Anna baru saja pulang dari Khan Khalili. Ia membeli
Papyrus, kaos, celak, siwak, gantungan kunci khas Cairo, dan
minyak wangi. Ia tidak membeli banyak oleh-oleh untuk pulang,
terutama makanan. Sebab ia masih akan mampir di Kuala
Lumpur beberapa hari. Ia bisa membeli tambahan oleh-oleh di
Kuala Lumpur nanti.
"Wah jadi pulang nih Kak." Sapa Zahraza begitu Anna
mele-takkan barang belanjaannya di atas meja ruang tamu.
"Insya Allah." Jawab Anna pelan sambil mengusap peluh
di wajahnya. Hari ini lebih panas dari biasanya. Dan Anna naik
taksi yang AC-nya sedang rusak.
Habiburrahman El Shirazy
266
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Belanja sendirian Kak?"
"Tidaklah Zah. Tadi aku pergi bertiga. Aku ditemani Cut
Mala dan Erna. Cut Mala turun di Rab'ah sedangkan Erna itu
masih di bawah. Ada penjual buah keliling. Ia ingin beli buah."
"Cut Mala itu yang mana sih Kak. Aku sering dengar
namanya tapi kok belum pernah ketemu orangnya."
"Cut Mala, anak Aceh yang kemarin jayyid jiddan itu lho.
Anaknya cantik dan ramah. Ia sering nulis di buletin Citra.
Kalau mau kenalan nanti sore jam empat dia mau datang ke
rumah ini. Dia mau tanya tentang beberapa masalah Ushul
Fiqh."
"Wah kebetulan. Awak penasaran banget dengan yang
namanya Cut Mala Kak. Dia katanya pernah diminta membaca
Al-Quran oleh teman-teman mahasiswi di rumah Negeri
Kedah. Suaranya katanya sangat indah. Ia jadi pembicaraan.
Sayang awak tak hadir saat itu."
"Iya dia memang pernah menjuarai Musabaqah Tilawatil
Quran se-Aceh."
"Oh ya, Wan Aina mana Zah?"
"Dia baru saja tidur. Dua puluh menit yang lalu. Baru
pulang dari rapat panitia seminar."
"Seminarnya jadi positif hari Ahad?"
"Insya Allah positif, Profesor Razlina Afif, Guru Besar
Sejarah Islam dari Universiti Malaya bahkan sudah tiba di
Cairo. Profesor Sherly Lombard, Pakar Sejarah Asia Tenggara
dari Birmingham University juga positif bisa datang."
"Syukur alhamdulillah kalau begitu."
"Tapi ada sedikit masalah?"
"Apa itu?"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
267
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Seminarnya kan memakai bahasa Inggris, jadi moderatornya
harus benar-benar yang bisa berbahasa Inggris. Renca -
na panitia yang menjadi moderator adalah Wan Faiza Wan
Nuh, yang sedang menempuh master di Cairo University . Wan
Faiza tiba-tiba mengundurkan diri karena ia harus ke Damaskus
untuk suatu urusan yang katanya sangat penting. Sampai
sekarang panitia belum menemukan moderator yang tepat."
"Lha Wan Aina kan bahasa Inggrisnya bagus."
"Dia bilang tidak berani."
"Masak tidak berani?"
"Dia sendiri yang bilang begitu," kata Zahraza meyakinkan.
"Benar Kak Anna, saya tidak berani menghadapi audiens
yang begitu banyak," tiba-tiba Wan Aina menjawab dari pintu
kamarnya. "Tapi panitia, atas usulan saya sudah menemukan
moderator yang tepat insya Allah," lanjut Wan Aina.
"Siapa Wan?" tanya Zahraza.
"Kak Anna Althafunnisa."
"Apa? Aku? Kau jangan bercanda Wan !?" Anna kaget.
"Aku tidak bercanda Kak Anna. Aku serius. Dan aku
diamanahi panitia untuk membereskan masalah ini. Dengan
sepenuh harap aku minta Kak Anna mau menjadi moderator
untuk acara seminar besok."
