Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Senin, 30 Mei 2011

Cara-Cara Jima' Yang Disunahkan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..

Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

Disebutkan di dalam kitab fiqih modern karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili,
yaitu Al-fiqhul Islami Wa Adillatuhu pada jilid 4 halaman 2645 tentang
adab-adab berjima'. Diantaranya:

1. Hendaklah sebelum melakukan jima', pasangan suami istri itu membaca
basmalah. Atau membaca surat Al-Ikhlas (Qul Huwallahu ahad). Juga
disunnahkan untuk bertakbir, mengucapkan laa ilaaha illallah, serta
mengucapkan doa:

"Bismillahil 'aliyyil 'azhim. Allahummaj'al-ha dzurriyyatan thayyibah.
In kunta Qaddarta an takhruja dzalika min shulbi."

Dengan nama Allah Yang Maha Tinggi dan Agung. Ya Allah, jadikanlah dia
keturunan yang baik, jika Engkau menetapkannya keluar dari sulbiku.

Juga termasuk diantaranya doa yang terkenal ini:

Allahumma jannibnisy syaithana wa jannibisy syaithana maa razaqtani(HR
Abu Daud).

Artinya: Ya Allah, jauhkanlah aku dari syetan dan jauhkanlah syaitan
dari apa yang Engkau rizqikan kepadaku.

2. Hendaklah menghindarkan diri dari menghadap kiblat, sebagai bentuk
penghormatan kepada ka'bah yang mulia.

3. Hendaklah ketika melakukannya, pasangan itu mengenakan sesuatu
menutupi tubuhnya. Sebagaimana hadits berikut ini

Dari 'Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya
(berjima'), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang
seperti dua ekor himar. (HR Ibnu Majah)

4. Hendaklah dimulai dengan mula'abah (percumbuan), berpelukan atau
mencium.

5. Bila telah selesai, janganlah terburu-buru untuk menyudahinya. Karena
boleh jadi masing-masing tidak sama waktunya.

6. Dimakruhkan untuk memperbanyak percakapan pada saat sedang
melakukannya. Dan sebaiknya tidak meninggalkannya lebih dari 4 hari
tanpa udzur.

7. Bila hendak mengulangi lagi, hendaklah mencuci farajnya dan berwudhu'
lagi. Sebab dengan demikian, bisa memberikan kekuatan baru.

8. Tidak disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari tertentu seperti
Senin atau Jumat. Meski memang ada sebagian ulama yang mengajurkannya di
hari Jumat.

9. Telah diharamkan secara total melakukan jima' di dubur dengan hadits
berikut ini.

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dilaknat orang
yang menyetubuhi wanita di duburnya". (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai)

Dari Amru bin Syu'aib berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
menyetubuhi wanita di duburnya sama dengan melakukan liwath (sodomi)
kecil.. (HR Ahmad)

10. Telah diharamkan melakukan jima' dengan istri yang sedang mendapat
haidh. Sebagaimana larangan Allah SWT tentang hal ini di dalam Al-Qur'an
Al-Kariem.

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, "Haidh itu adalah
suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum
mereka suci . Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di
tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan
diri.. (QS Al-Baqarah: 222)

Kecuali sekedar bercumbu yang tidak sampai jima'. Namun dalam hal ini
para ulama berbeda menjadi tiga pendapat.

Pertama, hukumnya tetap haram walau sekedar bercumbu saja. Alasannya
untuk mencegah bila sampai terjadi jima' yang sebenarnya. Mereka
mendasarkannya sebagai langkah saddan lidz-dzari'ah, atau tindakan
preventif.

Kedua, membolehkan percumbuan asal tidak sampai kepada jima'. Dasarnya
adalah hadits berikut ini.

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang laki-laki
yang mencumbui istrinya saat haidh, "Lakukan segala sesuatu kecuali
nikah/jima'. (HR Jamaah kecuali Bukhari - Nailul Authar)

Ketiga, boleh buat orang tua tapi haram buat pemuda. Atau boleh buat
mereka yang mampu menahan gejolak syahwat tapi haram bagi mereka yang
tidak mampu menahannya.

11. Dibolehkan melakukan 'azl asalkan atas seizin istrinya. 'Azal itu
adalah mencabut kemaluan sesaat sebelum terjadinya ejakulasi, agar tidak
sampai terjadi pembuahan. Praktek ini terjadi di masa shahabat di mana
Rasulullah SAW mengetahuinya, dan beliau mendiamkannya. Para ulama
membolehkan hukum 'azl ini, sebab pada prinsipnya memang tidak ada
larangan untuk itu. Asalkan istri rela menerimanya.

Dari Jabir berkata, "Kami melakukan 'azl di masa Nabi saw sedang
Al-Qur'an turun. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir berkata: "Kami melakukan 'azl di masa Rasulullah saw, dan
Rasul mendengarnya tetapi tidak melarangnya" (HR muslim).

Namun Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah serta beberapa ulama lainnya
memakruhkan 'azl, lantaran Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa 'azl
itu termasuk pembunuhan yang tersembunyi. Namun Imam Al-Ghazali
memandang bahwa 'azl itu dibolehkan bila memang ada alasannya, seperti
banyak anak dan sebagainya.

