Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

2 TEKAD BERAJUT DOA

Acara makan malam itu berlangsung di sebuah taman
yang terletak di garis Pantai El Muntazah. Sebuah pantai
yang terkenal keindahannya di Alexandria. Azzam sama sekali
tidak bisa menikmati acara itu, sebab ia sibuk mempersiapkan
ikan bakar permintaan khusus Bapak Duta Besar, ayah Eliana.
Azzam yang ingin istirahat di malam terakhir merasa tidak
bisa istirahat. Ia yang sedikit ingin merasakan nuansa romantis
di El Muntazah yang sangat terkenal itu sama sekali tidak
bisa merasakannya.
Azzam membakar semua ikan yang dibeli Pak Ali. Ia meracik
bumbu sedetil mungkin. Ia minta Pak Ali membantunya
mengipasi arang agar terjaga baranya, sementara ia membuat
sambalnya. Akhirya ia bisa menghidangkan ikan bakar keinginan
itu ke hadapan dua orang Duta Besar, yaitu ayah
Habiburrahman El Shirazy
22
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Eliana, Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan kawannya
Duta Besar Indonesia untuk Turki. Dua Duta Besar itu duduk
di tempat terpisah dari staf KBRI yang lain. Mereka memang
ingin bernostalgia berdua saja. Di hadapan mereka ada satu
nampan berisi nasi panas yang masih mengepulkan asap.
Nampan berisi ikan bakar. Dua piring kecil berisi sambal. Dua
piring agak besar berisi lalapan. Lalu dua mangkok berisi air
untuk cuci tangan. Dan dua piring besar yang masih kosong.
Azzam mempersilakan keduanya untuk menikmati hidangan
itu.
"Terima kasih Mas ya." Kata Pak Alam, ayah Eliana pada
Azzam. Azzam tersenyum dan mengangguk dengan ramah
sambil sekali lagi mempersilakan untuk menyantap. Ia lalu
minta diri.
"Hidangan ikan bakar ini untuk mengingatkan masamasa
kita belajar di Jogja dulu. Meskipun kita ada di Alexandria,
tapi ini saya siapkan ikan bakar seperti yang kita rasakan
di Parangtritis dulu." Kata Pak Alam.
"Wah sungguh tidak rugi aku berkunjung ke Mesir
menjenguk teman lama. Sungguh, aku merasa sangat terhormat
menerima surprise ini." Sahut Pak Juneidi dengan senyum
mengembang.
"Ayo langsung saja Pak Jun. Mencium baunya sudah
tidak sabar rasanya perut ini. Ayo kita pulu'an pakai tangan
saja rasanya lebih nikmat." Kata Pak Alam sambil mengambil
satu piring yang kosong dan mengisinya dengan nasi. Lalu ia
mencuci tangan kanannya ke dalam mangkok berisi air dan
jeruk nipis.
“Ya benar Pak Alam. Pulu'an dengan tangan memang
lebih nikmat." Tukas Pak Juneidi seraya melakukan hal yang
sama.
Dua Duta Besar itu langsung asyik bernostalgia sambil
menikmati ikan bakar buatan Azzam. Dari jauh Azzam melihat
dengan mata puas. Ia lalu duduk melihat sekeliling. Di sisi
yang lain tak jauh dari dua Duta Besar itu staf KBRI sedang
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
23
Ilyas Mak’s eBooks Collection
berpesta bersama beberapa orang mahasiswa dan rombongan
Penari Saman yang didatangkan dari Aceh. Ia melihat Eliana
ada di tengah tengah mereka. Eliana duduk berbincangbincang
dengan seseorang yang sangat ia kenal. Orang yang
berbincang dengan Eliana adalah Furqan. Teman satu pesawat
saat datang ke Mesir dulu. Ada sedikit bara memercik
dalam dadanya, namun ia redam segera. Ia merasa tidak pada
tempatnya ia merasa cemburu. Eliana itu siapa? Bukan siapasiapanya.
