Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

11 REZEKI SILATURRAHMI

Usai shalat Mahgrib,Azzam langsung dapur memasak air
di panci besar untuk menggarap kacang kedelainya. Sambil
menunggu air memanas, ia membaca Al Ma’tsurat lalu tilawah.
Lima belas menit kemudian ia yakin air telah sangat panas.
Tidak harus mendidih. Ia turunkan air itu dari kompor gas. Ia
membuka karung kedelainya. Menakarnya dan langsung merendamnya
dengan air panas itu. Itulah proses paling awal
dalam menggarap kedelai menjadi tempe.
Kira-kira lima menit ia merendam kedelai itu. Kemudian
ia memisahkan kotoran-kotoran yang menyertai kedelai. Biasanya
kotoran itu mengapung. Ia ciduk kotoran itu, lalu ia
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
161
Ilyas Mak’s eBooks Collection
buang. Setelah itu ia memisahkan kedelai dari air panas itu.
Air itu ia bersihkan. Lalu kedelai ia masukkan kembali ke
dalam air itu. Ia letakkan di pojol dapur.
Kedelai itu harus direndam satu malam. Besok pagi, kirakira
jam tujuh ia akan kembali menggarap kedelai itu dengan
mengulesinya di kamar mandi. Diulesi agar kacang kedelainya
pecah. Paling mudah adalah dengan menginjak-injaknya. Lalu
ia cuci sampai bersih. Tapi kulit arinya tidak boleh hilang.
Kemudian ia rebus. Kalau sudah matang ia tiriskan sampai
dingin. Setelah dingin diberi ragi. Lalu ia bungkus dan ia
letakkan di rak khusus yang telah ia buat di dalam kamarnya.
Dua hari berikutnya barulah jadi tempe.
Sebenarnya, tanpa direbus, kedelai yang telah diulesi
hingga pecah itu bisa langsung diberi ragi dan dua hari
kemudian bisa jadi tempe. Sehingga bisa mengirit mi-nyak
tanah. Namun hasilnya masih kalah dengan yang direbus dulu.
Tempe Azzam diakui oleh para pelanggannya dan juga
oleh ibu-ibu KBRI sebagai tempe yang sangat gurih dan lezat.
Ia memang serius dalam membuat tempe. Ia masih ingat,
bahwa ia bisa membuat tempe juga karena tidak sengaja. Saat
masih di pesantren dulu ia punya teman, namanya Handono.
Ia sangat akrab dengan Handono. Ketika liburan panjang ia
diajak Handono berlibur di rumahnya yang terletak di sebuah
kampung di pinggir Kota Salatiga. Kampung itu namanya
Candiwesi. Dikenal sebagai salah satu kampung yang penduduknya
banyak berprofesi sebagai produsen tempe. Selama
berlibur di rumah Handono itulah, secara tidak sengaja ia
belajar membuat tempe sampai taraf mahir.
Kebetulan ayah Handono memang dikenal sebagai juragan
tempe terbesar di Candiwesi. Setiap hari produksinya tiga
kwintal kedelai. Memiliki pekerja tetap sebanyak se-puluh
orang. Berawal dari ikut-ikutan membantu, ia akhirnya terHabiburrahman
El Shirazy
162
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tarik belajar dengan langsung praktik dari A sampai Z. Tentang
takaran kedelainya. Takaran raginya. Cara membungkus
yang ideal dan lain sebagainya. Satu bulan penuh ia ikut
magang membuat tempe. Dan sejak saat itu ia sudah bisa
membuat tempe sendiri. Bahkan ia sering mencobanya di
rumah, dan ia minta ibunya menggoreng dan mencicipinya.
"Wah, tempemu enak sekali Zam, " puji ibunya.
Itulah rezeki silaturrahmi. Dengan bersilaturrahmi ketempat
Handono, ia jadi tambah ilmu. Ilmu membuat tempe.
