Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

10 PENGEJARAN DENGAN TAKSI

Sopir taksi itu mengerahkan segenap kemampuannya untuk
ngebut. Ia sangat hafal dengan jalan jalan tembus yang
paling aman dari keramaian dan macet. Dalam waktu seperempat
jam, taksi itu telah sampai di Hay El Sades ke arah
kawasan kampus Al Azhar Nasr City. Lalu melaju kencang ke
arah Masjid Nuri Khithab.
Selama dalam perjalanan Azzam diam. Tidak banyak berbicara.
Dua penumpang di belakangnya juga melaku-kan hal
yang sama. Kalaupun Azzam bicara hanya untuk menjawab
pertanyaan sopir taksi sesekali saja.
Habiburrahman El Shirazy
144
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Tiga menit kemudian taksi hitam putih itu sampai di
perempatan Masjid Nuri Khithab. Azzam minta supaya belok
kiri menyusuri Thayaran Street ke arah Ta’min Shihi. Azzam
memposisikan taksi berhenti di Halte jalur ke Hay El Sabe
dekat Muraqib supaya enak mencegat bus enam lima. Sopir
minta tambahan ongkos. Akhirnya Azzam kembali harus sepakat
memberi tambahan.
Beberapa menit menunggu, dari arah Rab'ah sekonyong
konyong Azzam melihat bus enam lima datang.
"Ukhti, kamu lihat kitabmu dipintu belakang. Saya akan
naik dari pintu depan minta agar sop irnya berhenti beberapa
saat. Semoga itu bus kamu tadi!" Seru Azzam begitu bus itu
mera-pat di Halte mau berhenti.
Mahasiswa berjilbab biru itu mengangguk dan bersiapsiap.
Bus berhenti. Azzam menuju kepintu depan. Begitu pintu
dibuka ia langsung melompat. Ia nyaris bertabrakan de-ngan
penumpang yang mau turun. Ia mepet bergantung di pinggir
pintu dan minta sang sopir berhenti sebentar. Mahasiswi berjilbab
biru sudah naik. Ia melihat-lihat dibawah kursi dekat
kondektur duduk. Kedua matanya langsung menangkap buku
dan kitabnya dalam dua plastik putih. Hatinya sangat bahagia.
Ketika hendak mengambilnya sang kondektur mempersilakan.
Agaknya sang kondektur belum lupa dengan musibah yang
menimpa dua mahasiswi beberapa saat yang lalu.
"Maafkan kami atas musibah tadi," kata kondek tur itu.
"Tidak apa-apa. Semoga diganti yang lebih baik oleh
Allah," jawab mahasiswi itu lalu turun.
Sambil menggelantung di pintu depan, Azzam melihat
mahasiswi itu membawa dua plastik putih berisi kitab. Ia
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
145
Ilyas Mak’s eBooks Collection
langsung melompat turun dan mempersilakan sopir menjalankan
busnya.
"Gimana masih lengkap, tak ada yang hilang? " tanya
Azzam.
Mahasiswi itu lalu memeriksa sebentar. Dan dengan
wajah berbinar, ia menjawab,
"Alhamdulillah. Masih lengkap. Terima kasih ya atas
segalanya. Kalau boleh tahu nama situ siapa?"
"Aku Abdullah." Jawab Azzam. Nama kecilnya memang
Abdullah Khairul Azzam. Entah kenapa ketika dibuat akte
kelahiran yang terlulis hanya Khairul Azzam saja, Abdullahnya
hilang. Jadi dengan mengatakan namanya Abdullah, ia
sama sekali tidak bohong. Namun mahasis-wa di Cairo tidak
ada yang mengenalnya sebagai Abdul-lah. Ia memang tidak
ingin namanya diketahui dua mahasiswi itu. Ia mau menjaga
keikhlasannya.Maka meskipun mahasiswi cantik berjilbab biru
itu bertanya namanya, ia tidak gantian menanyakan namanya.