"Kau jangan main-main Wan, bahasa Inggrisku jelek"
"Kak Anna selalu merendah. Saya sudah lama hidup dengan
Kak Anna, sudah lama mengenal Kak Anna. Hanya
kakak yang menurut saya paling tepat untuk memoderatori
seminar besok. Kakak pernah ikut pertukaran pelajar ke Wales
Habiburrahman El Shirazy
268
Ilyas Mak’s eBooks Collection
selama satu tahun sebelum kuliah di Al Azhar. Bahasa kakak
halus khas Wales," kata Wan Aina meyakinkan Anna.
"Tapi rasanya susah Wan. Segala sesuatu perlu persiapan.
Aku tak ada persiapan sama sekali untuk tema seminar ini
Wan. Aku bisa seperti badut nanti."
"Jangan kuatir Kak. Dalam satu jam ke depan, saya akan
kasih Kakak print out makalah yang akan disampaikan oleh
Profesor Razlina Afif dan Profesor Sherly Lombard. Juga
makalah yang ditulis Prof. Dr.Nadia Hashem dari Cairo University
. Dengan modal tiga makalah itu paling tidak Kakak
punya persiapan yang cukup ditambah beberapa literatur yang
nanti akan saya usahakan segera ada di meja belajar Kakak.
Bagaimana Kak?"
Anna diam tak menjawab.
"Ingat Kak, kita harus saling tolong menolong dalam
kebaik-an. Tolonglah panitia Kak!" desak Wan Aina.
Anna sama sekali tidak bisa mengelak, akhirnya ia menjawab,
"Baiklah akan aku coba semampuku."
"Terima kasih Kak."
Seperti yang dijanjikan Anna pada Zahraza, jam empat
tepat Cut Mala tiba di rumah itu. Zahraza sangat senang berkenalan
dengan gadis dari Aceh yang rendah hati itu.
"Saya pernah sekali ke Banda Aceh. Saya sempat tengok
Masjid Baiturrahman. Rumah kamu jauh tak dari Masjid Baiturrahman?"
tanya Zahraza pada Cut Mala
"Kalau rumah saya dari Masjid Baiturrahman jauh sekali.
Saya tinggal di Pidie. Kalau tempat kelahiran saya cukup dekat
dengan Masjid Baiturrahman. Masih satu kota. Saya lahir
di Ulee Kareng, Banda Aceh," jelas Cut Mala.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
269
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Zahraza yang memang suka ngobrol mengajak Cut Mala
berbicara ke mana-mana. Obrolan mereka berhenti ketika
Anna mengajak Cut Mala masuk ke kamarnya. Cut Mala
sangat hormat dan kagum pada gadis yang judul tesisnya
sudah diterima itu. Ia sendiri bercita-cita bisa mengikuti jejak
Anna Althafunnisa.
Cut Mala membawa diktat kuliahnya. Segala yang musykil
baginya ia tanyakan dengan tanpa rasa malu pada Anna.
Anna menjawab sejelas jelasnya dengan penuh kesabaran.
"KakAnna, maksud kaidah ini apa?" tanya Cut Mala.
"Coba baca apa kaidahnya!" pinta Anna.
"Kaidahnya begini Kak: Al Itsar bil qurbi makruuhun wa fi
ghairiha mahbuubun! Di sini tidak ada penjelasan dan contohnya
sama sekali Kak. Saya belum benar-benar paham."
Anna langsung menjawab dengan tenang,
"Kaidah itu artinya, itsar, mengutamakan orang lain, dalam
hal mendekatkan diri kepada Allah, atau mengutamakan
orang lain dalam beribadah, itu hukumnya makruh. Adapun
meng-utamakan orang lain pada selain ibadah itu dianjurkan.
Dalam ibadah yang dianjurkan dan disunahkan adalah berlomba-
lomba mendapatkan yang paling afdal. Mendapatkan
pahala yang paling banyak. Maka mengutamakan orang lain
sangat tidak dianjurkan alias makruh.
"Contohnya, jika seseorang memiliki air yang hanya cukup
buat berwudhu untuk dirinya saja, maka ia tidak boleh
memberikan air itu pada orang lain, agar orang lain bisa berwudhu
sementara ia tayammum. Yang disunahkan adalah dia
menggunakan air itu untuk berwudhu biarkan orang lain
tayammun. Kecuali jika ada orang lain yang membutuhkan
untuk minum karena kehausan, maka ia sebaiknya memberikan
air itu padanya dan ia bisa bersuci dengan tayammum.
