Furqan baru saja pulang dari masjid ketika hand phonenya
berdering. Ia lihat di layar. Panggilan dari Indonesia. Ibunya.
"Ini ibu Nak."
"Ya ada apa Bu?"
"Mungkin ayah dan ibu tidak bisa ke Cairo."
"Kenapa Bu? Apa Ibu tidak ingin melihat sidang master
Furqan yang seumur hidup cuma sekali?"
Habiburrahman El Shirazy
176
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Sebenarnya ayah dan ibu sangat ingin. Tapi ini kakakmu
sedang di rumah sakit."
"Ada apa dengan kakak Bu?"
"Kakakmu pendarahan serius. Padahal usia kandungannya
baru lima bulan. Ia perlu ibu di sampingnya. Sebab suaminya
sedang ditugaskan di Aceh. Ia tidak bisa cuti untuk menunggui
isterinya."
"Kalau ibu tidak bisa, apa ayah tidak bisa ke Cairo
sendiri?"
"Ayahmu tidak mau pergi sendirian tanpa ibu. Sudahlah
kami yang di Indonesia mendoakanmu, semoga kau lulus
sidang dengan hasil terbaik. Direkam saja pakai handycam, biar
nanti ibu dan ayah bisa melihat."
"Iya Bu, baik. Semoga kakak dan janinnya selamat."
"Amin."
Ada rasa kecewa yang menyusup ke dalam hatinya. Ia
ingin sekali, sidang munaqasah tesis masternya dihadiri kedua
orangtuanya. Ia telah menyiapkan semuanya. Termasuk pergi
ke Alexandria bersama ayah dan ibunya usai sidang. Tapi
benarlah kata orang bijak, manusia boleh merancang dan
merencanakan, namun Tuhanlah yang menentukan.
Ia mengambil nafas panjang. Meskipun kecewa ia tidak
ingin rasa kecewanya mempengaruhi konsentrasinya menyiapkan
diri menghadapi pertarungan dalam sidang tesisnya.
Sudah setengah dari isi tesisnya yang ia baca. Ia merasa perlu
istirahat. Perutnya juga terasa lapar. Ia melihat jam tangannya.
Tujuh seperempat. Ia teringat undangan makan malam
Sara. Tapi ia ragu. Ia belum kenal siapa itu Sara. Ia juga
merasa undangan itu tidak-lah penting. Meskipun Sara adalah
putri Prof. Dr. Sa'duddin. Ia tak mau kehilangan fokus. Ia tak
mau ke-hilangan konsentrasi. Ia teringat pesan guru bahasa
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
177
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Inggrisnya saat di Pesantren Modern dulu. Pesan yang mem -
buatnya sangat terinspirasi dan tergugah:
The formula for succes is simp le: practice and concentration
then more practice and more concentration. (Rumus keberhasilan
adalah simpel saja, yaitu praktik dan konsentrasi kemudian
meningkatkan praktik dan meningkatkan konsentrasi).
Undangan Sara ia anggap sebagai hal yang akan merusak
konsentrasinya. Dan itu berarti hal yang akan merusak keberhasilannya.
Maka ia putuskan untuk mengabai-kannya sama
sekali. Ia memilih untuk makan malam sendiri di restaurant
hotel. Lalu kembali ke kamar untuk rileks melihat Nile TV
sebentar, lalu tidur. Ia jadwalkan jam tiga bangun.
Ia turun ke restaurant. Memilih meja yang masih kosong
di dekat jendela kaca yang menghadap ke sungai Nil. Panorama
malam sungai Nil begitu indah. Suasananya begitu
romantis. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat lamarannya pada
Anna Althafunnisa. Wajah Anna berkelebat di depan mata -
nya. Wajah yang luar biasa daya pesonanya. Ia merasa di
dunia ini tidak ada gadis yang seperti Anna. Ia sangat yakin
lamarannya akan sangat dipertimbangkan oleh Anna. Ia
bahkan yakin lamarannya diterirna.
"Ia sudah tahu reputasi dan sepak terjangku selama ini"
gumamnya.
Ia merasa akan sangat berbahagia jika suatu saat nanti
bisa makan berdua di tempat yang begitu romantis dan indah
bersama Anna. Anna yang telah ia sunting menjadi isterinya.
Ia merasa keindahan tempat itu masih kurang tanpa adanya
Anna. Ia geleng-geleng kepala sendiri.