Melihat Furqan yang selalu dalam posisi begitu terhormat,
Azzam tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa
ada rasa iri. Iri ingin seperti dia. Rasa itu begitu halus masuk
ke dalam hatinya. Dulu ia dan Furqan satu pesawat. Lalu
selama satu tahun satu rumah. Tahun pertama di Mesir ia naik
tingkat dengan nilai lebih baik dari anak konglomerat Jakarta
itu. Bahkan Furqan sering bertanya padanya tentang kosa
kata bahasa Arab yang musykil saat membaca diktat. Tapi
kini, teman lamanya sudah hampir selesai S.2-nya di Cairo
University. Dan ia sendiri S.1 saja masih juga belum luluslulus,
apalagi S.2. Furqan lebih dikenal sebagai intelektual
muda yang sering diminta menjadi nara sumber di pelbagai
kelompok kajian, sedangkan dirinya lebih dikenal sebagai
penjual tempe, pembuat bakso dan tukang masak serba bisa,
namun tidak juga lulus ujian.
Azzam menghela nafas panjang. Ia lalu berdiri mencaricari
Pak Ali. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mengedarkan
pandangannya ke segala arah. Namun tak juga ia temukan Pak
Ali. Ia sendirian. Hendak bergabung dengan staf KBRI itu
rasanya canggung. Mereka sudah memulai acara dua puluh
menit yang lalu. Ia memutuskan untuk menikmati kesendiriannya
itu. Untung ia tadi sempat mengambil sepiring nasi
dan satu ikan untuk dicicipi. Dan sambil duduk Azzam mulai
menyantap ikan bakar itu. Perutnya sudah sangat lapar. Ia
makan dengan lahap sendirian, sambil menatap bulan dan
bintang bintang. Tiba-tiba ia teringat ibu dan ketiga adiknya
di Indonesia.
Habiburrahman El Shirazy
24
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Mereka pasti sedang tidur nyenyak di sana. Ibu mungkin
sedang berdoa dalam shalat malamnya." Lirihnya pada diri
sendiri sambil membayangkan wajah ibunya dalam balutan
mukena putih dengan mata berkaca -kaca. Ada keharuan yang
tiba-tiba menyusup begitu saja ke dalarn dadanya.
Kalaulah ia harus jujur, maka impiannya yang paling
tulus adalah segera pulang ke Tanah Air bertemu dengan ibu
dan adik-adiknya. Tak ada impian yang lebih kuat dalam
jiwanya melebihi itu. Namun akal sehatnya selalu menahan
agar impiannya itu tidak sampai meledak dan melemahkannya.
Adalah wajar bagi seseorang yang sudah bertahun-tahun
tidak bertemu keluarganya dan mengharap bertemu keluarga -
nya. Namun jika dengan sedikit kesabaran pertemuan itu akan
menjadi lebih bermakna kenapa tidak sedikit bersabar. Ia bisa
saja mengusahakan pulang. Tapi kuliahnya belum tuntas dan
adik-adiknya masih memerlukan dirinya untuk bekerja keras.
Ia tidak ingin menyerah pada kerinduan yang menjadi penghalang
kesuksesan. Ia ingin adik-adiknya sukses, dirinya sukses.
Semua sukses. Gambaran masa depan jelas. Baru ia akan
pulang.
"Mas Khairul, pulang yuk!"
Suara itu mengagetkannya. Ia menengok ke asal suara.
Pak Ali telah berdiri di samping kanannya.
"Dari mana saja Pak Ali? Saya cari-cari dari tadi." Sapanya.
"Aduh Mas, perutku sakit. Aku habis dari toilet. Yuk kita
pulang ke hotel yuk. Kayaknya aku harus segera istirahat nih."
"Lha Pak Ali tidak menunggu Pak Dubes. Nanti kalau
Pak Dubes mencari bagaimana? Terus kalau saya pulang yang
membereskan barang-barang siapa?"