Habiburrahman El Shirazy
270
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Contoh lain, jika seorang Muslimah memiliki satu mukena.
Lalu datang waktu shalat. Ia tidak diperbolehkan mempersilakan
orang lain shalat dulu menggunakan mukenanya dan
ia menunggu setelah orang-orang selesai menggunakan mukenanya.
Yang benar adalah ia harus segera shalat sebelum yang
lain. Ia harus mengutamakan dirinya. Sebab shalat di awal
waktu itu lebih baik. Baru setelah ia shalat ia bisa meminjamkan
pada orang lain. Dalam ibadah sekali lagi dimakruhkan
mengutamakan orang lain. Begitu maksud kaidah itu Dik. Kau
bisa menganalogikan dengan yang lain."
Cut Mala tampak puas mendengar jawaban itu. Tiba-tiba
ia terpikir sesuatu yang menarik untuk ia tanyakan,
"Maaf Kak saya mau tanya. Kalau misalnya. Sekali lagi ini
misalnya lho Kak. Misalnya ada seorang gadis Muslimah,
dilamar oleh seorang pemuda yang sangat baik. Baik agamanya,
akhlaknya, prestasinya, juga wajahnya. Lalu ia mengalah,
mengutamakan saudarinya yang menurutnya lebih baik
darinya dan lebih pantas menikah dengan pemuda Muslim
tadi. Apa ini termasuk makruh Kak?"
Anna menatap kedua mata Mala. Sebuah pertanyaan yang
membuatnya tersenyum sekaligus kagum akan kreativitas
gadis dari Aceh ini. Bukankah pertanyaan yang baik adalah separo
dari ilmu?
"Menurutmu menikah itu ibadah nggak Dik?" tanya
Anna.
"Ibadah Kak. Bukankah menikah itu menyempurnakan
separo agama?"
"Jadi jelas kan jawabannya. Aku pribadi kalau menemukan
pemuda yang baik, yang menurutku sungguh baik dan ada
yang menjodohkan aku dengannya ya aku akan mengutamakan
diriku dulu. Tidak akan aku tawarkan pada akhwat lain.
Menikah kan ibadah. Cepat-cepat menikah kan juga bagian
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
271
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalau aku itsar, mengutamakan
akhwat lain, berarti aku akan kalah cepat. Akhwat
itu akan menikah duluan, dapat jodoh duluan dan aku belum.
Jadi tertunda. Dan, tambah lagi belum tentu aku akan dapat
jodoh yang lebihbaik dari itu. Meskipun jodoh ada yang
mengaturnya yaitu Allah. Tapi kita kan harus ikhtiar. Di antara
bentuk ikhtiar, ya, ketika menemukan yang baik tidak
usah mengutamakan orang lain. "
Cut Mala merasa mendapatkan wawasan baru belajar
pada Anna. Cut Mala terus bertanya dan bertanya. Kurang
lebih satu jam setengah Cut Mala berada di kamar Anna.
Menjelang Maghrib ia minta diri. Zahraza mengingatkan agar
datang ke seminar.
"Jangan lupa datang dan ajak teman-teman satu
rumahmu ya. Besok moderatornya Kak Anna," ucap Zahraza.
"Insya Allah," jawab Cut Mala lirih.
***
Hari yang dinanti oleh mahasiswa Asia Tenggara tiba.
Semi-nar sehari membahas sejarah ulama perempuan di Asia
Teng-gara digelar juga. Peserta membludak. Di antara daya
tarik-nya, selain nara sumbernya adalah tiga profesor dari
univer-sitas terkenal di dunia, juga lantaran dimeriahkan oleh
Group Nasyid terkemuka dari Malaysia. Auditorium Shalah
Kamil Al Azhar University penuh sesak. Peserta yang hadir di
luar prediksi panitia. Karena sudah mendekati ujian panitia
mentargetkan enam puluh persen kursi ruangan Shalah Kamil
terisi sudah bagus. Beberapa mahasiswa yang tidak bisa masuk
ruangan sempat protes. Tapi panitia bisa menenangkan
keadaan.
