Malam itu Anna tidak bisa tidur gara-gara pertanyaan
Laila tentang lamaran Furqan itu. Pikirannya tidak tenang.
Sudah tiga bulan lamaran itu disampaikan Mbak Zulfa kepadanya,
tapi ia belum juga bisa mengambil keputusan. Ini adalah
waktu terlama baginya dalam menimbang sesuatu. Entah kenapa
kali ini tidak mudah baginya untuk mengatakan "tidak",
seperti sebelum-sebelumnya.
Ia benar-benar belum menemukan alasan untuk menolak
lamaran Mantan Ketua PPMI yang terkenal cerdas dan tajir
itu. Juga tidak mudah untuk mengatakan "ya". Ia belum merasakan
kemantapan hati untuk menjadi pen-damping hidupnya.
Habiburrahman El Shirazy
192
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ia sendiri tidak mengerti kenapa tidak juga merasakan kemantapan
hati. Ia tidak mungkin melangkah tanpa kemantapan
hati. Baginya menerima lamaran seseorang kemudian menikah
adalah ibadah. Dan ibadah tidak sempurna jika tidak disertai
keman-tapan hati dan jiwa.
Jarum jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul dua
dini hari. Matanya tidak mau terpejam. Bagaimana jika Furqan,
atau Mbak Zulfa mendesaknya lagi untuk segera mem -
beri kepastian? Ia bangkit dari kasur. Duduk dan menunduk.
Kedua matanya yang sedikit merah menggu-ratkan kelelahan.
Namun sama sekali tidak mengurangi pesona kecantikannya.
Dari kamar sebelah sayup-sayup ia mendengar suara detak
keyboard komputer. Dari kamar Wan Aina. Mahasiswi asal
Selangor Malaysia yang pernah belajar di Diniyah Putri
Padang Panjang itu memang seorang pekerja keras.
Anna tahu persis gadis Melayu pecinta lagu-lagunya
Ummi Kultsum itu benstirahat hanya dua jam. Ia sangat salut
padanya. Wajar, jika tahun pertama di S.2 Al Azhar dilaluinya
dengan mudah. Tak ada satu mata kuliah pun yang tertinggal.
Anna beranjak ke kamar Wan Aina. Mengetuk pintunya
pelan.
"Masuk saja!" Suara Wan Aina dari dalam kamar.
Anna membuka pintu dan masuk perlahan. Wan Aina
duduk di depan komputer tanpa jilbab. Rambutnya dipotong
pendek. Sedikit di atas bahu. Matanya terfokus pada buku
yang ia letakkan di samping kanan monitor komputernya.
Sementara sepuluh jarinya yang lentik menari-nari indah di
atas tuts-tuts keyboard komputer Anna mendekat berdiri di
sampingWanAina.
"Nerjemah apa Wan?"
"Ini Kak, nerjemah cerpennya Ibrahim Ashi," jawab Wan
Aina. Ia memang biasa memanggil Anna kakak, "Nak ku-kirim
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
193
Ilyas Mak’s eBooks Collection
ke majalah sastra miliknya Dewan Bahasa dan Pustaka di KL,"
lanjut Wan Aina sambil sesekali membe-tulkan tulisan yang
salah.
"Apa judulnya Wan?"
"'Alal Mughtasal. Sebuah cerpen yang penuh kritik sosial.
Ada kalimat dari Ibrahirn Ashi yang menggelitik sekali." Jelas
Wan Aina sambil tetap mengetik.
"Kalimat apa itu Wan?"
"Ibrahim Ashi menulis: Orang-orang kaya tidak mati mati...
Orang-orang kaya bisa menyuap Izrail."
"Ada-ada saja sastrawan itu. Eh Wan, ngomong ngomong
kamu pernah nggak dikhitbah seseorang?"
"Apa Kak? Dikhitbah?" Wan Aina menghentikan jari
jemarinya. Ia memalingan wajahnya ke Anna.
"Ya. Dikhitbah. Dilamar. Pernah nggak kamu dilamar
seseorang untuk dijadikan isterinya." Anna mengulang perta -
nyaannya dengan lebih jelas.
