Azzam melihat jam tangannya. Sudah seperepat jam ia
menuggu, bus ke Sayyeda Zaenab tidak juga datang, padahal
bus ke Atabah sudah berkali-kali lewat. Halte bus di depan
Masjid Al Azhar itu ramai manusia. Sebagian duduk di kursi
halte, tapi yang berdiri jauh lebih banyak. Bus jurusan Imbaba
datang. Orang-orang berlarian naik. Seorang ibu-ibu sekuat
tenaga berusaha menggapai pintu bus. Tangannya telah meraih
pegang-an, dan ketika kakinya hendak naik, bus itu
berjalan. Ibu-ibu itu tidak melepaskan pegangannya. Jadilah ia
terseret. Para penumpang dan orang-orang yang melihatnya
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
127
Ilyas Mak’s eBooks Collection
berteriak-teriak marah. Seorang lelaki setengah baya berteriak
keras marah,
"Hasib ya hayawan! " 35
Bus itu berhenti, dan sang sopir tertawa nyengir tanpa
terlihat berdosa sama sekali. Ibu-ibu berhasil naik dan kemarahannya
tidak juga berhenti. Azzam melihat hal ltu dengan
hati sesak. Sudah tak terhitung lagi ia melihat kejadian seperti
itu. Seorang turis bule tampak asyik mengabadikan adegan
kekonyolan. Tampaknya turis itu mendapatkan oleh oleh yang
sangat unik untuk dia bawa ke negaranya. Azzam merasakan
dadanya semakin sesak. Layakkah kekonyolan semacam ini
terjadi di depan kampus Islam tertua di dunia? Tanyanya
dalam hati.
Bus jurusan Imbaba itu telah hilang dari pandangan. Tak
lama sebuah bus datang. Ia sangat akrab dengar nomor bus
itu. Delapan puluh coret. Bus yang sangat legendaris dan terkenal
bagi mahasiswa Asia Tenggara yang ting-gal di kawasan
Hayy El Ashir. Legendaris karena murah-nya. Jauh dekat
sama saja. Cuma sepuluh piester. Apa tidak murah. Dan terkenal,
karena lewat jalur strategis bagi mahasiswa. Bus itu dari
Hayyul Ashir Nasr City melewati Hayyu Thamin, Masakin
Ustman, Kampus Al Azhar Nasr City, Muqowilun, Duwaiqoh,
Kampus Al Azhar Maydan Husein, dan berakhir di Attaba.36
Selain itu, juga terkenal karena sering terjadi pencopetan di
dalamnya. Maka seringkali mahasiswa Indonesia menyebutnya,
"bus delapan puluh copet", bukan "delapan puluh
coret". Meskipun demikian, bus itu tetap saja dicintai dan
dekat di hati.
35 Hati-hati, jangan sembrono, hei hewan!
36 Tahun 2006 route bus delapan puluh coret berubah jadi: Hayyul Ashir Nasr City-
Hayyu Thamin- Masakin Ustman-Kampus Al Azhar Nasr City- Muqowilun- Duwaiqoh-
Buuts-Darrasah.
Habiburrahman El Shirazy
128
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Begitu delapan puluh coret berhenti, dari pintu depan
banyak penumpang yang turun. Dan di pintu belakang
penumpang berjejal naik. Ia melihat seorang dosen ikut berdesakan
naik. Ia amati dengan seksama, ternyata Prof. Dr. Hilal
Hasouna, Guru Besar Ilmu Hadis. Ia selalu dibuat takjub oleh
sikap tawadhu' dan kesahajaan para syaikh dan guru besar
Universitas Al Azhar. Di Indonesia mana ada seorang guru
besar yang mau berdesakan naik bus.
Perlahan delapan puluh coret pergi. Lima detik kemudian
datang bus bernomor enam puluh lima. "Ini dia," desis Azzam
lirih. Hatinya begitu lega dan bahagia. Selalu saja di dunia ini,
jika seorang menanti sesuatu dan sesuatu yang dinanti itu
hadir, maka hadir pulalah kebahagiaan yang susah dilukiskan.
