mampu memuat dua pesan, yakni pesan Tuhan dan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Implikasinya, teori interpretasi yang hanya mengacu kepada fenomena kebahasaan semacam tafsir, hanya mampu menemukan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Sedang pesan Tuhan yang ada di dalamnya belum tersentuh sedikit pun. Oleh karena itu, diperlukan sebuah teori interpretasi lain yang dinilai mampu menemani tafsir, sehingga yang terungkap bukan hanya pesan pemilik bahasa, tetapi juga pesan Tuhan. Hermeneutika tampaknya bisa menjadi mitra tafsir guna mengungkap pesan Tuhan di balik Bahasa Arab sebagai fenomena budaya.” (hal.viii).

Sekilas saja, kita bisa menilai, bahwa kata-kata si dosen STAIN itu sebenarnya asbun (asal bunyi). Tuduhan bahwa Ilmu Tafsir selama ini tidak mampu menangkap pesan Allah dalam al-Quran adalah suatu bentuk pernyataan asal-asalan. Tentu kita tidak bisa menyimpulkan si dosen ini ”sakit jiwa”, sebab bisa meraih gelar doktor dari UIN Yogya dengan predikat cum laude dan bisa menulis banyak buku. Tetapi, yang jelas, selama 1400 tahun lebih, umat Islam di seluruh dunia telah memahami al-Quran dengan menggunakan Ilmu Tafsir dan tidak menggunakan hermeneutika. Lalu, tiba-tiba di ”zaman edan” ini muncul ”pemikir luar biasa hebat” dari UIN Yogya yang dengan gagah berani menyimpulkan: ”teori interpretasi yang hanya mengacu kepada fenomena kebahasaan semacam tafsir, hanya mampu menemukan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Sedang pesan Tuhan yang ada di dalamnya belum tersentuh sedikit pun.”

Karena berlagak menjadi mujtahid besar itulah maka pengguna hermeneutika — seperti penulis buku ini — lalu bersikap sok hebat dan merendahkan martabat, keilmuan, dan keikhlasan Khalifah Usman bin Affan serta para ulama Islam terkemuka. Tapi, ironisnya, pada saat yang sama, kaum liberal juga sangat hormat dan bertaklid buta begitu saja kepada Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Khaled Abou el-Fadl, Farid Essac, Paul Ricour, Fazlur Rahman, Hegel, dan sebagainya.

Simaklah sejumlah ungkapan AW tentang Mushaf Usmani berikut ini: ”Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa proses pembukuan al-Quran diwarnai campur tangan Utsman dalam posisinya sebagai khalifah, yang oleh Abu Zayd disebut sebagai ”dekrit” khalifah.” (hal. 169)… ”Maka tidak bisa disalahkan kiranya jika diasumsikan bahwa di balik keputusan khalifah Utsman tersebut mengandung adanya unsur ideologis, terutama ideologi pemilik bahasa yang dipilih menjadi bahasa Mushaf Usmani.” (hal. 170)…”Lebih-lebih, Khalifah Utsman telah menghilangkan dan menyensor bahkan memusnahkan korpus kitab-kitab individu, seperti milik Ibnu Mas’ud dan Siti Hafsah. Ini jelas berimplikasi pada pemusatan pembacaan hanya pada Mushaf Usmani. Jika boleh memberi istilah, Mushaf Usmani ini telah menjadi ”penjara” bagi pesan rahasia Tuhan. Penjara yang dimaksud di sini adalah ideologi Quraisy yang melingkupinya, dan bahkan antara Quraisy dan al-Qur’an (Mushaf Usmani) merupakan dua anak kembar yang saling bersanding dan dua cabang yang berakar sama, yang dengannya mereka mencoba menancapkan hegemoninya.” (hal. 172).