"Tinggal di mana?" tanya mahasiswi itu lagi. Sementara
mahasiswi yang satunya diam saja. Kelihatannya ia masih sedih
kehilangan dompetnya yang berisi dua ratus lima puluh
dollar dan tujuh puluh lima pound.
"Di Madrasah Hay El Ashir. Ini sudah sore. Kalian ikut
sampai sini saja ya. Saya harus segera melanjutkan perjalanan.
Sopir taksinya sudah menunggu. Nanti kalau kelamaan, dia
minta tambah lagi. Jawab Azzam sambil melihat jam tangannya.
"Iya Mas..a..Abdullah. Terima kasih banget ya."
"Ya sama-sama. Lain kali lebih hati-hati ya. Assalamu-
'alaikum."
"Wa 'alaikumussalam wa rahmatullah."
Habiburrahman El Shirazy
146
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam langsung masuk ke dalam taksi. Taksi berjalan
lurus ke arah Hay El Sabe'. Dua mahasiswi itu meman-dangi
taksi itu sampai menghilang dikejauhan. Nama Abdullah
membuka satu lembar catatan dalam hati mereka.
Matahari semakin kekuning-kuningan. Senja menunjukkan
tanda-tanda segera datang. Bus-bus penuh dengan orang
kelelahan. Dua mahasiswi itu melangkah perlahan ke arah
Abdur Rasul. Letaknya tak jauh. Tiga ratus meter ke depan.
Angin musim semi yang sejuk membelai jilbab mereka dengan
penuh kasih sayang. Cairo kembali menggores episode yang
indah untuk dikenang.
***
Dua mahasiswi itu sampai di rumah kontrakan mereka di
Abdur Rasul. Rumah yang besar berada di lantai dua sebuah
villa anggun bercat putih. Rumah itu terdiri atas tiga kamar
tidur asli. Satu kamar tidur tambahan. Satu kamar mandi.
Dapur. Ruang tamu. Dan dua balkon. Dihuni oleh enam orang
mahasiswi. Empat orang dari Indonesia dan dua orang dari
Malaysia.
Erna sudah lebih cerah meskipun guratan kesedihannya
masih tampak jelas. Mereka pulang disambut oleh Zahraza,
mahasiswi tingkat tiga dari Negeri Kedah, Malaysia.
"Erna, kenape muka awak pucat macam tu? Fi eh?" 42
tanya Zahraza, teman satu kamar Erna. Logat Malay-sianya
sama sekali tidak berubah meskipun sudah dua tahun tingga l
satu rumah dengan orang Indonesia. Selain Zahraza, mahasiswi
Malaysia yang tinggal di situ adalah Wan Aina, berasal
dari Negeri Selangor. Zahraza masih duduk di S. 1, tingkat
akhir. sedangkan Wan Aina sudah masuk tahun pertama S.2 -
42 Fi eh? , ada apa?
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
147
Ilyas Mak’s eBooks Collection
nya. Dua penghuni lainnya adalah Hanum dari Bandung, dan
Sholihati dari Kudus. Keduanya satu kelas dengan Erna.
Jadi di rumah itu yang paling senior secara akadem is
adalah Anna. Adapun yang paling senior secara umur adalah
Sholihati. Sebelum kuliah di Al Azhar, gadis yang pernah
belajar di Madrasah Banat Kudus itu pernah menjadi tenaga
kerja di Kuwait lebih dari dua tahun. Karena cintanya pada
ilmu, begitu ia memiliki dana untuk terbang ke Mesir, ia
tinggalkan pekerjaannya untuk menuntut ilmu. Semangat
belajarnya yang luar biasa itu membuat banyak orang salut
padanya. Namun Anna tetaplah yang paling disegani di rumah
itu, selain karena ia paling berprestasi dan paling bisa
memimpin, ia adalah puteri seorang kiai. Anna tinggal satu
kamar sendiri. Erna satu kamar dengan Zahraza. Sedangkan
Wan Aina satu kamar dengan Sholihati. Mereka hidup di
rumah itu layaknya saudara sendiri. Adapun Hanum menempati
kamar tambahan sendirian. Kamar itu letak-nya di
samping ruang tamu, hanya disekat dengan tabir dari kain
berwarna hijau tua yang tebal.