Di antara bus-bus yang lain, enam puluh lima adalah yang
paling dicintai Azzam. Karena bus itulah yang senantiasa
mengantarkannya ke Pasar Sayyeda Zaenab. Bus itu telah
menjadi alat yang sangat akrab dalam menunjang bisnisnya.
Bisnis tempe dan bakso.
Begitu bus berhenti beberapa orang naik dari pintu
belakang. Azzam ikut naik. Bus tidak penuh sesak. Tidak ada
penumpang yang berdiri. Namun tidak banyak tempat duduk
yang kosong. Semua penumpang yang baru naik, mendapatkan
tempat duduk, kecuali Azzam. Ia harus berdiri. Bus beranjak
pergi menyusuri Al Azhar Street. Azzam berdiri agak di
tengah. Sekilas ia melihat ke depan. Beberapa mahasiswi Asia
Tenggara duduk di barisan depan.
"Mungkin mereka juga mau belanja di Sayyeda Zaenab. "
Gumamnya dalam hati.
Ia yakin mereka mahasiswi Indonesia, meskipun tidak
menutup kemungkinan ada mahasiswi Malaysia. Yang lebih
sering kreatif belanja ke Pasar Sayyeda Zaenab biasanya
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
129
Ilyas Mak’s eBooks Collection
mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia. Sementara mahasiswa
dan mahasiswi dari Malaysia lebih memilih belanja di
tempat yang dekat dengan flat mereka di Nasr City, seperti
Swalayan Misr wa Sudan di Hayye El Sabe. Meskipun tentu
saja harganya lebih mahal.
Perlahan bus beranjak menyusuri Al Azhar Street. Dari
jendela Azzam bisa melihat bangunan-bangunan tua yang
kusam. Di antara bangunan itu banyak yang dijadikan toko
dan gudang tekstil. Sampai di El Muski belok kiri menyusuri
Port Said Street.
Bus terus melaju melewati Museum of Islamic Art. Di halte
dekat Maidan Ahmad Maher bus berhenti. Seorang perem -
puan Mesir turun. Tak ada penumpang naik. Bus kembali berjalan.
Azzam duduk di kursi yang baru saja ditinggal perem -
puan Mesir. Kursinya masih terasa hangat. Ia merasa lega.
Sekilas ia tahu bahwa yang duduk di sampingnya adalah seorang
mahasiswi Asia Tenggara. Ia tak merasa harus menyapa.
Pikirannya sudah ada di Pasar Sayyeda Zaenab. Ia melihat
jam tangannya. Ia berharap tidak terlambat sampai disana.
Kalau terlambat ia akan bertambah lelah karena tidak mendapatkan
barang yang ia inginkan.
"Semoga Ammu Ragab belum pulang" doanya dalam hati.
Jika Ammu Ragab pedagang kedelai itu sudah pulang ia harus
ke Pasar Attaba. Harga kedelai di Attaba lebih mahal dan
kualitas kedelainya di bawah Sayyeda Zaenab. Dan ia sebagai
produsen ingin memberikan yang terbaik kepada konsumen.
Terbaik dalam harga, juga terbaik dalam kualitas barang. Selisih
harga sekecil apapun harus ia perhatikan. Ia memang berusaha
seprofesional mungkin. Meskipun cuma bisnis tempe.
Ia ingin memposisikan diri sebagai produsen tempe
terbaik dan termurah. Ia berusaha memposisikan tempenya
adalah tempe dengan kualitas kedelai nomor satu. Rasa nomor
Habiburrahman El Shirazy
130
Ilyas Mak’s eBooks Collection
satu. Rasa khas tempe Candiwesi Salatiga yang sangat terkenal
itu. Dan kelebihan lainnya adalah bentuknya paling besar
di antara tempe yang lain, isinya paling padat, dan harganya
paling murah. Inilah uniquiness yang dimiliki hasil produksinya.
