Azzam bangun dua puluh menit sebelum azan Subuh
berkumandang. Ia masih punya kesempatan buang hajat dan
sikat gigi. Setelah itu ia mengambil air wudhu. Ia teringat
belum shalat Witir. Ia sempatkan untuk Witir tiga rakaat.
Selesai shalat ia sempatkan untuk nyebut-nyebut ibu dan adikadiknya
dalam munajat. Azan Subuh berkumandang. Ia bangkit
membuka gorden kamarnya. Jalan utama Kota Alexandria
masih lengang. Hanya satu dua mobil yang berjalan. Kabut
tipis tampak rata menyelimuti gedung gedung. Kaca jendela
sedikit mengembun. Udara di luar berarti dingin. Alexandria
memang sedang memasuki peralihan musim.
Peralihan dari musim dingin ke musim semi. Sisa-sisa
musim dingin masih terasa. Saat Subuh tiba udara masih
Habiburrahman El Shirazy
34
Ilyas Mak’s eBooks Collection
menyengatkan hawa dinginnya. Dalam kondisi seperti itu
melingkarkan tubuh di tempat tidur dengan kehangatan selimut
tebal terasa sangat nyaman. Lebih nyaman daripada
bangkit menuju masjid.
Hayya 'alash shalaah.
Hayya 'alash shalaah.
Hayya 'alal falaah.
Hayya 'alal falaah.
Ash shalaatu khairun minan nauum.
Ash shataatu khairun minan nauum.
Suara azan menggema, memantul dari gedung ke gedung.
Menyusup masuk ke rumah-rumah menggugah jiwa jiwa yang
lelap. Suara itu nyaring bagaai burung camar, terbang ke tengah
laut. Dan mencumbui laut dengan mesra. Shalat itu lebih
baik dan tidur. Shalat itu lebih baik dari tidur.
Allahu akbar
Allahu akbar.
Laa ilaaha illallah.
Suara suci itu bergerak dengan lembut dan cepat. Menyapa
alam. Menyapa pasir-pasir di pantai. Menyapa kerikil-kerikil.
Menyapa aspal. Menyapa pohon-pohon kurma. Menyapa
embun-embun.Menyapa ombak yang berdesir. Menyapa gelombang
yang naik turun. Menyapa kabut yang lembut.
Menyapa udara. Menyapa, alam semesta. Menyapa apa saja.
Semuanya menjawab. Semuanya shalat. Semuanya menyucikan
dan mengagungkan asma Allah. Semuanya bertakbir
kecuali yang tetap tidur.
Seolah mengiringi takbir alam di pagi itu, bibir Azzam
bergetar mengucap takbir menjawab azan. Dengan tenang ia
melangkahkan kedua kakinya meninggalkan hotel yang masih
lengang. Sampai di masjid ia mendapati Pak Ali yang sedang
sujud di shaf depan. Azzam shalat Tahiyatul Masjid. Lalu shaKetika
Cinta Bertasbih Buku I
35
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lat Qabliyah Subuh. Sambil menunggu imam berdiri di mihrabnya
ia mengulang-ulang doa Nabi Yunus. Doa yang telah
menyelamatkan Nabi Yunus dari kegelapan di perut ikan. Doa
yang mampu menurunkan kasih sayang Tuhan. Doa yang
mampu mendatangkan keajaiban-keajaiban. Doa yang nikmat
dilantunkan dan terasa sejuk di hati dan pikiran.
Laa ilaaha illa anta.
Subhanaka inni kuntu minadzdzaalimiin.
Orang-orang Mesir berdatangan.Ada dua puluhan orang.
Seorang lelaki separo baya dengan jenggot yang telah memutih
sebagian, maju ke depan. Shalat Subuh didirikan. Sang
imam membaca surat An Najm. Azzam larut dalam penghayatan.
Orang Mesir yang shalat di samping kanannya menangis
sesenggukan. Bacaan sang imam memang menyentuh perasaan.
Apalagi orang Mesir biasanya paham makna ayat-ayat
suci Al-Quran yang dibacakan.
Azzam sendiri hanyut dalam keindahan ayat demi ayat
yang dibaca sang imam. Hati dan pikirannya terbetot dalam
tadabbur yang dalam. Ia merasakan seolah-olah Tuhan yang
menurunkan Al-Quran mengabarkan kepadanya bagaimana
Rasulullah menerima wahyu yang diturunkan.
Demi bintang ketika terbenam.
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
Dan tiadalah yang ia ucapkan itu (Al-Quran) menurut
kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).
Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril) itu
menampakkan diri dengan rupa yang asli.5
5 QS. An Najm (Bintang) [53]:1-6.
Habiburrahman El Shirazy
36
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ia seolah-olah terbetot masuk ke jaman kenabian. Seolaholah
ia ikut serta menyaksikan Rasulullah Saw. menerima
ayat-ayat suci Al-Quran. Seolah-olah ia mendengar suara
Jibril mendiktekan Al-Quran, sampai Rasulullah Saw. hafal
tanpa keraguan. Seolah-olah ia mendengar bagaimana Rasulullah
Saw. Mengajarkan Al-Quran kepada sahabat sahabatnya
yang selalu haus hikmah dan ilmu pengetahuan.
Ayat demi ayat dibaca sang irnam. Orang Mesir di samping
kanannya terus sesenggukan. Pikiran dan hatinya masih
larut dalam tadabbur dan penghayatan. Surat An Najm mem -
buatnya merinding ketika menguraikan untuk apa Islam ditu -
runkan. Demi kebahagiaan manusia dan alam semesta Islam
diturunkan. Tuhan menurunkannya dengan segenap cinta dan
kasih sayang-Nya. Tak ada sedikit pun Tuhan memiliki keinginan
mengambil keuntungan dari makhluk-Nya. Allah yang
menggenggam langit dan bumi serta isinya sama sekali tidak
membutuhkan makhluk-makhluk-Nya. Justru makhluk-makhluk-
Nyalah yang membutuhkan Allah, Tuhan Yang Maha
Kaya dan Maha Penyayang. Allah memberi kebebasan seluasluasnya
kepada makhluk makhluk-Nya untuk memilih berbuat
baik atau kejahatan. Semua ada balasannya masing-masing.
Adil. Tak ada kezaliman. Setiap orang mengetam apa yang ia
tanam.
Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi supaya. Dia memberi balasan kepada orangorang
yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Dan memberi balasan keepada orang orang yang berbuat baik
dengan pahala yang lebih baik. 6
***
Sambil menyenandungkan zikir pagi Azzam berjalan di
atas pasir yang lembut. Ia berjalan di samping Pak Ali. Hari
masih sangat pagi. Pantai Cleopatra masih sepi. Udara berkabut
tipis. Desau angin laut yang berhembus terasa membelai
6 QS. An Najm (Bintang) [53]: 31
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
37
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dengan lembut relung-relung jiwa. Kedamaian yang nyaris
sempurna. Tiga orang gadis Mesir dengan lari-lari kecil melintasi
mereka berdua. Sambil berlari mereka bercanda bahagia.
Tubuh mereka tertutup rapat celana training panjang dan
kaos lengan panjang. Yang dua menutup kepala dengan jilbab
Turki. Sedangkan yang satu membiarkan rambutnya tergerai
diterpa angin ke sana kemari. Seorang di antara mereka menengok
ke belakang. Sekilas Azzam menatap wajahnya. Putih
bersih khas Mesir. Gadis itu langsung menarik wajahnya dan
tertawa sambil terus berlari bersama dua temannya. Meskipun
cuma melihat sekilas gadis Mesir itu tak kalah memesonanya
dibanding Eliana.
"Cantik ya Mas?" Suara Pak Ali menyadarkan Azzam
bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.
"Siapa Pak yang cantik?" Sahut Azzam.
"Ya gadis Mesir itu, yang menengok dan menatap kamu."
"Kalau gadis Mesir ya jangan ditanya lah Pak. Katanya
kalau ada gadis Mesir tiga, maka yang cantik enam." Jawab
Azzam santai.
"Kok bisa. Tiga orang kok yang cantik enam."
"Bayangannya juga cantik."
"Wah kau ada-ada saja."
"Saya kan cuma bilang katanya tho Pak. Katanya kan bisa
benar bisa tidak."
"Ngomong-ngomong cantik mana gadis tadi sama
anaknya Pak Dubes, Eliana."
Azzam terhenyak, tak mengira akan mendapat pertanyaan
seperti itu dari Pak Ali. Entah mengapa ia sebenarnya
sedang tidak ingin berbicara tentang Eliana. Sudah terlalu
sering Eliana dijadikan topik pembicaraan di kalangan mahasiswa,
putra maupun putri, juga kalangan masyarakat Indonesia.
Baik di dalam KBRI maupun di luar KBRI. Azzam suHabiburrahman
El Shirazy
38
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dah bosan, apalagi jika teringat kejadian tadi malam. Ia sama
sekali sudah tidak tertarik dengan Eliana.