“Tenang. Aku sudah tidak ada tugas malam ini. Pak
Dubes nanti biar disopiri Pak Amrun. Terus barang barang
biar diurus sama Mbak Eliana. Aku sudah bicara dengan
Mbak Eliana. Katanya kita pulang tak apa-apa. Apalagi sebaKetika
Cinta Bertasbih Buku I
25
Ilyas Mak’s eBooks Collection
gian mereka mau begadang sampai pagi. Termasuk Pak
Dubes dan kawannya dari Turki.”
“Baik kala u begitu. Saya juga sudah letih. Terus kita
pulang pakai apa Pak Ali?"
"Gampang. Yang penting sama Pak Ali beres deh. Kita
pulang pakai taksi biar aku yang bayar."
"Ya sudah kalau begitu. Ayo."
Dua orang itu bergegas ke luar ke jalan lalu meluncur ke
hotel dengan taksi. Dalam perjalanan ke hotel Azzam lebih
banyak diam. Ia hanya bicara jika Pak Ali bertanya. Azzam
masih terbayang-bayang oleh wajah ibu dan adik-adiknya.
"Kalau boleh tahu berapa umurmu Mas Khairul?"
"Dua puluh delapan Pak."
"Kalau aku perhatikan, gurat wajahmu lebih tua sedikit
dari umurmu. Kayaknya kau memikul sebuah beban yang
lumayan berat. Aku perhatikan kau lebih banyak bekerja
daripada belajar di Mesir ini. Boleh aku tahu tentang hal ini?"
"Ah Pak Ali terlalu perhatian pada saya. Saya memang
harus bekerja keras Pak. Bagi saya ini bukan beban. Saya tidak
merasakannya sebagai beban. Meskipun orang lain mungkin
melihatnya sebagai beban. Saya memang harus bekerja untuk
menghidupi adik adik saya di Indonesia. Ayah saya wafat saat
saya baru satu tahun kuliah di Mesir. Saya punya tiga adik.
Semuanya perempuan. Saya tidak ingin pulang dan putus
kuliah di tengah jalan. Maka satu-satunya jalan adalah saya
harus bekerja keras di sini. Jadi itulah kenapa saya sampai
jualan tempe, jualan bakso, dan membuka jasa katering."
Pak Ali mengangguk-angguk sambil membetulkan letak
kaca matanya mendengar penuturan Azzam. Ada rasa kagum
yang hadir begitu saja dalam hatinya. Anak muda yang kelihatannya
tidak begitu berprestasi itu sesungguhnya memiliki
prestasi yang jarang dimiliki anak muda seusianya.
Habiburrahman El Shirazy
26
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi
adik-adikmu di Indonesia. Aku sangat salut dan hormat padamu
Mas. Sungguh. Ketika banyak mahasiswa yang sangat
manja dan menggantungkan kiriman orangtua, kau justru
sebaliknya. Teruslah bekerja keras Mas. Aku yakin engkau kelak
akan meraih kejayaan dan kegemilangan. Teruslah bekerja
keras Mas, setahu saya yang membedakan orang yang berhasil
dengan yang tidak berhasil adalah kerja keras. Dan nanti
kalau kau sudah sukses jagalah kesuksesan itu. Setahu saya,
dari membaca biografi orang-orang sukses, ternyata hal paling
berat tentang sukses adalah menjaga diri yang telah sukses
agar tetap sukses."
"Terima kasih Pak Ali. Tapi saya minta Pak Ali tidak
menceritakan apa yang barusan saya ceritakan pada Pak Ali
kepada orang lain. Saya tidak mau itu jadi konsumsi banyak
orang. Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya
adalah mahasiswa Al Azhar yang tidak lulus-lulus karena
lebih senang bisnis tempe, bakso dan katering. Itu bagi saya
sudah cukup membuat nyaman. Janji Pak ya?"
"Ya, saya janji."