"Ya pernah lah. Sudah dua kali. Tapi dua-duanya aku
tolak mentah-mentah!"
"Kenapa?"
"Sebab aku tidak yakin bisa mencintai dia."
"Meskipun agamanya baik?"
"Ya. Yang kucari adalah yang agamanya baik dan aku
yakin bisa mencintainya. Aku bisa berbakti padanya dengan
penuh rasa suka, rasa cinta dan ikhlas. Kenapa Kak Anna tibatiba
bertanya khitbah padaku? Apa ada yang mengkhitbah
lagi?"
"Iya. Tapi yang ini membuatku susah."
Habiburrahman El Shirazy
194
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Kenapa?"
"Aku belum yakin bisa mencintainya. Namun aku juga
masih merasa berat jika menolaknya." Terang Anna pada
WanAina. Selama ini Wan Aina adalah teman yang pa-ling
aman diajak bicara dari hati ke hati. Ia sangat dewa-sa dan
bisa menjaga rahasia.
"Menurutku kakak tidak usah tergesa-gesa. Kak Anna
tunggu dulu sampai benar-benar siap mengambil kepu-tusan
yang matang. Jika yang mengkhitbah tidak sabar, ya biar
mundur. Jangan tergesa-gesa memutuskan Kak. Tergesa-gesa
itu datangnya dari setan. Menentukan siapa yang jadi
pasangan hidup kita itu ibarat sama dengan menentukan nasib
kita selanjutnya. Harus benar benar matang dan penuh pertimbangan.
Oh ya Kak, ba-gaimana tiketnya? Sudah beres?"
"Besok saya bayar insya Allah. Dua hari lagi bisa saya
ambil."
"Baguslah. Tiket Aina sudah Aina ambil. Kita jadi ke
Kuala Lumpur awal pekan depan, insya Allah Hari Ahad kita
ikut seminar sehari tentang Ulama Perempuan di Asia Tenggara
yang diadakan PMRAM, HW, PPMI, Wihdah dan ICMI
di Auditorium Shalah Kamil. Hari Seninnya kita terbang ke
KL. Keluarga saya akan menanti kita di air port. Kak Anna tak
usah kuatir. Saya sudah cerita semua pada mereka. Mereka
sangat berbahagia dengan kedatangan Kakak."
"Terima kasih Wan. Mungkin dengan pergi ke Malaysia
pikiranku bisa lebih jernih dan tenang. Dan kupikir ma-salah
khitbah ini perlu aku musyawarahkan dengan abah dan
ummiku di Indonesia."
"Itu lebih baik Kak."
"Kau sudah Tahajud Wan?"
"Belum Kak."
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
195
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Kita Tahajud bareng yuk. Kita gantian jadi imam biar
sekalian muraja'ah." 56
"Boleh Kak. Tapi aku selesaikan satu halaman ini dulu ya.
Kakak ambil wudhu dan shalat dulu saja di kamar kakak.
Nanti saya ke sana."
"Baiklah." Jawab Anna dan langsung bergegas mengambil
wudhu.
* * *
Jam beker di kamar Azzam terus berdering. Azzam masih
saja pulas. Jarum menunjukkan pukul dua empat puluh menit.
Tak lama kemudian jam beker itu berhenti. Lima menit
kemudian jam beker yang satunya berdering. Sudah menjadi
kebiasaan Azzam memasang dua beker untuk mengamankan
dirinya agar bisa bangun malam. Ia masih ingat pesan ibunya
sebelum berangkat ke Mesir, Jangan tingga lkan shalat
malam!"
Jam beker kedua sudah dua menit berdering, Azzam tidak
juga bangun. Tiba-tiba...
Dar... dar... dar..!
Azzam tersentak. Seluruh penghuni rumah itu juga
terbangun kaget! Dan...
Dar..dar..dar...!