Ia sama sekali tidak pernah mengira, ilmu mem-buat tempe itu
kemudian hari akan sangat berguna bagi-nya, saat ia harus
mempertahankan hidupnya di Mesir. Sangat berguna saat ia
harus mandiri, tidak hanya untuk menghidupi diri sendiri, tapi
juga adik-adiknya di Indo-nesia.
Ia merasakan benar bahwa rezeki yang didatangkan oleh
Allah dari silaturrahmi sangat dasyat. Ia bisa sampai be-lajar
di Al Azhar University juga bermula dari silatur-rahmi.
Saat itu, menjelang evaluasi belajar tahap akhir nasional,
teman satu kamarnya di pesantren sakit. Namanya Wasis.
Rumahnya di daerah Bantul. Ia mengantarnya pulang. Setelah
dibawa ke dokter ternyata Wasis sakit thypus serius. Jadi harus
dirawat di rumah sakit. Ia sem-pat menemani satu hari di
rumah sakit.
Saat menemani di rumah sakit itulah ia berbincang bincang
secara tidak sengaja dengan pasien satu kamar dengan
Wasis. Pasien itu juga sakit thypus dan sudah mau dibawa
pulang. Dari berbincang-bincang dengan pasien itu, ia dapat
informasi adanya test untuk mendapatkan beasiswa ke Al
Azhar. Pasien setengah baya yang ramah itu berkata,
"Saya pernah belajar di pesantren tempat kamu belajar.
Hanya beberapa bulan saja. Bulan depan ada test penja-ringan
siswa Madrasah Aliyah untuk mendapat beasiswa Al Azhar.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
163
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Kamu ikut saja test di DEPAG Pusat. Cari informasi di sana.
Nanti pada bagian pendaftaran bilang saja disuruh Pak Dhofir
gitu."
Dari info itu, ia bisa ikut test untuk mendapatkan beasiswa
kuliah di Al Azhar University. Dan diterima. Ia sampai
sekarang tidak tahu Pak Dhofir itu siapa. Yang ia tahu Pak
Dhofir yang memberi info padanya itu katanya ting-gal di
daerah Kotagede Yogyakarta.
Silaturrahmi jugalah yang membuat bisnis baksonya di
Cairo berjalan lancar. Memang ia tidak banyak muncul di
kalangan mahasiswa, tapi ia sering hadir dan muncul di acara
bapak-bapak dan ibu-ibu KBRI. Muncul untuk memberikan
bantuan apa saja. Bahkan jika ada orang KBRI pindah rumah
ia sering jadi jujugan minta tolong. Karena itulah ia sangat
dikenal di kalangan orang-orang KBRI. Itu sangat penting
bagi bisnis baksonya.
Tanpa banyak silaturrahmi seorang pebisnis tidak akan
banyak memiliki jalan dan peluang. Benarlah anjuran Rasulullah
Saw., agar siapa saja yang ingin dililuaskan rezekinya, hendaklah
ia melakukan silaturrahmi. 49
Selesai merendam kedelai, Azzam beranjak ke kulkas untuk
mengeluarkan daging sapi yang baru tadi sore ia masukkan
ke dalam freezer. Ia keluarkan agar tidak keras. Sebab
setelah shalat Isya ia harus mengolahnya jadi bola-bola bakso.
Keahliannya membuat bakso yang kini ba-nyak mendatangkan
rezeki baginya juga karena sila turrahmi. Jika keahliannya
membuat tempe ia dapat sejak ia masih di Indonesia, keahliannya
membuat bakso justru ia dapat setelah berada di Mesir.
49 Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, Bab Shilaturrahmi wa Tahrimi
Qathiiha, Juz 2, hal. 421.
Habiburrahman El Shirazy
164
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Setengah tahun berada di Mesir ia kenal baik dengan Pak
Jayadi yang bekerja di KBRI sebagai lokal staf bagian konsuler.
Kenal baik karena sama-sama berasal dari Kartasura.