Keunikan inilah yang menjadi positioning bisnisnya. Dan
ia akan terus mempertahankan positioning ini terus terukir
dalam benak para pelanggannya. Sehingga para pelanggan itu
percaya penuh padanya dan pada produk- produknya.
Untuk menjaga hal itu memang perlu keseriusan dan
kerja keras. Tidak hanya konsep dalam pikiran atau di atas
kertas. Ia teringat satu ajararan dari Cina kuno: "Kamu akan
mendapatkan apa yang kamu inginkan, jika kamu bekerja keras dan
tidak keburu mati dulu"
Ajaran itu senada dengan kata mutiara bangsa Arab yang
sangat dahsyat: Man jadda wajada. Siapa yang besungguh
sungguh berusaha akan mendapatkan yang diharapkannya.
Bus terus berjalan.
"Maaf, Anda dari Indonesia ya? "
Ia mendengar suara pelan dari sampingnya.
"Iya benar. Anda juga dari Indonesia?" Jawabnya tenang.
"Iya. Maaf, kalau boleh tanya toko buku Daarut Tauzi' itu
di mana ya?"
"Sebentar." Ia melihat ke depan dan ke kiri jalan.
"Halte depan. Sebelah kiri jalan ada tulisannya kok.
Pokoknya kira-kira seratus meter dari Masjid Sayyeda
Zaenab." Lanjutnya
"Terimakasih."
"Sama-sama. Belum pernah ke Daarut Tauzi'ya?"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
131
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Iya belum pernah. Biasanya saya beli buku di toko toko
buku dekat kampus Al Azhar Maydan Husein"
"Oo."
Setelah itu keduanya diam. Masing-masing mengikuti
pikirannya sendiri. Setiap kali bertemu dengan maha-siswi
Indonesia Azzam langsung teringat dengan kedua adiknya
yang sudah gadis. Husna dan Lia. Husna pastilah sudah saatnya
menikah. Dan Lia telah meninggalkan masa remaja.
Genap sembilan tahun sudah ia tidak bertemu mereka berdua.
Adapun adiknya yang ketiga, si Bungsu Sarah, sudah masuk
usia sembilan tahun. Ia sama sekali belum pernah melihatnya,
kecuali lewat foto. Saat ia meninggalkan Indonesia dulu, Sarah
masih berada dalam kandungan ibunya. Seperti apakah wajah
ketiga adiknya itu.
"Semoga ada jalan untuk pulang. Aku rindu pada mereka.
Juga pada ibu," katanya dalam hati. Dan jalan pulang yang
paling realistis baginya adalah membuat tempe sebanyakbanyaknya,
dan berdoa semoga mendapatkan order membuat
bakso yang juga sebanyak-banyaknya. Hasil dari usahanya itu
akan ia gunakan membeli tiket. Jika kurang semoga bisa minta
bantuan ke Baituz Zakat yang berkantor di Muhandisin.
Namun sesungguhnya dalam hati ia ingin bisa membeli tiket
sendiri tanpa minta bantuan kepada siapapun. Itu berarti ia
harus benar benar membanting tulang dan memeras keringat.
Di samping itu semua, yang paling penting adalah, ia
harus selesai S.1 tahun ini. Jika tidak, rencana pulang akan
berantarakan. Ia harus menahan rindu satu tahun ke depan.
Dan ia tidak mau hal itu terjadi.
Maka ia harus melakukan sesuatu.
Kalau kamu ingin menciptakan sesuatu, kamu harus melakukan
sesuatu! Demikianlah kata Johann Wolfgang von Goethe
yang pernah disitir Prof. Dr. Hamdi Zaqzuq dalam kuliahnya.
Habiburrahman El Shirazy
132
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Sekali lagi ia harus melakukan sesuatu. Yaitu bekerja
lebih serius, belajar lebih serius, dan berdoa lebih serius. Tak
ada yang lain.