"Ini sudah dosa. Astaghfirullah. Saya tidak boleh membayangkan
yang tidak-tidak," gumamnya dalam hati. Sementara
matanya masih asyik melihat panorama sungai Nil dengan
Habiburrahman El Shirazy
178
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lampu-lampu yang berjajar di tepinya. Indah seperti taburan
mutiara.
"Boleh saya duduk di sini?" Suara itu mengejutkan lamunannya.
Ia terhenyak sesaat. Yang berbicara dengan bahasa
Indonesia itu adalah turis Jepang yang sudah dua kali ia temui.
Rambutnya gondrong, berkaca mata minus agak tebal.
"O boleh. Silakan." jawabnya agak gugup.
"Terima kasih."
"Anda bisa berbahasa Indonesia?" tanyanya dengan nada
heran.
"Saat di SMA dulu saya pemah ikut program pertukaran
pelajar. Dan saya ditempatkan di Indonesia selama satu tahun."
"Di mana?"
"Di Yogyakarta."
"O pantas. Anda juga bisa berbahasa Arab."
"Bisa juga."
"Wah boleh juga. Berapa lama Anda belajar bahasa
Arab?"
"Satu tahun. Saya belajar bahasa Arab di Universitas
Aleppo, Suriah."
Furqan mengangguk-anggukkan kepala. Dalam hati ia
kagum dengan orang Jepang di hadapannya. Bahasa Indonesianya
bagus. Ia yakin bahasa Arabnya bagus. Bahasa Inggrisnya
sangat lancar. Sebab saat berkenalan di lift orang Jepang
itu menggunakan bahasa Inggris.
"KaIau boleh tahu, dalam rangka apa Anda berada di
Cairo ini?" tanya Furqan.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
179
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Emm pertama memang untuk jalan jalan. Saya sudah ke
Luxor, Sant Caterine, dan Alexandria. Kedua saya sedang
mengadakan penelitian sejarah."
"Penelitian apa kalau saya boleh tahu."
"Saya sedang meneliti cara beribadahnya orang orang
Mesir kuno yang menyembah matahari. Apa persamaan dan
perbedaannya dengan orang-orang Jepang yang juga mendewakan
matahari. Apa ada interaksi antara Mesir kuno dan
Jepang kuno? Apakah dewa matahari yang disembah orang
Mesir dan orang Jepang memiliki sifat-sifat dan deskripsi
yang sama. Di samping itu saya juga menemani adik saya."
"Yang bersamamu itu."
"Iya. Namanya Fujita Kotsuhiko. Anda masih ingat nama
saya?"
"Masih, nama Anda Eiji Kotsuhiko kan?"
"Ya. Ingatan Anda kuat. Anda berbakat jadi intelektual
dan ilmuwan besar."
"Terima kasih."
"Adik saya sedang tertarik pada Islam."
"Tertarik pada Islam?"
"Ya. Itu setelah dia membaca buku-bukunya Maryam
Jamela dalam bahasa Inggris. Kebetulan ia kuliah di Fakultas
Sastra, Jurusan Sastra Inggris. Kalau saya Jurusan Sejarah.
Kami sama-sama di Kyoto University. Ia ingin lebih tahu tentang
Islam. Apakah Anda bisa membantu mempertemukan dia
dengan orang yang tepat?"
"Bisa-bisa. O ya. Anda mau makan?"
"Wah iya. Karena asyik ngobrol sampai lupa makan.
Ayo."
Habiburrahman El Shirazy
180
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Keduanya lalu bangkit dan mengambil makan. Orang
Jepang itu memilih spagheti. Sedangkan Furqan memilih nasi
daging khas Yaman dengan lalap gargir dan buah Zaitun.
Minumnya ia pilih syai bil halib 52 hangat. Keduanya kembali
ke tempat semula.
"Waktu di Jogja saya paling suka makan Cap Jay rebus,"
kata Eiji.
"O ya."
"Menurutku Cap Jay rebus termasuk makanan paling
enak di dunia."
"O ya."
"Waktu di Jogja dulu saya punya langganan Cap Jay di
daerah Sapen. Belakang IAIN Suka. Cap Jay Mbah Gi-man.
Rasanya mantap."
"Wah jadi pengin ke Jogja."
"Tapi mungkin kau takkan merasakan Cap Jay Mbah
Giman."
"Kenapa?"
"Empat bulan yang lalu saya ke Jogja dan Mbah Giman
telah tiada. Yang menggantikan Mbah Giman putri bungsunya.