Pak Jayadi lahir di daerah Ngabean Kartasura. Sementara ia
lahir dan tinggal di daerah Sraten, Kartasura. Ia jadi sering
diundang dan sering datang ke rumah Pak Jayadi yang dikenal
sangat baik dengan para mahasiswa. Apalagi yang berasal
dari Jawa Tengah. Ia nyaris dianggap sebagai adik sendiri
oleh Pak Jayadi. Pak Jayadi hanya memiliki satu anak lelaki
yang masih duduk di kelas empat SD. Dari Pak Jayadi dan Ibu
Jayadilah ia bisa membuat bakso yang kemantapan rasanya
sangat diakui di Cairo.
Bermula sering silaturrahmi. Lalu diminta oleh Pak Jayadi
untuk ikut membantu Ibu Jayadi membuat bakso pesanan
KBRI untuk acara-acara resmi. Lalu coba-coba membikin sendiri,
ternyata diakui nyaris sama dengan buatan Ibu Jayadi. Ia
pun dikenal bisa bikin bakso. Bah-kan sempat dikenal sebagai
tangan kanan Ibu Jayadi.
Ketika Pak Jayadi sekeluarga pulang ke Tanah Air untuk
selamanya, kepercayaan para pelanggan Ibu Jayadi dan juga
KBRI jatuh kepadanya. Saat itu ia sendiri sedang sangat
memerlukan datangnya sumber rezeki untuk mempertahankan
hidupnya, dan juga adik-adiknya. Jadilah ia terjun total dalam
bisnis membuat bakso.
Azzam masih di dapur, setelah mengeluarkan daging dari
freezer, ia melihat beberapa alat dapur belum dicuci. Ia tergerak
untuk mencucinya. Ini semestinya tugas Fadhil. Karena
hari ini yang bertugas masak adalah Fadhil. Namun agaknya
Fadhil kelelahan habis bertanding di Nadi Syabab. Ketika
sedang asyik mencuci panci yang biasa digunakan untuk
menyayur, Ali muncul dan memanggilnya,
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
165
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Kang Azzam, ayo ke depan. Kita makan kibdah dulu.
Fadhil beli kibdah untuk ganjal perut!"
"Wah boleh juga. Oh ya, minumnya sudah ada? Kalau
belum ada biar saya masak air sekalian." Tukas Azzam sambil
merampungkan cuciannya.
"Oh ya Kang belum," jawab Ali.
Azzam mempercepat kerjaannya. Sebelum meninggalkan
dapur terlebih dahulu ia meletakkan panci yang berisi air di
atas kompor yang menyala. Mahasiswa Indonesia di Cairo
memang tidak lazim memiliki termos penyimpan air panas.
Sebab mereka biasa minum teh khas Mesir. Teh itu lebih enak
bila disedu dengan air yang masih mendidih. Jika tidak begitu,
rasanya kurang mantap.
"Wah beli kibdah banyak sekali Dhil," kata Azzam sambil
duduk di samping Fadhil. Nanang, dan Ali juga sudah duduk
mengitari kibdah yang diletakkan begitu saja di atas karpet
beralaskan koran.
"Ya Kang, ini sekaligus syukuran. Tadi saya mencetak
dua gol dalam pertandingan," jawab mahasiswa dari Aceh itu
dengan wajah berseri.
"Berarti KMA menang dong?" tanya Azzam sambil
mengambil satu kibdah.
"KMA memang menang dipermainan. Kami menguasai
bola. Tapi KEMASS ternyata mampu menjebol gawang kami
dengan dua gol. Jadi skornya 2-2."
"Wah pasti seru tadi."
"Seru banget!" sahut Ali, "Apalagi dua gol KEMASS itu
yang mencetak aku. Ali Mustafa El Plajuwi!" sambung Ali
sambil membusungkan dada.
Habiburrahman El Shirazy
166
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Ali tadi memang boleh. Aku salut!" Fadhil mengakui
kehebatan Ali.