"Apa tidak ada topik lain Pak, selain Eliana? Pagi-pagi
begini sudah membahas Eliana. Eliana lagi, Eliana lagi."
Pak Ali tersenyum mendengar jawaban Azzam.
"Aku ingin menceritakan hal penting padamu. Untuk
kebaikanmu."
"Tentang Eliana?"
"Bisa dikatakan tentang Eliana bisa juga dikatakan tidak."
"Mendengar nama Eliana saja saya sudah bosan Pak”
"Ah yang benar?"
"Benar Pak, sungguh."
"Mas, Bapak ini sudah makan asam garam lebih darimu.
Bapak tidak bisa kau bohongi. Jujur saja Bapak sungguh memperhatikanmu
empat hari ini. Dan Bapak melihat kamu itu sesungguhnya
sangat mengagumi Putri Pak Dubes itu. Bahkan
bapak berani menyimpulkan kamu itu sebenarnya suka sama
dia."
"Berarti Bapak salah menganalisis dan salah menyimpulkan!"
"Itu tak penting. Yang penting Bapak ingin memberi
saran sama kamu. Ini serius, sebaiknya orang seperti kamu
jangan jatuh cinta sama sekali pada Eliana, dan orang seperti
kamu jangan sekali-kali memimpikan isteri model Eliana. Itu
saja! "
Seketika Azzam menghentikan langkahnya. Karena ada
larangan dalam saran Pak Ali ia menjadi terhenyak penasaran.
Seperti Nabi Adam ketika dilarang makan buah Khuldi malah
jadi penasaran. Dan begitulah manusia jika mendapat larangan
seringkali reaksi yang pertama kali timbul adalah justru
penasaran ingin tahu. Ada apa dilarang? Kenapa dilarang?
"Memangnya kenapa Pak?"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
39
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Pak Ali tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar
dari mulut Azzam.
"Sudah kuduga, pasti pertanyaan itu yang akan langsung
keluar. Kau pasti penasaran. Kenapa aku sarankan sebaiknya
jangan memimpikan isteri model Eliana, alasan utamanya adalah
agar kau tidak sengsara. Tidak hidup sia-sia. Agar kau
bahagia! Aku melihat kau sama sekali tidak cocok jika punya
isteri gadis model Eliana. Ya, dia cantik dan cerdas. Juga kaya.
Anak pejabat. Tapi kebahagiaan rumah tangga tidak cukup hanya
dengan memiliki isteri yang cantik, cerdas, kaya dan
terhormat. Tidak. Akhir-akhir ini Eliana memang jadi buah
bibir. Termasuk di kalangan mahasiswa Al Azhar. Baik putra
maupun putri. Tidak sedikit yang aku lihat sangat tertarik
pada Eliana. Meskipun mereka tahu bagaimana cara berpakaiannya
yang terkadang tak kalah beraninya dengan artis
Hollywood. Yang aku heran, bagaimana mungkin ada mahasiswa
Al Azhar tertarik dengan gadis model itu. Mana Quran
dan Hadis yang telah kalian pelajari? Dan aku lihat kamu
sendiri sebenarnya juga terpikat kecantikan Eliana. Aku bisa
melihat dan bahasa tubuhmu sorot matamu, dan getar suaramu.
Kau boleh saja mengatakan bosan mendengar namanya.
Tapi aku lebih tua darimu."
"Tapi Eliana itu kalau pakai jilbab seperti ketika menjadi
M.C. peringatan tahun baru hijriah tampak anggun dan cantik
lho Pak?"
"Lho, bisa bilang begitu kok mengingkari kalau tertarik
pada Eliana. Ya, Nicole Kidman kalau pakai jilbab juga cantik.
Eliana juga. Tapi kalau di diskotik tak kalah dengan penari
perut. Kau mau punya isteri seperti itu!?"
"Pak jangan membuka aib orang, jangan memfitnah
orang dong!"
Pak Ali malah tersenyum.
"Kalau aku mengatakan si Tiara, mahasiswi Al Azhar
yang biasa mengajar Al-Quran di Masjid SIC itu kalau di
diskotik tak kalah dengan penari perut barulah aku memfitnah
Habiburrahman El Shirazy
40
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dia. Lha ini, orang Eliana sendiri bangga cerita ke mana-mana.