Iftahil baab! If tahil baab! 57
Ada suara mengetuk pintu dengan keras disertai perintah
untuk membuka pintu juga dengan suara keras Mata Azzam
56 Mengulang hafalan (Al-Quran).
57 Buka pintu! Buka pintu!
Habiburrahman El Shirazy
196
Ilyas Mak’s eBooks Collection
masih berkunang-kunang. Kepalanya masih tera-sa sangat
berat. Namun telinganya bisa menangkap jelas suara perintah
membuka pintu itu. Ia bisa menangkap dengan jelas itu adalah
suara orang Mesir. Belum sempat beranjak dari tempat tidur.
Gedoran keras kembali terde-ngar.
Dar..dar..dar...!
Iftahil baab! Iftahil baab!
Ia tersadar dengan membawa kemarahan di ubun ubun
kepalanya.
"Orang Mesir tak tahu adab dan sopan-santun! Malammalam
menggedor-gedor rumah orang seenaknya. Me-mang
rumah mbahnya apa!" Sengitnya pada diri sendiri seraya
berjalan cepat ke ruang tamu. Teman temannya yang lain
sudah bangun. Nanang mengikutinya di bela -kang. Ketika ia
hendak membuka pintu, gedoran di pintu mengagetkannya,
Dar..dar..dar...!
Iftahil baab! Iftahil baab!
Spontan ia berteriak keras:
"Na'am ya alilal adab! " 58
Lalu membuka pintu. Begitu pintu terbuka ia kaget bukan
kepalang. Seorang berpakaian serangam hitam lang-sung
menodongkan senjata kepadanya dan membentak,
"Mana Wail!"
Ia mundur. Ali menyalakan lampu. Seketika tiga orang
berseragam hitam menerjang masuk dan langsung me-nutup
pintu. Azzam berusaha tenang, meski nyalinya ciut saat itu.
58 Ya, hai orang yang kurang ajar!
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
197
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Di rumah ini tak ada yang bernama Wail! Kami juga
tidak mengenal Wail kecuali Wail Kafuri penyanyi pop yang
terkenal itu." Jawab Azzam tenang dengan suara sedikit
bergetar.
"Jangan bohong! Kami yakin Wail El Ahdali ada di rumah
ini! Kami akan periksa. Jika ia ada di rumah ini, ka-lian
semua akan kami bawa! Kami mabahits 59 dari amn daulah! " 60
Orang Mesir tinggi besar dan berkumis tipis itu menjelaskan
siapa mereka dengan nada ancaman yang membuat Azzam
tersadar dengan siapa dia berhadapan.
Azzam langsung pasrah. Jika Nasir mengabaikan perintahnya
dan Wail masih ada di situ, menginap di situ, maka
habislah orang satu rumah. Ia sangat berharap Nasir mematuhi
perintahnya. Entah kenapa, ia yakin Wail tidak ada di
situ, maka dengan tegas ia menjawab,
"Kapten, meskipun kalian mabahits, kalian tidak bisa seenaknya
masuk rumah kami tanpa ijin. Tidak bisa seenaknya
menginjak-injak kehormatan kami. Kami tidak kenal siapa itu
Wail yang kalian maksud. Di rumah ini tidak ada yang bernama
Wail. Sebaiknya kalian segera keluar dari rumah ini.
Karena kami tidak mengijinkan kalian masuk!"
"Sebaiknya kau diam saja di tempatmu. Jangan macammacam!"
bentak si Kumis Tipis pada Azzam, lalu memerintahkan
tiga anak buahnya untuk memeriksa seluruh sudut
ruangan.