"Yang penting mana syukurannya untuk dua gol. Yang
mencetak satu gol saja beli. "
"Beres. Setelah shalat Isya nanti aku beli firakh masywi.
Yang di rumah tinggal menanak nasi saja!" jawab Ali.
"Mantap. Syukran Li!" teriak Fadhil girang. Bagaimana
tidak girang, malam itu adalah tugas dia untuk masak. Jika
lauk sudah ada, hanya tinggal menanak nasi apa su-sahnya. Itu
sama saja dia terbebaskan dari tugasnya. Dan ia bisa beristirahat
melepas lelah.
"Ngomong-ngomong Nasir ke mana kok belum pulang?"
tanya Azzam sebagai yang dituakan.
"Nasir tadi pamit tidak pulang. Dia ada urusan ke Tanta
katanya. Hafez juga sama. Ia bilang menginap di Kata -mea"
jelas Nanang.
"O ya sudah kalau begitu." Kata Azzam datar. Dalam hati
ia senang Hafez langsung pergi ke Katamea. Pasti anak itu
sedang mencari tempat yang nyaman untuk mengungsi
sementara waktu. Jika ia tetap tinggal satu rumah dengan
Fadhil, akan sangat susah melupakan Cut Mala.
Tiba-tiba telpon berdering. Ali yang gesit bergerak cepat
mengangkat,
"Siapa?... Dari Mala?... O ya sebentar ya?" Kata Ali. Ia
lalu menunjuk Fadhil. Semua yang ada di situ langsung paham
itu adalah telpon dari Cut Mala untuk Fadhil, kakaknya.
Fadhil langsung bergegas menerima telpon.
Azzam menarik nafas, ia tidak membayangkan jika Hafez
saat itu ada di situ dan ia yang pertama mengangkat tel-pon.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
167
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Seperti apa gemuruh dalam dadanya, nyala dalam hatinya
mendengar suara Cut Mala. Semalam suntuk ia pasti tidak
akan bisa tidur.
Sementara Fadhil menerima telpon, Azzam dan yang lain
melanjutkan perbincangan mereka.
"Oh ya, katanya, tadi putrinya Pak Dubes nelpon, kok
belum nelpon lagi?" tanya Azzam.
"Iya Kang. Tadi sudah aku bilang untuk telpon lagi
setelah shalat Maghrib. Kok sampai sekarang belum nelpon
ya," tukas Ali sambil beranjak ke dapur karena mendengar
suara air mendidih.
"Sampeyan sih Kang diminta menghentikan mandinya
sebentar tidak mau. Jarang jarang orang dapat telpon dari
putrinya Pak Dubes yang cantik lulusan EHESS Prancis itu,"
kata Nanang menyayangkan. "Aku yakin dia takkan nelpon
lagi. Kayaknya Sampeyan yang seka-rang harus nelpon balik
Kang. Siapa tahu ini bisnis besar Kang." sambungnya memberi
saran.
Azzam diam, tidak menjawab. Fadhil meletakkan gagang
telpon, ia baru saja selesai berbicara dengan adiknya. Ba -ru
diletakkan telpon kembali berdering. Fadhil langsung mengangkatnya.
"Ya, hallo. Ini siapa ya?" tanya Fadhil.
"Ini Eliana . Bisa bicara dengan Mas Insinyur?"
"O bisa, sebentar Mbak Eliana ya," kata Fadhil datar.
Fadhil lalu memanggil Azzam. Azzam segera bangkit dan
menerima gagang telpon.
"Halo. Ada yang bisa saya bantu," kata Azzam.
Habiburrahman El Shirazy
168
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Ini Eliana, Mas Insinyur"
"O Mbak Eliana, apa kabar Mbak?"
"Baik."
"Pak Dubes sehat?"