Bahkan ia sudah cerita di website pribadinya. Ayahnya yang
jadi Dubes itu juga bangga. Bahkan pernah meminta putrinya
menunjukkan kebolehannya dihadapan diplomat-diplomat
asing. Sampai ada seorang sutradara Mesir yang akan memintanya
ikut main film. Kalau kemungkaran itu ditutup-tutupi
saya akan berusaha ikut menutupi. Ini kemungkarannya malah
dipropagandakan, dibangga -banggakan. Coba kau renungkan
apakah ketika aku mewanti-wanti anak perempuanku agar
tidak mencontoh Nicole Kidman yang sangat bangga tampil
tanpa busana di sebuah pertunjukan teater di Inggris, aku
katakan: 'jangan mengagumi orang yang suka bermaksiat terangterangan
itu! ', apakah itu berarti aku memfitnah bintang Hollywood
itu? Padahal berita perbuatan gilanya itu dimuat di
koran koran dan internet di seluruh dunia."
"Kok saya tidak pernah tahu hal-hal seperti itu ya Pak?"
"Sebaiknya memang kamu tidak tahu yang begitu-begitu.
Kalau tahu nanti malah gawat, kau tidak jadi bikin tempe.
Tidak juga jadi kuliah. Adik-adikmu di Indonesia bisa kela -
paran. Karena pikiranmu ke mana mana. Aku hanya ingin mengingatkan
padamu jangan mudah tertarik pada perempuan
cantik. Di akhir jaman itu tidak sedikit perempuan yang cantik
memesona, namun sebenarnya adalah seorang pelacur.
Na'udzubillaah!"
"Tapi perempuan cantik yang salehah, benar-benar salehah
dan menjaga kesuciannya banyak lho Pak."
Pak Ali kembali tersenyum.
"Iya bapak percaya itu. Karena itulah kamu harus benarbenar
matang dalam memilih isteri. Jangan asal cantik. Lha
kebetulan Bapak punya cerita tentang gadis yang cantik, salehah,
memesona dan cerdas. Kau mau mende-ngarkan? "
"Wah, boleh Pak."
"Kalau begitu ayo kita duduk di sana. Bapak akan cerita
panjang lebar." Kata Pak Ali sambil menunjuk pembatas jalan
di pinggir trotoar yang bisa diduduki. Mereka berdua berjalan
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
41
Ilyas Mak’s eBooks Collection
ke sana. Alexandria semakin terang. Kabut mulai hilang perlahan-
lahan. Pantai mulai ramai. Jalan jalan sudah mulai dipenuhi
kendaraan yang lalu lalang. Di kejauhan tampak Benteng
Qaitbey berdiri di ujung tanjung. Gagah dan menawan. Mereka
duduk menghadap laut yang bergelombang tenang. Azzam
memandang ke arah kiri, ke arah benteng. Sementara Pak Ali
memandang ke arah kanan.
"Lha kalau mereka itu aku yakin wanita-wanita salehah."
Gumam Pak Ali memandang Azzam, mengalihkan pandangan.
"Itu mana Pak?'
"Itu." Tunjuk Pak Ali ke arah rombongan gadis-gadis
berjilbab. Dari cara mereka memakai jilbab dan cara mereka
berjalan menunjukkan kalau mereka dari Asia. "Mereka anakanak
Malaysia. Hampir semua yang kuliah di Al Azhar Banat
di sini adalah mahasiswi dari Malaysia. Indonesia boleh
dikatakan tidak ada. Semua mahasis-winya ngumpul di Cairo."
Pak Ali menjelaskan panjang lebar seolah Azzam bukan
mahasiswa Al Azhar. Azzam diam saja, tanpa dijelaskan pun ia
sudah tahu. Ia sudah sembilan tahun tinggal di Mesir.
"Sudahlah Pak, tidak usah membahas mahasiswi Malaysia
itu. Langsung saja pada cerita yang ingin Pak Ali sampaikan
tadi. Matahari sudah bersinar terang. Kita belum sarapan."
"Baiklah Mas. Dengarkan baik-baik ya. Ceritanya ada
sangkut-pautnya sedikit dengan hidupku."
Pak Ali memandang jauh ke tengah lautan. Ia mengambil
nafas lalu melanjutkan,
"Dulu saya anak orang paling kaya di Pedan, Klaten. Saya
kuliah di Bandung. Saat kuliah saya kenal dengan gadis asli
Bandung, sebut saja namanya Neneng. Saya tergila -gila pada
Neneng. Neneng memang primadona di kampus. Kecantikannya
tak kalah dengan Sri Devi, bintang legendaris India itu.