Ali, Nanang dan Fadhil berdiri gemetar. Bibir mereka
biru. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan. Tak terasa ada
yang membasahi celana Fadhil. Anak Aceh itu didera keta -
kutan yang amat sangat. Trauma beberapa tahun silam lang-
59 Inteljen.
60 Keamanan Negara.
Habiburrahman El Shirazy
198
Ilyas Mak’s eBooks Collection
sung hadir kembali. Kejadian saat itu langsung mengingatkannya
pada kejadian tujuh tahun silam di Aceh, saat rumahnya
didatangi tentara berseragam tengah malam. Mereka
menuduh ayahnya sebagai anggota gerakan pengacau
keamanan yang dianggap paling menyengsarakan rakyat Aceh
dan dianggap membaha-yakan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Ayahnya yang hanya seorang guru ngaji biasa, dan pedagang
biasa, jadi bulan-bulan tentara-tentara itu. Ayahnya lalu
dibawa pergi. Satu bulan kemudian tentara-tentara itu datang
lagi membawa ayahnya ke rumah dalam kondisi antara hidup
dan mati. Satu hari berikutnya ayahnya meninggal di pangkuannya
dengan mening-galkan pesan singkat,
"Jangan menyimpan dendam. Jadilah Muslim sejati! Jadilah
orang Aceh sejati!"
Tiba-tiba Fadhil merasa tulang-tulangnya seperti hilang.
Ia merasa seperti lumpuh. Lalu ingatannya hilang. Ia pingsan.
Tubuhnya ambruk di lantai. Azzam kaget. Demikian juga Ali
dan Nanang. Azzam terpaku sesaat di tempatnya. Ia ragu
untuk mendekati Fadhil. Namun sebagai kepala rumah tangga
ia harus bertanggung jawab. Maka dengan cepat ia melihat
kondisi Fadhil. Ali dan Nanang masih mematung di tempatnya.
"Jika ada apa-apa dengan temanku ini, kalian harus bertanggung
jawab. Jika misalnya ia terkena serangan jantung
dan mati, maka kalianlah pembunuhnya dan itu akan diselesaikan
secara diplomatik!" Geram Azzam sambil memandang si
Kumis Tipis. Ia lalu memeriksa denyut nadinya. Masih. Si
Kumis Tipis ikut memeriksa lalu berkata,
"Dia hanya kaget. Tak apa-apa. Nanti juga bangun!"
Tiga orang intelijen berseragam hitam masih memeriksa
di kamar. Mereka meneliti kondisi kamar dengan seksama.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
199
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Termasuk buku-buku yang ada di semua kamar. Lima belas
menit kemudian, mereka keluar dan membe-rikan laporan
pada si Kumis Tipis,
"Komandan, yang kita cari tak ada di rumah ini. Setelah
kami periksa juga tak ada yang mencurigakan. Buku buku
yang mereka baca biasa saja!"
"Hmm begitu ya! Tapi aku kok masih merasa laporan ke
kita bahwa Wail ke sini adalah benar. Tukang sayur itu sangat
tajam dan jarang meleset!" Kata si Kumis Tipis yang ternyata
adalah komandan operasi mabahits itu.
Azzam mendengar dengan seksama. Kalimat yang terakhir
disampaikan sang komandan menjadi catatan baginya.
Tukang sayur yang mana yang menjadi anggota mabahits itu.
Azzam meminta Ali dan Nanang mengangkat Fadhil ke
tempat tidurnya. Dalam hati ia bersyukur, Nasir dan Wail
yang beberapa jam yang lalu ada di situ, saat itu tidak ada di
situ.
Komandan berkumis tipis itu melakukan pemeriksaan
ulang dengan lebih teliti. Ia juga melihat ke kolong tempat
tidur, kamar mandi dapur dan dua balkon. Ia tidak menemukan
apa yang ia cari. Ia lalu mengorek-ngorek tempat sampah.
Dan menemukan sesuatu. Beberapa biji tusuk kabab, dan bungkus
roti. Ia bawa barang bukti yang membuatnya merasa
menang.
Di kamar Fadhil, Azzam memberitahu kepada Ali dan
Nanang agar lebih banyak diam. Biar dia nanti yang bicara
menghadapi para mabahits itu. Mereka diminta mengiyakan
apa yang dikatakannya dan menidakkan apa yang ditidakkannya.
Azzam menduga komandan mabahits itu akan melakukan
penyelidikan serius dan akan menginterogasi dirinya dan
teman-temannya untuk mendapatkan apa yang dicari. Ia
sendiri tidak mau tahu apa urusan mabahits Mesir itu dengan
Habiburrahman El Shirazy
200
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Wail, pemuda yang dibawa Nasir. Yang paling penting
baginya adalah menyelamatkan dirinya dan seluruh anggota
keluarganya dari bahaya yang sedang mengancam mereka.