"Tak usah cemas. Tak ada ape-ape. Hanya musibah sikit
aje." jawab Erna, sedikit terpengaruh oleh logat Malay-sia.
"Musibah apa tu? " kejar Zahraza.
"Tanya aja sama Erna. Saya nak ke kamar dulu ya," jawab
Anna bergegas ke kamarnya.
Zahraza langsung minta penjelasan Erna. Erna lalu menjelaskan
dengan detil semua peristiwa yang baru saja
dialaminya. Termasuk juga pertolongan tak disangka dari seorang
mahasiswa Indonesia bemama Abdullah. Zahraza mendengarkan
dengan penuh perhatian.
Sementara itu, taksi berwarna hitam putih yang membawa
Azzam meluncur memasuki kawasan Hay El Ashir. Melewati
Bawwabah Tsalitsah, terus melaju ke timur. Melewati
Habiburrahman El Shirazy
148
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kawasan yang oleh mahasiswa Asia Tenggara disebut Nadi
Kahrubai. Sebuah kawasan luas yang dilewati arus listrik tegangan
tinggi. Daerah itu berupa jalan aspal yang lebar. Dan
oleh penduduk setempat, juga oleh mahasiswa Asia Tenggara,
sering digunakan ber-main sepakbola. Maka disebut Nadi
Kahrubai, atau sta-dion listrik.
Kawasan ini juga sering disebut Suq Sayyarah, atau Pasar
Mobil. Sebab, padahari Jumat kawasan ini berubah menjadi
tempat jual beli mobil bekas terbesar di Cairo. Kawasan yang
luasnya berhektar-hektar itu penuh dengan pelbagai macam
mobil. Bagi yang ingin menda-patkan mobil yang bagus dan
murah, di sinilah tem-patnya. Syaratnya tentu saja harus bisa
memilih dan bisa menawar dengan baik. Jika tidak, justru bisa
sebaliknya.
Azzam melihat ke arah Nadi Kahrubai dan dari kejauhan
ia melihat banyak mahasiswa Asia Tenggara di sana. Ada juga
mahasiswa berkulit hitam. Mereka sedang bermain sepak bola.
Di sebelah Nadi tampak Masjid Sarbini yang pada bulan
Ramadhan biasa menyediakan buka puasa gratis. Masjid itu
menjadi salah satu tempat favorit bagi mahasiswa Asia
Tenggara, di samping masjid-masjid yang lain. Azzam sendiri
juga sering berbuka di masjid itu bersama teman-teman satu
rumahnya.
Tak lama kemudian, taksi itu sampai di Mutsallats.
Azzam memberi instruksi kepada sopir taksi agar belok ke
kanan. Taksi berjalan pelan memasuki kawasan Mutsallats.
Rumah-rumah penduduk berbentuk kotak kotak berwarna
cokelat. Warna khas pasir dan debu padang pasir di Mesir.
Azzam kembali meminta taksi belok kanan. Sampai di depan
apartemen berlantai enam yang menghadap ke selatan, Azzam
menyuruh taksi itu berhenti.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
149
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam keluar dari taksi. Sopir taksi membantu mengeluarkan
barang-barang Azzam dari bagasi. Azzam memeriksa
barangnya. Semua genap. Azzam menyerahkan ongkos pada
sopir taksi. Sopir gendut berwajah bundar itu langsung menghitung.
"Khamsah junaih kaman ya Andonesi !" 43
"La, khalas, mafi ziadah ya Ammu. Haram ‘alaik ya Ammu!"
44
Sopir taksi itu tersenyum.
"Thayyib, 'ala kulli hal mutasyakkir! Hadza yakfi" 45 Ia lalu
masuk ke dalam taksi dan pergi.
Azzam meletakkan barang-barangnya di depan pintu
gerbang. Sambil menenteng kantong plastik berisi daging sapi
ia naik ke lantai tiga. Flatnya ada di lantai tiga. Ia masuk. Sepi.
