Malam itu Hafez berpamitan pada teman-teman satu
rumahnya. Kepada teman-temannya ia mengaku memerlukan
suasana baru untuk menyongsong ujian. Ia minta ijin pindah
ke Katamea untuk selama dua bulan. Di Katamea ia akan
tinggal satu kamar dengan Salman. Tak ada yang tahu sejatinya
Hafez pindah ke Katemea karena apa kecuali Azzam.
Hafez membawa buku-buku muqarrar-nya, pakaian dan barang
barang yang ia anggap penting. Barang yang ia bawa satu
koper dan dua kardus ukuran sedang. Ditemani oleh Nanang
ia pergi dengan taksi.
Kepergian Hafez yang katanya untuk menenangkan diri
membuat Fadhil, Nasir dan Ali semakin sadar bahwa ujian tiKetika
Cinta Bertasbih Buku I
255
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dak lama lagi. Hanya Azzam yang tidak terpengaruh apa-apa.
Sebab bebannya tinggal satu mata kuliah saja, yaitu Tafsir
Tahlili. Kalau ia ingin lulus, ia hanya perlu sedikit serius. Na -
mun kalau masih ingin di Mesir, ya diktat dibaca tapi saat
menjawab soal ya sekenanya. Baginya jika masih ingin di
Mesir ya sebaiknya tidak lulus. Dengan begitu ia masih bisa
mendapatkan visa tinggal gratis.
Azzam sendiri meskipun statusnya masih belum lulus, ia
merasa telah lulus. Sebab, ya itu tadi bebannya tinggal satu
mata kuliah saja. Ia bahkan sudah bisa memprediksi yudisium
yang akan tertulis dalam ijazahnya. Meskipun nilainya mepet,
tapi tetap jayyid, alias baik. Dengan yudisium jayyid, jika ada
rezeki ia masih memiliki peluang untuk melanjutkan S.2 di
beberapa universitas terkemuka di dunia, seperti di IIUI
Pakistan maupun IIUM Malaysia. Jadi, meskipun orang mengenalnya
sebagai pembuat tempe, tapi ia tetap memiliki
standar minimal prestasi akademik.
Malam itu ia minta tiga anak buahnya Rio, Yayan dan
Anam yang bekerja membuat tempe. Ia merasa harus istirahat.
Ia tak mau jatuh sakit. Jam setengah sembilan setelah minum
madu hangat dicampur air habbah sauda, Azzam masuk kamar
untuk tidur. Ia mengatur jam bekernya dan menyalakan
murattal Syaikh Sa'ad Al Ghamidi pelan. Ia rebahan di atas
kasur dengan nyaman. Matanya belum terpejam. Ia memandang
langit-langit kamarnya yang putih polos. Di langitlangititu
ia seolah melihat wajah ibunya dan ketiga adiknya,
Husna, Lia, dan Sarah. "Sudah sembilan tahun aku berpisah
dengan mereka. Aku seharusnya segera pulang," lirihnya.
Tiba-tiba ia merasa begitu rindu pada mereka. Ia bangkit dan
mengambil buku agendanya. Di sana terselip surat terakhir
dari Husna. Surat yang ia terima tiga bulan yang lalu.
Husna juga mengirimkan foto terbaru mereka. Ia ingin
melihat foto mereka. Ia duduk di meja belajarnya dan memanHabiburrahman
El Shirazy
256
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dangi foto yang ada di tangannya dengan seksama. Husna
dengan jilbab putihnya. Lia tersenyum dengan tangan mengacungkan
bravo ke udara. Sarah yang duduk di atas pasir
dengan tertawa. Dan ibundanya yang bersahaja, kerudungnya
berkelebat ke kanan seakan hendak lepas ke udara. Di bela -
kang mereka terhampar lautan dengan ombaknya yang indah.
Di balik foto itu tertuliskan keterangan singkat:
"Rekreasi di Pantai Kartini Jepara saat mengantar Dik Sarah
ke Kudus." Kedua matanya berkaca-kaca. Ia jarang menangis.
Namun jika didera rindu pada ibunda dan adik-adiknya ia
mudah sekali menangis.
Ia pandangi wajah ibundanya yang mulai tampak guratgurat
tuanya. Bersamaan dengan airmatanya yang merembes
keluar, ia berkata lirih, "Ibu kapan kita kembali bertemu?"