Seminar itu berjalan sangat hidup. Anna Althafunnisa
jadi bintang yang bersinar cemerlang. Bahasa Inggrisnya
yang khas Wales serta pengetahuannya yang luas, ditambah
Habiburrahman El Shirazy
272
Ilyas Mak’s eBooks Collection
guyonan-guyonan segarnya benar-benar menghidupkan suasana.
Hadirin selalu berdecak kagum dan tersihir oleh kepiawaian
mahasiswi dari Indonesia yang selama ini tidak banyak
dikenal itu.
"Uedan, moderatornya siapa itu Cak? Cuantik, pinter dan
bahasa Inggrisnya fasih buetul! Anake sopo yo kae?"64 Seorang
mahasiswa dari Surabaya berkomentar pada temannya.
Sejak saat itu Anna menjadi buah bibir di kalangan
mahasiswa Asia Tenggara. Cut Mala yang menjadi staf redaksi
buletin Citra, bersiap menulis profil orang yang dikaguminya
itu. Cut Mala, tiba-tiba merasakan bahwa prestasinya
selama ini tak ada artinya apa-apa dibanding dengan yang
telah diraih Anna Althafunnisa. Ia merasa harus banyak bela -
jar pada perempuan yang begitu sabar menjelaskan kaidahkaidah
fikih padanya.
Di pojok auditorium itu seorang pemuda memandangi
Anna dengan hati harap-harap cemas. Ia menaruh harapan
besar bisa menyunting moderator yang sangat cemerlang itu.
Namun kejadian di hotel membuatnya sangat cemas bisa
menggagalkan harapannya. Pemuda itu adalah Furqan yang
telah melamar Anna lewat Ustadz Mujab.
Furqan sama sekali tidak mengira kalau moderator pada
hari itu adalah Anna. Hari itu ia benar-benar tersihir oleh
pesona gadis yang telah dipinangnya, tapi belum juga memberi
jawaban iya atau tidak. Furqan merasa jika ia gagal meminang
sang bintang itu, ia benar-benar menderita kerugian
yang tiada terkira besarnya.
Sementara di sisi lain, seorang pemuda agak kurus memperhatikan
pesona Anna dengan mata berkaca-kaca. Dalam
64 Anaknya siapa ya dia itu?
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
273
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dada pemuda itu membuncah perasaan cemburu, kaget, bahagia
juga sedih. Cemburu karena ia pernah mencoba untuk
melamar gadis yang sedang menjadi pusat perhatian. Bahagia
karena pada akhirnya ia bisa mengetahui wajah gadis yang
pernah ia lamar itu dengan jelas. Bahkan menyaksikan sendiri
kepiawaian dan kecerdasan gadis itu. Memang bukan sembarang
gadis.
Dan kaget karena gadis itu adalah gadis yang pernah ia
tolong bersama kawannya untuk ikut taksinya saat pulang
belanja dari Pasar Sayyeda Zaenab. Ia pernah berbincangbincang
dan pernah berada dalam jarak yang sangat dekat
dengan gadis itu. Ia sangat menyesal bahwa ia tidak berterus
terang mem-berikan nama aslinya pada gadis itu.
Pemuda itu adalah Khairul Azzam yang begitu mendengar
ada seminar dengan moderator Anna Althafunnisa, ia
langsung datang untuk menghilangkan penasarannya. Dalam
hati pemuda itu berkata, "Alangkah bahagianya Furqan, jika ia
benar-benar bisa menyunting Anna. Semoga kebaikan selalu
menyertai kalian." Pemuda itu mengusap matanya yang basah.
Hanya basah.Tak sampai ada airmata yang tumpah.
Anna menunaikan tugasnya dengan baik. Ia tampil biasa
saja. Tidak ada yang ia buat-buat. Mengalir alamiah. Selesai
seminar pikirannya cuma satu: besok terbang ke Malaysia
bersama WanAina untuk melakukan penelitian tesisnya. Ia
sama sekali tidak sadar kalau ia telah menyihir banyak orang
dan telang menjadi seorang bintang. Bintang di kalangan
mahasiswa Asia Tenggara di Mesir.
Minggu, 12 Desember 2010
20 BINTANG YANG BERSINAR TERANG
Posted by Dini Ariani on 23.04





0 komentar:
Posting Komentar