Atas dasar kebolehan melakukan 'azl inilah para ulama membolehkan
pasangan suami istri meminum obat penunda kehamilan (kontrasepsi),
asalkan bersifat temporal. Namun bila bersifat terus menerus, mereka
mengharamkannya.


Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa
barakatuh

Minggu, 08 Mei 2011

Tazkiyatun Nafs

Al-Ikhwan.net – 2Tazkiyatun Nafs merupakan hal yg penting yg dilakukan oleh Rasulullah SAW. Apa yg dilakukan oleh Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita teladani & kita amalkan. Kajian ini akan menjelaskan secara singkat apa yg dimaksud dg Tazkiyatun Nafs itu. Kajian akan meliputi definisi dari Tazkiyatun Nafs & urgensinya.

DEFINISI2

Secara bahasa, Tazkiyyatun Nafsi berarti membersihkan / mensucikan, / menumbuhkan / mengembangkan. Sedangkan secara istilah Tazkiyatun Nafs berarti mensucikan hati dari sifat-sifat tercela & mengisinya dg sifat-sifat terpuji. Sarana Tazkiyatun Nafs adalah melalui ibadah & berbagai amal baik. Sedangkan hasilnya adalah akhlak yg baik kepada ALLAH & pd manusia, serta terpeliharanya anggota badan, senantiasa dalam batas-batas syariat ALLAH SWT.

URGENSINYA2

1. Tazkiyyatun Nafsi termasuk hal terpenting yg dibawa oleh para Rasul as. Hal ini sebagaimana yg ALLAH ingatkan dalam firman-Nya berikut ini:

“Ya Tuhan kami, utuslah utk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yg akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, & mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) & Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yg Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah (2) : 129).

Di dalam beberapa ayat juga dijelaskan, antara lain pd surat Al-Baqarah (2) ayat 151, surat Ali Imran (3) ayat 164, surat Al-Jumu’a (62) ayat 2, & surat An-Nazi’at (79) ayat 17 hingga 19.

Tazkiyyatun Nafsi yg dibawa oleh para Rasul ini adalah melalui:

    • Tadzkiir 2: Terhadap ayat-ayat ALLAH di setiap ufuk & dalam diri manusia, terhadap perbuatan ALLAH atas ciptaan-NYA & terhadap hukuman & siksaan-NYA.
      Taliim 2: Mempelajari Kitab & Sunnah.
      Tazkiyyah 2: Membersihkan hati & memperbaiki tingkah-laku.
  • 2. Tazkiyyatun Nafsi merupakan tujuan orang beriman.

    Allah SWT berfirman:

    “… di dalamnya ada orang-orang yg cinta utk senantiasa membersihkan dirinya …” (QS. At-Taubah (9): 108).

    Di ayat lain Allah SWT juga berfirman:

    “… & sungguh akan kami selamatkan orang yg paling bertaqwa dari neraka, yaitu orang yg memberikan hartanya karena ingin mensucikan dirinya.” (QS. Al-Lail (92): 17-18).

    3. Tazkiyyatun Nafsi merupakan parameter kebahagiaan / kebinasaan.

    Allah SWT berfirman:

    “…sesungguhnya beruntunglah orang yg mensucikan jiwa itu, & sesungguhnya merugilah orang yg mengotorinya.” (QS. Asy-Syam (91): 9-10).

    4. Tazkiyyatun Nafsi utk mengenal penyakit zaman & cara mengobatinya.

    Salah satu penyakit zaman saat ini adalah hilangnya khusyu, cinta dunia & takut mati (wahn2). Solusinya adalah melalui tarbiyyah Islamiyyah. Dimana dalam tarbiyah tersebut diberikan tadzkiir, taliim & tazkiyyah. ()

    Sumber: al-ikhwan.net

    Sabtu, 02 April 2011

    ~::*Laksana Bidadari Dalam Hati Suami*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Saudariku,

    Pada saatnya nanti kan tiba, engkau akan menjadi istri -Insya Allah-. Atau bahkan sekarang ini pun engkau sudah menjadi istri. Dan sudah barang tentu engkau pasti ingin menjadi wanita shalihah lagi berakhlak karimah. Ciri khas wanita shalihah yaitu wanita yang selalu berusaha merebut hati, mencari cinta suami, selalu mengharap ridha suaminya agar mendulang pahala, demi meretas jalan menuju Al-Firdaus Al-A’la…di sanalah, dia akan berharap bisa menjadi “permaisuri” suaminya ketika di dunia.

    Lalu, lewat jalan manakah hati seorang lelaki akan terebut…dan ridhanya pun menyambut, sehingga dua jiwa dalam satu cinta akan bertaut?

    Saudariku…Bunga-bunga cinta suami dapat mekar bersemi,

    Harum semerbak mewangi di taman hati,

    Jika ia senantiasa disirami

    Manis ucapan, santun perkataan, lembut perlakuan, dan baiknya pergaulan seorang wanita akan menjadi siraman yang dapat menumbuhkan benih-benih cinta di hati sanubari sang suami. Dan bukan hal yang mustahil, karena akhlakmulah, duhai wanita…hati suami pun akan mencinta.

