Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Rabu, 19 Januari 2011

Kisah Hijrah Bertabur Hikmah: "Jangan Bersedih, Allah Bersama Kita..."


PDF Print E-mail



Sehebat apa pun musyrikin membuat rencana untuk menggagalkan hijrahnya Rasul SAW, Allah-lah Sang Perencana terbaik.

Musim semi baru akan berlangsung. Bulan pada malam itu tampak kecil dilatari gugusan bintang yang berserak di atas langit. Udara dingin serasa menggigit kulit. Terpaan angin yang menerbangkan buliran pasir gurun membuat mata terpicing dan terkantuk-kantuk.

Ketika sebahagian besar penduduk Makkah terlelap dalam tidur, Rasulullah SAW tengah berkemas-kemas. Sementara itu beberapa kelompok musyrikin menyatroni lingkungan, mewaspadai gerak-gerik yang mereka incar dan curigai.

Keadaan yang demikian sunyi dan mencekam tidak membuat ciut nyali Rasulullah SAW untuk beranjak keluar dari kediamannya.
Ya, malam itu, permulaan Rabiul Awwal, menjadi langkah awal perubahan yang penuh persiapan masak bagi keberlangsungan Islam di muka bumi.

Nabi masih sempat membisikkan kepada Ali bin Abu Thalib RA, sepupunya yang pemberani, untuk segera menempati ranjangnya seraya berbalut selimut hijau dari Hadhramaut.

Sambil meraup pasir di pelataran rumahnya, beliau mengucap bismillah dan melontarkan pasir dalam genggamannya itu.

Sekejap kemudian, puluhan pemuda musyrikin yang semula menyatroni gerak-gerik Nabi terlelap. Dan Rasulullah pun berlalu dengan selamat. Semua itu bi idznillah, dengan izin Allah Ta'ala.

Kemudian, bersama Abu Bakar bin Abi Quhafah RA, Nabi bertolak ke arah selatan rumahnya menuju sebuah gua di Bukit Tsur.

Sebelum melangkahkan kaki, Rasulullah menatap kota Makkah dari kejauhan. Dengan berlinang air mata, beliau berucap, "Demi Allah, engkaulah bagian bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Andai kata tidak diusir, aku tak akan meninggalkanmu, wahai Makkah."

Gua yang sempit dan jarang disinggahi manusia itu dipilih untuk satu tujuan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Nabi, Abu Bakar, sahabat yang kelak menjadi mertua beliau, dan ada empat orang, yakni Ali bin Abu Thalib, Abdullah dan Asma (keduanya putra-putri Abu Bakar), serta pembantu Abu Bakar, Amir bin Fuhairah.

Keempat orang itu mendapat tugas yang sangat strategis bagi kesuksesan perjalanan yang amat bersejarah tersebut. Ali berdiam di rumah Rasul SAW untuk mengelabui kaum musyrikin. Abdullah ditugasi untuk memonitor perkembangan berita di kalangan orang-orang kafir Makkah lalu menyampaikannya kepada Rasul pada malam harinya ke tempat persembunyian. Asma saban sore membawa makanan buat Rasul dan ayahnya. Amir bin Fuhairah ditugasi menggembalakan kambing Abu Bakar, memerah susu, dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abu Bakar kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejak.

Sementara itu pihak Quraisy berusaha keras mencari jejak Rasul SAW dan Abu Bakar. Pemuda-pemuda Quraisy dengan wajah beringas membawa senjata tajam, mondar-mandir mencari ke segenap penjuru.

Ketika bergerak menuju Gua Tsur, mereka menyambangi bibir gua itu.

Sang pemimpin hendak menerobos masuk, tapi kemudian tidak jadi.

“Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya anak buahnya.

“Setelah aku amati, tampaknya gua ini tak mungkin dijadikan persembunyian. Di dalamnya ada sarang laba-laba dan sarang burung liar hutan. Akal sehatku mengatakan, tidak mungkin ada orang yang masuk ke dalamnya, bahkan tak ada bukti yang menunjukkan jejak orang yang kita cari,” katanya.