Namanya Minarti. Hasil masakannya tak bisa menyamai
Mbah Giman. Enak sih, tapi tetap saja tidak seenak buatan
Mbah Giman." |
"Kelihatannya Anda tahu banyak tentang Jogja ya."
52 Teh susu.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
181
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Jogja telah jadi kota kedua bagi saya setelah Kyoto. Saya
lahir dan besar di Kyoto. Dan saya sangat terkesan dengan
Jogja."
Keduanya terus berbincang sambil makan.
"Adikmu tidak makan?"
"Sebentar lagi dia datang. Dia masih asyik nonton film
Lion of Desert di kamarnya."
"Film perjuangan rakyat Libya?"
"Ya. Kami dapatkan di Attaba tadi pagi."
"Sebentar saya ambil buah Zaitun lagi."
"O ya silakan."
Furqan beranjak mengambil buah Zaitun hijau. Ketika ia
kembali, Fujita telah duduk di samping kakaknya.
"Fujita, ini Furqan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar
di Cairo University, yang berjumpa dengan kita di lift tadi
siang. Masih ingat?" kata Eiji dalam bahasa Inggris.
"Tentu," jawab Fujita sambil mengangguk pada Furqan.
"Saya sering dapat cerita tentang Indonesia dari kakak saya
ini. Tapi saya belum pernah pergi ke sana," sambung Fujita
sambil menatap Furqan.
"O ya," jawab Furqan sambil menatap Fujita sesaat. Mata
keduanya bertemu. Furqan dengan reflek menundukkan pandangannya
ke beberapa butir buah Zaitun yang ada di piringnya.
Ia harus mengakui adik Eiji itu layak jadi model. Saat di
lift ia sama sekali tidak mem-perhatikannya. Wajah Fujita
mengingatkannya pada bintang film Mandarin, Rosamund
Kwan. Tapi jauh lebih segar Fujita.
Ia merasa tidak boleh berlama-lama berbincang bincang
dengan dua Jepang kakak beradik itu. Ia bisa menakar imanHabiburrahman
El Shirazy
182
Ilyas Mak’s eBooks Collection
nya. Imannya tidak akan kuat berhadapan dengan gadis secantik
Fujita. Ia makan dengan lebih cepat. Sesaat lamanya
keheningan tercipta. Tiba tiba Fujita membuka suara,
"Dari kartu nama Anda yang Anda berikan kepada Eiji
saya tahu Anda kuliah di jurusan sejarah. Jurusan yang sama
dengan Eiji. Kalau boleh tahu, menurut Anda apa sih istimewanya
mempelajari sejarah?Apakah mempelajari sejarah tidak
hanya membuang-buang waktu, sebab membuat orang terpaku
pada masa lalu. Masa yang memang sudah hilang dan tak
perlu dibicarakan? Apa tidak lebih baik mempelajari kemungkinan-
kemungkinan untuk eksis di masa yang akan datang?"
"Itu lagi yang kau diskusikan. Bukankah sudah sering aku
jelaskan Fujita?" potong Eiji.
"Iya. Aku sudah mendengar panjang lebar jawabanmu.
Tapi menurutku terlalu teoretis. Aku belum puas. Siapa tahu
mahasiswa Cairo University dari Indonesia ini punya jawaban
lain yang lebih simpel dan membumi," debat Fujita.
Furqan memasukkan sendok terakhir ke mulutnya dan
mengunyahnya dengan tenang. Dua Jepang kakak beradik itu
menunggu apa yang akan diucapkan Furqan.
"Sejarahlah yang memberitahu kepada kita siapa sebenarnya
kedua orang tua kita. Siapa nama kakek nenek kita.
Sejarah jugalah yang memberitahu kepada kita tempat dan
tanggal lahir kita. Sejarah juga yang akan memberitahukan
kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita
lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan
memberitahukan kepada mereka bahwa kemajuan yang mereka
capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang yang
lebih dulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa
lalu sangat memungkinkan jatuh ke dalam lubang yang sama
dua kali, bahkan mungkin berkali-kali. Dan itu sungguh suatu
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
183
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kecelakaan yang pasti sangat menggelikan. Kira-kira itulah
jawaban sederhana atas pertanyaan Anda, Nona Fujita."
"Eemm. Sederhana penjelasannya, tidak teoretis, tapi dalam
muatannya. Terima kasih," tukas Pujita seraya memanggut-
manggutkan kepalanya.