Begitulah pandangan doktor UIN Yogya yang sangat merendahkan martabat Sayyidina Utsman bin Affan dan menistakan al-Quran. Sebenarnya, jika AW mau mengungkapkan berbagai penjelasan dalam kitab Ulumul Quran, maka dengan mudah ditemukan penjelasan seputar tindakan Khalifah Utsman r.a. yang sangat mulia dan luar biasa besar jasanya dalam kodifikasi Mushaf al-Quran. Tapi, dia lebih percaya kepada pendapat-pendapat orientalis yang memberikan berbagai tuduhan dan sangkaan terhadap Khalifah Utsman r.a., menantu Rasulullah saw, dan termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk sorga oleh Rasulullah saw.

Tindakan Sayyidina Utsman itu pun sudah mendapat pesertujuan dari semua sahabat, termasuk Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib. Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menentang tindakan Utsman r.a., karena memang kodifikasi al-Quran itu bukan dilakukan untuk kepentingan politik atau kesukuan. Karena itulah, sepanjang sejarah Islam, meskipun terjadi berbagai konflik politik, tidak pernah terpikir suatu rezim untuk membuat al-Quran baru. Betapa pun kerasnya konflik antara Ali dan Mu’awiyah, keduanya tetap menjadikan Mushaf Utsmani sebagai pedoman. Setelah Abbasiyah berkuasa, mereka juga tidak mengganti Mushaf Utsmani dengan Mushaf baru. Maka, tuduhan-tuduhan keji terhadap Sayyidina Utsman r.a. dan Mushaf Utsmani sebenarnya sangat tidak ilmiah dan hanya berlandaskan kebodohan dan kebencian.

Kajian terakhir yang menyudutkan Mushaf Usmani, misalnya datang dari seorang orientalis Kristen Jerman (berasal dari Lebanon) yang menggunakan nama samaran Christoph Luxenberg. Sebagaimana para pendahulunya, Luxenberg juga menggugat al-Quran sebagai “wahyu” yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Ia mencoba menggugurkan keyakinan kaum Muslim bahwa al-Quran adalah “tanzil”, “suci”, bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran (QS 15:9). Menurut Luxenberg – dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlah kata dalam al-Quran Arab yang diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac — Al Qur’an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah salah salin (mistranscribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Al Qur’an, simpulnya, lebih mirip bahasa Aramaic, ketimbang Arab. Dan naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan. Dengan kata lain, al-Quran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT, melainkan akal-akalan Utsman bin Affan r.a.

Lunxenberg – seperti banyak orientalis lainnya – mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi al-Quran. Ia menduga, teks al-Quran yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini. Tuduhan semacam ini sama sekali tidak beralasan, sebab proses kodifikasi al-Quran di zaman Utsman bin Affan sangat terbuka kerjanya, dan al-Quran selalu diingat oleh ratusan, ribuan – bahkan kini jutaan kaum Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim.

Tetapi, para orientalis memang tidak pernah berhenti untuk menyerang al-Quran dengan berbagai cara. Ironisnya, cara-cara orientalis semacam ini sekarang dilakukan oleh beberapa akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Islam sendiri. Bahkan, tuduhan-tuduhan tidak beradab terhadap Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu seperti yang dilakukan doktor UIN Yogya itu juga kemudian dialamatkan kepada Imam al-Syafii rahimahullah. Dengan menjiplak begitu saja pendapat Nasr Hamid Abu Zayd, tanpa sikap kritis sedikit pun, AW menulis: ”Al-Quran versi bahasa Quraisy inilah yang diperjuangkan oleh Imam Syafi’i sebagai wahyu Tuhan yang layak dihormati hingga pada teks tulisannya, sebagai konsekuensi logis di mana dan dalam suku apa ia dilahirkan.” (hal. 170).

Tentu sangatlah tidak beradab memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar kepada seorang ulama besar seperti Imam Syafii, yang begitu besar jasanya kepada umat Islam. Apalagi memberikan tuduhan dan prasangka negatif kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw. Umat Islam sangat mencintai Nabi Muhammad saw, dan tentu, umat Islam juga sangat mencintai para sahabatnya dan juga pelanjut risalahnya, yaitu para ulama yang alim dan shalih. Adab seperti inilah yang seharusnya dijaga dalam dunia ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi Islam. Tindakan menghujat dan melecehkan al-Quran, sahabat, dan ulama, tidak patut dilakukan oleh seorang Muslim, meskipun dengan mengatasnamakan kebebasan ilmiah dan sikap kiritis.