"Sehat. Alhamdulillah. "
"Kok tumben nelpon kemari, ada apa Mbak?" tanya
Azzam sambil melihat ke arah Nanang dan Fadhil yang
dengan seksama memperhatikannya.
"Ini Mas, to the point saja ya?"
"Ya."
"Begini, dua bulan lagi saya mau ulang tahun. Ulang tahun
saya ke dua puluh empat. Saya akan merayakannya di
Wisma Duta. Sederhana saja. Tapi saya ingin yang mengesankan.
Saya ingin untuk tamu undangan disuguhi masakan khas
Indonesia."
"O bagus itu Mbak. Dua bulan lagi itu berarti kira kira
pas selesai ujian Al Azhar ya Mbak."
"Ya. Mayoritas mahasiswa sudah selesai ujian kelihatannya,
meskipun mungkin masih ada beberapa yang belum
selesai ujian. Mas Insinyur kira-kira ada waktu nggak?"
"Insya Allah ada Mbak."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi kali ini saya tidak mau
bakso. Sudah sangat biasa."
"Mbak inginnya apa?"
"Soto Lamongan. Mas bisa bikinin buat saya?"
"Soto Lamongan?" Azzam bertanya agak ragu.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
169
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Ya, Soto Lamongan. Bisa nggak? Mas Insinyur kan terkenal
jago masak. "
"O bisa Mbak, insya Allah bisa. Mau untuk berapa porsi?"
"Lima ratus porsi, sanggup?"
"Sanggup Mbak, asal harganya cocok aja." Azzam sudah
langsung ke hal paling penting dalam dunia bisnis
"Satu porsinya berapa Mas? Sama dengan bakso gimana?"
"Wah kalau disamakan dengan bakso berat Mbak, terus
terang. Kalau bakso sudah sangat biasa, bikinnya juga bagi
saya sangat biasa. Ini Soto Lamongan lho Mbak. Tidak ada di
Cairo, dan perlu keahlian khusus."
"Ya sudah kalau gitu saya ikut Mas Insinyur, jadi berapa?"
"Dua kali lipat bakso. Gimana? Deal?"
"Baik. Deal. Tapi nanti jangan dipas lima ratus ya. Ya ada
kelebihannya beberapa porsi gitu."
"Beres Mbak. Terus acaranya tepatnya kapan Mbak?
Tanggal berapa? Jam berapa?"
"Tepat tanggal satu awal Juli depan. Acara tepat jam
tujuh malam. Jangan lupa lho."
"Baik Mbak. Tapi tolong satu minggu sebelum hari H.
Mbak mengingatkan ya?"
"Ya. Salam buat teman-teman Mas Insinyur di situ ya?"
"Ya."
Azzam menutup gagang telpon dengan wajah berbinar.
Rezeki besar ada di depan mata. Jika satu porsi bakso biasanya
dihargai 3 pou nd, ini berarti untuk Soto Lamongan ia akan
Habiburrahman El Shirazy
170
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dapat 6 pound satu porsinya: 6 X 500 sama dengan 3000.
Dikurangi modal sekitar 400 pound. Jadi dua bulan lagi ia
akan dapat keuntungan kira-kira 2600 pound.
"Bisnis baru ya Kang? Kok saya tadi dengar ada nyebutnyebut
Soto Lamongan?" tanya Nanang.
"Iya, putrinya Pak Dubes itu mau ulang tahun minta
dibikinkan Soto Lamongan."
"Lho memangnya Sampeyan bisa bikin Soto Lamongan?"
"Ya belum bisa."
"Lho kok Sampeyan sanggupin?"
"Lha kan ada kamu Nang. Kamu kan orang Lamongan,
pasti bisa kan bikin Soto Lamongan."
"Waduh Kang, Sampeyan itu sungguh nekat. Aku saja
yang orang Lamongan tidak bisa bikin Soto Lamongan kok.
Kalau boleh saya sarankan batalin saja Kang. Daripada nanti
mengecewakan keluarga Pak Dubes, reputasi yang Sampeyan
bangun selama ini bisa hancur lho Kang."