    Agar memiliki akhlak wanita yang mulia, seorang wanita seyogyanya berkiblat pada figur wanita abadi nan sempurna. Sosoknya banyak digambarkan dengan parasnya yang sungguh sangat cantik jelita. Kiranya engkau pun tahu…karena dia adalah…bidadari surga.

    Bidadari surga teramat istimewa, wanita yang Allah ciptakan dengan penuh kesempurnaan yang didambakan pria. Dengan segala keistimewaan yang ada dalam dirinya, kiranya itu menjadi tantangan bagi wanita dunia untuk bisa berusaha menyamai karakteristik bidadari surga. Menyinggung soal karakteristik, tentunya wanita dunia tidak akan mampu bersaing dengan bidadari dalam urusan fisik, dan yang bisa kita contoh adalah ciri khas akhlaknya. Baiklah, mari kita bersama-sama telusuri tabiat yang khas dari bidadari surga.

    Cantik Parasnya, Baik Akhlaknya, dan Harum Bau Tubuhnya

    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan keelokan dan kecantikan yang sungguh sempurna, sebagaimana yang tergambar dalam ayat berikut,

    وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

    ” Dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari – bidadari yang cantik dan bermata jelita. ” (Qs. Ath-Thur: 20) – bagian yg berwarna sebaiknya dibuang, agar sesuai dg terjemahannya

    Huur ( حور) adalah bentuk jamak dari kata haura (حوراء ) yaitu wanita muda usia yang cantik mempesona, kulitnya mulus dan biji matanya sangat hitam.

    Hasan berkata, “Al-Haura (الحوراء )adalah wanita yang bagian putih matanya amat putih dan biji matanya sangat hitam.”

    Zaid bin Aslamberkata, “Al-Haura adalah wanita yang matanya amat putih bersih dan indah.”

    Muqatilberkata, “Al-Huur adalah wanita yang wajahnya putih bersih.”

    Mujahid berkata, “Al-Huur Al-’Iin (الحور العين ) adalah wanita yang matanya sangat putih dan sumsum tulang betisnya terlihat dari balik pakaiannya. Orang bisa melihat wajahnya dari dada mereka karena dada mereka laksana cermin.”

    Seorang penyair berkata,

    Mata yang sangat hitam di ujungnya telah membunuh kita

    Lalu tak menghidupkan kita lagi

    Menaklukkan orang yang punya akal hingga tak bergerak

    Dan mereka ialah makhluk Allah yang paling indah pada manusia

    Benarlah memang, karena wanita juga akan tampak terlihat lebih menawan jika ia bermata indah, dengan kelopak mata yang lebar, berbiji mata hitam dikelilingi warna putih lagi bersih.

    فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ

    “Di dalam surga – surga ada bidadari – bidadari yang baik – baik lagi cantik – cantik.”. (Qs. Ar-Rahman: 70)

    Khairaatun ( خَيْرَاتٌ ) adalah jamak dari kata khairatun, sedangkan hisaan adalah bentuk jamak dari hasanatun ( حسنة). Maksudnya, bidadari – bidadari tersebut baik akhlaknya dan cantik wajahnya. Beruntunglah seorang pria yang diberi anugrah wanita secantik akhlak bidadari surga. Perhatikan dan tanyakan pada diri kita…

    Apakah kita sudah sepenuhnya memenuhi hak-hak suami, memuliakannya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa? Apakah kita sudah berterima kasih atas kebaikannya? Pernahkah kita menyakitinya dengan sadar atau tidak??

    Duhai istri…Suami yang beriman merupakan orang yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan marah jika engkau menghina dan menyakiti lelaki yang memiliki kedudukan yang mulia di sisiNya. Sebagai gantinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para bidadari untuk menjunjung kemuliaan suami-suami mereka di dunia ketika para istri menyakiti mereka - sekalipun sedikit - di dunia.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya ketika di dunia, melainkan istri suami tersebut yang berasal dari kalangan bidadari akan berkata, ‘Jangan sakiti dia! Semoga Allah mencelakakanmu, sebab dia berada bersamamu hanya seperti orang asing yang akan meninggalkanmu untuk menemui kami.” (Hr. Tirmidzi dan Ahmad. Menurut Imam Tirmidzi, ini hadits hasan)

    Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sekiranya ada seorang wanita penghuni surga, yang menampakkan dirinya ke bumi, niscaya ia akan menerangi kedua ufuknya serta memenuhinya dengan semerbak aroma. Kerudungnya benar-benar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Hr. Bukhari)

    Saudariku, sebagaimana kita ketahui…kecantikan paras wanita dunia seperti kita sangatlah minim jika dibandingkan kecantikan paras bidadari surga. Kita niscaya tidak akan mampu menandingi kecantikan mereka, namun apakah kita harus bersedih? Sama sekali tidak!

    Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang beraneka rupa, sebagai tanda dari kehendak dan kekuasaanNya. Maka terimalah apapun yang telah Ia karuniakan bagimu, karena itu yang terbaik untukmu. Meskipun wajah kurang cantik dan fisik kurang menarik, janganlah takut untuk tidak dicinta. Berhiaslah dan percantiklah dirimu dengan hal – hal yang Allah halalkan, karena istri shalihah bukan hanya yang tekun beribadah saja, namun seorang istri yang bisa menyenangkan hati suami ketika suami memandangnya.