Sampai ia dapat julukan Sri Devi from Bandung. Ia anak seorang
diplomat. Ibunya asli India. Pokoknya cantiknya luar
biasa.
Habiburrahman El Shirazy
42
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Segala cara aku gunakan untuk mendapatkan dia. Aku
yakin bisa mendapatkannya. Aku berkeyakinan kalau aku berusaha
aku pasti bisa. Benar, akhirnya aku bisa menyuntingnya.
Saat ayahnya tugas di London, ia minta aku membawanya ke
London. Karena kami sudah keluarga sendiri, ayahnya tidak
mau membiayai hidup kami di London. Aku yang harus bertanggung
jawab. Aku yang harus membiayainya. Sebab akulah
suaminya.
"Demi cintaku padanya segala yang kumiliki aku korbankan.
Harta orangtuaku aku habiskan untuk membiayai hidup
di London. Kau tahu sendirikan, betapa mahal hidup di London.
Sekaya-kayanya orang Pedan yang mengandalkan hasil
pertanian mampu kuat berapa lama hidup di London? Akhirnya
harta orangtuaku ludes. Aku sendiri menanggung utang
tidak sedikit. Aku benar benar tidak memiliki apa-apa. Aku
hanya bisa kerja part time di sebuat toko swalayan di London.
Gaji kerjaku hanya bisa untuk makan. Yang menyakitkan,
isteriku yang cantik itu kerja di Club Malam. Ia bisa menari
ala India. Dan tiap malam ia pulang diantar pasangan barunya.
Ia hidup tanpa menganggapku sebagai suaminya. Saat itu aku
nyaris gila.
"Aku sangat mencintainya. Semua telah aku korbankan
untuknya. Tapi ia tanpa risih sedikit pun mengatakan kepadaku,
'Ali di rumah aku isterimu, tapi di luar rumah aku milik banyak
orang. Kau jangan cemburu ya. Kau justru harus bangga
memiliki isteri yang disukai banyak orang!'
"Aku tidak kuat dengan perlakuannya. Akhirnya aku
ceraikan dia. Saat itu dia sedang hamil dua bulan. Tetapi aku
tidak bisa yakin kalau yang sedang di kandungnya itu adalah
anakku. Aku akhirnya pulang kembali ke Indonesia sebagai
gembel. Keluarga besarku yang dulu kaya-raya telah hancur
berantakan. Orangtua dan adik-adikku memusuhiku. Aku lalu
hidup menggelandang di Solo. Di stasiun Balapan. Aku lakukan
apa saja untuk dapat uang. Segala jenis kejahatan sudah
pernah aku lakukan. Sampai suatu hari aku nyaris mati karena
tertangkap oleh warga kampung saat aku mencuri.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
43
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Untungnya ada seorang kiai yang menyelamatkan
nyawaku. Kiai itu memiliki pesantren tak jauh dari tempat aku
mencuri. Di tangan kiai itu aku insyaf. Kiai itu begitu baik. Ia
bagai malaikat.
"Aku belajar agama di pesantrennya selama satu tahun.
Selama satu tahun aku makan dan tidur gratis di pesantren.
Setelah hidup satu tahun di pesantren barulah aku memahami
untuk apa aku hidup. Aku lalu pamit hendak merantau. Pak
Kiai menyarankan agar aku kerja saja di Saudi, kebetulan ada
teman Pak Kiai yang memiliki usaha kontainer di Jeddah.
Namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad membutuhkan sopir pribadi
yang bisa berbahasa Inggris. Dan minta pada Pak Kiai kalau
ada di antara santrinya yang bisa. Pak Kiai menawarkan
padaku. Aku menerimanya dengan harapan bisa ke Tanah Suci
untuk menangis kepada Allah di depan Ka'bah.
"Aku pun berangkat ke Saudi. Teman Pak Kiai itu yang
membiayai tiketnya. Aku bekerja di Jeddah. Sangat nyaman.
Aku merasakan hidup tenang. Hubunganku dengan Pak
Ahmad sangat baik. Aku sudah dianggap saudara sendiri oleh
keluarga Pak Ahmad. Aku berdoa di depan Ka'bah agar diberi
pendamping hidup yang setia dan baik. Doa itu dikabulkan
oleh Allah. Suatu pagi, ya pagi seperti ini, aku dipanggil Pak
Ahmad. Pak Ahmad berkata, 'Li, kamu mau nikah?'