Sedangkan di dalam gua, Abu Bakar merasa khawatir. Derap langkah orang-orang itu seakan hampir menemukan mereka. Ia berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasul, andai salah seorang di antara mereka menemukan kita, habislah kita. Jika aku mati, apalah diriku. Tapi jika dirimu yang mati, tamatlah riwayat dakwahmu. Bagaimana jadinya?"

Beliau menjawab dengan balik bertanya, "Apa yang ada di benakmu jika berduanya kita di sini juga ada Allah, yang ketiga di antara kita?"

Maka turunlah firman Allah, “Kalau kamu tidak menolongnya, sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) tatkala orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan dikuatkan-Nya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimah Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Mahakuasa dan Bijaksana.” (QS 9: 40).

Setelah meyakini apa yang dicari tampaknya tidak membuahkan hasil, gerombolan musyrikin ini meninggalkan gua tersebut.

Iman Meneguhkan Hati

Tiga hari tiga malam Rasulullah SAW bersama Abu Bakar di dalam gua yang senyap dan gelap itu.

Pada hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, unta untuk kedua insan yang saling mencintai ini didatangkan oleh Amir bin Fuhairah. Asma pun datang menyiapkan makanan.

Dikisahkan, Asma merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya digunakan untuk menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan, sehingga ia lalu diberi nama Dzat an-Nithaqain (Yang Memiliki Dua Sabuk).

Menjelang siang, Rasul SAW dan Abu Bakar berangkat meninggalkan Gua Tsur. Karena mengetahui pihak Quraisy sangat gigih mencari mereka, mereka mengambil rute jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Dengan ditemani Amir bin Fuhairah dan mengupah seorang Badui dari Banu Du’il, Abdullah bin ‘Uraiqith, sebagai penunjuk jalan, mereka berempat menuju selatan Lembah Makkah, kemudian menuju Tihamah di dekat pantai Laut Merah. Sepanjang malam dan siang, mereka menempuh perjalanan yang amat berat.

Selama tujuh hari Rasulullah SAW bersama Abu Bakar, Amir, dan penunjuk jalannya menyusuri padang pasir nan luas dan gersang. Mereka beristirahat di siang hari di bawah panas membara dan kembali melanjutkan perjalanan sepanjang malam, mengarungi padang pasir dengan udara dingin yang menusuk tulang. Hanya iman kepada Allah-lah yang membuat Rasul dan sahabatnya berteguh hati dan perasaan damai menyelimuti.

Saat memasuki daerah kabilah Banu Sahm, Buraidah, kepala kabilah itu menyambut mereka. Perasaan lega semakin terasa. Karena jarak mereka dengan Yatsrib sudah semakin dekat.

Berita tentang hijrahnya Nabi SAW yang akan menyusul kaum muslimin Makkah yang telah tiba sebelumnya sudah tersiar di Yatsrib. Penduduk kota ini sangat mafhum, betapa penderitaan akibat kekerasan kafir Quraisy telah banyak menimpa Nabi SAW. Oleh karena itu kaum muslimin menantikan penuh harap kedatangan Rasulullah dengan hati berbunga-bunga ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya.

Banyak di antara mereka yang belum pernah melihat Nabi, meskipun sudah mendengar ihwalnya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.

Akhirnya, Rasulullah tiba dengan selamat di kota Madinah pada hari Jum'at, 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 Kenabian/12 atau 13 September 622 M. Sambutan penuh suka cita diiringi isak tangis penuh haru dan kerinduan menyeruak di langit Madinah. Syair pun berkumandang:

Thala’al badru ‘alaina
Min Tsaniyyatil Wada’
Wajabasy syukru ‘alaina
Ma da’a lillahi da`
Ayyuhal mab'utsu fina
Ji'ta bil amril mutha'

Telah nampak bulan purnama
Dari Tsaniyyah Al-Wada'
Wajiblah kami bersyukur
Atas masih adanya penyeru kepada Allah
Wahai orang yang diutus kepada kami
Engkau membawa sesuatu yang patut kami taati


Abu Ayyub segera menyokong Nabi. Ia pun tampil menjadi penolongnya. Dengan penuh suka cita, ia telah mempersiapkan bangunan rumah bagi Nabi. "Terserah olehmu, wahai kekasih Allah... bagian mana saja ingin engkau tinggali, kami sangat bahagia bersamamu," kata Abu Ayyub.