Tiba-tiba ia merasa berdosa. Sebenarnya, ia yang lebih
bisa menjawab pertanyaannya itu daripada ibunya. Ibunya
hanya bisa menunggu. Ialah yang harus memutuskan dan mengambil
tindakan nyata, kapan pulang ke Indonesia dan
bertemu ibu.
Ia bangkit dan membawa foto itu ke kasur. Ia merebahkan
badannya dan meletakkan foto itu di dadanya. Ia memejamkan
mata. Sambil terus membayangkan wajah ibu dan
adik-adiknya ia berdoa dalam hati memohon kepada Dzat
Yang Maha Kuasa, agar mempertemukan dia dengan ibu serta
adik-adiknya dalam tidurnya. Baginya, bertemu mereka dalam
mimpi mampu sedikit meredam kerinduannya yang membara.
Matanya terpejam, tapi pikirannya masih sadar. Telinganya
menangkap suara seseorang mengetuk pintunya. Ia tak
jadi tidur. Kenyamanannya buyar. Hatinya sedikit marah tidurnya
diganggu.
"Ada apa!?" ucapnya setengah berteriak.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
257
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Maaf Kang, ini ada surat buat Sampeyan dari Indonesia."
Mendengar itu rasa marahnya hilang seketika, berganti
rasa bahagia yang luar biasa. Ia langsung bangkit dari tempat
tidurnya.
"Surat dari Indonesia?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya Kang dari Indonesia."
"Dari siapa?"
"Biasa, dari adik Sampeyan, dari Husna."
Azzam langsung melompat dan membuka pintu. Di depan
pintu kamarnya Ali berdiri dengan senyum mengembang.
"Ini Kang suratnya." Kata Ali sambil menyodorkan sepucuk
surat beramplop cokelat muda.
"Siapa yang bawa?" tanya Azzam.
"Seperti biasa, suratnya tadi jatuh ke rumah Miftah di
Abdur Rasul.Yang membawa ke sini si Miftah sendiri. Ia langsung
pergi. Katanya sedang punya janji" jawab Ali tenang.
Azzam menerima surat itu dengan hati luar biasa bahagia.
Ia menutup pintu dan mengamati amplop surat itu
dengan seksama. Di bagian depan amplop tertulis, "Radio Jaya
Pemuda Muslim Indonesia (JPMI) Solo." Di bawahnya
tertulis nama dirinya dan alamat suratnya. Ia mengambil
gunting dan membuka surat itu. Berisi dua lembar kertas HVS
putih yang dilipat. Surat itu ditulis dengan komputer. Azzam
membaca surat itu dengan segenap perasaan rindu dan
cintanya:
Habiburrahman El Shirazy
258
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Menjumpai
Kakakku Tercinta
Abdulllah Khairul Azzam
Di Bumi Para Nabi
Assalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Dari pojok Kota Kartasura tercinta kami tiada henti
mengirimkan doa, semoga Kak Azzam senantiasa sehat,
terjaga dari segala keburukan, dan berada dalam
selimut rahmatNya siang malam. Amin.
Kak, alhamdulillah, kami semua di rumah baik, sehat
wal afiyat, berlimpah rahmat Allah. lbu alhamdulillah
baik dan sehat. Beliau sudah sangat rindu
pada Kakak. Husna sendiri juga sehat. Dua minggu yang
lalu Husna menerima ijazah profesi, Husna sudah bisa
praktik sebagai psikolog. Segala puji bagi Allah Swt.
Ini tak lepas dari jasa Kakak. Lia sudah menyelesaikan
D.2. PGSD-nya. Ia kini mengajar di SDIT Al
Kautsar Solo. Dan Sarah masih belajar di Pesantren
Al-Quran di Kudus. Terakhir Husna ke Kudus ia sudah
hafal Juz 27, 28, 29 dan 30.
Kak Azzam tercinta,
Selama delapan tahun ini sejak ayah berpulang ke
rahmatullah, engkau telah menunaikan kewajibanmu dengan
baik. Lihatlah kami, kini adik-adikmu sudah bisa
engkau banggakan. Kami sangat berterima kasih dan
bangga kepadamu Kak. Selama ini kami tahu engkau tidak
lagi memikirkan dirimu Kak. Studimu di Al Azhar
yang seharusnya bisa selesai dalam empat tahun, bahkan
sampai sekarang, belum juga selesai. Padahal kau
sudah sembilan tahun di Mesir. Kami tahu bahwa engkau
mengorbankan dirimu dan segala idealismemu demi untuk
membiayai hidup dan sekolah kami.