Aku kaget sekali. Memang itulah doaku setiap kali aku
ada kesempatan berdoa di Multazam. 'Mau, Pak.' Jawabku. '
'Tapi dia janda beranak dua. Tidak perawan. Bagaimana?
Mau?'
'Asal salehah mau Pak.'
'Dia salehah insya Allah. Begini Li. Kalau kau mau kau
harus ke Mesir. Perempuan itu sekarang ada di Mesir. Suaminya
telah meninggal setengah tahun yang lalu. Dua anaknya
masih kecil-kecil. Dan ia tetap ingin di Mesir sampai punya
bekal yang layak untuk hidup di Indonesia.'
"Aku langsung bertanya, 'Jadi saya nanti harus meninggalkan
Jeddah dan tinggal di Mesir Pak?'
Habiburrahman El Shirazy
44
Ilyas Mak’s eBooks Collection
'Tidak apa-apa. Kalau kau mau kau berarti menolong
janda dan dua anaknya. Kalau ikhlas besar pahalanya. Dan kau
di Mesir sana akan langsung dapat pekerjaan. Jangan kuatir.'
'Apa Pak pekerjaannya, Pak?'
'Menggantikan pekerjaan almarhum suami janda itu. yaitu
cleaning service merangkap sopir KBRI. Bagaimana Li kamu
mau?'
"Aku lalu menjawab, 'Baiklah, bismillah saya mau.'
"Akhirnya aku menikah dengan orang yang sekarang
menjadi isteriku. Allah tidak hanya memberiku isteri yang
salehah. Tapi Allah juga memberiku isteri yang cantik, penyabar,
dan sangat pengertian. Lebih dari itu Allah menganugerahiku
dua orang anak yang sangat menyejukkan hati. Dua
anak itu tidak pernah menganggap aku bukan ayahnya. Mereka
tahunya, ayah mereka ya aku ini. Inilah jalan hidup yang
diatur oleh Allah. Sebab sekian tahun aku berumah tangga
tidak juga punya keturunan. Ternyata setelah diperiksa medis
aku divonis tidak bisa punya keturunan. Aku semakin sayang
pada isteri dan anak anakku. Mereka pun semakin sayang
padaku. Anakku yang pertama sekarang kuliah di Malaysia.
Anak yang kedua kuliah di Fakultas Kedokteran UNS Solo.
Seperti yang kau ketahui, di sini aku hidup berdua bersama
isteri. Sesekali kami yang menjenguk mereka atau mereka
yang menjenguk kami. Kini aku sangat bahagia. Tahun depan
aku dan isteri berencana meninggalkan Mesir. Alhamdulillah
kami sudah punya rumah di Solo Baru."
Pak Ali menghela nafas. Ada gurat kepuasan yang tergurat
di wajahnya. Pak Ali membetulkan letak kaca matanya.
Azzam merasa belum puas. Ia merasa belum mendapatkan apa
yang dijanjikan Pak Ali.
"Lha cerita gadis cantik salehahnya mana Pak?"
Pak Ali tersenyum "Sabar tho Mas. Gadis cantik saja
yang kaupikir."
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
45
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Lho Pak Ali tadi kan bilangnya mau cerita tentang gadis
cantik yang salehah. Lha ini sudah ke mana-mana kok belum
muncul-muncul juga."
"Kau ini kok inginnya meloncat. Langsung ke intinya.
Film kalau langsung ke intinya tidak menarik. Novel kalau
langsung kau baca intinya juga tidak menarik. Kau harus
sabar membacanya. Baca yang urut bab demi bab. Paragraf demi
paragraf. Kata demi kata. Huruf demi huruf. Baru akan kau
temukan keindahan rangkaian novel itu. Keutuhan cerita
novel itu. Jangan lompat-lompat. Jangan main potong langsung
ke inti. Cerita tentang gadis salehah yang indah ini juga
begitu. Ada rangkaian ceritanya yang tidak boleh ditinggalkan.
Kalau ditinggalkan ceritanya tidak utuh."
"Sudahlah Pak, ayo dilanjutkan saja ceritanya. Jangan
malah ceramah tentang novel segala. Apa hubungannya? Kayak
sastrawan saja!"
"Lho erat sekali hubungannya cerita dengan novel lho
Mas. Begini..."
Azzam langsung memotong,
"Dilanjut saja ceritanya Pak. Tentang sastra, hubungan
cerita dengan novel biar nanti saya baca sendiri saja di perpustakaan
SIC. Keburu siang Pak."