Di rumah pemberian Abu Ayyub-lah Nabi SAW memilih untuk tinggal bersama istrinya, Saudah binti Zam’ah, dan kedua putrinya, Fathimah dan Ummu Kultsum.

Hari itu jatuh pada hari Jum’at, sehingga beliau bersegera untuk melaksanakan ibadah Jum'at yang pertama kali diselenggarakan di Madinah.

Empat hari sebelumnya, sebelum tiba di Madinah, di Lembah Wadi Ranunah, Baqi, tempat penjemuran kurma milik dua orang anak yatim dari Banu Najjar, unta Nabi SAW menghentikan langkahnya. Nabi SAW turun dari untanya dan bertanya, “Kepunyaan siapa tempat ini?”

“Kepunyaan Sahl dan Suhail bin ‘Amr, wahai Rasulullah,” jawab Ma’adh bin ‘Afra, wali kedua anak yatim itu.
Kedua anak yatim itu berharap kepada Nabi Muhammad SAW agar di lahan milik mereka didirikan masjid.
Nabi menyetujuinya, dan itulah masjid yang pertama kali berdiri dalam perjalanan hijrah yang amat berkesan.

"Hendaklah ke Yatsrib"

Sebelum tibanya Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA, rombongan pertama Muhajirin telah lebih dulu sampai di Yatsrib beberapa hari sebelumnya.

Aisyah RA meriwayatkan, permusuhan dan penyiksaan terhadap kaum muslimin bertambah berat di Makkah. Mereka datang dan mengadu kepada Rasulullah SAW meminta izin berhijrah.

Pengaduan itu dijawab oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Sesungguhnya aku telah diberi tahu bahwa tempat hijrah kalian adalah Yatsrib. Barang siapa ingin hijrah, hendaklah ia menuju Yatsrib.”

Para sahabat pun bersiap-siap, mengemas semua keperluan perjalanan. Bahkan sebahagian besar tidak mempedulikan lagi harta benda milik mereka. Mereka ingin segera melaksanakan perintah Rasul itu.

Mereka berangkat secara sembunyi-sembunyi.

Sahabat yang pertama kali sampai di Madinah ialah Abu Salamah bin Abdul Asad, kemudian Amir bin Rab’ah bersama istrinya, Laila binti Abi Hasymah.

Setelah itu para sahabat Rasulullah SAW datang secara bergelombang. Mereka tiba di rumah-rumah kaum Anshar dan mendapatkan tempat perlindungan.

Siapa Yang Ingin Istrinya Menjanda...

Tidak seorang pun di antara sahabat Rasulullah SAW yang berani hijrah secara terang-terangan kecuali Umar bin Al-Khaththab RA.

Ali bin Abi Thalib RA meriwayatkan, ketika Umar hendak berhijrah, ia membawa pedang, busur, panah, dan tongkat yang diselempangkan di bahunya yang kokoh. Saat meninggalkan rumahnya, ia menuju Ka’bah.

Sambil disaksikan beberapa orang tokoh Quraisy, Umar melakukan thawaf tujuh kali dengan tenang.

Setelah thawaf ia menuju Maqam Ibrahim dan mengerjakan shalat. Seusai shalat, ia berdiri seraya berkata, “Semoga celakalah wajah-wajah kalian! Wajah-wajah inilah yang akan dikalahkan Allah! Barang siapa ingin ibunya kehilangan anaknya, atau istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim piatu, hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini.”

Tidak seorang pun berani mengikuti Umar kecuali beberapa kaum lemah yang telah diberi tahu Umar dan dilindungi perjalanannya. Kemudian Umar berjalan dengan gagah dan santai.