Tak terasa taksi sudah sampai di depan hotel. Azzam
turun. Pak Ali membayar ongkos taksi lalu menyusul turun.
“Perutnya masih sakit Pak?"
"Ya. Masih terasa. Aku rasa aku harus segera ke toilet. O
ya Mas Khairul, kau langsung ingin istirahat?"
"Iya Pak, saya merasa letih banget."
“Baiklah. O ya, bagaimana kalau besok habis shalat subuh
kita ngobrol-ngobrol sambil jalan-jalan di sepanjang pantai.
Semoga saja sakit perutku sudah sembuh."
"Wah dengan senang hati Pak."
"Kalau begitu nanti kalau kau mau shalat subuh aku dibel
ya. Kita subuhan di masjid bersama. Dari masjid kita langsung
jalan jalan. Aku akan memberimu cerita yang indah. Kau pasti
senang mendengarnya."
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
27
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Baik Pak. Man Pak, assalamu 'alaikum." Kata Azzam.
"Wa'alaikumussalam. Sampai ketemu besok." Jawab
Azzam bergegas menuju lift, sementara Pak Ali menuju
toilet. Hotel itu masih ramai. Beberapa orang masih asyik
ngobrol di lobby hotel. Dua orang lelaki kulit putih tampak
sedang serius berbicara dengan orang Arab berjubah putih.
Dari caranya memakai kafayeh tampak-nya ia orang teluk.
Lourantos Restaurant yang terletak tak jauh dari lobby juga
ramai dengan pengunjung.
Sampai di kamar Azzam langsung merebahkan badannya.
Ia tinggal menunggu mata terpejam. Telpon di kamarnya
berdering. Ia sangat tidak menginginkan telpon itu. Ia paksakan
untuk bangkit dan mengangkat-nya. Dari Eliana.
“Hei Mas Insinyur, kok sudah pulang sih?" Suara dari
gagang telpon.
"Iya, diajak Pak Ali yang sakit perut. Saya juga sudah
letih.”
“Seharusnya kalau mau pulang bilang-bilang dong. Terima
kasih ya, ikan bakarnya mantap. Pak Juneidi puas banget.
O ya sebetulnya aku mau kasih hadiah spesialnya lho. Tapi
Mas Insinyur keburu pulang sih?"
"Hadiahnya apa?"
"Mau tahu?"
“Iya."
"Ciuman spesial dariku."
“Apa? Ciuman spesial?"
"Yes."
"Ciuman spesialnya Mbak Eliana itu ciuman yang
bagaimana?"
"French kiss, ciuman khas Prancis."
Habiburrahman El Shirazy
28
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Mbak mau menghadiahi aku ciuman khas Prancis? Ah
yang benar saja?"
"Benar, sungguh! Tapi Mas Khairul keburu pulang sih.
Jadi sorry dech ya."
"Ah Mbak jangan menggoda orang miskin dong."
"Saya tidak menggoda, serius. Saya sungguh sungguh
mau memberi Mas Khairul ciuman itu tadi, sayang Mas
keburu pulang.”
“Alhamdulillah. Untung saya keburu pulang."
"Lho kok malah merasa untung."
“Iya soalnya jika dapat ciuman khas Prancis dari Mbak,
bagi saya bukanlah jadi hadiah, tapi jadi musibah!’
"Jadi musibah?”
“Iya.”
"Dapat French kiss dariku bagimu jadi musibah!?"
"Iya."
"Serius!? Nggak bercanda kan!?"
"Serius! Sangat serius!"
"Bisa dijelaskan kenapa jadi musibah?"
"Penjelasannya panjang, besok saja! Yang jelas perlu
Mbak ingat baik-baik saya bukan orang bule! Sudah ya, saya
harus istirahat. Maaf!"
Azzam memutus pembicaraan dan meletakkan gagang
telponnya sambil mendesis kesal,
"Dasar perempuan didikan Prancis tidak tahu adab kesopanan.