Furqan melihat jam tangannya, ia harus kembali ke
kamarnya.
"Maafkan saya. Saya harus kembali ke kamar. Saya ada
pekerjaan yang harus saya selesaikan," kata Furqan undur
diri.
"Wah, sayang, sebenarnya masih ada banyak hal yang
ingin saya tanyakan. Bolehkan lain kali saya meng-hubungi
Anda?" tanggap Fujita.
"O. tentu, boleh saja. Nama dan alamat saya di Mesir dan
di Indonesia ada di kartu nama yang telah saya berikan kepada
kalian."
"Baik, terima kasih atas waktunya," kata Fujita.
"Dua bulan lagi saya ada rencana ke Bandung dan Jogia.
Semoga saat itu kau ada di Indonesia," sambung Eiji sambil
tersenyum.
"Semoga. Yang penting kalau kalian sedang berkunjung
di Indonesia hubungi saya. Kalau kebetulan saya ada di Indonesia
kalian bisa saya ajak jalan jalan di Jakarta dan sekitarnya.
Baik saya naik dulu. Mari."
"Mari!" Sahut Fujita dan Eiji hampir berbarengan.
Furqan bergegas naik. Sampai di kamar ia langsung
merebahkan tubuhnya di kasur. Keinginannya menonton Nile
TV telah hilang. Ia meniatkan diri untuk bangun jam empat.
Habiburrahman El Shirazy
184
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ketika hendak memejamkan mata, telpon kamarnya berdering.
Dengan sangat malas ia angkat,
"Siapa ya?"
"Sara."
"O Nona Sara. Maaf saya tidak bisa menghadiri undangan
Nona."
"Saya sangat kecewa! Dan saya yakin suatu saat nanti
Anda akan sangat menyesal!"
Dan klik. Telpon itu diputus. Ada nada kemarahan yang
sangat dalam pada kalimat yang didengar Furqan. Furqan
hanya menarik nafas panjang lalu kembali merebahkan badan.
Sebelum memejamkan mata, bayang-an wajah Sara hadir
sesaat lalu disapu hadirnya wajah Fujita yang sangat ketimuran.
Ia teringat lamarannya pada Anna, segera ia mengucapkan
istighfar. Lalu ter-tidur dengan bibir melepas zikir.
***
Azzam masih kerja di dapur. Sementara teman temannya
satu rumah sudah pulas. Nasir belum pulang. Masih ada satu
panci adonan bakso yang harus ia selesaikan. Tangan kirinya
belepotan adonan. Ia ambil adonan. Ia pencet. Adonan itupun
keluar dari sela ibu jari dan telunjuk-nya. Langsung berbentuk
bulat. Denga sendok yang ia pegang dengan tangan kanan ia
ambil adonan itu dan langsung ia masukkan ke dalam air
panas yang telah mendidih.
Begitulah cara membuat bola bakso yang benar. Memencet
adonan harus dengan tangan kiri. Menyen doknya
dengan tangan kanan. Kalau dibalik hasilnya tidak seperti
yang diharapkan. Itu ilmu sederhana, namun sangat penting
bagi pembuat bakso. Ilmu yang mungkin tidak ditulis dalam
buku-buku resep memasak, apalagi dalam buku-buku ilmiah.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
185
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam terus membuat bola demi bola dan memasukkannya
ke dalam air panas. Kepalanya sudah terasa panas. Mata -
nya telah merah. Tubuhnya telah minta istirahat. Tapi malam
itu juga harus selesai. Ia tidak boleh kalah oleh matanya yang
merah. Ia harus disiplin. Jika tidak, besok pagi pekerjaannya
akan menumpuk, dan akibatnya bisa berantakan. Tapi jika ia
tetap teguh disiplin dan menyelesaikan pekerjaan yang harus
selesai malam itu, maka semua akan lebih mudah. Pekerjaan
pekerjaannya yang lain akan selesai pada waktunya. Memang,
satu disiplin akan mendatangkan disiplin yang lain. Itu yang
ia rasakan.
Ia melihat jam tangannya. Sudah setengah sebelas malam.