Demikianlah, secara berangsur-angsur kaum muslimin melakukan hijrah ke Madinah sehingga tidak ada yang tertinggal di Makkah, kecuali Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, Ali RA, orang-orang yang ditahan, orang-orang sakit, dan orang-orang yang belum mampu keluar meninggalkan Makkah, termasuk ayah dan beberapa orang anak Abu Bakar RA.

Hijrah ke Habasyah

Sebelum munculnya peristiwa hijrah ke Madinah, umat Islam pernah melakukan hijrah ke Habasyah.

Kenapa hijrah ke Habasyah? Bukankah masih ada daerah lain yang relatif lebih dekat dari Makkah? Yaman, Syam, Hirah, misalnya.
Ahmad Syalabi, dalam bukunya At-Tarikh al-Islamiyy wa al-Hadharah al-Islamiyyah, menceritakan, tidak dipilihnya Yaman sebagai tempat hijrah, karena negeri ini pada saat itu di bawah kekuasaan Persia. Bazan, gubernur Yaman, malah diperintahkan Kisra, raja Persia, untuk menangkap Nabi SAW hidup-hidup untuk dibunuh. Sedangkan Syam dan Hirah memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan suku Quraisy, suku yang paling keras memusuhi Nabi.

Pilihan Nabi jatuh ke Habasyah (Ethiopia, kini). Meskipun jauh, raja Habasyah dikenal adil dan bijak. Apalagi Nabi memiliki hubungan baik, meski keduanya berbeda keyakinan pada saat itu. Itu terlihat dari jawaban raja Habasyah atas surat dakwah yang Nabi kirimkan.

Habasyah adalah negeri yang terletak di selatan benua Afrika. Untuk mencapainya, perjalanan berbulan-bulan. Namun jarak yang sangat jauh itu tidak menjadi hambatan bagi mereka yang beriman, yakni para sahabat sejati Rasulullah SAW. Panasnya gurun, tingginya gelombang lautan, dan para penyamun yang berkeliaran, seolah tidak lagi dipikirkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Hijrah ke Habasyah terjadi pada tahun kelima setelah kenabian. Najasyi, sang raja Habasyah, sangat menaruh perhatian dengan kaum muslimin yang berhijrah ke negerinya, meskipun ia seorang Nasrani. Nabi mengizinkan para sahabat dengan mengatakan, “Pergilah ke Habasyah. Rajanya tak pernah berbuat zhalim. Tinggallah di sana agar kalian bebas dari penderitaan seperti yang kalian alami di sini.”

Hijrah Habasyah terjadi dalam dua fase. Fase pertama berangkat sebanyak 10 orang laki-laki dan lima perempuan dengan kepala rombongannya Utsman bin Maz’un, atau Utsman bin Affan RA. Fase kedua terjadi selang tiga-empat bulan. Hijrah fase kedua ini dilakukan oleh 83 orang laki-laki dan 19 orang perempuan, di bawah pimpinan Ja’far bin Abu Thalib RA.

Dari dua fase ini, beberapa orang ada yang menetap di Habasyah, sedangkan sebahagian lainnya berpindah ke Madinah, setelah peristiwa hijrah ke Madinah.

Setelah fase pertama, intimidasi orang-orang Quraisy kian meningkatkan. Maka, Nabi SAW kembali menganjurkan hijrah ke Habasyah.

Seperti pada hijrah pertama, kaum muslimin disambut dengan baik oleh Raja Najasyi.

Hujjah Ja’far yang Memukau

Musyrikin Makkah marah. Mereka merasa kecolongan dengan hijrahnya para sahabat ke Habasyah. Mereka berkumpul, mencari cara agar kaum muslimin yang berhijrah itu bisa diekstradisi ke Makkah. Kaum musyrikin bersepakat untuk melakukan perundingan dengan Raja Najasyi dengan mengutus Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash.