    Saudariku… Dan apakah kau lupa, fitrahmu sebagai wanita yang tentu suka akan perhiasan? Perhiasan terkait dengan makna keindahan, sehingga seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya… karena wanita adalah salah satu sumber kebahagiaan lelaki. Apabila seorang istri senantiasa melanggengkan berhias dan mempercantik diri di hadapan suami, itu akan menjadi hal yang menambah keintiman hubungannya dengan suami. Sang Suami pun tentu akan semakin cinta pada istri pujaan hatinya insya Allah.

    Bagi saudari-saudariku pada umumnya serta saudara-saudaraku pada khususnya, enak dipandang dan menyenangkan hati bukan berarti harus cantik sekali bukan? Dan berhias pun tidak harus menggunakan aksesori yang terlalu mahal . Lalu bagaimana jika Allah menentukan engkau mendampingi lelaki yang secara materi belum mampu “madep mantep“? (baca: hanya cukup untuk membiayai kebutuhan pokok)

    Aku ingatkan engkau pada nasihat para pendahulu kita kepada putrinya…

    Abul Aswad berkata pada putrinya, “Janganlah engkau cemburu, dan sebaik-baik perhiasan adalah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik – baik wewangian adalah menyempurnakan wudhu.”

    Ketika Al-Farafisah bin Al-Ahash membawa putrinya, Nailah, kepad Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dan Beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, “Wahai putriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”

    Memang tubuhmupun dicipta tiada bercahaya dan harum mewangi laksana bidadari, namun engkau tentu bisa memakai wewangian yang disukai suamimu ketika engkau berada di kediamanmu bersamanya, dengan begitu penampilanmu tambah terlihat menawan dipandang mata.

    ***

    Oleh:Andhika Al-Banjari Mtp

    Murajaah: Ust. Ammi Nur Baits

    Maraji’:

    1. Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta.
    2. Panduan Lengkap Nikah (Dari “A” sampai “Z”), Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdirrazzak, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan ke-4, Bogor, 2006.
    3. Bersanding Dengan Bidadari di Surga, Dr.Muhamamd bin Ibrahim An-Naim, Daar An Naba’, Cetakan Pertama, Surakarta, 2007.
    4. Mengintip Indahnya Surga, Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi, Aqwam, Cetakan Pertama, Solo, 2008.
    5. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Darul falah, Cetakan ke-11, Jakarta, 2003.
    6. Majelis Bulan Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Pustaka Imam Syafi’i, Cetakan ke-2, Jakarta, 2007.
    7. Bidadari Surga Agar Engkau Lebih Mulia Darinya, ‘Itisham Ahmad Sharraf, IBS, Cetakan ke-3, Bandung 2008.

    Semoga bermanfa'at

    Salam Ukhuwah fillah

    ~::*ISTRIKU MUTIARAKU,SUAMIKU ADALAH SYURGAKU*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Mutiara 1

    Hushain bin Muhshan menuturkan bahwa bibinya pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk suatu keperluan. Setelah selesai dari keperluannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya "Apakah engkau bersuami?" Ia menjawab "Ya", "Bagaimana engkau bersuami ? Ia menjawab "Aku berusaha sekuat tenaga untuk melayaninya dan mentaatinya, kecuali dalam hal-hal yang aku tidak sanggup. "Beliau berkomentar," "Perhatikan baik-baik sikapmu kepadanya karena sesungguhnya ia adalah Syurga dan Nerakamu." (HR. Hakim)

    Mutiara 2

    Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan, senantiasa mentaati suaminya dan menjaga kemaluannya, niscaya akan dikatakan kepadanya, masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. (HR. Ahmad)

    Mutiara 3

    Ada tiga golongan yang shalatnya tidak diterima dan kebaikannya tidak diangkat ke langit: Pertama, hamba sahaya yang kabur dari majikannya sampai ia kembali dan meminta maaf kepada majikannya. Kedua, seorang istri yang dimurkai suaminya sampai suaminya meridhainya dan ketiga seorang pemabuk sampai ia sadar. (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban).

    Mutiara memang indah, mahal dan tidak semua wanita mampu memilikinya. Begitu pula dengan mutiara ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas, tidak semua wanita memahami, menghayati, apalagi mengaplikasikannya dalam kehidupan rumah tangga mereka.

    Arus globalisasi sekarang ini telah menyerbu kaum muslimin dalam dan membentuk paradigma mereka segala hal, termasuk gaya hidup dalam berumah tangga. Saat ini untuk menjadi istri yang setia dan konsisten untuk mengaplikasikan mutiara ajaran Rasullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata tidak popular. Sehingga sebagian wanita beranggapan, sudah bukan zamannya lagi memperlakukan suami sebagai junjungan yang harus ditaati, atau istri harus senantiasa meminta izin terlebih dahulu kepada suami untuk melakukan apa yang mau dilakukannya.