"Baiklah. Anakku yang kuliah di Malaysia itu laki laki
namanya Amir. Dulu selesai SMP di SIC langsung kulempar
ke Al Munawwir Krapyak Jogja. Selesai Madrasah Aliyah
langsung dapat beasiswa ke Madinah. Sekarang S.2 di Malaysia.
Dia belum menikah. Dia sendiri tidak tahu kisah kelam
masa laluku sebelum tobat. Dia hanya tahu aku adalah seorang
ayah yang dulu pernah nyantri di pesantren. Dan aku pikir dia
tidak perlu tahu. Biar dia tahu yang baik-baik saja. Nanti kalau
dia mau cari isteri baru akan bapak kasih tahu."
"Berarti kira-kira dia seusia dengan saya ya Pak."
Habiburrahman El Shirazy
46
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Lebih tua kamu dua tahun. Aku lanjutkan ya. Sedangkan
adiknya yang kini kuliah di Fakultas Kedokteran UNS, sejak
SMP sudah kuletakkan di pesantren."
"Di pesantren mana Pak?"
"Di pesantren tempat aku nyantri dulu. Aku titipkan pada
Pak Kiai yang menggemblengku selama satu tahun itu. Pak
Kiai itu namanya K.H. Lutfi Hakim. Nama pesantrennya,
Daarul Quran. Terletak di Desa Wangen, Polanharjo."
"Oh ya saya tahu Pak. Saya dulu pernah ke sana sekali.
Itu kan arahnya dari Popongan terus ke barat. Dekat dengan
daerah Janti Klaten. "
"Ya benar."
"Terus hubungannya apa pesantren itu dengan cerita
gadis cantik yang salehah itu? Apa yang Pak Ali maksud
adalah anak gadis Pak Ali itu?" Azzam sudah tidak sabar. Ia
merasa Pak Ali ceritanya melingkar-lingkar tidak segera
sampai yang dimaksud.
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku sudah tahu standar kecantikan
yang kau pakai. Standar kamu adalah Eliana dan gadisgadis
Mesir. Maka anak gadisku meskipun menurutku cantik,
tapi jika standarnya Eliana bisa dikatakan tidak cantik. Bersabarlah
sedikit, sudah hampir sampai pada tujuan. Aku kem -
bali ke alur cerita. Anak gadisku itu aku titipkan kepada Pak
Kiai Lutfi. Beliau jaga dan beliau didik dengan baik. Pada saat
yang sama Pak Kiai Luffi punya anak gadis yang sangat
cerdas. Dan sangat cantik. Sungguh sangat cantik. Kecantikannya
ibarat permata maknun yang mengalahkan semua
permata yang ada di dunia. Aku berani bertaruh kecantikannya
bisa mengatasi Eliana. Ini menurutku lho Mas. Sebab
kecantikan seorang perempuan di mata lelaki itu relatif. Dan
untuk kecerdasannya aku berani bertaruh, tak banyak gadis
seperti dia. Aku tahu persis, sebab aku pernah belajar pada
ayahnya selama satu tahun. Jika Eliana bisa bahasa Prancis
dan Inggris. Maka Putri Pak Kiai Lutfi ini bisa bahasa Arab,
Inggris dan Mandarin. Saat di Madrasah Aliyah dia pernah
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
47
Ilyas Mak’s eBooks Collection
ikut program pertukaran pelajar ke Wales,U.K. Dan apa kau
tahu di mana dia sekarang?"
Azzam menggelengkan kepala.
"Dia sekarang ada di Carro. Sedang menempuh S.2 di
Kuliyyatul Banat, Al Azhar. Dia sedang mengajukan judul
tesisnya."
"Sedang S.2? Siapa namanya? Kok saya tidak pernah
dengar ceritanya."
"Namanya Anna Althafunnisa."
"Anna Althafunisa?"
"Ya."
"Baru kali ini saya dengar nama itu. Aneh sekali. Padahal
orang-orang di rumah saya semuanya aktivis. Tapi mereka
kok tidak pernah nyebut-nyebut nama itu ya?"
"Tidak banyak orang yang tahu. Sebab Anna Althafunnisa
menyelesaikan S.1-nya tidak di Cairo. Tapi di Alexandria
sini. Ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswi Malaysia
daripada mahasiswi Indonesia. Dan Anna lebih memilih menutup
diri dari kegiatan-kegiatan yang bersifat glamour. Kalau
kau sempat membaca majalah Al Wa'yu Al Islami, cobalah cari
edisi bulan lalu. Ada artikel dia dimuat di sana. Dia memakai
nama pena Anna Lutfi Hakim."