Kak Azzam tercinta,
Aku sendiri masih ingat surat kakak ketika kakak
berhasil naik tingkat tahun pertama di A1 Azhar.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
259
Ilyas Mak’s eBooks Collection
(Surat itu masih kusimpan baik-baik Kak). Dalam
surat itu kakak menjelaskan kepada ayah, bahwa kakak
adalah satu-satunya mahasiswa dari Indonesia tingkat
pertama yang meraih predikat jayyid jiddan, atau Sangat
Baik. Saya masih ingat Kak, begitu membaca surat
kakak, ayah langsung sujud syukur dan menangis haru
dan bahagia. Ayah sangat bangga. Ayah langsung meminta
ibu masak enak dalam porsi besar. Malam harinya
ayah mengundang tetangga kanan kiri untuk syukuran.
Saat itu aku juga sangat bangga pada Kakak.
Kak Azzam tercinta,
Satu bulan setelah menerima surat dari kakak, ayah
dipanggil Allah. Ayah meninggal karena kecelakaan.
Tahukan engkau kakakku, ternyata di saku baju ayah
yang berlumuran darah itu ada suratmu. Sedemikian
bangganya ayah pada dirimu, bahkan suratmu itu selalu
dibawanya ketika ayah pergi kerja. Saat ayah tiada,
kami merasakan dunia terasa gelap. Namun, kau dari
negeri para nabi menguatkan kami. Kepada kami, adikadikmu
ini kau berpesan untuk terus tenang dan konsentrasi
belajar. Sejak itu kau datang tiap bulan
dengan kirimanmu yang kautransfer lewat bank ke rekening
ibu. lbu yang memang sering sakit dan tidak bisa
lagi bekerja keras sering menangis, aku yakin ibu
menangis haru bercampur bangga, setiap kali menerima
transferan uang dari kakak.
Tak lama setelah itu aku tahu dengan detil apa
yang kakak lakukan di Mesir untuk kami. Kakak bekerja
keras membuat tempe, berjualan tempe dan membuat bakso
demi kami. Kakak rela mengorbankan studi kakak
demi kami. Kami tahu itu pasti sangat berat bagi kakak.
Sebab kami tahu mental kakak sejatinya adalah
mental berkompetisi dan berprestasi. Sejak SD sampai
Madrasah Aliyah kakak selalu rangking satu. Dan karena
prestasi kakak itu, di setiap pelepasan kelulusan,
dari SD sampai Madrasah Aliyah, ayah selalu diminta
pihak sekolahan untuk maju ke panggung pelepasan,
sebagai wali murid dari siswa paling berprestasi. Tak
henti hentinya ayah membanggakan prestasi kakak itu
kepada kami, anak-anaknya. Kami pun terlecut karenanya.
Habiburrahman El Shirazy
260
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Kak Azzam,
Sungguh, saat mengetahui hal itu aku menangis. Nun
jauh di sana, di negeri para nabi kakak mati-matian
jualan tempe dan bakso demi kami. Sungguh Kak, semangatku
untuk survive, untuk maju dan berprestasi semakin
terlecut, terlecut dan terlecut. Adik-adik juga
terlecut. Hari berganti hari. Matahari terus terbit
dan tenggelam. Sudah delapan tahun kakak membanting
tulang dan berkorban. Kini kakak bisa segera pulang
untuk melihat adik-adik kakak yang alhamdulillah sudah
bisa menatap masa depan dengan kepala tegak berlimpah
rahmat Tuhan seru sekalian alam.
Kak Azzam tercinta,
Kami tahu sebentar lagi kakak akan menghadapi ujian.
Sudah saatnya kakak menata masa depan kakak. Kami
berharap saat ini kakak kembali konsentrasi ke studi
kakak. Kakak harus segera selesai dan segera pulang.