Tak terasa bus telah sampai di depan Masjid Sayyeda
Zaenab. Azzam harus turun, karena bus akan ke Termimnal
Abu Raisy dan tidak melewati pasar. Para penumpang turun.
Lima orang mahasiswi itu turun, termasuk yang duduk di
samping Azzam. Azzam yang paling akhir turun. Beberapa
mahasiswi menengok ke kiri dan kanan.
"Maaf Daarut Tauzi'-nya ke sana ya?" mahasiswi berjilbab
biru muda yang tadi duduk di sampingnya kembali berta -
nya padanya.
Reflek Azzam memandang wajahnya sekilas. Subhanallah,
cantik. Mahasiswi Indonesia di Cairo ada yang cantik juga.
Bahkan ia merasa belum pernah melihat wanita Indonesia
secantik gadis berjilbab biru muda ini. Azzam cepat-cepat
mengalihkan pandangannya. Lalu dengan memandangke arah
Daarut Tauzi', ia menjelaskan ke mana mereka harus melangkah
dan bagaimana ciri-ciri gedungnya. Daarut Tauzi' me
mang tidak terlalu kelihatan lazimnya toko buku. Sebab, tem -
patnya ada di lantai dua sebuah gedung agak tua
"Syukran, ya."
"Afwan. O ya sampaikan salam buat Hosam Ahmad.
Penjaga Daarut Tauzi. "
"Dari siapa?"
"Katakan saja dari thalib dzu himmah. 37 Dia pasti tahu."
37 Mahasiswa yang memiliki cita-cita.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
133
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Insya Allah. " Jawab gadis berjilbab biru muda itu. Ia dan
teman-temannya menuju ke arah yang dijelaskan Azzam.
Sementara Azzam langsung bergegas ke pasar. Ia melewati
masjid. Pasar itu ada di sebelah selatan masjid.
* * *
Pasar Sayyeda Zaenab masih ramai meskipun tak seramai
ketika pagi hari, sebelum Zuhur. Beberapa pedagang ikan dan
daging ayam sudah mengemasi tempat mereka. Dagangan
mereka telah ludes. Azzam langsung menuju kios Ammu
Ragab. Ammu Ragab memang khusus menjual segala jenis
tepung, kacang-kacangan dan beras. Ia menjual kacang jenis
ful sudani, ful soya, adas dan lain sebagainya.
"Assalamu'alaikum ya Ammu."
"Wa 'alaikumussalam, o anta ya Azzam. Kaif hal ?"38
"Ana bi khair. Alhamdulillah. Andak ful shoya ?"39
"Thab'an 'andi. 'Aisy kam kilo?"40
"Khamsah wa 'isyrin kilo kal ‘adah. "41
Azzam lalu menjelaskan sebentar. Karena waktu sudah
dekat Ashar, ia akan mengambil barangnya setelah shalat
Ashar. Setelah itu ia berrgegas ke kios penjual daging. Ia sudah
pesan daging tadi pagi lewat telpon. Jika tidak pesan, jelas
ia tidak akan mendapatkan daging yang diinginkan. Ternyata
kios penjual daging sudah siap tutup. Dagingnya juga telah
habis.
"Kami masih buka karena menunggu kamu Akhi." Kata
Ibrahim yang kini menjalankan kios daging milik ayahnya itu.
38 Kamu Azam. Apa kabar?
39 Saya baik-baik saja. Alhamdulillah. Masih punya kacang kedelai?
40 Tentu aku punya. Ingin berapa kilo?
41 Dua puluh lima kilograrn. Seperti biasa.
Habiburrahman El Shirazy
134
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Maaf. Saya sedikit terlambat." Jawab Azzam. Ia memang
terlambat setengah jam mengambil pesanannya.
Ibrahim tampak sudah rapi dan bersih, tidak tampak
kotor layaknya penjual daging. Separo kiosnya sudah ditutup.
Ia duduk di kursi di depan kiosnya sambil membaca koran.
