Matahari pagi mulai menyinari bumi Kinanah. Sinarnya
hangat, sehangat celoteh anak-anak Mesir yang keluar dari
rumahnya untuk berangkat ke sekolah. Di rumah Azzam suasana
tegang belum hilang. Fadhil belum juga sadar sampai
jam enam pagi.
"Bagaimana ini Kang?" tanya Nanang cemas.
Azzam berpikir sebentar. Ia memang yang harus memutuskan.
Sebab ia yang paling tua di rumah itu.
"Kita bawa ke rumah sakit . Kau cari taksi sana sama Ali.
Fadhil biar aku yang tunggu!" kata Azzam.
"Baik Kang."
Habiburrahman El Shirazy
206
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Nanang dan Ali lalu keluar untuk mencari taksi. Lima
belas menit kemudian mereka kembali dengan membawa taksi.
Pagi itu juga Fadhil mereka bawa ke Mustasyfa 61 Rab'ah El
Adawea. Dokter yang memeriksa mengatakan, Fadhil harus
dirawat di rumah sakit.
Pagi itu menjadi pagi yang sangat sibuk bagi Azzam. Ia
teringat bahwa ia harus menyelesaikan pekerjaan pekerjaannya.
Rendaman kedelai yang harus ia olah jadi tempe. Tempetempe
yang sudah jadi yang harus ia distribusikan. Kemudian
acara di Sekolah Indonesia Cairo (SIC) yang memesan bakso
padanya. Jam sebelas ia dan baksonya harus siap di SIC. Jika
tidak ia akan dimarahi banyak orang.
Ia merasa perlu mendelegasikan tugas dan pekerjaan.
Yang bisa dilakukan orang lain biar dilakukan orang lain.
Sementara ia akan menangani yang hanya bisa ia tangani. Ia
bergerak cepat. Ia meminta Ali menjaga Fadhil. Nanang ia
minta menghubungi KMA, Keluarga Mahasiswa Aceh, juga
adik perempuannya yang tinggal di Makram Abied. Sementara
ia sendiri harus segera kembali ke rumah untuk menyelesaikan
pekerjaannya.
"Aku kembali ke sini bakda Zuhur, insya Allah. Habis dari
KMA kau langsung balik lagi ke sini ya Nang?" kata Azzam.
Nanang mengangguk.
"Nasir bagaimana Kang?" Tanya Nanang.
"Biar aku yang mengurus. Baik, aku tinggal dulu." Jawab
Azzam.
Sampai di rumah Azzam langsung mengontak Anam,
Yayan dan Rio. Tiga orang yang selama ini ikut mendistribusikan
tempe-tempenya. Agar nyaman Azzam membagi
wilayah operasi mereka. Mereka sebenarnya tinggal enak,
karena hanya mengantar ke rumah-rumah para pelanggan
yang telah dirintis Azzam. Namun mereka juga diberi
kebebasan mencari pelanggan baru di wilayahnya masingmasing.
Untuk Anam, Azzam me-mercayakan beroperasi di
61 Rumah Sakit
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
207
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Abdur Rasul, Rab'ah, Haidar Tuni. Sedangkan Yayan, beroperasi
di Masakin Ustman, Hay Zuhur dan Hay Sabe'. Adapun
Rio beroperasi di Katamea.
Tiga mahasiswa itu langsung datang. Azzam meminta
mereka segera mendistribusikan tempe-tempe yang telah jadi
ke wilayah masing-masing, kecuali Rio.
"Sementara Rio, kau membantuku membuat tempe saja."
Ujar Azzam pada Rio. Rio pun mengangguk setuju. Azzam
langsung memberi petunjuk pada Rio. Pertama ia minta Rio
merebus kacang kedelai yang direndam sampai matang.
"Tanda kedelainya sudah matang, jika uapnya sudah
berbau kedelai," jelas Azzam pada Rio. Jika sudah ma-tang
tiriskan sampai dingin. Baru diberi raginya," lanjut Azzam.
"Raginya seberapa Kang?" tanya Rio
"Jangan banyak-banyak.Ini ragi keras. Segini saja," jawab
Azzam sambil memberi contoh takaran ragi dengan mengambil
ragi dengan tangannya.
"Baru setelah itu dibungkus dengan plastik itu. Ukurannya
seperti biasa," lanjut Azzam. Untuk membuat tempe
Azzam hanya bisa percaya pada Rio. Anak dari Tuban itulah
yang paling sering membantunya membungkus tempe. Dan
hasil bungkusannya rajin dan bagus.
Setelah semuanya ia rasa beres, ia menyiapkan segala
kebutuhannya membuat bakso. Semua barang dan alat yang ia
butuhkan ia masukkan ke dalam panci besar. Ia lalu memanggil
taksi. Dengan taksi ia membawa panci besar itu menuju
SIC yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Dalam perjalanan,
ingatannya tertuju pada Fadhil yang saat ia tinggalkan
masih pingsan. Ia ber-harap tidak terjadi apa-apa dengannya.
* * *
Pukul delapan Furqan baru terbangun. Ia sangat kaget.
Bagaimana bisa terjadi? Seharusnya ia bangun jam em-pat.
Bagaimana bisa kebablasan sampai pukul delapan. Ia merasa
ada yang sangat menyiksanya. Ia tidak hanya ke-hilangan
shalat Tahajud. Namun ia juga kehilangan sha-lat Subuhnya.
Habiburrahman El Shirazy
208
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ia beristighfar berulang kali. Belum juga kekagetannya
reda. Ia kaget dengan keadaannya.