Kami semua sudah rindu. Sementara jangan pikirkan
kami dulu. Insya Allah kami berkecukupan. Aku sendiri
sejak dua bulan ini sudah menjadi pengisi rubrik psikologi
remaja di Radio JPMI (Jaya Pemuda Muslim Indonesia)
Solo, juga diminta sebagai asisten dosen di
UNS. Dik Lia sudah menjadi pengajar tetap di SDIT.
Gaji kami berdua Insya Allah cukup untuk hidup layak.
Jika kakak ada rezeki dialokasikan saja untuk membeli
tiket pulang dan mungkin membeli buku-buku referensi
yang pasti akan sangat kakak perlukan jika nanti
mengamalkan ilmu di Tanah Air.
Kak Azzam tercinta,
Harapan kami kakak bahagia membaca surat ini. Lia
titip salam. Salam rindu dan kangen tiada tara katanya.
Sarah titip kecupan cinta katanya. Ibu titip setetes
air mata cinta dan bangga untukmu kakakku tercinta.
Ini dulu ya. Selamat menempuh ujian. Semoga
lulus dan segera pulang ke Tanah Air. Semoga Allah
melimpahkan rahmat dan taufik-Nya kepada kakak. Amin
Wassalam,
Dengan sepenuh cinta,
Adikmu,
Ayatul Husna
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
261
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam membaca surat dan adiknya dengan air mata
berderai-derai. Selesai membaca surat itu ia langsung tersungkur
di atas karpet. Sujud syukur kepada Allah Swt. Ia
menangis merasakan keagungan kasih sayang Allah Swt.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia sangat bahagia. Ia
merasa ini semua adalah karena kasih sayang Allah Swt.
Dalam sujudnya ia meminta kepada Allah agar diberi
tam-bahan kekuatan untuk belajar dan diberi tambahan ilmu
yang bermanfaat. Ia menguatkan azzam untuk lulus tahun itu
juga. Tinggal satu mata kuliah, Tafsir Tahlili. Dan ia akan
mempelajarinya dengan penuh konsentrasi. Selesai ujian ia
akan fokus mencari dana untuk pulang. Hatinya tiba-tiba
riang dan bahagianya membuncah-buncah. Dengan penuh
penghayatan ia berdoa, "Ya Allah kabulkan harapanku untuk
lulus dan pulang tahun ini. "
Malam itu Azzam tidur dengan penuh kedamaian. Ia
bermimpi dirinya telah berada di Indonesia makan pagi
bersama ibu dan adik-adiknya. lbunya membuat bubur dengan
sambel tumpang yang sangat sedap. Sementara Husna mem -
buat bakwan dan mendoan. Lia membuat teh tu bruk kesukaannya.
Dan Sarah bercerita tentang pengalaman indahnya
selama berada di Pesantren Al-Quran. Pagi itu ia makan bubur
buatan ibunya dengan sangat lahap. Ibunya memperhatikan
dengan kedua mata bersinar-sinar bahagia.
"Iyo Le. mangano sing akeh. Ben awakmu seger. Trus ndang
cepet kawin."62 Kata ibunya yang disambut tawa riang adikadiknya.
Azzam lalu ikut juga tertawa. Rasanya sangat bahagia.
"Kawin sama siapa tho Bu." Sahut Azzam.
"Ya sama mahasiswi Indonesia yang cantik-cantik itu tho.
Apa kau kira ibu tidak tahu. Ada Cut Mala, ada Laila, Masyithah,
ada Cut Rika, ada Hilda, ada Erna, dan ada Anna. Kau
62 Iya, Nak, makanlah yang banyak. Biar badanmu segar. Terus segera menikah.
Habiburrahman El Shirazy
262
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tinggal pilih salah satu dari mereka." Jawab ibunya, menyebut
nama-nama mahasiswi Indonesia di Cairo yang ia ketahui. Ia
tidak mengerti dari mana ibunya tahu nama-nama itu.
"Kok ibu tahu nama mereka?" Tanyanya heran.
"Lho kamu ini bagaimana tho, kan mereka semua kemarin
ke sini menemui ibu. Mereka menginap di pesantrennya Anna.
Dan sebentar lagi mereka mau datang ke sini?"
"Datang ke sini? Ke rumah kita ini?"
"Iya. Kamu itu bagaimana tho. Katanya kamu ingin ketemu
mereka. Kamu ingin menunjukkan gadis yang kamu pilih
pada ibu dan adik-adikmu."