"Wah kamu itu Nang, penakut. Tak punya nyali. Ini
bisnis Nang. Bisnis! Nyawa bisnis itu keberanian Nang. Dalam
dunia bisnis yang berhasil adalah mereka yang memahami
bahwa, hanya ada perbedaan sedikit antara tantangan dan
peluang, dan mereka bisa mengubahnya menjadi keuntungan.
50 Aku memang belum bisa bikin Soto Lamongan, tapi aku
dulu sering makan Soto Lamongan. Kekhasan rasa dan bentuk
Soto Lamongan masih aku ingat. Yang paling penting aku
merasa bisa membikin Soto Lamongan. Dan aku yakin
kualitasnya, insya Allah sama dengan aslinya!"
50 Diadaptasi dengan sedikit perubahan dari perkataan Victor Kiam.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
171
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Wah Sampeyan kadang memang nekat banget Kang!"
"Bukan nekat Nang. Ini memanfaatkan tantangan menjadi
peluang. Nekat adalah untuk mereka yang tidak tahu
langkah-langkah pastinya menaklukkan tantangan. Tapi bagi
mereka yang tahu langkah-langkah pastinya itu berarti tidak
lagi nekat, tapi mengambil peluan dengan sedikit risiko!"
"Wah kata-kata Sampeyan kayak motivator besar saja
Kang. "
"Yang aku katakan hanyalah berangkat dari pengalamanku
selama ini Nang. Aku yakin bisa. Kalau aku mera-sa
tidak bisa pasti sudah kutolak. Kau ingat beberapa bulan yang
lalu ketika Pak Atase Perdagangan minta dibuatkan Garang
Asem khas Kudus. Jelas aku angkat tangan. Belum terbayang
bagaimana cara membuatnya. Apalagi Garang Asem banyak
khasnya. Ada khas Kudus, khas Kartasura, khas Salatiga, khas
Semarang, khas Boyolali. Saat itu aku melihat bukanlah suatu
tantangan yang bisa diubah jadi peluang. Lebih baik aku
mundur."
"Tapi, Soto Lamongan setahuku juga ada kerumitannya
lho Kang."
"Aku tahu yang paling penting aku yakin bisa."
***
"Kau yakin bisa La?" tanya Anna pada Laila, mahasiswi
Indonesia yang dikenal menjadi agen tiket Malaysia Air Lines
dan Singapore Air Lines. Laila mengikuti jejak kakaknya
Nasir. Boleh dikata Laila hanyalah membantu kakaknya. Karena
dia mahasiswi, jadi promosi di ka-langan mahasiswi bisa ia
Habiburrahman El Shirazy
172
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lakukan dengan gencar. Apalagi ia juga menjadi pengurus
Wihdah.
Bedanya Laila dengan kakaknya, Laila termasuk jajaran
mahasiswi yang berprestasi. Tidak pernah tidak lulus ujian.
Sering nulis di buletin dan majalah. Sedangkan Nasir, biasabiasa
saja. Aktivitasnya lebih banyak ber-bisnis di Cairo.
Selain bisnis tiket pesawat, Nasir juga bisnis warnet dan
jualan jahe. Ya jualan jahe. Dengan cara, ia pergi umrah naik
kapal. Lalu di Saudi membeli jahe yang masih segar. Jahe dari
Saudi itu asalnya juga bukan dari Saudi tapi dari Asia
Tenggara. Kebanyakan dari Thailand. Ia membeli langsung
beberapa kuintal. Ia bawa ke Mesir dan ia jual ke oran gorang
Mesir. Keuntungannya selain menutup biaya umrah, juga bisa
untuk membayar sewa rumah beberapa bulan. Sebuah bisnis
yang sangat menguntungkan.
Laila yang ditanya tersenyum.