"Sekarang dia tinggal di Cairo?"
"Iya. Dialah gadis cantik dan salehah yang aku maksud.
Dan saat ini ayahnya menginginkan dia segera menikah. Aku
pikir kamu lebih baik menikah dengan orang yang sekualitas
Anna daripada dengan yang model Eliana. Kalau kamu mendapatkan
Anna, kamu telah mendapat-kan surga sebelum surga.
Percayalah padaku. Aku tahu betul kualitas Anna, ayahnya,
dan keluarganya. Mereka dari golongan orang-orang yang
ikhlas. Saran saya khitbahlahAnna Althafunnisa itu sebelum
bidadari dari Pesantren Daarul Quran itu dikhitbah orang
lain."
Habiburrahman El Shirazy
48
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Hati Azzam berbunga -bunga. Ada rasa sejuk yang tibatiba
menyelinap ke dalam dadanya. Namun ia tiba tiba diserang
rasa ragu.
"Apa saya pantas melamarnya Pak? Apa saya pantas untuknya?
Saya ini S.1 saja sudah sembilan tahun belum juga
selesai. Dan apa prestasi saya? Apa yang bisa saya andalkan?
Membuat tempe? Apa ada kiai yang mau anaknya menikah
dengan penjual tempe?"
"Kenapa kamu jadi inferior begitu. Percayalah padaku,
Pak Kiai Lutfi itu tidak pemah memandang dunia. Dunia itu
remeh bagi beliau. Datanglah, lamarlah. Belilah tiket, pulanglah
ke Indonesia dan lamarlah bidadari itu!"
"Waduh kalau harus pulang berat Pak. Apa tidak ada cara
lain selain pulang?"
Pak Ali diam mengerutkan keningnya, sebentar kemudian,
wajahnya cerah. Setengah berteriak ia menjawab, "Ada!
Kau bisa melamar lewat Ustadz Mujab. Ustadz Mujab itu masih
keluarga dekat Kiai Lutfi. Kau datangi saja Ustadz Mujab
dan sampaikan maksudmu untuk disampaikan kepada Kiai
Lutfi dan Anna. Insya Allah semua akan mudah. Ustadz
Mujab kau kenal kan?"
"Wah lebih dari kenal. Saya sangat akrab dengannya.
Tapi yang membuat saya heran, kenapa beliau sama sekali
tidak pernah menyinggung nama Anna Althafun-nisa sama
sekali ya?"
"Itulah mahalnya Anna Althafunnisa. Tidak sembarangan
dibicarakan. Tidak sembarangan diobral. Bukan-kah permata
yang sangat mahal itu jarang dipamerkan orang?"
"Pak Ali punya fotonya?"
"Aduh, sayang sekali tidak punya. Tapi itu tidak penting.
Langsung saja kau lamar. Kalau setelah menyuntingnya kamu
menyesal, akan aku serahkan leherku ini untuk kau pancung.
Sungguh!"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
49
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam tersenyum. Kata-kata terakhir Pak Ali semakin
membuatnya mantap sekaligus penasaran. Seperti apa Anna
itu? Namun, ia merasa telah mendapat jawaban atas tekad
yang ia ikrarkan sebelum tidur tadi malam. Tekad yang ia
rajut dengan doa.
Ia yakin Anna adalah jawaban atas doanya yang ia bawa
sampai tidur. Ia yakin bukanlah sebuah kebetulan jika pagi itu
Pak Ali akan bercerita tentang Anna Altha-funnisa. Itu bukanlah
kebetulan belaka. Sebab ia meyakini bahwa segala yang
terjadi di alam semesta ini tidak ada yang kebetulan. Semua
sudah ditulis takdirnya dan diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Tekadnya telah bulat. Begitu sampai di Cairo ia akan datang
ke rumah Ustadz Mujab. Datang untuk menanyakan gadis
yang disebut sebut Pak Ali sebagai "Bidadari dari Pesantren
Daarul Quran."
Ia akan menanyakan apakah gadis itu masih kosong, belum
dikhitbah orang? Apakah gadis itu bisa dipinangnya?
Kalau ya, maka ia akan langsung meminangnya. Saat itu juga
kalau bisa. Tak ada lagi keraguan dalam hatinya.
Minggu, 12 Desember 2010
3 BIDADARI DARI DAARU QURAN
Posted by Dini Ariani on 23.20





0 komentar:
Posting Komentar