Azzam sama sekali tidak bisa mengerti dengan apa yang
didengarnya. Bagaimana mungkin mahasiswi mahasiswi itu
bisa datang ke rumahnya. Kapan mereka pulang dari Mesir.
Belum hilang keheranannya. Tiba-tiba ada suara memberi
salam sambil mengetuk pintu. Itu suara Cut Mala, ia hafal
betul dengan suara itu.
"Lha itu mereka datang!" Seru ibunya dengan wajah
bahagia. Ketiga adiknya juga menampakkan wajah sangat
bahagia. Ia masuk terpaku di tempatnya. Sementara ibu dan
adik-adiknya bergegas ke ruang tamu. Sayup-sayup ia mendengar
ibunya menanyakan kabar pada mereka. Tak lama kemudian,
Husna, adiknya memintanya untuk ke ruang tamu. Ia
berjalan dengan kaki gemetar.
Ia masuk ke ruang tamu dengan menundukkan kepala. Ia
lalu duduk di samping ibunya. Pelan-pelan ia mengangkat
kepala-nya. Di depannya duduk tujuh orang gadis dengan
pesona masing-masing. Ya ada Cut Mala, Erna, Masyithah,
Cut Rika, Hilda, Laila dan seseorang memakai cadar. Ia tidak
tahu siapa dia.
Ibunya berkata, "Yang pakai cadar ini namanya Anna.
Anna Althafunnisa."
"Anna Althafunnisa?" Kagetnya.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
263
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Perempuan bercadar itu mengangguk. Ia semakin penasaran
dan bingung. Selama ini ia hanya mendengar berita
kecantikan Anna Althafunnisa, tapi tidak pernah tahu seperti
apa. Dan saat itu, ketika Anna ada di hadapannya pun masih
juga menyembunyikan wajahnya. Dan ia bingung, kenapa
Anna Althafunnisa ikut datang, bukankah ia telah dilamar
Furqan? Terus Cut Mala, kenapa juga ikut datang. Bukankah
Cut Mala seharusnya telah dikhitbah Hafez, teman satu
rumahnya.
"Apakah kau ingin aku membuka cadarku? Agar kau bisa
melihat wajahku?" Kata Anna seolah tahu rasa penasarannya.
Dengan suara bergetar ia menjawab, "I...iya."
"Baiklah."
Perlahan Anna menyingkap cadar penutup wajahnya.
Baru seperempat yang disingkap, tiba-tiba ia merasakan
tubuhnya melayang. Wajah itu bercahaya. Anna tidak langsung
me-nyingkap semua. Anna menahan sesaat. Lalu kembali
meng-gerakkan tangannya untuk menyingkap. Tiba-tiba....
Kriing... kriing... kriiing...
Jam bekernya berbunyi keras sekali. Ia terkesiap bangun.
Ia sangat kecewa, itu semua hanya mimpi belaka. Lebih kecewa
lagi, ia belum sepenuhnya melihat wajah Anna Althafunnisa.
"Yah hanya mimpi." Lirihnya pada diri sendiri.
Ia lalu berpikir, mana mungkin ia bisa memiIih salah satu
dari tujuh mahasiswi Cairo itu. Mana mungkin mereka datang
ke rumahnya. Mana mungkin mereka mau menjadi pendamping
hidup penjual tempe seperti dirinya.
"Ah mimpi itu ada-ada saja."
Tiba-tiba ia tersenyum sendiri.
Ia bersyukur masih bisa memimpikan hal yang indah. Ia
ber-syukur doanya minta bertemu dengan ibunya dalam
mimpi benar-benar terkabul. Tiba-tiba ia berpikir: "Bisa jadi
kalau aku berdoa, meminta dijodohkan dengan salah satu dari
Habiburrahman El Shirazy
264
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tujuh gadis dalam mimpiku itu juga akan terkabul. Apa
salahnya berdoa?"
Ia tersenyum. Saatnya Tahajud dan bermunajat pada
Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah
kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan
Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji 63
63 QS. Al Israa'(Memperjalankan di Malam Hari) [17]: 79
Minggu, 12 Desember 2010
19 SURAT DAR1 INDONESIA
Posted by Dini Ariani on 23.04





0 komentar:
Posting Komentar