Dugaan Azzam benar.
"Kalian bertiga keman! Temanmu yang pingsan itu biar
ditunggui anak buahku. Tenang, aku akan bertanggung jawab
jika ada apa-apa dengan temanmu yang penakut itu!" Kata
komandan itu pada Azzam, Ali dan Nanang tegas.
Azzam bangkit ke ruang tamu diikuti Ali dan Nanang.
Meskipun ia sebenarnya sangat marah dan jengkel, tapi ia
sadar bahwa dirinya tinggal di negeri orang.
Azzam duduk di hadapan sang komandan. Ali dan Nanang
duduk di sampingnya. Sang komandan memegang tusuk
kabab sambil tersenyum,
"Tolong jawab, siapa yang membeli kabab dan roti ini? "
Azzam langsung sadar akan digiring ke mana ia dan
teman-temannya. Maka dengan tegas Azzam menjawab,
"Saya!" Dalam hati ia meneruskan: "tidak membelinya."
Sebab ia tahu yang membeli adalah orang yang dicari mabahits
itu.
"Kamu?!" Komandan itu kaget dengan ketegasan Azzam.
"Ya." tegas Azzam. Ali dan Nanang tegang.
"Benarkah perkataannya? Hei kau, siapa namamu?" tanya
komandan kepada Ali.
"Nama saya Ali. Jika dia yang mengatakan ya berati ya."
Jawab Ali pelan.
"Apa kau tahu kapan dia belinya?"
"Persisnya saya tidak tahu. Saya tidur awal tadi. Dan dia
selalu tidur paling akhir. Bisa jadi saat saya tidur dia membeli
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
201
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kabab dan roti itu untuk mengisi perutnya yang lapar. Sebab
dia tidak bisa tidur jika perutnya lapar."
Komandan itu mengerutkan dahi. Dengan sedikit mengejek
Azzam berkomentar santai,
"Malam ini adalah malam yang takkan kami lupakan.
Selama ini kami merasa berada di sebuah negara yang sangat
menjaga sopan santun. Dugaan kami ternyata keliru. Malam
ini kami dibangunkan dengan paksa hanya untuk ditanya tentang
siapa yang membeli tusuk kabab. Kenapa tidak memerintahkan
kepada semua penjual kabab agar setiap pembelinya
menyerahkan tanda pengenal untuk didata. Sehingga dengan
mudah akan diketahui siapa saja yang membeli kabab."
Kata-kata Azzam itu membuat telinga komandan mabahits
panas. Serta merta ia menunjukkan bahwa dialah sebenarnya
sang tuan rumah.
"Tolong tunjukkan paspor kalian! Saya ingin tahu apa
kalian legal berada di negeri ini!" Kata sang komandan dengan
nada marah.
"Sebentar. Kami ambilkan!" Jawab Azzam. Ia lalu bangkit
menuju kamarnya untuk mengambil paspor. Hal yang
sama dilakukan oleh Ali dan Nanang. Mereka bertiga menyerahkan
paspor kepada komandan itu. Sang komandan lalu
memeriksa paspor-paspor itu dengan seksama. Tak ada yang
tidak beres. Namun komandan itu masih belum puas.
"Kalian satu rumah ini berapa orang?" Selidik komandan
itu.
Dengan tegas Azzam menjawab, "Lima orang, ditambah
saya jadi ada enam orang! " Azzam tidak berani bohong. Sebab
ia yakin komandan itu akan mencari kepastian dengan melihat
akad kontrak sewa rumah. Yang biasanya, di akad kontrak itu,
tertera berapa orang yang mengisi rumah itu.
Habiburrahman El Shirazy
202
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Jadi enam orang ya?" Ulang komandan.
"Ya."
"Berarti dua orang tidak ada di rumah?"
"Ya."
"Di mana mereka?"
Azzam pura-pura bertanya pada Ali, "Di mana mereka
Li?"
