Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

21 RATAPAN HATI

Pada saat Furqan menghadapi sidang munaqasah tesisnya,
Anna terbang meninggalkan Cairo. Furqan kecewa ketika
ia tahu Anna tidak menghadiri sidang munaqasah tesisnya.
Para penguji yang terdiri atas tiga guru besar dari dalam dan
satu guru besar dari luar universitas memberi nilai mumtaz
atau summa cumlaude pada Furqan.
Puluhan mahasiswa Indonesia yang menghadiri sidang
munaqasah itu meneriakkan takbir. Furqan menangis haru. Ia
berdiri memeluk satu per satu guru besar yang mengujinya.
Di antara guru besar itu adalah Prof. Dr. Sa'duddin, orang
yang oleh Sara diaku sebagai ayahnya, tapi Furqan meragukannya.
Ketika memeluk Prof. Dr. Farhat Shahin, yang tak
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
275
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lain adalah pembimbing utamanya ia menangis terisak-isak
sambil mengucapkan terima kasih tiada terhingga.
Selesai acara munaqasah Furqan didekati Prof.Dr. Sa'duddin.
"Maaf, Anakku, di Indonesia kau tinggal di mana?" tanya
Profesor Sa'duddin.
"Di Jakarta, Profesor. Ada yang bisa saya bantu? Kelihatannya
agak penting." Jawab Furqan.
"Saya sebenarnya ingin banyak menggali informasi tentang
kondisi sosial dan budaya Jakarta. Beberapa hari yang
lalu saya minta putri saya, Sara, untuk mengundangmu makan
malam. Tapi mungkin kamu sedang tidak ada waktu."
"Jadi Sara itu benar putri profesor?"
"Iya.Benar. Ia suka sekali dengan orang-orang Indonesia.
Katanya ramah-ramah. Ia pernah ke Jakarta dan Malang. Ia
sangat terkesan."
Furqan baru tahu bahwa sikapnya yang meragukan Sara
sebagai putri penulis terkenal itu sama sekali tidak bisa dibenarkan.
"Maafkan saya,saat itu saya tidak bisa menerima undangan
profesor. Tapi, insya Allah, saya siap membantu profe-sor
sebatas kemampuan saya."
"Terima kasih sebelumnya. Nanti kapan-kapan saya akan
menghubungimu. Kau ada kartu nama?"
Furqan meraba sesuatu di saku celananya. Ia mengambil
dompetnya dan mengeluarkan kartu namanya.
"Ini profesor. Sekali lagi maafkan saya. Salam buat Sara,
juga sampaikan beribu-ribu maaf saya padanya. "
Habiburrahman El Shirazy
276
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Sudahlah kau tidak melakukan kesalahan apapun pada
kami. Tak ada yang harus dimaafkan. Oh ya saya perlu banyak
informasi mengenai Indonesia dan Jakarta karena saya akan
dikirim untuk bertugas di Kedutaan Republik Arab Mesir di
Jakarta."
"Benarkah?"
"Iya. Insya Allah saya berangkat ke Indonesia bulan depan."
"Wah, saya senang mendengarnya. Selamat datang di Indonesia
profesor. Semoga nanti betah di sana dan bisa menunaikan
tugas dengan baik. Sara ikut?"
"Tentu. Dia yang paling senang mendengar kabar ini. "
"Yah sekali lagi ahlan wa sahlan di Indonesia. Jika ada
yang bisa saya bantu akan saya bantu, insya Allah," jawab Furqan
dengan hati gembira.
Hari itu Furqan sangat bahagia, sesaat ia melupakan masalahnya.
Malam harinya ia mengadakan syukuran di rumahnya.
Para mahasiswa yang mengenalnya silih berganti berdatangan
mengucapkan selamat kepadanya. Di milist-milist kalangan
mahasiswa Indonesia di Cairo terkirim puluhan tahniah
dan ucapan selamat.
Azzam yang mendapat kabar Furqan telah menyelesaikan
S.2-nya turut larut dalam bahagia. Siang itu ia tidak bisa
menghadiri munaqasah, maka malam itu ia menyempatkan datang.
Begitu Azzam muncul di rumahnya Furqan langsung
merangkulnya dengan hangat.
"Alfu mabruk, Akhi. Semoga ilmu yang kau dapat bermanfaat.
Maaf tadi siang aku tak bisa datang ke sidang munaqasahmu,"
ucap Azzam.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
277
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Tak apa. Terima kasih malam ini kau datang. Kau masih
dengan kesibukan bisnismu ya?" tanya Furqan.
"Iya. Doakan tahun ini aku lulus, aku merencanakan pulang,"
jawab Azzam santai.
"Apa kita pulang satu pesawat, sebagaimana dulu kita
berangkat ke sini satu pesawat hehehe...?" gurau Furqan.
"Boleh, kalau kau bisa menunggu sampai aku selesai
ujian."