Tak ada orang di ruang tamu. Ia langsung memasukkan daging
sapi ke dalam kulkas. Ia periksa kamar per kamar. Hanya
ada Nanang yang sedang duduk di depan komputer milik
Fadhil. Kedua telinganya ditutup dengan earphone. Agaknya ia
sedang asyik mendengarkan lagu-lagu pop Mesir sambil
mengetik. Azzam menepuk bahu Nanang. Nanang terhenyak
kaget, lalu tersenyum. Ia melepas earphone-nya. Azzam meminta
Nanang untuk membantunya menaikkan barang-barang
belanjaannya ke atas. Terutama mengangkat kedelai. Ia
sendiri sudah sangat letih.
"Okay bos!" Jawab Nanang riang. Ia mengikuti Azzam
turun. Mereka berdua lalu menaikkan barang barang belanjaan
itu ke dalam Flat.
43 Lima pound lagi, hai orang Indonesia!
44 Tidak, s udah, tak ada tambahan lagi Paman. Haram bagimu Paman
45 Baik, walau bagaimanapun, terima kasih. Inl sudah cukup!
Habiburrahman El Shirazy
150
Ilyas Mak’s eBooks Collection
* * *
"Semoga ini semua ada hikmahnya," lirih Zahraza selesai
mendengar cerita Erna.
"Hikmahnya sudah aku dapatkan. Ini jadi teguran Allah
atas kebakhilanku selama ini. Sebenarnya uang itu tadi pagi
mau dipinjam Mbak Hanum dua ratus dollar tapi aku tidak
boleh. Aku sungguh menyesal,'' Jawab Erna sambil menundukkan
kepalanya.
"Sudahlah Erna. Kita cakap perkara yang lain saja. By the
way, siapa tadi pemuda yang menolong kalian?" tanya Zahraza.
"Namanya Abdullah."
"Kau kenal dia tak?"
Erna menggelengkan kepala .
"Sst... by the way ia handsome tak?"
Erna melototkan matanya. Namun Zahraza tidak takut.
Ia malah berkomentar,
"Wah berarti pemuda itu handsome. Terus terang aku
suka sekali kepada pemuda yang baik hati dan pemberani
seperti pemuda yang menolong kalian tadi. Apalagi kalau dia
handsome. Nggak handsome saja aku pasti menaruh simpatik.
Kalau aku yang jadi kau sudah aku kejar pemuda itu. Jaman
sekarang, tidak mudah cari calon suami yang baik hati dan
penuh perhatian seperti pemuda itu. Semoga Allah mempertemukan
aku dengan dia dalam pertemuan yang penuh
barakah. "
Komentar mahasiswi Malaysia itu didengar dengan jelas
oleh Anna dari kamarnya. Entah kenapa, ia begitu cemburu
mendengar komentar itu. Ia jadi heran sendiri kenapa ia mesti
cem-buru. Padahal ia bukan siapa siapanya. Ia juga baru berKetika
Cinta Bertasbih Buku I
151
Ilyas Mak’s eBooks Collection
temu hari itu. Ia tidak tahu identitasnya. Juga tidak tahu
rumahnya. Pemuda itu pun tidak tahu siapa dia. Sebab ia tidak
mem-perkenalkan namanya, dan pemuda itu juga tidak
bertanya namanya. Anna cepat-cepat menyingkirkan perasaan
itu.
Herannya, setiap kali Zahraza bercerita tentang kebaikan
mahasiswa Indonesia, ia selalu cemburu. Aksen dan logat gadis
Malaysia yang halus itu, kalau bercerita tentang mahasiswa
Indonesia memang punya kekuatan yang membangkitkan
rasa cemburu bagi mahasiswi Indonesia. Apalagi ia memang
punya pengalaman indah dengan mahasiswa Indonesia. Saat
awal-awal di Mesir, ia tinggal di rumah Negeri Kedah yang
ada di daerah Thub Ramly, Hay El Ashir.