Ia istirahat sebentar, berjalan ke balkon melihat ke jalan raya
yang tampak sepi. Tapi kedai kopi di sam-ping jalan masih
buka dan ramai.Beberapa orang duduk menghisap shisha. Yang
lain main kartu. Satu orang terli-hat duduk asyik menonton
televisi yang sedang memutar film hitam putih yang dibintangi
Fatin Hamama, bintang film legendaris Mesir. Ia
menghela nafas. Dalam hati ia berkata,
"Mereka kok bisa hidup dengan begitu santainya. Hidup
di dunia seolah sudah berada di surga. Membuang-buang waktu
dengan percuma begitu saja. Ah andai waktu me-reka bisa
aku beli dengan beberapa pound saja pasti aku beli. Sehingga
aku bisa kuliah setiap hari, membaca buku yang banyak setiap
hari tapi juga bisa membuat bakso dan tempe setiap hari."
Ia kembali ke dapur. Kembali mengakrabi adonan baksonya.
Meski mata telah merah, dan kepala terasa panas, tapi
ia merasa bahagia. Ia tidak merasakan apa yang ia lakukan itu
sebagai penderitaan.
Baginya kebahagiaan bukanlah sekadar mengerjakan apa
yang ia senangi, atau kebahagiaan adalah menyenangi apa
yang ia kerjakan. Ia yakin bahwa kekuatan yang diberikan
Habiburrahman El Shirazy
186
Ilyas Mak’s eBooks Collection
oleh Allah kepadanya lebih besar ketimbang apapun. Jadi segala
jenis pekerjaan harus diselesaikannya dengan baik dan
sempurna. Kemampuan yang diberikan Allah kepadanya lebih
besar dari tantangan yang harus diatasinya. Ia yakin Allah
selalu bersamanya. Allah sangat memperhatikannya. Dan
Allah tidak akan menyeng-sarakannya karena bekerja keras.
Justru sebaliknya, Allah akan memberikan keberkahan karena
bekerja keras.
Waktu terus berjalan. Ia mendengar pintu diketuk. Ia
beranjak ke pintu. Ia lihat siapa yang mengetuk dari lubang
yang berisi lensa pembesar di pintu. Di negeri orang kewaspadaan
harus senantiasa dijaga. Keselamatan terjaga karena
sikap yang waspada. Ternyata Nasir. la buka pintu.
"Assalamu'alaikum, Kang," sapa Nasir begitu pintu terbuka.
"Wa 'alaikumussalam. Malam sekali Sir, dari Tanta jam
berapa?" tanya Azzam sambil perlahan menutup pintu.
"E... jangan ditutup Kang, saya bawa teman, ia sedang
beli sesuatu. Tadi dari Tanta habis Maghrib," jawab Nasir.
"Teman? Orang Indonesia?" tanya Azzam menyelidik.
"Bukan. Orang Mesir. Orang Tanta."
"Orang Mesir?" Azzam kaget.
"Iya. Nggak apa-apa kan Kang? Dia orang baik kok."
"Sir, kamukan sudah lama di Mesir. Dan kamu sudah tahu
bagaimana kita harus berhati-hati! Kenapa kamu tidak minta
ijin kami dulu!" Azzam berkata tegas sebagai kepala rumah
tangga.
"Afwan Kang. Ini juga tidak saya sengaja. Kami bertemu
di Ramsis. Saya kenal baik dengannya. Saya pemah ke rumahnya
dan saya dijamu oleh keluarganya. Saya mulanya basa-basi
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
187
Ilyas Mak’s eBooks Collection
saja menawarkan dia berkunjung ke rumah dan menginap.
Saya kira dia pasti tidak mau. Ee ternyata kok mau. Lha
bagaimana lagi? Masak harus menjilat ludah sendiri. Ya sudah
akhirnya saya ajak dia."
"Kamu sembrono Sir! Kalau kau bisa menemukan jalan
keluar agar dia tidak menginap di rumah ini sebaiknya kau
lakukan! Sebagai imam di rumah ini aku tidak meng-ijinkan!"
tegas Azzam. Ia merasa, sudah menjadi tanggung jawabnya
untuk menjaga kenyamanan dan keamanan anggota keluarganya.
"Tolonglah Kang! Sekali ini saja! Apalagi kita kan harus
menghormati tamu!"
"Apa kau mengira aku tidak bisa menghormati tamu,
Sir?!" Suara Azzam meninggi. Nasir pucat Azzam adalah
orang yang dulu menjemputnya di bandara saat pertama kali
ia datang. Azzam juga yang dulu sangat sabar mengajarinya
memahami beberapa muqarrar awal-awal masuk kuliah. Ia sangat
segan kepadanya. Ia sangat takut jika Azzam yang telah
ia anggap sebagai kakaknya itu marah.