Nasir yang saat itu juga ada di situ langsung menyahut,
"Mas Furqan sudah beli tiket Ka ng. Pekan depan dia
pulang."
Azzam langsung menukas,
"Pasti sudah tidak sabar untuk segera menikah hehehe..."
"Lha apa lagi yang ditunggu? Umur sudah cukup. Gelar
M.A. sudah diraih. Mobil tinggal pakai. Rumah di Jakarta telah
tersedia. Gadis manapun yang dilamar pasti akan menerima
dengan kedua tangan terbuka. Kalau tidak segera menikah
nanti malah banyak dosa," sahut Nasir.
Furqan hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ingatannya
langsung terbang ke Indonesia. Ia langsung teringat
Anna. Ia semakin kukuh dengan keputusannya untuk pu-lang
dan langsung melamar Anna kepada kedua orang tuanya.
"Lha kalau Sampeyan kapan rencana nikahnya Kang
Azzam?" Nasir gantian bertanya pada Azzam.
Azzam sedikit kaget, tapi langsung menjawab dengan
gurauan,"Insya Allah nanti kalau sudah punya warung bakso
minimal tiga dan dua pabrik tempe di Indonesia. Serta punya
mobil Escudo dua. Biar kalau melamar gadis juga tidak ditolak
hehehe..."
Habiburrahman El Shirazy
278
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Semua yang ada di situ langsung tertawa mendengarnya.
"Ayo Akh, makan seadanya." Furqan mempersilakan
Azzam untuk makan sambil menunjuk ke arah pelbagai jenis
makanan yang telah terhidang secara prasmanan.
"Wah kayaknya ada Coto Makasar. Boleh juga," seru
Azzam.
"SilakanAkh, seadanya. Coto Makasarnya itu dibikin oleh
teman-teman yang tinggal di sekretariat KKS." 65
Azzam jadi ingat kalau Furqan memang memiliki darah
Sulawesi. Meskipun ia lahir dan besar di Jakarta. Ayahnya asli
Makasar. Ibunyalah yang asli Betawi. Karena memiliki dua
darah itulah, darah Betawi dan Makasar, ia dulu bisa terpilih
menjadi Ketua Umum PPMI. Sebab ia mendapat dukungan
penuh dari KPJ 66 dan KKS.
Tamu yang datang ke rumah Furqan semakin banyak.
Beberapa orang dari KBRI juga datang. Semua larut dalam
bahagia dan gembira. Setiap kali ada yang selesai S.2 atau S.3
selalu disambut bahagia dan bangga oleh mahasiswa Indonesia.
Dengan hadir di acara syukuran itu semangat belajar
Azzam kembali membara. Dulu, dirinya dan Furqan satu
pesawat. Setengah tahun perta-ma tinggal satu rumah. Dan di
tahun pertama ia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang
jayyid jiddan, sementara Furqan naik tingkat dengan predikat
hanya maqbul.
Namun, kini Furqan sudah meraih gelar masternya. Sementara
dirinya S.1 belum juga selesai. Dadanya sebe-narnya
membara juga. Lebih membara lagi saat dia ingat gara-gara
keterlambatannya meraih gelar akademis ia di-anggap tidak
65 Kerukunan Keluarga Sulawesi.
66 Kesatuan Pelajar Jakarta.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
279
Ilyas Mak’s eBooks Collection
layak melamar Anna. Dan gadis yang kini jadi bintang
bersinar itu juga akan disunting oleh Furqan.
Namun ia segera sadar, ia harus menata hati. Ia harus
sadar bahwa keadaan dirinya dan Furqan sangatlah berbeda.
Furqan serba cukup bahkan berlimpah. Sementara dirinya harus
memeras keringat dan berdarah-darah. Ia sadar semuanya
Allah yang mengatur. Ia berusaha menyejukkan hatinya bahwa
prestasi tidak hanya terbatas pada meraih gelar akademis
formal.
Ia bisa bertahan hidup mandiri sekian tahun di Cairo apakah
bukan suatu prestasi? Ia teringat surat dari adiknya. Husna
telah sarjana, bahkan telah menyelesaikan program profesinya
sebagai psikolog. Lia telah menyelesaikan PGSV-nya
dan telah mengajar. Hatinya terhibur dan terasa sejuk. "Orang
bisa memiliki prestasinya masing-masing," katanya pada
dirinya sendiri.
Dan tentang jodoh. Allahlah yang mengatur. Di muka
bumi ini perempuan salehah tidak hanya satu. Tidak hanya
Anna. Jutaan perempuan salehah tersebar di muka bumi ini.
Kenapa harus kecil hati. Kalau Anna memang jodohnya
Furqan, dan Allah yang mengaturnya, kenapa ia harus tidak
rela. Kenapa ia tidak yakin bahwa Allah akan menyediakan
jodoh yang terbaik untuknya, yang lebih dari Anna Althafunnisa?