    Di sisi lain, bukan hal aneh jika sekarang ini kita banyak mendengar rumah tangga muslim mengalami guncangan, keretakan bahkan perceraian. Tentu saja semua orang tidak menginginkan semua ini terjadi pada rumah tangga mereka. Terdapat sejumlah cara untuk mencegahnya yaitu suami istri harus melakukan evaluasi perjalanan rumah tangganya secara berkala, terutama evaluasi tentang orientasi menikah dan membangun rumah tangga. Misalnya, apa sesungguhnya tujuan saya menikah? Apa yang saya harapkan dari pernikahan ini? Model rumah tangga apa yang akan saya bangun? Dan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dijadikan renungan dan penguat dalam menghadapi gelombang dalam rumah tangga. Kemudian setelah itu berusaha memantapkan hati untuk menjalankan rumah tangga dengan mengedepankan ridha dan qona'ah (menerima dan puas dengan pemberian Allah Subahana Wa Ta'ala).

    Sebagai seorang muslimah sudah sepatutnya kita ridha atas ketentuan Allah Subhana Wa Ta'ala, dan perlu disadari bahwa ridha atas kepemimpinan suami dalam rumah tangga itu, konsekuensinya adalah taat. Artinya ketaatan seorang istri pada suaminya, pada hakikatnya merupakan satu bentuk ketaatannya kepada ketentuan Allah Subhana Wa Ta'ala. Dalam konteks ketaatan ini tentunya suami berada di jalan yang benar. Untuk melaksanakannya tidak semudah yang dibayangkan, karena ketaatan istri pada suami tidak bisa disesuaikan dengan keinginan kita, misalnya, 'Saya akan taat pada abang dalam hal-hal yang sesuai dengan keinginan saya, tapi kalau tidak, kita masing-masing saja ya bang?'

    Mungkin tidak akan menjadi masalah jika keinginan atau perintah suami selaras dengan keinginan kita, tapi kalau tidak diperlukan kelapangan dada, keikhlasan dan pengorbanan untuk dapat mentaati dan melaksanakan perintahnya. Harus kita sadari bahwa kita suami istri mempunyai latar belakang yang berbeda, jadi tidak semuanya harus serba cocok dan klop, ketika memasuki gerbang pernikahan. Oleh karena itu di sinilah pentingnya untuk saling mengenal antara suami dan istri.

    Ganjaran ketaatan seorang istri pada suaminya disetarakan dengan ganjaran jihadnya kaum laki-laki, sebagaimana disebutkan dalam hadist Asma bin Yazid yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Sekalipun demikian Islam menganjurkan para suami untuk melazimkan musyawarah pada istrinya dalam berbagai persoalan. (QS Al-Baqarah: 233), memperlakukan istri dengan baik sebagai indikator utama akhlak seorang laki-laki. Begitulah Islam tidak menjadikan ketaatan seorang istri sebagai peluang bagi suami untuk menjadi diktator dalam rumah tangganya. Jadi tunggu apalagi, mari taati suami kita dan miliki mutiara-mutiara yang nyaris hilang itu.

    Sifat-sifat Istri Shaleh

    1]. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

    أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

    “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257 ).

    2]. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

    3]. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya.

    Asma’ bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).”

    Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

    “Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad).

    4]. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

    “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

    5]. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

    6]. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

    “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

    لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ

    “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

    7]. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

    “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

    إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ

    “Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436).

    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Semoga Bermanfa'at

    Salam Ukhuwah fillah

    ~::*kisah Wanita yang Selalu Berbicara Dengan Al-Qur’an*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihii Washohbihii Waman Waalah amma ba’du…

    Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :

    Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.

    Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

    Abdullah : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.” Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (”Salam sebagai ucapan dari Tuhan maha kasih”)

    Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?” Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (”Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)

    Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

    Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?” Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (”Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”)

    Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.

    Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?” Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (”Selama tiga malam dalam keadaan sehat”)

    Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?” Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (”Dialah pemberi aku makan dan minum”)

    Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?” Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah : 6) (”Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)

    Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?” Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (”Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”)

    Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?” Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al-Baqarah : 158) (”Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)

    Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?” Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah : 184) (”Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)

    Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?” Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (”Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)

    Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?” Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (”Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)

    Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.” Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (”Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)

    Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.” Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (”Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”)

    Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :

    Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30) (”Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)

    Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap :

    Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy-Syura’ 30) (”Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)

    Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.” Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (”Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”)

    Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.

    Abdullah : “Silahkan naik sekarang.” Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (”Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”)

    Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita itu berkata :

    Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (”Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”)

    Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap :

    Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (”Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)

    Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.” Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (”Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”)

    Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.

    Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?” Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101) (”Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”)

    Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.

    Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?” Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (”Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)

    Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.

    Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?” Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (”Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)

    Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.

    Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?” Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (”Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi”)

    “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146) (”Dan Allah berkata-kata kepada Musa”)

    “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam : 12) (”Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”)

    Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

    Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (”Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”)

    Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :

    Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al-Haqqah : 24) (”Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu”)

    Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”

    Ketiga anak muda ini secara serempak berkata : “Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, karena kuatir salah bicara.”

    Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap :

    “Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21) (”Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar”)

    [Diambil dari kitab karya: Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168]

    Insya Bermanfa'at

    Salam Ukhuwah fillah

    ~::*Kebun Cinta Kita Ya Ukhti*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Jika kebun Itu memekarkan bunga,

    maka Kupastikan Ia Tak Layu Selamanya……^_^,

    inilah Kebun Cinta Kita…

    dimana Alloh menatapnya dengan tatapan Cinta, maka bergeloralah rasa,

    maka terbitlah rindu, mengirimkan getar-getar dawai hati….

    maka Berkatalah lelaki Sholeh ini….