Apalagi, faktanya, doktor UIN Yogya ini juga sama sekali tidak bersikap kritis ketika mengutip pendapat-pendapat para orientalis dan pemikir liberal. Ia menolak pemahaman bahwa lafaz dan makna al-Quran (Mushaf Utsmani) berasal dari Allah, sehingga bersifat sakral (suci), dan membacanya dalam bentuk tartil pun dinilai sebagai membaca wahyu Allah dan si pembaca mendapatkan pahala. Menurut sang doktor UIN Yogya tersebut, yang sakral dari Mushaf Utsmani hanyalah maknanya, sementara lafaznya tidak sakral. ”Namun demikian, lafadznya, sebagai wadah pesan Tuhan tetap harus dihormati. Karena itu, yang dianjurkan membaca di sini adalah dalam arti mengungkap pesan itu, bukan tartilnya. Karena pesan itu terdapat dalam bahasa yang profan, maka diperlukan alat apa saja yang secara metodologis absah digunakan dalam sebuah kajian ilmiah, termasuk hermeneutika.” (hal. 184).

Membaca pemikiran doktor cum laude dari UIN Yogya ini, tentu wajar jika selama ini kita mempertanyakan, mengapa penggunaan hermeneutika dalam studi al-Quran terus digalakkan di Perguruan Tinggi Islam. Tampak jelas, bagaimana pemikiran sang doktor ini dalam menistakan al-Quran, para sahabat Nabi Muhammad saw, dan para ulama Islam yang sangat kredibel. Kita bisa melihat bagaimana tendensiusnya kajian yang mempromosikan hermeneutika sebagai metode alternatif dalam penafsiran al-Quran. Kajian semacam ini jauh dari sikap ilmiah yang bermutu. Maka, adalah aneh, ketika seorang guru besar di UIN Yogya, Prof. Dr. Hamim Ilyas, membuat kriteria bahwa salah satu ciri kaum fundamentalis adalah menolak penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran.
Mengapa muncul kegilaan pada hermeneutika dan penistaan Ilmu Tafsir pada sebagian akademisi di Perguruan Tinggi Islam? Kita menemukan jawabannya pada artikel Dr. Syamsuddin Arif di Harian Republika (30 September 2004), yang berjudul “Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd”:
“Terus-terang saya tidak begitu tertarik oleh teori dan ide-idenya mengenai analisis wacana, kritik teks, apalagi hermeneutika. Sebabnya, saya melihat apa yang dia lontarkan kebanyakan — untuk tidak mengatakan seluruhnya — adalah gagasan-gagasan nyeleneh yang diimpor dari tradisi pemikiran dan pengalaman intelektual masyarakat Barat… Orang macam Abu Zayd ini cukup banyak. Ia jatuh ke dalam lubang rasionalisme yang digalinya sendiri. Ia seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh si tukang sihir.”

Dan memang faktanya, para pengguna hermeneutika dan pengecam Tafsir al-Quran, hingga kini tidak pernah mampu membuat satu Tafsir al-Quran pun. Sebab, tampaknya, ”maqam” mereka baru sampai pada tahap merusak dan hanya isapan jempol belaka, jika diangggap para hermeneut ini mampu menciptakan metode Tafsir al-Quran baru yang sanggup menandingi kehebatan Ilmu Tafsir, Ilmu Ushul Fiqih, dan sebagainya. Bahkan, tampak jelas, buku karya doktor UIN Yogya ini pun tidak menunjukkan contoh, bagaimana metode dan model Studi al-Quran yang baru dan hebat.
Kita yakin, al-Quran ini Kalamullah. Al-Quran adalah milik Allah. Dan pasti, Allah yang menjaganya dari berbagai upaya untuk merusaknya. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang tahu diri! Tidak patut burung emprit berlagak seperti burung elang. Wallahu a’lam. (Malang, 7 November 2009).