Ibrahim masih muda. Umurnya masih di bawah tiga
puluh tahun. Ayahnya tidak bisa lagi bekeria karena terkena
stroke. Ibrahim anak sulung. Masih mempunyai empat adik.
Dua perempuan dan dua laki-laki. Yang paling besar namanya
Sami, lalu Yasmin, Heba dan yang paling kelil bernama Samir.
Dialah yang kini jadi kepala rumah tangga. Ia mati-matian
menghidupi adik-adiknya. Juga mati-matian menjaga mereka
agar tetap memperoleh pendidikan yang la yak. Semua adiknya
sekolah di Al Azhar, karena memang tak ada yang lebih
murah dari Al Azhar.
Yang ia tahu, Sami baru saja selesai Fakultas Dirasat
Islamiyyah. Yasmin tingkat akhir di Kulliyah Banat Al Azhar.
Heba baru masuk kuliah. Dan Samir masih di Madrasah Ibtidaiyyah.
Ibrahim sendiri lulusan Syariah. Sebagaimana ia bisa
akrab dengan mahasiswa Mesir bernama Khaled, ia bisa akrab
dengan Ibrahim, juga bertemu di masjid. Tepatnya Ramadhan
dua tahun lalu, saat itikaf dua hari di Masjid Amru bin Ash.
Biasanya Ibrahim dibantu sama Sami, tapi kali kelihatannya ia
tidak ada.
"Mana Sami, kok tidak kelihatan?''
"Sedang ada keperluan keluarga di Giza."
"O begitu. Kau tergesa-gesa?"
"Sebenarnya tidak. Tapi saya dan Heba harus segera
menyusul Sami sebelum Maghrib tiba."
Azzam langsung paham bahwa Ibrahim tidak punya
banyak waktu. Ia langsung mengambil pesanannya dan mem -
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
135
Ilyas Mak’s eBooks Collection
bayar harganya. Azzam ingin segera beranjak, namun seorang
gadis remaja berjilbab khas Mesir datang dengan dua gelas
karikade dingin dinampan.
"Minum dulu Akhi." Ibrahim mempersilakan.
Sekilas Azzam melihat gadis remaja itu menatapnya sambil
mengangguk lalu ke dalam. Ini adalah kali ketiga ia berta -
tapan dengan gadis remaja itu. Ia yakin ia adalah Heba. Kalau
boleh jujur, ia harus mengakui, bahwa ia belum pernah melihat
gadis secantik Heba. Cantik dan cerdas. Sebab Ibrahim pernah
cerita, diusia tujuh tahun Heba telah hafal Al-Quran. Hal
itulah yang membuatnya punya keinginan adiknya yang
paling kecil bisa hafalAl-Quran. Seperti Heba.
Ibrahim mengambil gelas dan meminumnya. Tanpa banyak
bicara, Azzam langsung melakukan hal yang sama.
Tujuh detik kemudian gelas itu telah kosong.
Azan Ashar mengalun dari Masjid Sayyeda Zaenab.
"Terima kasih Akhi. Saya pamit." kataAzzam setelah itu.
"Maaf, kalau kita tidak bisa banyak berbicara seperti
biasa. Waktunya memang sempit. Jangan lupa doakan kami.
Doa penuntut ilmu dari jauh yang ikhlas sepertimu pasti di
dengar Allah," tukas Ibrahim.
"Sama-sama. Kita saling mendoakan."
Azzam lalu bergegas kembali ke kios Ammu Ragab dan
menitipkan dagingnya di sana. Ia hendak ke masjid shalat
Ashar dulu. Ia berjalan melewati lorong pasar. Langsung ke
tempat wudhu masjid. Dan saat kaki kanannya menginjak
pintu masjid, sang mu'azin melantunkan iqamat.