Ali menjawab jujur seperti yang ia ketahui "Yang satu
sedang di Tanta dan yang satunya di Katamea."
"Di Tanta dan Katamea?" Ulang komandan.
"Ya!" Jawab Ali tegas.
"Untuk apa kira-kira teman kamu pergi ke Tanta? Dan
untuk apa pergi ke Katamea," tanya komandan dengan tetap
mengarahkan pandangan ke Nanang.
"Ya, biasa berkunjung ke rumah teman. Sesama orang
Indonesia. Mahasiswa Indonesia kan tidak hanya di Cairo."
"Siapa nama teman kalian yang ke Tanta itu?"
"Nasir."
"Yang ke Katamea?"
"Hafez."
"Tolong saya ingin lihat surat akad perjanjian sewa
rumah ini!" Pinta Sang Komandan.
Dugaan Azzam kembali benar. Azzam langsung bergegas
mengambil surat yang diminta. Sejurus kemudian surat
akad sewa rumah itu telah ada di tangan sang komandan berkumis
tipis. Surat itu diteliti dengan seksama terutama namaKetika
Cinta Bertasbih Buku I
203
Ilyas Mak’s eBooks Collection
nama penghuni rumah. Semua sesuai dengan keterangan
Azzam. Komandan itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Mungkin benar kata anak buah saya, kami salah rumah.
Kami minta maaf atas kelancangan kami malam ini. Kami
minta diri!" Kata sang komandan dengan wajah lebih bersahabat.
"Bagaimana dengan teman kami yang kalian buat pingsan.
Kami minta pertanggung jawaban!" tukas Azzam.
"Dia tidak apa-apa. Hanya ketakutan saja. Kau lihat kan
dia sampai kencing. Nanti dia akan bangun dan baik kembali.
Anggap saja ini latihan membina mental dia." jawab komandan
itu diplomatis.
"Kalau ada apa-apa dengan dia bagaimana? Apa kalian
akan lepas tangan begitu saja? Kalau kalian tidak mau bertanggung
jawab, kasus ini akan kami angkat ke permukaan.
Akan kami tulis di koran-koran dunia. Kami akan minta
wartawan yang bisa menulis untuk menulisnya." Azzam tak
mau kalah, sebab ia merasa benar. Sudah menjadi watak
Azzam untuk sebuah kebenaran ia siap berduel sampai mati.
"Baiklah. Jika ada apa-apa temui saya di kantor mabahits
Abbasea. Nama saya Hosam. Lengkapnya Letnan Kolonel
Hosam Qatimi. Saya akan urus semua. Sekarang kau rawat
dulu. Jangan banyak berbuat ulah di Mesir. Ijin kalian di sini
hanya untuk belajar. Ingat itu!"
Tanpa menunggu jawaban Azzam, komandan itu bangkit
dan mengajak ketiga anak buahnya meninggalkan rumah itu.
Ali dan Nanang cepat-cepat ke kamar Fadhil. Azzam mengucap
hamdalah dalam hati. Ia tidak bisa membayangkan apa
yang akan dialaminya jika Wail El Ahdali jadi menginap di
situ. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Tiba-tiba ia
teringat sesuatu: Nasir dalam bahaya. Dalam bahaya jika terus
bersama Wail. Tetapi di mana Nasir berada malam itu? Ia
Habiburrahman El Shirazy
204
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tidak tahu. Yang jelas ia harus secepatnya tahu di mana Nasir
berada. Baru ia bisa mengambil langkah.
Azzam melihat jam dinding. Sudah jam setengah empat
lebih dan ia belum shalat malam. Ia pernah mendengar dari
seorang ulama bahwa shalat malam dapat menghapus
kegelisahan dan mendatangkan ketenangan. Ia ingin shalat
beberapa rakaat saja, baru ikut mengurus Fadhil yang masih
pingsan.
Minggu, 12 Desember 2010
13 TAMU TAK DIUNDANG
Posted by Dini Ariani on 23.08





0 komentar:
Posting Komentar