Perindu Kehidupan Abadi…

Akan tetapi aku meminta ampunan kepada Alloh Yang Mahapengasih
Serta mencari tebasan dengan pukulan keras yang menghantam buih

Atau tikaman panas yang menimpa kedua tangan ku
dengan tombak yang menembus isi perut dan jantung

Supaya orang yang melewati mayatku mengatakan:
Semoga Alloh memberimu petunjuk hai orang yang berperang
Dan sungguh ia telah mendapat petunjuk

Duhai robbku, jika memang tiba jelang kematianku
Jangan sampai terbungkus kain kafan sutera yang hijau

Tetapi jadikan kubur tempat istirahatku di dalam perut burung nasar
Yang berada di angkasa bersama gerombolan burung nasar lainnya

Aku ingin memasuki waktu sore dalam kondisi mati syahid bersama satu golongan
yang terbunuh di dataran bumi yang mencekam

Kuda-kuda Baghdad dikumpulkan oleh
ketakwaan kepada Alloh, mereka terjun ke kancah pertempuran

Meninggalkan dunia bagi mereka adalah meninggalkan penyakit
Mereka pulang ke negeri yang dijanjikan dalam Al-Qurfan

Engkaulah majikanku, tidak ada lagi majikan selain-Mu ya Allohc
Tidak ada lagi, ya robbi, yang lebih baik bagiku daripada Engkau
Aku serahkan daya dan kekuatanku kepada-Mu
Maka jadilah Engkau sebagai kekuatan dan dayaku dalam menggapai tujuanku
Curahkanlah ridho-Mu untukku, aku tidak mencari selain itu
Meskipun diriku harus menghadapi kengerian di malam harinyac

Ya Alloh, jadikanlah para mujahidin berkuasa di muka bumi. Ya Alloh, jadikanlah ahli tauhid berkuasa di muka bumi. Ya Alloh, siapkanlah pasukan mereka, dan kirimlah ekspedisi-ekpsedisi mereka. Ikhlaskanlah niat-niat mereka, palingkanlah intaian mata-mata dari mereka. Ya Alloh, mudahkanlah semua kebaikan untuk mereka. Ya Alloh, lindungilah persenjataan mereka dan hiburlah keterasingan mereka. Jadilah Engkau sebagai pemberi bantuan dan penolong mereka, sungguh, mereka adalah orang-orang yang kuat karena Engkau ya Alloh, robb semesta alam.

Ya Alloh, sesungguhnya Amerika telah datang dengan pasukan berkuda dan pejalan kakinya, menentang Alloh dan rosul-Nya, Ya Alloh, lindungilah esok hari, Ya Alloh, lindungilah esok hari.

Ya Alloh, sebagaimana Engkau telah cerai beraikan kerajaan Kaisar, maka cerai beraikanlah kerajaan Bush.

Ya Alloh, kacau balaukanlah persatuan mereka, pecah belahlah kesatuan mereka, dan jadikanlah mereka sebagai ghonimah bagi kaum muslimin.

Ya Alloh, laknatilah thoghut-thoghut arab dan eajam. Ya Alloh, hancurkanlah para penguasa yang murtad. Ya Alloh, sedikitkanlah jumlah mereka, bunuhlah mereka, dan jangan sisakan satupun dari mereka.
Ya Alloh, Amin.

Asy-Syahid Syaikh Abu Mus’ab Az Zarqawy – rahimahullahu

KUPINANG ENGKAU DENGAN SYAHADAH

Wahai saudaraku ….

Andai kau tahu
Debu yang menempel pada kakimu fie sabilillah
Dapat menyelamatkanmu dari neraka Jahannam
Kenapa kau tinggalkan jihad ….. ???!!!

Wahai saudaraku …..

Andai kau faham
Sekejap dalam medan jihad
Dapat mengharuskanmu menikmati kenikmatan
dan keindahan Jannatun Na’im
Kenapa memilih selain jihad ….. ???!!!

Wahai saudaraku …..

Andai kau mengerti
Berak dan kencingnya kudamu fie sabilillah
Bernilai pahala bagimu disisi Robmu
Kenapa bimbang untuk berjihad ….. ???!!!

Wahai saudaraku …..