Suatu kali ia puIang dari belanja di toko Misr wa sudan
menjelang Isya. Ketika ia berjalan berdua dengan teman-nya
melewati shahra 46 yang sepi tiba-tiba ada orang Mesir yang
hendak berbuat jahat padanya. Ia menjerit jerit. Untung saat
itu ada mahasiswa Indonesia melintas. Mahasiswa itu langsung
memukul orang Mesir. Orang Mesir balik memukul.
Terjadilah perkelahian. Ternyata mahasiswa Indonesia itu
bisa ilmu bela diri, sehingga orang Mesir itu akhirnya lari.
Mahasiswa Indonesia itu juga mengantarkan mereka berdua
sampai di rumahnya. Sejak itulah di mata Zahraza, pemuda
Indonesia yang belajar di Mesir adalah manusia pemberani
yang baik hati.
"Bodohnya awak ni. Awak tak tanya siape nama pemuda
itu. Dan dimana alamat dia duduk. Awak benar-benar bodoh.
Padahal pemuda itu sangat berjasa bagi awak. Jika tak ada
pemuda itu mungkin kesucian awak sudah hilang." Begitu
komentar Zahraza setiap kali mengulang ceritanya itu. Entah
sudah berapa kali Zahraza bercerita tentang kejadian itu. Dan
46 Shahra, tanah yang sangat lapang, padang pasir.
Habiburrahman El Shirazy
152
Ilyas Mak’s eBooks Collection
sampai sekarang, mahasiswa Indonesia yang menolong Zahraza
itu juga tidak diketahui siapa. Tidak ada kabar dan
selentingan berita mahasiswa Indonesia yang mengaku atau
bercerita pernah menolong mahasiswi Malaysia di Shahra
dekat Thub Ramli.
Anna tahu, kecemburuannya merupakan hal yang tak
perlu. Mahasiswi Malaysia menaruh simpatik pada mahasiswa
Indonesia karena kebaikan, adalah hal yang bukan-nya
tidak boleh terjadi. Jika yang jadi landasannya adalah kebaikan,
jalannya adalah kebaikan, dan tujuannya adalah kebaikan.
Apanya yang salah.
Anna merasa ia telah berlebihan dengan merasa cemburu,
hanya karena komentar yang bisa jadi juga sekadar
komentar biasa: tak lebih dari sekadar komentar yang mungkin
tujuannya justru untuk menghangatkan sua-sana, atau
untuk menunjukkan rasa hormatnya pada orang Indonesia. Ia
merasa harus meletakkan cembu-runya, cintanya, dan bencinya
pada tempatnya yang tepat.
* * *
"Kau lagi nulis apa tho Nang?" tanya Azzam pada
Nanang. Keduanya duduk di ruang tamu. Azzam menyandarkan
punggungnya. Ia tampak kelelahan.
"Anu Kang lagi iseng-iseng bikin cerpen."
"Iseng?"
"Iya Kang. "
"Jangan isenglah Nang. Kalo bikin cerpen mbok ya yang
serius. Menulis ya yang serius. Kalau iseng itu percuma!
Komputernya bukan milik sendiri, listrik juga mbayar, waktu
habis, lha kok masih iseng!"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
153
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Maksudnya la tihan Kang. Latihan bikin cerpen. Bukan
iseng!"
"Ya gitu lho. Kapan kita maju kalau kita menggunakan
waktu kita untuk iseng terus. Ya tho Nang? O ya Nang, kok
sepi anak-anak pada ke mana?"
"Fadhil sama Ali lagi main bola. Keduanya sedang
bertanding sekarang," jawab Nanang.
"Di Nadi Kahrubai?"
"Ya tidaklah Kang. Ini perta ndingan serius. Tim KMA 47
dan Tim KEMASS. 48 Fadhil membela KMA dan, Ali membela
KEMASS. Mereka bertanding di Nadi Syabab."
"O kok mereka nggak bilang-bilang ya mau tanding."