"Bukan begitu Kang. Baiklah saya akan berusaha dia tidak
menginap di sini. Tapi tidak apa-apa kan beberapa menit
dia masuk dan minum teh di sini?"
"Ya, boleh. Besok -besok lagi lebih hati-hati. Kita ini di
negeri orang, jangan banyak basa-basi kayak di kampung
sendiri! Saya ke dapur dulu menyelesaikan pekerjaan ya. Biar
sekalian saya masakkan air," kata Azzam seraya berjalan ke
dapur.
Nasir duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian seorang
pemuda Mesir, bertubuh agak gempal memakai baju hijau tua
datang. Nasir mempersilakan masuk. Pemuda Mesir itu mem -
bawa roti dan kabab.
Habiburrahman El Shirazy
188
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Teman-temanmu sudah tidur ya?" tanya pemuda Mesir
itu pada Nasir.
"Iya. Sudah malam. Tadi masih ada satu orang yang
belum tidur," jawab Nasir seraya memberi isyarat kepada
pemuda itu untuk duduk. Ia lalu menutup pintu.
"Kalian berapa orang di rumah ini?"
"Kami berenam."
"Ada berapa kamar?"
"Tiga. "
"Jadi satu kamar dua orang. Ada satu orang yang satu
kamar sendiri? Apakah itu kau?"
"Tidak. Saya juga berdua."
"Lalu nanti aku tidur sama siapa?"
"Itu gampang. Sebentar ya saya bikin teh," Nasir bangk it
ke dapur.
"Jangan lupa saya tehnya yang kental dan gulanya
banyak," seru pemuda itu.
Tak lama kemudian Nasir keluar diiringi Azzam. Tangan
Azzam telah bersih. Ia telah selesai dari pekerjaannya. Azzam
keluar dengan menyungging senyum. Pemuda Mesir itu
berdiri dengan tersenyum.
"Ana min Tanta. Ismi Wail. Wail El Ahdali." 53 Pemuda itu
menjabat tangan Azzam dan memperkenalkan diri.
"Ahlan wa sahlan. Syaraftana bi ziyaratik. Ismi Azzam.
Khairul Azzam," 54 jawab Azzam.
53 Saya dari Tanta. Nama saya Wail. Wail El Ahdali.
54 Ahlan wa sahlan. Engkau telah memuliakan kami dengan kunjunganmu.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
189
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Masya Allah. Namamu bagus sekali. Kau pasti orang
yang memiliki kemauan keras dan karakter yang kuat." Ujar
pemuda Mesir bernama Wail. Orang Mesir me-mang paling
suka memuji orang yang diajak bicara.
"Doanya. Maaf saya tinggal dulu ya. Terus terang saya
harus istirahat. Jika perlu apa-apa minta saja sama Nasir."
Azzam minta diri. Ia benar-benar lelah. Ia tidak mau terlalu
lama di ruang tamu. Sebab orang Mesir jika diajak ngobrol
bisa berjam jam tidak selesai.
"Tidak makan roti dan kabab ini bersama kami?" Wail
berusaha menahan.
"Terima kasih. Saya masih kenyang. Saya tinggal dulu
ya." Jawab Azzam sambil tersenyum.
"Ya. Terima kasih. Semoga istirahatmu nyaman," jawab
Wail.
Sebelum masuk kamar Azzam sempat berkata pada Nasir
dengan bahasa Jawa,
"Sir, ojo lali yo. Ojo kok inepke neng kene. Ora tak ijini! Wis
aku tak turu ndisik!" 55
Nasir mengangguk. Azzam mengangguk sekali lagi ke
Wail. Wail pun mengangguk dengan tersenyum.
Dalam hati Azzam minta maaf melakukan hal itu. Tetapi
ia merasa sudah menjadi tugas dan kewajibannya menja-ga
keamanan rumahnya. Bukan ia berburuk sangka pada pemuda
Nama saya Azzam. Khairul Azzam.
55 Sir, jangan lupa. Jangan kauinapkan di sini. Tidak aku ijinkan. Sudah, aku tidur dulu!
Habiburrahman El Shirazy
190
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Mesir itu, tetapi bersikap waspada adalah jalan terbaik untuk
tidak berburuk sangka pada siapa saja.
Minggu, 12 Desember 2010
12 RUMUS KEBERHASILAN
Posted by Dini Ariani on 23.11





0 komentar:
Posting Komentar