Sudah tahu aku ini mahasiswa Al Azhar mau disamakan
sama bule saja! Sinting kali!"
Telpon di kamarnya berdering lagi. Ia biarkan saja. Tidak
ia sentuh sama sekali. Ia yakin itu telpon dari Eliana yang
mungkin sedang emosi atau penasaran. Telpon itu berderingKetika
Cinta Bertasbih Buku I
29
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dering sampai mati. Azzam mengambil air wudhu . Membaca
doa. Mengecilkan AC . Dan siap untuk tidur. Telpon di kamarnya
kembali berdering. Ia sedang membaca Ayat Kursi.
Sama sekali ia tidak bergeming dari tempat tidumya. Telpon
itu terus berdering sampai akhirnya mati sendiri. Ia tak perlu
mengangkatnya, toh jika umur masih panjang besok bisa bertemu
dan berbicara panjang lebar kenapa hadiah ciuman itu
baginya adalah musibah.
Sementara di El Muntazah, Eliana tampak gusar dan
geram. Berani-beraninya pemuda itu memutus pembicaraan
begitu saja. Dan berani-beraninya ia memandang sebelah mata
terhadap dirinya. Pikirnya. Baru kali ini ia tidak dianggap
bahkan diremehkan oleh seorang pemuda. Yang membuatnya
geram kali ini yang meremehkannya justru orang yang sama
sekali tidak diperhitungkannya.
"Dasar pemuda kampungan kolot! Pemuda konservatif!
Pemuda bahlul bin tolol! Awas nanti ya!" Geramnya.
Orang-orang yang memperhatikan tingkah Eliana itu jadi
bertanya-tanya. Ada apa dengan Putri Pak Duta Besar itu?
Siapa pemuda yang dikatakannya kolot itu? Siapa pemuda
yang diumpatnya itu?
***
Selesai membaca Ayat Kursi Azzam tidak bisa langsung
tidur. Ia merasa ada yang salah hari ini. Yang salah itu adalah
rasa tertariknya pada anak Pak Dubes dan harapannya yang
tidak-tidak padanya. Setelah sembilan tahun, baru kali ini hatinya
tertarik pada seorang gadis.
Dulu waktu di pesantren, waktu di Madrasah Aliyah ia
pernah merasa suka pada seorang santriwati yang di matanya
sangat memesona. Namanya Salwa. Selain Wajahnya yang
menurutnya bagai bidadari suaranya sangat merdu. Santriwati
dari Pati itu menjuarai MTQ tingkat Jawa Tengah. Namun ia
hanya bisa memendam rasa sukanya itu dalam hati. Sebab ia
tahu, Salwa sudah dipinang oleh putra sulung Pengasuh
Habiburrahman El Shirazy
30
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Pesantren, Gus Mifdhal. Setelah itu ia tidak mau membuka
hatinya lagi.
Yang ia heran, entah kenapa ketika mendengar prestasiprestasi
Putri Pak Dubes itu hatinya merasakan sesuatu yang
lain. Ia mengagumi gadis itu. Dan ketika melihat wajahnya ia
semakin kagum. Lalu ketika ia baru sedikit dekat saja sudah
merasakan apa yang dulu ia rasakan terhadap Salwa. Ia harus
mengakui ia jatuh cinta pada Eliana dan berharap yang tidaktidak.
Ia sendiri heran, kenapa?
Padahal ini bukan kali pertama ia bertemu dengan gadis
cantik. Ia sering membantu bapak-bapak pejabat KBRI dan
sering bertemu dengan anak gadis mereka yang sebenarnya
tidak kalah jelitanya. Tapi ia merasa biasa biasa saja. Ia bahkan
pernah umrah dan membimbing jamaah dari Jakarta. Di
antara jamaah itu ada seorang foto model yang masih kuliah di
Jakarta. Namanya Vera. Foto model cantik itu kelihatannya
tertarik padanya. Sebab setelah Vera kembali ke Jakarta sering
menelpon dirinya dan mengirimnya paket. Namun ia sama
sekali tidak tertarik padanya. Kini Vera sudah jadi bintang
sinetron. Dan ia juga tidak minta sedikit pun untuk sekadar
menyapanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan foto model
itu karena gaya hidupnya yang ia anggap tidak sejalan dengan
jiwanya. Dan cara berpakaiannya yang menurutnya kurang
santun meskipun sudah berulang kali umrah dan naik haji.