    “Maukah Engkau Menjadi Istriku…”

    Ini adalah Impian di setiap sejarah Perjalanan hidup seorang Wanita

    Di lamar

    Di Pinang

    Lelaki Sholeh

    Siapa yang tak mau….!

    Maka biarlah sejarah bercerita tentang kita

    Tentang potret lelaki sholeh ini

    )I(Muhammad, Lelaki Setia di sepanjang Sejarah Cinta)I(

    Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah.

    Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya.

    Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya.

    Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

    Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.

    )I(Firasat sang Bunda Hasan Al Banna)I(

    Tak ada nada indah yang mampu menandingi, keindahan lantunan nada-nada Cinta Allah dalam Al Qur’an.

    Ini pula yang menggetarkan kalbu Bunda Hasan Al Banna, Bagaimanapun juga, dirinya tahu Putranya itu sudah selayaknya Menikah, dan yang layak mendampinginya adalah, sosok muslimah yang bisa menjadi sandaran Hasan Al Banna, ketika dakwah memaksanya untuk jeda sejenak.

    Maka aspek Ruhiyah, adalah wajib hukumnya, maka kecintaan pada Al Quran adalah parameter nilai untuk mengukurnya, maka lantunan indah tilawah quran itu adalah bukti konkret kecintaan pada kalam illahi ini.

    Dan inilah dasar pertimbangan Bunda Hasan Al Banna menjatuhkan pilihan, kepada wanita itu, untuk mendampingi putranya.

    Maka sejarah mencatat, Hasan Al Banna, telah melakukan perannya dalam dakwah, menelurkan Cintanya pada Agama ini, Maka Lahirlah Ikhwanul Muslimin, Harokah Dakwah terbaik saat ini di bawah kaki langit, maka siapakah perempuan yang ada disampingnya.

    Maka benarlah Firasat sang Bunda……

    )I( Buah Cinta Zaid bin Haritsah)I(

    Jika ada penyimpan Rahasia yang terjaga sangat baik, maka ini adalah orangnya Zaid bin Haritsah.

    Beliau adalah anak angkat Rasulullah saw, sahabat juga orang yang sangat dikasihi dalam Islam.

    Jika ada wanita yang sering Rasulullah saw sebut-sebut sebagai Ibu maka wanita ini lah orangnya

    “Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda ku yang mulia wafat,

    dan satu-satunya keluargaku yang masih ada.”

    Inilah Gambaran Kecintaan Rasulullah saw, kepada Ibu Susunya itu.

    “Siapa Yang Mau Menikahi wanita Surga, maka Nikahilah Ummu Aiman” Seru Rasulullah saw

    Maka Zaid bin Haritsah lah yang mengangkat tangan, ketika semua tangan ragu melihat perbedaan umur yang sangat jauh, dengan Ibu susuan rasulullah saw itu.

    Tapi Allah mempunyai rencana lain, selisih dua generasi antara Zaid dan Ummu Aiman, mengundang Kebarokahan Allah, dengan hadirnya Putra Mereka yang bernama Usamah bin Zaid, Sang Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Sahabat Nabi.

    Di bawah bimbingan Ummu Aiman dan Zaid , Usamah tumbuh menjadi anak yang Sholeh

    Dalam rekam sejarah di sirah nabawi kita lihat bagaimana

    Usmah menangis.

    Waktu terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah saw. beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda.

    Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah.

    Apa yang menggerakkan si kecil Usamah, kalau bukan bimbingan kedua orang tuanya yang sholeh

    Maka benarlah ungkapan Rasulullah saw terhadap Usamah….

    “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” (kesayangan anak kesayangan).

    Usamah lahir dari buah Cinta Lelaki Sholeh Zaid bin Haritsah…

    Yang meletakkan cinta di tempat semestinya…..

    )I( Kebun Cinta Kita Ya Ukhti…Komitmen Lelaki Surga)I(

    Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi dan tindakan. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi baik,

    dan berbahagia karenanya.

    Ia juga emosi yang penuh kehangatan dan gelora karena seluruh isinya adalah semata-mata keinginan baik. Tapi ia harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Sebab gagasan dan emosi tidak merubah apa pun dalam kehidupan kita kecuali setelah ia menjelma jadi aksi.

    Maka Ucapan

    “Aku Cinta Padamu”

    Adalah deklarasi Kepribadian, juga pembuktian diri, di hadapan Allah, juga istrimu tentunya

    Maka hanya lelaki sholeh saja yang mampu, membuat cinta istrinya terus berkembang

    Tak menyusut dan habis

    Maka ucapan di malam Pertama, tentang penjabaran Visi Surga, wajib hukumnya

    Berbicaralah dari hati kehati, dengan istrimu

    Berkomitmen.