"Iya lha aku aja ngertinya ya tadi ketika si Mahmud,
kiper KMA datang menjemput Fadhil. Mereka nggak bilangbilang
ke kita . Katanya sih biar kita tidak bingung bela siapa."
"Ya udah, kita nggak usah membela siapa-siapa saja."
"Terus Hafez sama Nasir ke mana?"
"Hafez tadi pamit mau ke Ka tamea. Ke rumah Salman,
temannya satu almamater. Kalau Nasir ya seperti biasa Kang,
nganter tiket. Katanya sih ke Abdur Rasul. Ada mahasiswi
Indonesia yang akan pulang. Kang itu di kulkas ada tamar
hindi."
"Wah kebetula n. Lagi haus nih."
Azzam bergegas ke dapur. Membuka kulkas. Mengambil
botol air mineral yang berisi tamar hindi lalu menuangkannya
ke gelas. Ia kembali ke ruang tamu dan minum dengan
penuh kenikmatan.
47
KMA, Keluarga Mahastswa Aceh
48
KEMASS, Keluarga Mahasiswa Sumatera Selatan.
Habiburrahman El Shirazy
154
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Yang beli kamu Nang?"
"Bukan saya Kang, tapi Ali. Tadi sebelum berangkat ke
Nadi Syabab. Ia beli dua botol. Yang satu ia bawa, yang satu
untuk kita katanya. Kang, aku ngelanjutin nulis lagi ya?"
"Ya. Tapi jangan pake earphone. Nanti kamu nggak
dengar azan. Sebentar lagi Maghrib!"
"Iya Kang. "
Nanang beranjak menuju komputer yang ditinggalkannya.
Sementara Azzam masuk ke kamamya. Ia mengganti
bajunya dengan kaos, dan celana panjangnya dengan sarung.
Lalu rebahan di atas kasur. Ia ingin mengendurkan ototototnya
barang beberapa menit. Sebab sore ini juga ia harus
langsung menggarap kedelainya untuk mulai diproses menjadi
tempe. Lalu nanti malam setelah shalat Isya ia harus mulai
meng-garap daging sapinya untuk dijadikan bakso.
Dalam kondisi seletih apapun, ia harus tetap sabar dan
tegar melakukan itu semua. Jika tidak, ia takkan hidup layak,
juga adik-adiknya di Indonesia. Namun karena sudah biasa, itu
semua sudah tak lagi menjadi sesuatu yang berat baginya.
Dan yang paling penting bagi dirinya, dengan kerja keras
yang sudah biasa ia lakukan, ia sama sekali tak khawatir akan
masa depannya. Ia merasa bersyukur dengan apa yang dikaruniakan
Allah kepadanya saat ini. Ia berani menatap mantap
masa depannya. Ia tidak merasa cemas? Apa yang perlu
dicemaskan oleh seorang manusia yang diberi pikiran sehat,
anggota badan yang genap, dan mengimani adanya Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?
Selain pada Pak Ali, selama ini ia tak pernah menceritakan
kepada siapa pun mengenai beban-beban hidup-nya.
Juga jalan terjal yang harus dilaluinya. Beberapa orang hanya
tahu ia adalah jenis mahasiswa yang lebih mementingkan
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
155
Ilyas Mak’s eBooks Collection
bisnis tempe dan baksonya daripada kuliah. Ia sama sekali
bukan mahasiswa yang diperhi-tungkan dalam kancah dunia
kajian dan intelektual.
Nama aslinya bahkan sedikit yang tahu. Kalau memang
ada yang tahu, biasanya adalah orang-orang seang-katannya.
Sementara mereka yang satu angkatan dengannya telah banyak
yang menyelesaikan studi S.1 nya. Bahkan telah banyak
yang pulang ke Tanah Air. Tinggal beberapa orang yang
tersisa dari mereka, karena mereka melanjutkan S.2. Yang
masih S.1 hanya dirinya.