Untuk memuluskan perundingan, musyrikin Makkah membawakan berbagai macam barang berharga untuk Raja dan bawahannya. Setiap panglima akan mendapatkan hadiah khusus. Pesan orang-orang kafir Quraisy kepada Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash, “Ketika bertemu Raja, serahkan hadiah yang telah disiapkan untuknya. Lalu, mintalah agar Raja mau menyerahkan kaum muslim tanpa ia harus menanyakan persetujuan kaum muslim lebih dulu.”

Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash pun berangkat.

Sesampainya di sana, kepada setiap panglima yang ditemui, mereka memberikan hadiah khusus dan mengatakan, “Orang-orang bodoh Makkah datang ke negeri kalian. Mereka meninggalkan agama kaum Makkah, tapi tak juga memeluk agama kalian. Dan, justru membawa agama yang menyimpang. Kami tidak paham agama itu. Tentu kalian juga tidak paham.

Tujuan kami ke sini adalah untuk memulangkan mereka ke Makkah. Dan, raja kalian tidak perlu meminta pendapat orang-orang bodoh itu lebih dulu. Kami lebih paham tentang mereka.”

Abdullah dan Amr kemudian bertemu dengan Raja Najasyi dan menyampaikan seperti apa yang mereka katakan kepada para panglima.

Raja tampak serius mendengarkan ucapan mereka.

“Tidak! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Setiap orang yang datang ke negeri ini akan mendapatkan perlindunganku,” kata Raja kepada Abdullah dan Amr.

“Aku akan memanggil salah seorang di antara mereka untuk memastikan kebenaran ucapan kalian.

Jika mereka seperti yang kalian ceritakan, aku akan mengembalikan mereka kepada kalian. Jika ternyata tidak, aku akan tetap melindungi mereka. Aku tetap akan menjamin keamanan orang-orang yang datang ke negeriku.”

Raja lalu menyuruh salah seorang punggawa untuk memanggil para sahabat.

Mereka khawatir akan terjadi sesuatu atas pemanggilan itu. Mereka saling tanya, “Apa yang akan kita katakan kepada Raja?”
Yang lain menjawab, “Kita akan mengatakan apa yang kita tahu. Kita akan mengatakan apa yang diperintahkan Nabi, apa adanya.”

Para sahabat pun menghadap Raja.

Di samping Raja, para pendeta membuka kitab suci mereka.

“Agama apa yang kalian peluk sehingga kalian memisahkan diri? Mengapa kalian tidak memeluk agamaku saja? Atau agama yang lain?” tanya Raja kepada para sahabat.

Ja‘far bin Abu Thalib RA berdiri lalu maju ke depan Raja. Dengan mantap, ia menjawab, “Baginda Raja, dulu kami adalah kaum Jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kejahatan, memutus hubungan persaudaraan, tak menghormati tetangga, yang kuat menindas yang lemah, melakukan apa saja yang buruk yang seharusnya tidak pantas pada diri kami sebagai manusia. Begitulah keadaan kami. Sampai kemudian Allah mengutus seorang nabi yang lahir dari bangsa kami sendiri….”

Ja‘far berbicara cukup panjang, menceritakan ihwal Nabi, akhlaqnya, ajaran yang dibawanya, yang mengajarkan kebaikan. Ia ceritakan semuanya apa adanya.

“Dan oleh sebab semua itu, orang-orang Quraisy menyiksa kami agar meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala. Mereka menekan, menindas, dan menzhalimi kami. Sebab itulah kami memisahkan diri dari kaum kami dan mencari perlindungan di negerimu.

Baginda Raja, di sini kami berharap tidak akan mendapat perlakuan zhalim,” kata Ja‘far menutup pembicaraannya.

Raja Najasyi terpukau dengan penjelasan Ja‘far. Ia kemudian memandang para sahabat yang berhijrah ke negerinya. Lalu, kembali memandang Ja‘far.

“Apakah engkau bisa menunjukkan sesuatu yang Nabi terima dari Allah?”

“Ya!”

“Baiklah! Tunjukkan kepadaku dan bacakan!”

Lalu Ja‘far membacakan surah Maryam, yang mengisahkan kelahiran Nabi Isa, kesucian Maryam, dan lain-lain.