"Laa haula wa la quwwata illa billah! Inna lillah!" Ia berkata
setengah teriak. Ia kaget bagai tersengat listrik. Bagaimana
mungkin ia bisa tidur tanpa busana. Tidur hanya bertutupkan
selimut saja. Padahal ia tidur tidak dalam keadaan
seperti itu. Ia tidur dengan kaos panjang dan celana panjang.
Ia melihat kaos panjang dan celana panjangnya tergeletak di
lantai. Ia bingung dengan diriya sendiri. Apa saat tidur dia
mengigau dan melepas pakaiannya tanpa sadar. Ia merasa
tidak yakin. Sepanjang hidupnya baru kali ini ia bangun tidur
dengan kondisi yang menurutnya sangat memalukan.
Ia langsung bangkit, mencuci muka dan mengambil air
wudhu. Ia harus segera meng-qadha shalat Subuh. Pikirannya
benar-benar kacau. Hatinya tidak tenang. Ia shalat dengan
tidak bisa khusyuk sama sekali. Perasaan berdosa karena shalat
tidak tepat pada waktunya terus menggelayut di pikirannya.
Pagi yang bagi sebagian besar penduduk Kota Cairo
sangat cerah itur baginya terasa sangat suram.
Kekagetannya tidak berhenti sampai di situ. Selesai shalat
ia bermaksud menghidupkan laptopnya dan untuk mendengarkan
nasyid Raihan dengan winamp, namun ia tersentak
dengan adanya sebuah foto di atas laptopnya yang tergeletak
di atas meja. Poto itu adalah foto dirinya dengan seorang
perempuan berambut pirang dalam kondisi sangat memalu -
kan. Foto yang membuatnya gemetar dan didera kecemasan
luar biasa, juga rasa geram yang menyala. Sesaat ia bingung
harus berbuat apa. Ia sendiri tidak tahu perempuan berambut
pirang itu siapa? Bagai-mana itu semua bisa terjadi? Dan
dirinya? Apa yang se-benarnya telah dilakukan perempuan itu
pada dirinya? Dan apa yang telah dilakukannya dengan
perempuan itu?
Serta merta ia disergap rasa sedih yang menusuk nusuk
jiwa. Airmatanya meleleh. Ia merasa telah ternoda. Harga diri
dan kehormatannya telah hancur. Ia merasa tidak memiliki
apa-apa. Ia merasa menjadi manusia paling ter-puruk dan
terhina di dunia. Sesaat lamanya ia bingung. Ia didera rasa
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
209
Ilyas Mak’s eBooks Collection
cemas dan ketakutan yang begitu besar sehingga ia tidak tahu
harus berbuat apa? Foto itu ia rasakan bagaikan pedang yang
siap menggorok lehernya. Dunia terasa hitam-pekat baginya.
Ia berusaha mengendalikan dirinya. Ia meyakinkan dirinya
bahwa ia adalah seorang lelaki. Ya. Seorang lelaki sejati
tepatnya. Seorang yang berani menghadapi masa-lah yang ada
di hadapannya. Ia adalah Mantan Ketua PPMI yang disegani.
Ia harus bisa menguasai diri. Harus bisa bertindak tepat, cepat
dengan akal sehat. Ia amati foto itu sekali lagi. Ia balik. Ia
menangkap sesuatu. Sebuah pesan singkat:
Please read "myoptions.doc" in ur notebook!
Furqan langsung menyalakan laptopnya dan mencari file
yang beriudul myoptions.doc. Langsung ketemu. Ia buka. Sebuah
pesan dengan bahasa Arab muncul di layar.
Tuan Furqan, begitu bangun tidur Anda pasti kaget
dengan keadaanmu dan dengan apa yang kau temukan. Saya
sudah tahu siapa Anda. Tak usah berbelit-belit. Kita langsung ke
inti masalah. Ini murni masalah bisnis. Bisnis kecil-kecilan
antara Tuan dan saya. Saya sudah punya foto-foto "menarik"
dengan Tuan. Jika Tuan ingin foto foto ini tidak jadi konsumsi
umum maka sebaiknya Tuan melakukan dua hal ini:
Pertama, jangan lapor ke polisi.
Kedua, silakan transfer uang sebesar 200.000 USD. ke
nomor rekening ini: 68978967605323 Banca Com-merciale
Italiana Roma (jangan lupa dicatat, sebab begitu file ini Tuan
tutup, file ini akan langsung musnah). Saya beri tenggang waktu
2 x 24 jam untuk mentransfer.
Ketiga, setelah uang masuk rekening saya, maka saya
akan kirim seluruh film negatif dari foto-foto tersebut dan saya
jamin tak ada yang saya tahan.
Terima kasih atas kerjasamanya.
Miss Italiana.
Habiburrahman El Shirazy
210
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Furqan tertegun di depan layar laptopnya. Ia diintimdasi.
Ia mau diperas. Ia tidak percaya ini akan terjadi padanya. Ini
seperti di film-film yang pernah ia tonton. Siapakah Miss
Italiana itu? Tiba-tiba ia teringat Sara. Apakah ini semua ada
hubungannya dengan undangan Sara? Juga kekecewaan Sara?
Siapakah Sara sebenarnya? Benarkah ia putri Prof. Sa'duddin
seperti yang diakuinya? Akal sehatnya mulai berjalan. Namun
ia tetap dicekam kece-masan dan ketakutan. Ia seperti diseret
masuk ke dalam dunia yang kelam.
Minggu, 12 Desember 2010
14 HARI YANG MENEGANGKAN
Posted by Dini Ariani on 23.08





0 komentar:
Posting Komentar