Beberapa mahasiswa baru yang mengenalnya, lebih banyak
mengenalnya sebagai mahasiswa kawakan yang belum
juga lulus S.1. Padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir. Ia
sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Baginya, yang penting
ia telah melakukan hal yang benar. Benar untuk dirinya,
ibunya, adik-adiknya dan agamanya. Ia teringat sebuah
nasihat dari seorang Syaikh Muda, ketika ia shalat Jumat di
Masjid Ar Rahmah Masakin Utsman. Syaikh Muda itu dalam
khutbah-nya menguraikan tentang pentingnya banyak kerja
sedikit bicara.
"Kenapa Allah mengaruniakan kepada kita dua tangan,
dua kaki, dua mata, dua telinga, jutaan syaraf otak, tapi hanya
mengaruniakan kepada kita satu mulut saja? Jawabnya, karena
Allah menginginkan agar kita lebih banyak bekerja, lebih
banyak beramal nyata daripada bicara. Maka ada ungkapan,
man katsura kalamuhu katsura khatauhu. Siapa yang banyak bicaranya
maka banya dosanya! Dan karenanya Rasulullah Saw.
Menasihati kita semua, "Siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam saja!' Umat dan
bangsa yang besar adalah umat dan bangsa yang lebih banyak
kerjanya daripada bicaranya. Orang orang besar sepanjang
sejarah adalah mereka yang lebih banyak bekerja daripada
bicara!" kata Syaikh Muda itu.
Habiburrahman El Shirazy
156
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Lalu sebelum mengakhiri khutbah pertamanya, Syaikh
Muda itu menyitir nasihat James Allen, "Jangan biarkan orang
lain lebik tahu banyak tentang dirimu. Bekerjalah dengan senang
hati dan dengan ketenangan jiwa, yang membuat kamu menyadari,
bahwa muatan pikiran yang benar dan usaha yang benar akan
mendatangkan hasil yang benar!"
Ia merasa yang benar baginya adalah tidak banyak bicara.
Banyak kerja. Dan orang tidak perlu tahu kenapa ia tidak juga
lulus. Kenapa ia nyaris tidak pernah hadir dalam segala hiruk
pikuk kegiatan ilmiah mahasiswa Indonesia di Cairo. Kecuali
beberapa saja. Hidupnya di Cairo lebih banyak berkutat di
rumah, masjid, pasar, rumah para pelanggan tempenya, dan
rumah-rumah bapak-bapak KBRI yang memesan baksonya.
Kampus Al-Azhar sendiri jarang ia datangi apalagi perpusta -
kaan.
Baginya, kampus utamanya justru masjid. Khutbah
Jumat, ceramah beberapa menit dari imam masjid setelah
shalat, halaqah membaca Al-Quran setelah shalat Subuh adalah
tempat utamanya menimba ilmu. Ia menganggap itulah yang
terbaik untuk doaya. Dan berulangkali ia mengatakan pada
dirinya sendiri, jangan pernah engkau merasa tersiksa dengan
apa yang engkau anggap baik untuk dirimu! Ia tidak mengingkari
bahwa ia sebenarnya sangat ingin bergerak dan berdinamika
normalnya mahasiswa. Namun kondisi orang berbedabeda.
Sudah seperempat jam ia rebahan sambil memejamkan
mata. Otot-otot tubuhnya lebih terasa lebih fresh dan sega r.
Lima menit lagi azan Maghrib berkumandang. Ia cepat cepat
bangkit. Menyambar handuk dan ke kamar mandi. Begitu ia
masuk kamar mandi dan memutar kran air panas, sayu-sayup
ia mendengar suara heboh Fadhil dan Ali.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
157
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Mereka sudah pulang. Semoga tidak ada yang kalah.
Semua menang!" desisnya dalam hati sambil menambah kuat
aliran air dingin. Setelah ia merasa ukuran panas-dinginnya
air pas, ia mandi dengan shower. Sentuhan air yang menerpa
tubuhnya itu ia rasakan begitu nikmat. Begitu meremajakan
syaraf-syaraf dan otot-ototnya. Ketika sedang asyiknya mandi,
pintu kamar mandi digedor keras,
"KangAzzam ada telpon!"