Raja Najasyi dan para pendeta menyimak dengan seksama. Ayat demi ayat yang dibacakan Ja‘far membuat mereka menangis. Linangan air mata mengalir hingga membasahi jenggot Raja. Seluruh ruangan hening.

Raja Najasyi menyeka air matanya, kemudian berkata, “Agama kalian dan agama yang dibawa Nabi Isa adalah dua pancaran cahaya yang keluar dari lentera yang sama.”

Raja Najasyi lalu menoleh kepada Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash, utusan musyrikin Makkah.

“Pulanglah kalian! Sungguh, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Mereka tidak boleh disakiti oleh siapa pun!”
Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash pun berlalu dari hadapan Raja Najasyi.

Malam itu mereka berpikir panjang. Apa yang akan mereka katakan soal kegagalan ini di hadapan tokoh-tokoh musyrikin? Bagaimana jika Muhammad bin Abdullah SAW mencibir mereka?

Amr bin Al-Ash berpikir keras hingga ia mendapatkan ide baru. Ia berkata kepada rekannya, Abdullah, “Besok aku akan kembali menghadap Raja! Aku akan menyiasati agar Raja mau menghukum mereka! Kita tidak boleh pulang dengan tangan hampa setelah melewati perjalanan melelahkan ini dan dengan biaya mahal pula!”

Tapi Abdullah bin Abi Rabiah tidak setuju. “Sebaiknya kau tidak melakukannya, Amr!” kata Abdullah. “Meski berselisih dengan kita, para Muhajirin itu sebagian adalah kerabat kita!”

Namun Amr tetap bersikeras dengan rencananya. Ia merasa, rencananya akan berhasil.

Esok harinya, Amr mendapatkan izin untuk menemui Raja. Dengan penuh keyakinan, Amr menghadap Raja Najasyi.

“Baginda Raja yang mulia, Ja‘far dan kawan-kawannya telah mengeluarkan kata-kata keji dan benar-benar tidak pantas untuk Isa bin Maryam!” kata Amr memulai rekayasa.

“Apa yang mereka katakan?”

“Silakan Tuan suruh salah seorang punggawa untuk memanggil mereka. Lalu, Tuan tanyakan langsung kepada mereka.”
Kemudian para sahabat dipanggil.

Mereka terkejut dengan pemanggilan itu. Tapi mereka tahu, itu adalah rekayasa Amr. Mereka khawatir jika Raja benar-benar terpengaruh oleh rekayasa itu kemudian berubah pikiran. Mereka benar-benar gentar, tidak pernah mereka segentar itu.

“Apa yang akan kita katakan kepada Raja soal Isa putra Maryam? Raja tidak akan menerima perkataan kita,” kata mereka saling tanya.

“Kita akan mengatakan apa yang diceritakan Al-Quran. Dan, apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus siap menghadapi,” jawab Ja‘far dengan tegas.

Para sahabat Muhajirin menghadap Raja Najasyi.

Raja pun langsung melontarkan pertanyaan, “Apa yang kalian tahu tentang Isa?”

Ja‘far berdiri lalu menjawab dengan tegas, “Kami mengetahui Isa bin Maryam seperti yang kami terima dari nabi kami. Yakni bahwa Isa adalah putra Maryam, dia hamba Allah, utusan Allah, ruh Allah, dan kalimat Allah yang dititipkan kepada Maryam, Sang Perawan Suci.”

Selesai dengan jawaban singkat itu, Ja‘far kembali duduk.

Raja merundukkan badan dan memukulkan tangannya ke lantai, lalu memungut tongkat dan mengangkatnya ke atas seraya berkata, “Sungguh, Ja‘far! Jika bukan karena Isa bin Maryam, pastilah tongkat ini sudah hancur!”

Para panglima yang hadir seketika menundukkan kepala dan saling merapat. Seperti ada penyesalan dalam diri mereka, yang telah menerima sogokan dari utusan kaum Quraisy itu.

“Kalian rapuh!” kata Raja, memaki para panglimanya itu.