Usai shalat dan berzikir secukupnya, ia langsung kembali
ke pasar. Membeli bumbu-bumbu untuk membuat bakso. Dan
dengan langkah cepat kembali ke kios Ammu-Ragab. Seorang
Habiburrahman El Shirazy
136
Ilyas Mak’s eBooks Collection
pembantu Ammu Ragab membantu mengangkatkan kacang
kedelainya ke pinggir jalan raya. Ia memang belanja cukup
banyak dan berat. Ia merasa perutnya sangat lapar tapi tak ada
waktu lagi buat makan siang. Nanti saja jika sudah sampai di
rumah.
Tak lama bus enam lima datang. Namun sudah penuh
sesak. Ia urung naik. Jika ia tidak membawa barang pasti
sudah naik. Seperempat jam berlalu dan bus enam lima berikutnya
tak juga datang. Tak ada pilihan, ia harus naik taksi.
Tak ada salahnya ia realistis. Ongkos biaya produksi dalam
kondisi tertentu susah untuk ditekan. Yang jelas selama dalam
perhitungan masih ada keuntungan sesuai dengan margin
yang ditetapkan, tidak jadi problem.
Sebuah taksi melintas. Ia hentikan dan dengan cepat
terjadi kesepakatan. Sopir taksi membantu memasukkan barang-
barang belanjaan Azzam ke dalam bagasi. Azzam duduk
di depan. Taksi melaju perlahan. Menyusuri Port Said Street.
Sopir taksinya seorang lelaki gendut setengah baya. Wajahnya
bundar. Hidungnya besar. Rambutnya keriting kecil-kecil.
Khas keturunan Afrika. Kulitnya sedikit hitam, tapi tak legam.
Agaknya ia lelaki yang ramah,
"Kamu mahasiswa Al Azhar ya? "
"Benar, Paman."
"Belajarlah yang serius agar tidak susah. Agar tidak jadi
sopir taksi seperti saya "
"Memangnya jadi sopir taksi susah, Paman?"
Sopir taksi malah cerita,
"Kalau saya dulu serius belajar dan mau kuliah, pasti
sudah jadi pegawai bank dengan gaji tinggi dan tidak susah
seperti sekarang. Kalau saja..."
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
137
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam langsung memotong cerita itu. Ia tahu orang
Mesir kalau cerita pasti akan ke mana-mana. Kalau cerita
bahagia akan melangit, kalau cerita susah akan sangat melankolis.
Azzam tak mau dengar cerita itu. Ia sendiri juga sedang
susah. Maka dengan cepat ia memotong,
"E... Paman asli Cairo ya?" tanya Azzam.
"Ah tidak. Saya lahir di Sohag. Besar di Tanta dan
menikah di Cairo."
"Sudah punya anak berapa, Paman?"
"Baru satu dan baru berumur satu tahun"
"Oo."
"Yah. Saya termasuk terlambat menikah. Saya menikah
saat berumur 46 tahun. Tahu sendiri. Menikah di sini tidak
mudah."
Ini bukan kali pertama Azzam mendengar cerita seperti
ini. Di Mesir dan negara Arab lainnya, menikah memang
sangat mahal. Sehingga tidak sedikit yang terlambat menikah.
Golongan yang pas-pasan punya, tapi tidak kaya, biasanya
banyak terlambat. Baik lelaki maupun perempuan. Justru
sekalian golongan yang miskin malah banyak yang nikah
muda. Mereka menikah dengan sesama orang miskin sehingga
syarat syarat bersifat material sama-sama dimudahkan.
Banyak ulama Mesir yang menyerukan untuk memurahkan
mahar dan memudahkan syarat. Tapi seruan itu seperti
angin yang berlalu tanpa bekas. Si Ibrahim, penjual daging
langgaanannya ingin sekali segera menikah. Namun belum
juga bisa menikah karena persoalan materi.
"Saya sarankan kamu jangan sekali-kali punya pikiran
menikahi gadis Mesir." Gumam sang sopir.
"Kenapa, Paman? "
Habiburrahman El Shirazy
138
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Susah. Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen
perempuan Mesir itu menyusahkan. Keluarga mereka juga
menyusahkan."
"Ah yang benar, Pamar."