Itu suara Ali langsungmejawab dengan suara keras.
"Sedang mandi! "
"Disudahi dulu saja Kang! Ini penting."
"Disudahi gimana, ini lagi pakai shampo!"
"Ini dari Eliana Kang, putrinya Pak Dubes! Katanya
penting! "
"Mau putrinya Dubes, mau putrinya Presiden, suruh
telpon lagi habis Maghrib. Titik!"
"Baik Kang."
* * *
Matahari perlahan masuk ke peraduannya. Lampu lampu
di sepanjang Kornes Nil mulai menyala. Azan berku-mandang
bersahut-sahutan. Furqan keluar dari kamar hotelnya. Ia
bergegas ke masjid. Di dalam lift ia kembali bertemu dengan
mahasiswa dari Jepang. Mahasiswa Jepang itu mengangguk, ia
pun mengangguk. Ia sampai di masjid tepat sesaat sebelum
iqamat dikumandangkan.
Kali ini, ia shalat diimami oleh imam yang agaknya menganut
mazhab Imam Malik. Sebab sang imam setelah takbir
tidak meletakkan kedua tangganya di dada, tapi meluruskan
Habiburrahman El Shirazy
158
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tangannya seperti posisi tentara yang sedang siap dalam
barisannya. Bacaan Al-Quran imam setengah baya itu sungguh
indah. Ia larut dan tersentuh.
Usai shalat ia kembali ke hotel. Langsung masuk kamar.
Membaca Al-Quran beberapa halaman, lalu kembali membaca
tesisnya. Ia kembali membaca baris demi baris. Sesekali ia
berhenti memprediksi pertanyaan para penguji yang kira-kira
akan disampaikan kepadanya. Lalu ia mempersiapkan jawaban
yang ia anggap tepat. Tiba-tiba telepon berdering membuyarkan
konsentrasinya.
"Ya siapa ini?"
"Ini Sara, Tuan Furqan. Mengingatkan aja. Anda tidak
lupa dengan undangan saya bukan? Pukul 19.30 di Abu Sakr
Restaurant."
"Saya tidak lupa. Tapi saya kelihatannya tidak bisa
datang"
"Saya sangat berharap Tuan datang."
"Kalau tidak datang semoga Nona tidak kecewa. "
"Justru saya kuatir, jika Anda tidak datang, Anda menyesal.
Undangan ini mungkin hanya sekali Anda dapat-kan
dalam hidup Anda"
"Terima kasih, saya merasa tersanjung."
"Saya merasa lebih tersanjung jika Anda berkenan datang.
O ya, Anda kenal Prof. Dr. Sa'duddin Zifzat?"
"Ya saya kenal. Dia seorang sejarawan dan penulis
terkenal."
"Dia ayah saya."
"Benarkah?"
"Iya tentu saja. Dia akan datang bersama saya."
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
159
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Sekali lagi, maafkan jika nanti saya tidak bisa datang."
"Pikirkanlah, saya berharap Anda datang.Terima kasih. "
Klik. Telpon itu diputus.
Furqan sedikit bingung antara menyelesaikan persiapannya
membaca ulang tesisya, atau memenuhi undangan Sara.
Undangan makan malam gadis Mesir sesungguhnya sangat
menarik. Apalagi ia sediri terbayang gadis itu juga memiliki
pesona yang sangat menarik.
Astaghfirullah.
Ia beristighfar ketika kelebatan wajah Sara yang menarik
hadir di pikirannya. Dari penjelasan Sara bahwa prof.
Sa'duddin Zifzaf, penulis Mesir terkenal yang juga staf ahli
Menteri Pendidikan itu adalah ayahnya, sungguh mengusik
hatinya. Apakah benar? Yang lebih mengusiknya, kenapa
gadis Mesir itu mengundangnya? Dan kenapa sedemikian
gencar menelponnya? Apakah benar gadis itu benar-benar
tahu banyak tentang dirinya? Ataukah hanya basa-basi bela -
ka? Hatinya terus bertanya- tanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design