Raja Najasy kemudian memandangi para sahabat Muhajirin dan berkata, “Keluarlah! Kalian aman! Orang yang mencaci kalian akan menyesal!” Ia mengulang-ulang perkataannya itu sampai tiga kali.

“Aku tidak akan menyakiti kalian meski mendapat iming-iming gunung emas!”

Kemudian kepada para panglimanya, Raja berkata, “Sekarang, kembalikan hadiah-hadiah itu kepada Abdullah dan Amr!”

Abdullah bin Abi Rabiah dan Amr bin Al-Ash berlalu dari hadapan Raja Najasyi dengan penuh kehinaan. Sementara, para sahabat Muhajirin tetap menikmati tinggal di negeri damai dengan seorang raja yang baik hati.

Subhanallah, begitu besar jasa Raja Najasyi bagi para sahabat. Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian, ia masuk Islam.

Nabi SAW sendiri dan beberapa orang sahabat lainnya tidak berhijrah ke Habasyah. Pada saat itu Nabi masih memiliki sejumlah orang dekat yang selalu melindunginya, seperti pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Khadijah binti Khuwailid.

Hijrahnya Ulama dan Sufi


Perjalanan hijrah merupakan sunnah para nabi dan rasul, yang kemudian diikuti para ulama dan kaum sufi. Hijrah di kalangan ulama dan sufi di masa salaf adalah hijrah yang penuh warna. Ada di antara mereka yang berhijrah lantaran kekejian penguasa, jalan pertaubatan, melakukan rihlah ilmiyah, melaksanakan dakwah, ada pula untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka menyambangi satu kota ke kota lainnya, satu negeri ke negeri lainnya, baik berkendara kuda atau unta maupun berjalan kaki.

Diceritakan dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala dari jalan periwayatan Al-Fadhl bin Musa bahwa Al-Fudhail bin Iyadh dulunya seorang penyamun yang sering menghadang orang di daerah antara Abu Wardah dan Sirjis.

Suatu ketika, ia terpikat dengan seorang perempuan. Ia ingin melampiaskan hasratnya terhadap perempuan itu. Ia lalu menaiki tembok rumah si perempuan. Tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat yang berbunyi, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al-Kitab kepadanya kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Hadid: 16).

Al-Fudhail langsung bergumam, “Tentu saja, wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Lalu ia tak jadi melaksanakan hasratnya itu.

Pada malam itu juga ketika ia bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, ada sekelompok orang yang tengah lewat.
Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus?”

Yang lain menjawab, “Ya, kita jalan terus sampai pagi. Karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.”

Al-Fudhail lalu merenung dan berkata, "Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan orang-orang di situ ketakutan kepadaku. Tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti dari kemaksiatan ini. Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitullah Al-Haram.”

Ia habiskan satu masa di Kufah untuk mengaji dengan ulama di negeri itu, seperti Al-A’masyi, ‘Atha bin As-Su'aib, Shafwan bin Salim. Kemudian ia pergi menuju Makkah.

Di Makkah, ia bekerja berjualan air dipikul untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ia tidak mau menerima pemberian dari para pemuka masyarakat, karena kehati-hatiannya untuk sesuatu yang halal.

Kisah Al-Fudhail hanya satu dari sekian contoh ulama dan kaum sufi salaf yang melakukan hijrah dalam kehidupannya untuk menuju keridhaan Allah SWT.

Kisah Al-Muhajir Ahmad bin Isa Ar-Rumi

Satu contoh lagi terdapat dalam perikehidupan dzurriyyah Rasulullah SAW yang bernama Imam Ahmad, yang bergelar “Al-Muhajir”. Gelar Al-Muhajir disematkan atas dirinya lantaran kesanggupannya mengikuti tradisi para nabi, rasul, dan sahabat.

Imam Ahmad adalah putra Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali RA dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra putri Rasulullah SAW.

Ia adalah salah seorang putra dari 30 putra Isa Ar-Rumi, yang dilahirkan pada tahun 260 H/872 M, dan melakukan hijrah yang amat jauh dari Bashrah ke Hadhramaut.