Dalam hati ia berkata dengan tegas,
"Cantik iya. Tapi kalau tidak bisa menjaga aurat, tidak
memiliki rasa malu, tidak memakai jilbab, tidak mencintai cara
hidup yang agamis, berarti bukan gadis yang aku idamkan!"
Standar dia untuk calon isteri minimal adalah Salwa. Dan
standar itu tidak pernah ia turunkan. Tapi entah kenapa saat
bertemu Eliana yang cara berpakaian dan cara hidupnya,
menurutnya, tidak berbeda dengan Vera hatinya bisa luluh.
Kenapa ia menurunkan standar yang telah bertahun-tahun ia
jaga. Bahwa calon isterinya, minimal adalah perempuan yang
berjilbab rapat, bisa membaca Al-Quran dan pernah mengecap
kehidupan pesantren.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
31
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Dan betapa menyesalnya dirinya begitu menurunkan
standar ternyata yang ia dapatkan adalah kehinaan. Akal
sehatnya menggiringnya untuk kecewa pada Eliana. Kecewa
karena ia merasa sudah bisa meraba cara hidup Eliana. Ia tidak
bisa membayangkan bagaimana kehidupan Putri Pak Dubes
itu saat kuliah di Prancis. Sudah berapa lelaki bule dan tidak
bule yang berciuman bibir dengannya. Dan ia ditawari untuk
jadi lelaki ke sekian yang berciuman dengannya. Ini jelas
berten-tangan dengan apa yang ia jaga selama ini. Yaitu
kesucian. Kesucian jasad, kesucian jiwa, kesucian hati, kesucian
niat, kesucian pikiran, kesucian hidup dan kesucian mati.
Entah kenapa tiba-tiba ia merasa berdosa. Ia merasa
berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh,
mudah terperdaya oleh tampilan luar yang menipu. Ia jijik
pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis
yang belum halal baginya. Ia heran sendiri kenapa jati dirinya
seolah pudar saat berhadapan atau berdekatan dengan Eliana.
Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan
jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. Ia beristighfar
dalam hatinya. Berkali-kali ia meminta ampun pada
Dzat yang menguasai hatinya.
Azzam meratapi kekhilafannya dan memarahi dirinya
sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan lebih menjaga diri, dan
hal yang menistakan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Ia juga
bersumpah untuk segera menemukan orang yang tidak kalah
hebatnya dengan Eliana, tapi berjilbab rapat, salehah, bisa
berbahasa Arab dan berbahasa Inggeris dengan fasih. Kalau
terpaksa gadis itu harus orang Mesir tak apa. Yang jelas rasa
terhinanya harus ia sirnakan.
Ia harus menemukan kembali kehormatannya sebagai
seorang Azzam yang memiliki harga diri. Meskipun masyarakat
Indonesia di Mesir mengenalnya hanya sebagai tukang
masak atau penjual tempe, tapi harga diri dan kesucian diri
tidak boleh diremehkan oleh siapapun juga. Ia yakin akan
mendapatkan isteri yang lebih jelita dari Eliana, dan lebih baik
darinya. Ia yakin. Itu tekadnya. Ia ulang-ulang tekad itu dalam
hatinya. Ia rajut dengan doa. Ia bawa tekad itu ke dalam
Habiburrahman El Shirazy
32
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tidurnya. Ke dalam mimpinya. Dan ke dalam alam bawah
sadarnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design