Andai kau tahu
Timah panas yang mengoyak tubuhmu dapat menghantarkanmu memeluk mesra Bidadari jelita
Kenapa takut berjihad ….. ???!!!

Wahai saudaraku …..
Andai kau faham
Dentuman Bom yang mencabik-cabik dagingmu dapat menyibukkanmu bercanda ria di pangkuan Bidadari jelita selama berpuluh-puluh tahun tanpa bosan
Kenapa ragu untuk berjihad …..???!!!
Wahai saudaraku …..

Andai kau mengerti
Ledakan Mortir yang meremukkan tulang belulangmu dapat menghantarkanmu berbaring mesra di atas kasur dalam kamar mempelai bersama bidadari yang tidak pernah
hilang keprawanannya
Kenapa enggan berjihad …..???!!!

Wahai saudaraku …..

Andai kau faham
Tetesan darah pertama yang kau tumpahkan di medan jihad dapat menghapuskan semua dosa-dosamu
Tidak ada pilihan lain bagimu selain jihad …..???!!!

Duhai saudaraku …..

Seandainya engkau faham ……
Seandainya engkau mengerti ……
Seandainya engkau tahu …..
Seandainya engkau berakal …..
Engkau pasti memilih jihad …..

“Ya Allah ! hidupkanlah kami dalam kemuliaan dan matikanlah kami dalam kesyahidan dan kumpulkanlah kami dengan Almusthofa Shollallahu ‘alaihi wasallam”

“Ya Allah ! Berikanlah kepadaku keutamaan (mati syahid) sebagaimana yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang sholih”

Kamis, 30 Desember 2010

Sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri

“Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Al-Ra`d 11)….

Apakah Anda pernah berpikir suatu ketika untuk mengubah hidup Anda? Mengapa kita semua memimpikan perubahan tapi tidak berhasil? Dan mengapa situasi tetap seperti itu? Semua peneliti menekankan adanya kekuatan yang tersembunyi dalam diri kita untuk suatu perubahan, tetapi kebanyakan dari kita tidak mengetahuinya.

Kekuatan ini terdapat dalam setiap diri kita. Anda harus benar-benar yakin bahwa Anda akan memperoleh kekuatan ini. Jika Anda telah memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa Anda akan memperoleh kekuatan ini, maka Anda telah menempuh separoh perjalanan menuju perubahan. Anda bisa mendapatkan kepercayaan diri untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Anda akan berubah karena Allah meminta Anda melakukan hal itu, demikian juga keluarga Anda dan kehidupan yang mengharuskan Anda untuk melakukan hal itu! Allah Ta`ala berfirman:

(إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ) [الرعد: 11]

“Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Al-Ra`d 11)

Jadi, berusahalah membuat keputusan yang tepat dengan bertawakal kepada Allah dan bacalah ayat ini tujuh kali setiap hari:

(فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ) [آل عمران: 159]

“kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Dengan bertawakal ini tidak akan ada satu keputusan pun yang salah ambil. Anda akan menemukan semua keputusan Anda benar, dan membawa Anda sukses, karena Allah Maha Kuasa adalah satu-satunya yang mengatakan hal itu. Maka orang yang bergantung pada Allah dan bertawakal padanya, Dia akan memberinya keputusan yang benar. Firman-nya:

(وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ) [الطلاق: 3]!

“dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya. (Al-Talaq 3)

DEBU Tanah yang mensucikan

“Tanah telah dijadikan bagiku suci dan sebagai tempat bersujud”….

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa debu tanah di antara atom-atomnya mengandung disinfektan efektif yang memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menghilangkan berbagai jenis bakteri, bahkan bakteri-bakteri yang tidak dapat dibasmi oleh disinfektan buatan pabrik. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di surat kabar Inggris Daily Mail baru-baru ini, peneliti menegaskan bahwa cara terbaik untuk membasmi kuman dan membersihkan rumah sakit adalah dengan debu! Sebaliknya, mereka menemukan bahwa beberapa jenis tanah yang mengandung antibiotik dapat membunuh bakteri sulit.