"Benar. Serius! "
"Termasuk isteri Paman? " Entah kenapa spontan ia
bertanya begitu.
"Iya. Apalagi dia. Rasanya nggak pernah dia bikin suami
bahagia, kecuali saat bulan madu dulu."
"Ah Paman bohong. Tuan rumah saya di Hay El Ashir,
seorang perempuan. Asli Mesir, Paman. Namanya Madam
Rihem. Dia sangat baik. Kepada siapa saja. Kepada kami yang
bukan siapa-siapanya, juga kepada para tetangga. Dia mem -
buat kami bahagia, Paman. Dia sangat pengertian jika kami
telat membayar uang sewa"
"Dia masuk dalam kelompok nol koma nol satu persen.
SudahIah percayalah padaku. Jangan sekali-kali berpikiran
mau menikahi gadis Mesir. Saya dengar nikah di Asia Tenggara
itu mudah. Perempuan perempuannya juga sangat taat
pada suami. Kamu orang mana?"
"Indonesiar Paman."
"Apalagi Indonesia. Sebaik-baik manusia adalah orang
Indonesia. "
"Ah Paman bisa saja basa-basinya."
Taksi terus melaju melewati MaydanAhmad Maher.
"Saya tidak basa-basi. Saya serius. Tetangga saya yang
baru haji tahun ini yang memberitahukan hal ini kepada saya.
Ia melihat selamah haji, jamaah haji yang paling lembut dan
paling penurut adalah jamaah haji Indo-nesia."
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
139
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba
matanya menangkap sesuatu di depan. Dua mahasiswi Indonesia
di pinggir jalan tak jauh dari Museum of Islamic Art.
Kelihatannya ada sesuatu dengan mereka. Keduanya duduk.
Yang satu, yang berjilbab cokelat muda kelihatannya menangis.
Sementara yang satunya, yang berjilbab biru kelihatannya
sedang berusaha menenangkan temannya. "Masya Allah,
dia kan mahasiswi yang tadi duduk di sampingku. " lirih
Azzam.
"Paman berhenti sebentar ya. Kelihatannya ada masalah
dengan mahasiswi dari Indonesia itu. " Pinta Azzam.
"Baik. Tapi jangan lama-lama ya."
"Baik, Paman. "
Azzam turun dan mendekati mereka berdua. Ia
mendengar suara sesenggukan dari gadis berjilbab cokelat
muda.
"Mm, maaf Ukhti. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?
Sapa Azzam sesopan mungkin. Beberapa orang Mesir melihat
mereka. Gadis yang berjilbab biru menjawab,
"Kami kena musibah. Dompet Ukhti Erna ini dicopet.
Tadi busnya penuh sesak. Kami berdiri dekat pintu. Saya melihat
copet itu mengambil dompet Ukhti Erna. Saya berteriak.
Si copet langsung loncat bus dan lari. Saya minta bus berhenti
dan minta orang-orang membantu mengejar pencuri itu. Tapi
mungkin sopirnya nggak dengar, soalnya kita di pintu
belakang. Kita baru bisa turun di halte depan. Kita lari ke sini
karena copetnya tadi loncat di sini. Dengan harapan ada orang
Mesir yang menangkapnya. Tapi jejaknya saja tidak ada.
Padahal dalam dompet itu ada uang dua ratus lima puluh
dollar dan tujuh puluh lima pound. Sekarang kami baru sadar,
Habiburrahman El Shirazy
140
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kami tak punya uang sama sekali. Kami tak bisa pulang.
Uangku sendiri sudah habis untuk beli kitab."
Azzam tahu kenapa mahasiswi itu sampai menangis. Dua
ratus lima puluh dollar dan tujuh puluh lima pound itu sangat
banyak bagi mahasiswa Indonesia di Cairo. Kalau bagi mahasiswa
Brunei mungkin lain.
"Sudahlah diihklaskan saja. Semoga diganti yang lebih
baik oleh Allah. Oh ya bukankah kalian tadi berlima atau
berenam?"