Pada tahun 317 H/928 M, ia melakukan perjalanan ke Madinah. Di Madinah ia menetap setahun. Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan juga menyempatkan diri untuk belajar kepada Syaikh Abu Thalib Al-Makki. Dari Makkah ia melanjutkan perjalanan ke Hajrain hingga berakhir di Husaisah, Hadhramaut.

Dalam rihlah yang sangat jauh ini, ia membawa 70 orang anggota keluarganya, termasuk istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin Al-Hasan bin Ali Al-Uraidhi, putranya, Ubaidillah, dan ketiga cucunya, Alwi, Jadid, dan Ismail Al-Bashri.

Kepindahan Al-Muhajir dari Bashrah tidak terlepas dari kekangan dan kebuntuan yang dialaminya akibat rezim Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Sebagai keturunan Sayyidina Ali RA, yang disebut kelompok Alawiyyin, ia sering kali menjadi korban kepentingan politik di Baghdad. Saat itu, kelompok Alawiyyin memiliki pengaruh yang sangat besar dalam bidang politik.

Ia dan segenap keluarganya memilih untuk menjauhkan diri dari kekuasaan. Sebagaimana ia tunjukkan dengan menitikberatkan aktivitas kehidupan dalam keluarganya dengan ilmu dan ketaqwaan. Ia memilih jalan hidup kaum sufi, sekalipun ia memiliki kedudukan terhormat dan disegani serta kekayaan yang banyak.

Akhir perjalanan di Husaisah telah menghantarkannya kepada posisi yang sangat penting bagi perjalanan dzurriyyah Rasulullah SAW. Ia menerangi kehidupan Hadhramaut dengan ilmu dan amal. Kesesatan menghilang akibat sinaran petunjuk kebenaran yang dibawanya. Dari Hadhramaut-lah kemudian cahaya keluarga Nabi SAW bersinar ke berbagai penjuru.

Imam Ahmad Al-Muhajir wafat pada tahun 345 H/956 M di Husaisah, Hadhramaut, dengan meninggalkan keturunan yang mewarisi datuk-datuknya yang mulia dengan ilmu dan adab.

Hijrah dalam Konteks Kekinian

Hijrah dalam artian fisik yang dinyatakan telah berakhir setelah Fathu Makkah, sebagaimana sabda Nabi, "La hijrata ba'dal fath" (Tidak ada hijrah lagi setelah Pembebasan Makkah).

Namun, semangat hijrah harus tetap ada dalam setiap sanubari muslimin, yakni hijrah dari sisi jiwa, berdasarkan hadits “...wal muhajiru man hajara ma nahallahu ‘anhu.” (orang yang hijrah ialah orang yang berpaling dari apa yang dilarang Allah). Yakni hijrah dengan meninggalkan semua perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT. Persis seperti kebencian Rasulullah dan sahabat atas kezhaliman kaum musyrikin, upaya Al-Fudhail meninggalkan kezhaliman dirinya, dan upaya Imam Al-Muhajir meninggalkan kezhaliman yang menimpa dirinya dan keluarganya.

Untuk dapat melakukan hijrah ruhaniyah ini dibutuhkan pemahaman yang sempurna akan hakikat dosa dan kemaksiatan. Kemaksiatan yang dapat mempekatkan hati seseorang, sebagaimana sabda Nabi, "Idza adznabal ‘abdu nuqitha fi qalbihi nuqthatan sauda’-a" (Apabila seorang hamba berbuat dosa, diberi sebuah titik hitam di dalam hatinya).

Nabi SAW, sahabat, ulama, waliyullah, dan dzurriyyah adalah contoh terbaik, model tercanggih, saat kita ingin memahami hijrah dalam konteks kekinian. Pemahaman yang mendalam tentang kisah hijrah ini akan mendatangkan pelajaran bagi kita untuk mengenal hakikat diri sebagai hamba Allah SWT, yang di dunia ini hanyalah pengembara. Persis seperti yang dikatakan Nabi SAW, "Kun fi dun-ya ka-annaka gharibun aw 'abiru sabiilin" (Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang tengah mengembara).

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design