Sejak 14 abad lalu, Rasulullah s.a.w. telah memberitahukan kepada kita tentang hal ini:

(وجعلت لي الأرض طهوراً ومسجداً) صحيح مسلم

“Tanah telah dijadikan bagiku suci dan sebagai tempat bersujud”

Sahih Muslim.

Para Ilmuwan memberikan peringatan bahaya alkohol dan daging babi

Subahanallah (Maha Suci Allah)! Tidak ada satu larangan Allah atas kita kecuali bahwa para ilmuwan telah membuktikan akan bahayanya ….

Subahanallah (Maha Suci Allah)! Tidak ada satu larangan Allah atas kita kecuali bahwa para ilmuwan telah membuktikan akan bahayanya, dan tidak ada satu perintahpun untuk kita kecuali para ilmuwan menetapkan terdapat banyak manfaat di dalamnya..

Beberapa ilmuwan Barat melalui media koran Inggris menegaskan bahwa mengkonsumsi daging babi dapat

menyebabkan kanker dan penyakit lainnya, sedangkan mengkonsumsi minuman keras dan alkohol akan menjadi penyebab munculnya penyakit Kanker mulut, tenggorokan, dan payudara, dan menyebabkan kanker kelebihan lemak dari rahim, ginjal, itu Menurut majalah Times.

(Gambar sel kanker): Tim Riset dan studi baru-baru ini melakukan peninjauan terhadap 500 ribu penelitian yang telah dipublikasi tentang kanker di seluruh dunia, dan memilih tujuh ribu studi yang paling relevan dengan tema, dan menyusun kembali laporan di dalamnya koleksi penelitian itu. Dan melalui penelitian tersebut mendorong masyarakat untuk menjauhkan diri dari daging babi yang kering dan diawetkan dan meminalisir mengkonsumsi alkohol. Adapun daging babi dapat meningkatkan risiko kanker sekitar 10%,

Komentar pada hasil penelitian ini

Saudarku yang tercinta karena Allah! Tentu saja, kita sebagai umat Islam tidak mungkin merasakan pengharaman daging babi dan Al-Kohol! Tetapi para ilmuwan mulai memperingatkan tentang bahaya zat-zat pada diri manusia, mereka mengingatkan akan bahaya alkohol sampai mereka mengakui kegagalan upaya untuk mencegah orang dari kecanduan alkohol.

Mungkin akan tiba saatnya nanti para ulama memperingatkan dengan keras bahaya mengkonsumsi daging babi setelah setelah ditemukan bahayanya terhadap manusia, dan mereka telah melakukannya dengan tegas dengan melontarkan salah satu peringatan ini.

dan dari sini kita mengingat akan larangan Allah dalam mengkonsumsi daging babi. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Baqarah:173)

Sebagaimana kita juga ingat peringatan Allah yang melarang kita akan minuman beralkohol. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Al-Maidah:90)

Dan hendaknya kita mengucapkan syukur, ya Tuhanku segala puji hanya untukmu yang telah mengharamkan atas kami semua buruk bagi kami dan telah memberi kami

melakukan studi, serta menghindarkan kami dari penyakit yang disebabkan oleh hal-hal yang diharamkan.

Pertanyaannya adalah: ini jelas merupakan mukjizat Al-Quran? Bukankah dalam penelitian ini merupakan jawaban terhadap orang yang menyangkal akan mukjizat ilmiah, bahkan ada yang mengolok-oloknya? Jika mukjizat ilmiah adalah dusta sebagaimana yang mereka klaim, maka dari mana Nabi saw mengetahui akan bahaya alkohol dan daging babi? Jika Al-Qur'an tidak mengandung mukjizat ilmiah, maka dari mana asalnya ilmu yang banyak yang terdapat dalam kitab Allah SWT? Apakah seseorang dapat menyangkal bahwa Al-Quran berbicara tentang Rajutan dunia dan benda antariksa alam semesta serta lubang hitam ... bahkan ratusan ribu fakta-fakta ilmiah yang disampaikan oleh Al-Quran?

Kita tidak bisa memiliki apa-apa kecuali dengan mengatakan tentang firman Allah:

سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”. (Fushilat:53)

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design