    Mengingat kembali perkataan kita sebelum akad di ucapkan

    ……….”Maukah Engkau Menjadi Istriku…”

    Ini adalah bentuk lain dari kata “Aku Cinta Padamu”

    Disinilah pembuktian Deklarasi Kepribadian dilihat semua orang

    Apakah Kebun Cinta itu menjadi layu, atau mekar mewangi

    Rasulullah saw, Zaid Bin Haritsah, juga Hasan Al Banna, telah mengukir peran mereka sebagai lelaki Sholeh di pentas sejarah

    Maka saat ini adalah Giliranmu……..

    )I(hamzah)I(

    Tersenyum, ketika ku mengingat pertama kali, mengatakan padamu duhai cintaku…

    Semoga bermanfa'at

    Oleh:Andhika Al-Banjari Mtp

    Salam Ukhuwah fillah

    ~*MAWAR BERDURI DI TEPI JURANG*~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    wanita yg baik-baik hanya utk lelaki yg baik-baik wanita yg buruk,utk lelaki yg buruk pula....Jika saya mengisi acara pengajian ibu-ibu atau remaja putri saya sering sampaikan kisah ini,mungkin sebuah perumpamaan fiksi,tapi semoga bisa berhikmah... dan bermanfa'at.

    Seorang wanita sempurna seperti setangkai mawar berduri,dan kesempurnaan mawar adalah pada durinya,semua kisah,puisi,syair dari klasik hingga postmodernmemberi tajuk''mawar berduri''utk gambaran kesempurnaan bunga.

    namun terkadang orang menganggap duri pada mawar menganggu,merusak bahkan mengurangi keindahan kelopak mawar.padahal justru dgn duri itulah setangkai mawar jadi sempurna terjaga terlindungi,tak di petik sembarang orang.

    Mawar adalah wanita,sedangkan duri pada mawar adalah aturan yg melekat dari Allah bagi seorang wanita.

    banyak orang mengatakan aturan yg Allah buat utk wanita.mengekang,sulit jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan.padahal seperti duri pada mawar justru aturan itu yg melindungi,menjaga dan membuat seorang wanita mulia,seperti duri yg jadi penyempurna wanita.

    Dan jika mawar berduri adalah mawar sempurna,pastinya wanita dgn aturan yg melekat dari Allah pula wanita yg sempurna.

    Seorang wanita sempurna seperti mawar berduri di tepi jurang.bukan mawar di tengah taman,jika mawar ada di tengah taman cenderung semua tangan bisa memetiknya.

    dari orang biasa hingga orang kurang ngajar yg nekat memetik walaupun ada tulisannya''Dilarang Memetik Bunga''walau ada larangannya orang tetap berani memetik toh di bawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman''Denda sekian puluh ribu rupiah atau kurungan sekian bulan''tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya.

    Maka wanita,tumbuhlah di tepi jurang,hingga tak sembarang tanganlelaki bisa mencolekmu.hingga jikapun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu,pastilah lelakiyg paling berani berkorban utk mu,bukan sembarang tangan,bukan sembarang orang,bukan sembarang lelaki,karena wanita bukanlahbarang murah yg boleh di sentuh seenaknya.bukan barang hiasan yg bisa di petik dgn ancaman kecil.

    Dan setelahnya tak ada yg lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang bagi seorang lelaki berani,seorang wanita dgn aturan dan ''Keterasingan''lah yg menarik minat lelaki peradaban.

    tapi bagi lelaki pecundang,tentu mengambil mawar tak berduri di tengah tamanlebih di inginkan,''Lebih sedikit resiko''begitu kata mereka yg kalah.lalu terserah anda para wanita,apakah anda berharap tangan pemberi atau

    hanya tangan para pecundang yg menyentuh anda.Jadi silahkan saja pilih.??

    Disaat hidayah Allah berikan,setelah seorang wanita berkata ingin menjadi mawar

    sempurna di tepi jurang,dgn langkah awal menutup sempurna aurat subhanallah

    .jaga kami semua dlm hidayahmu ya Robbi.....Allahuma Ami ya Allah

    Semoga bermanfa'at

    Oleh:Andhika Al-Banjari Mtp

    Salam Ukhuwah fillah

    ~::*Ukhti,,Antuna cantik sekali*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Ukhti, cantik sekali

    Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang

    rupa atau pun bentuk tubuh kita.

    Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

    Ukhti, kamu cantik sekali

    Tapi cantik body tak akan pernah abadi.

    Saat ini para pesolek boleh berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya.

    Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput,

    rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membongkok termakan usia,

    tak akan ada lagi yang boleh dibanggakan.

    Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

    Ukhti, kamu cantik sekali

    Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan?

    Sebaik-baiknya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar.

    Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara mendedahkan,

    mencantikkan gambar atau men"posing" dalam pelbagai angle ,

    sedangkan hakikatnya wajah itu bukan miliknya.

    Tidakkah engkau merasa sedikit malu bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari?

    Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa keizinanmu kerana engkau sendiri yang menayangkan rupamu..

    Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.

    Ukhti, kamu cantik sekali

    Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang?

    Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya?

    Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji?

    Tak ada yang menjamin wahai ukhti.

    Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya,

    karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.

    Ukhti, kamu cantik sekali

    Kecantikan itu harta berharga,

    bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah.

    Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa.

    Dimana harganya jika kecantikan telah ditayangkan umum.

    Dimana kehormatan sebagai hamba tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir,

    musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?