"Ya sangat yakinlah Mbak. Tanpa harus membawa visa
dari kedutaan Malaysia Mbak bisa masuk Malaysia. Nanti
ngambil visa entri di bandara Kuala Lumpur. Kakak saya kan
pernah pulang ke Tanah Air dan transit dua minggu di
Malaysia. Hanya saja kalau Mbak mau transit masuk KL, ada
biaya tambahan lima puluh dollar Mbak." Laila menjelaskan
panjang lebar.
"Untuk apa itu La?"
"Untuk meng-open tiket KL-Jakarta. Karena mau tinggal
beberapa hari di KL, maka harus open. Itu harganya lebih
mahal lima puluh dollar. Gimana Mbak?"
"Ya baiklah La. Uangnya besok insya Allah. Kapan tiket
bisa saya ambil? "
"Dua hari setelah uang saya terima Mbak."
"O ya Mbak, bisa tidak Lala tanya dikit sama Mbak?"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
173
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Apa itu La?"
"Saya dengar Mbak dilamar sama Mas Furqan ya Mbak?"
"Wah kalau itu tidak bisa dijelaskan via telpon La. Udah
dulu ya. Ini pulsanya sudah habis banyak. Yuk, assalamu-
'alaikum."
"O ya Mbak wa 'alaikumussalam."
Wajah Anna merah padam. Pertanyaan Laila itu menyentak
hatinya. Dari mana dia tahu? Ia sangat yakin di kalangan
mahasiswi berita dirinya dilamar Furqan pasti mulai tersebar.
Yang membuatnya marah adalah siapa yang membocorkan ini
semua. Bukankah yang tahu masalah ini selain dirinya, seharusnya
hanya tiga orang, yaitu Furqan, Ustadz Mujab dan
isterinya, Mbak Zulfa. Ada kejengkelan dan rasa marah yang
memercik dalam dadanya. Tapi ia bingung kepada siapa harus
marah. Untuk meredam amarahnya ia mengambil air wudhu.
Setelah itu ia ke ruang tamu di mana Erna dan Zahraza
sedang asyik membaca koran Al Ahram.
"Mbak kita jadi ke Palace?" tanya Erna begitu Anna
duduk di sampingnya.
Anna melihat jam dinding, lalu menjawab,
"Sekarang, sudah jam tujuh lebih lima, tapi Wan Aina
dan Sholihati belum pulang. Apa tidak terlalu malam jika kita
keluar setelah mereka pulang?"
"Iya, terlalu malam. Nanti dilihat orang tidak baik."
Sahut Zahraza sambil tetap membaca.
"Atau tidak usah ke Palace saja Mbak. Nanti kalau
mereka pulang kontak Babay saja. Pesan makanan minta
diantar ke sini." Erna memberi usul.
Habiburrahman El Shirazy
174
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Yah, nanti kalau mereka pulang kita musyawarah. Enaknya
bagaimana. Yang jelas malam ini insya Allah tetap syukuran
seperti yang saya janjikan." Jawab Anna lirih. Pikiran
Anna sedang tidak pada acara syukuran dengan makan-makan
yang ia rencanakan, tapi pada berita dirinya telah dilamar
Furqan yang telah diketahui oleh orang-orang yang semestinya
tidak mengetahuinya.
"Eh ini ada berita menarik di Ahram!" kata Zahraza
setengah berteriak.
"Apa itu!?" tanya Erna.
"Di sini disebutkan ada mahasiswa Indonesia yang tinggal
di Ighatsah Islamiyyah Hay El Thamin dirampok seseorang
yang mengaku sebagai anggota mabahits. 51 Mahasiswa
ini menderita kerugian lebih dari seribu dollar. Kemungkinan
besar perampok itu memakai cara-cara hipnotis!" jelas
Zahraza.
Spontan Anna berkata,
"Berarti kita harus hati-hati. Jangan pergi-pergi sendirian!
Ternyata di atas muka bumi ini masih banyak penjahat
berkeliaran!"
51 Badan intelijen.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design