"Ya, tadi kami berenam. Saat pulang kami berpisah di
depan Masjid Sayyeda Zaenab. Mereka berempat naik taksi ke
Dokki, sementara kami naik bus enam lima. "
" Kalau boleh tahu, kalian tinggal di mana? "
"Di Abdur Rasul."
"O, baik. Kebetulan saya naik taksi. Bangku belakang
masih kosong. Kalian bisa ikut." Kata Azzam.
"Erna ayo sudahlah, kita ikut dia saja."
Tanpa bicara sepatah pun mahasiswi bernama Ema itu
perlahan bangkit. Azzam berjalan di depan. Ia mem-bukakan
pintu taksi. Dua mahasiswi itu masuk. Azzam melihat dua
mahasiswi itu tak membawa apa apa selain yang berkerudung
biru membawa tas cangklong hitam kecil.
"Lha buku dan kitab yang dibeli mana?" Tanya Azzam.
"Tertinggal di bus. Saat kami berdiri, kitab dalam kantong
plastik itu saya letakkan di bawah, karena agak berat.
Begitu saya melihat penjahat itu mencopet dompet Erna, saya
sudah tidak ingat apa-apa kecuali berteriak dan merebut
dompet itu kembali. Dan ketika kami turun dari bus, kitab itu
tertinggal di dalam bus." Jawab mahasiswi berjilbab biru.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
141
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"O, ya sudah. Semoga bisa dilacak." Sahut Azzam sambil
menutup pintu taksi. Taksi perlahan bergerak. Pikiran Azzam
juga bergerak bagaimana mendapatkan kembali kitab itu.
"Kitab apa saja yang kamu beli kalau boleh tahu?"
Dari belakang terdengar jawaban,
"Lathaiful Ma'arif-nya Ibnu Rajab Al Hanbali, Fatawa
Mu'ashirah-nya Yusuf Al Qardhawi, Dhawabithul Mashlahanya
Al Bulthi, Al Qawaid Al Fiqhiyyah-nya Ali An Nadawi,
Ushulud Dakwah-nya Doktor Abdul Karim Zaidan, Kitabul
Kharraj-nya Imam Abu Yusuf, Al Qamus-nya Fairuzabadi dan
Syarhul Maqashid-nya Taftazani."
Azzam tidak berkomentar. Dari jawaban yang ia dengar,
ia langsung bisa memastikan tiga hal. Pertama, total harga
kitab itu ratusan pound. Kedua, mahasiswi yang membeli kitab
itu adalah orang yang sangat cinta ilmu. Ketiga, ia kemungkinan
besar adalah mahasiswi Syari'ah.
"Busnya sudah lama jalan?" tanya Azzam.
"Kira-kira lima belas menit yang lalu."
Tiba-tiba sebuah ide berpijar di kepalanya. Bus itu mungkin
bisa dikejar jika taksi bisa memotong jalur. Apalagi bus itu
padat. Pasti lebih lambat karena akan banyak menurunkan
penumpang. Itu prediksinya.
"Paman bisa ngebut dan motong jalur ke Masjid Nuril
Khithab Kulliyatul Banat Nasr City?"
"Tentu bisa. Kebut mengebut dan memotong jalur itu
kebiasaanku waktu masih muda. "
"Lakukan itu Paman, saya tambah lima pound."
"Nggak. Kalau mau tambah sepuluh pound."
Azzam berpikir sebentar.
Habiburrahman El Shirazy
142
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Baik. "
Dan seketika taksi itu menambah kecepatannya.
Azzam memperbanyak membaca shalawat.Sementara dua
penumpang di belakangnya diam dalam rasa sedih berselimut
cemas. Tak ada yang mereka lakukan kecuali menyerahkan
semuanya kepada Allah yang Maha Menentukan Takdir.
Minggu, 12 Desember 2010
9 PERJALANAN KE SAYYEDA ZAINAB
Posted by Dini Ariani on 23.15





0 komentar:
Posting Komentar