    Ukhti, kamu cantik sekali

    Alangkah indah jika kecantikan fizikalmu itu dipadu dengan kecantikan hatimu.

    Apalah ertii cantik rupawan bila tak memiliki keimanan.

    Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat.

    Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya.

    Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan.

    Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat.

    Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

    Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.

    Ukhti, kamu cantik sekali

    Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu

    karena itu lebih bermakna dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu

    Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu.

    Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.

    Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.

    Semoga Bermanfa'at

    Oleh:Andhika Al-Banjari Mtp

    Salam Ukhuwah fillah

    ~::*Ya Allah Mampukah Hamba*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Ya Rabbi....,

    Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu.

    Kajian demi kajian tarbiyah kupelajari,

    untai demi untai kata para ustadz kuresapi.

    Tentang cinta para nabi, tentang kasih para sahabat,

    tentang mahabbah orang shalih, tentang kerinduan para syuhada.

    Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam,

    kutumbuhkan dalam mimpi idealisme yang mengawang di awan.

    Tapi Rabbi…

    Berbilang hari demi hari dan kemudian tahun berlalu,

    tapi aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu,

    aku makin merasakan gelisahku membadai

    dalam cita yang mengawang, sedang kakiku mengambang.

    Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan.

    Allahu Rahiim, Illahi Rabbii,

    perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.

    Perkenankanlah aku mencintai-Mu, sebisaku.

    Dengan segala kelemahanku.

    Ya Ilaahi,

    Aku tak sanggup mencintai-Mu dengan kesabaran menanggung derita.

    Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al-Mustafa.

    Karena itu ijinkan aku mencintai-Mu

    melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu,

    atas derita batin dan jasadku, atas sakit dan ketakutanku.

    Ya Rabbii,

    Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar,

    yang menyedekahkan seluruh hartanya

    dan hanya meninggalkan Engkau dan Rasul-Mu

    bagi diri dan keluarganya.

    Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo hartanya demi jihad.

    Atau Ustman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan Dien-Mu.

    Ijinkan aku mencintai-Mu,

    melalui 100-500 perak yang terulur

    pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,

    pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan

    di pojok-pojok jembatan. Pada makanan-makanan

    yang terkirim ke handai taulan.

    Ya Illahi,

    Aku tak sanggup mencintai-Mu

    dengan khusyuknya shalat salah seorang sahabat nabi-Mu,

    hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya.

    Karena itu Ya Allah,

    perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,

    dalam shalat yang coba kudirikan dengan terbata-bata,

    meski ingatan kadang melayang

    ke berbagai permasalahan dunia.

    Ya Rabbii,

    aku tak dapat beribadah ala orang-orang shalih

    atau bagai para hafidz dan hafidzah yang membaktikan

    seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu

    dalam satu putaran malam.

    Perkenankanlah aku mencintai-Mu,

    melalui satu - dua rakaat sholat lailku,

    atau sekedar sunnah nafilahku,

    selembar dua lembar tilawah harianku.

    Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

    Yaa Rahiim,

    aku tak sanggup mencintai-Mu semisal para syuhada,

    yang menjual dirinya dalam jihad bagi-Mu.

    Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu

    dengan mempersembahkan sedikit bakti

    dan pengorbanan untuk dakwah-Mu,

    dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

    Ya Allahu Kariim,

    aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,

    ijinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,

    membawa mereka pada nikmatnya hidayah

    dalam naungan Islam, manisnya iman dan ketabahan.

    Dengan mencintai sahabat-sahabatku,

    mengajak mereka untuk lebih mengenal-Mu,

    dengan mencintai manusia dan alam semesta.

    Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku, Yaa Allah.

    Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.

    Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

    Allahuma amin ya Allah

    Sebuah kiriman Note dari seorang sahabat

    Ukhti Ria Habibi Illahi

    Semoga bermanfa'at Insya Allah

    Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir..

    Salam Ukhuwah fillah..

    ~::*SEBELUM ENGKAU HALAL BAGIKU*::~

    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

    Duhai kamu yang tercipta dari tulang rusukku....

    Di belahan Bumi manapun kamu berada...Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun...Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna, dan tertinggi.....

    Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

    Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu......Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.....

    Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku....Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari...

    Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci...

    Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung....Ada ingin tapi tak ada henti....Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh...Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.

    Mungkin kau tak peduli..Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah....Dan tak lebih dari wanita biasa...Jangan pernah kau tatapku penuh...Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor...

    Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku...., mengenakan pakaian sutra emas....Meniru laku para ustadz..., meski hatiku lebih kotor dari lumpur....Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi....

    Karena toh kau hanya manusia - hanya wanita -.Beri sepenuh diri pada sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu ke hadapan Tuhanmu....Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci..., tak perlu dipikir lagi....

    Tunggu sang lelaki itu menjemputmu..., dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah....Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah...Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

    Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas...Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu....,

    mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati....

    Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di dunia fana saat ini. Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kau bangun dengan segala kekhusyu’an tangis do’amu....Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu.., tapi itu pilihan-Nya.

    Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih,seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.

    Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita.

    semoga bermanfa'at

    Oleh:Andhika Al-Banjari Mtp.

    Salam Ukhuwah fillah.

     
    Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design