Yang jelas, dengan bersilaturrahmi ke rumah Furqan ia
mendapatkan satu manfaat yang cukup besar, yaitu munculnya
kembali idealismenya yang sudah lama terkubur. Tahun ini ia
ingin selesai S.1 dari Al Azhar dengan predikat jayyid. Langsung
pulang ke Tanah Air. Langsung bekerja, wirausaha,
paling tidak ia bisa membuat warung bakso di Kartasura. Jika
ada waktu ia akan langsung melanjutkan S.2. Tidak harus
muluk-muluk. Bisa S.2 di Solo, Semarang atau Jogja. Menikah.
Habiburrahman El Shirazy
280
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Lalu membuat rencana-rencana bersama isterinya untuk masa
depan ke-luarganya.
Ia mentargetkan minimal ia berpendidikan S.2. Tapi ia
memiliki satu obsesi, yaitu harus kaya! Ia sudah terlanjur
dikenal sebagai businessman di Cairo, tidak dikenal seba-gai
aktivis kelompok studi, maka sekalian ia tak mau kepalang
tanggung, ia harus jadi businessman yang disegani di Indonesia
nanti. Biarlah teman temannya nanti ada yang menjadi guru
besar, pemikir besar, kiai besar, mubaligh besar, sementara ia
ingin menjadi konglomerat besar.
Itulah obsesinya yang muncul saat itu. Jika jadi konglomerat
besar ia bisa berjihad di jalan Allah dengan hartanya
seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Dan ia
akan tetap berusaha mengamalkan ilmu yang didapatkan selama
belajar di Mesir sebisa mungkin. Ia jadi ingat Imam Abu
Hanifah. Bukankah Imam Abu Ha -nifah adalah seorang imam
yang juga seorang kong-lomerat terkemuka di jamannya?
***
Sementara di Mutsallats, Fadhil didera oleh rasa penyesalan
mendalam atas sarannya kepada Tiara. Apalagi setelah
tahu bahwa Tiara sebenarnya sangat mengharapkannya. Ia
merasa, sebenarnya ia bisa meralat perkataannya secepatnya.
Namun rasa tinggi hatinyalah yang mencegahnya. Ia berteduh
di bawah alasan seorang lelaki tidak akan mencabut apa yang
telah dikatakannya. Kini kata hatinya tidak bisa diingkarinya.
Ia sebenarnya juga mengharapkan hal yang sama dari Tiara.
Ia merasa telah melakukan satu kesalahan tak termaafkan dengan
menegaskan agar Tiara tidak menolak lamaran Zulkifli.
Ia menyesal, tapi tak berdaya.
Sebenarnya, yang lebih bijak menurutnya, setelah ia tahu
Tiara mencintainya, adalah memberikan kebebasan kepada
Tiara untuk memberikan pilihannya. Ia tetap memberikan
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
281
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kesaksian yang adil tentang kredibilitas Zulkifli, temannya di
pesantren dulu. Namun ia juga memberikan ruang yang
terbuka kepada dirinya sendiri untuk dipilih oleh orang yang
mencintainya.
Tadi sore Cut Mala, adiknya, menelpon dirinya bahwa
Tiara sudah menerima lamaran Zulkifli. Pernikahan akan
diselenggarakan setelah ujian. Ayah Tiara, Zulkifli dan ayah
ibunya akan datang ke Cairo. Pernikahan akan dia-dakan di
Cairo. Dan seluruh anggota KMA nanti pasti akan diminta
untuk membantu mengurus segalanya. Fadhil terbakar oleh
rasa penyesalannya. Ia adalah koordinator sekaligus vokal
grup nasyid Nanggroe Voice yang menjadi kebanggaan warga
KMA di Cairo. Pastilah ia nanti akan diminta menjadi penghibur
dalam pesta walimah Tiara dan Zulkifli. Hatinya terasa
perih. Ia ber-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia mampu
menghadapi hal itu. Batinnya pilu. Ya. Di dadanya, beriburibu
genderang kepiluan mengalun bertalu -talu.
Fadhil mondar-mandir sendirian di kamarnya. Sejak pulang
dari rumah sakit ia tidak pergi ke mana-mana kecuali ke
masjid yang tak jauh dari apartemennya. Segala perkembangan
yang terjadi di dunia luar ia ikuti dari cerita temantemannya.
Ia kelihatan tenang, tak ada yang tahu kalau dia
sedang didera pilu tiada tara. Adiknya pun tak tahu kalau ia
sejatinya sedang membutuhkan pelipur lara. Cinta yang tak
berlabuh di tempatnya, sungguh menyiksa.
Fadhil menatap diktat-diktat kuliahnya dengan pandangan
hampa. Tak ada semangat membara untuk mengu-nyahnya
seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada target yang melecut
seperti biasanya. Beberapa kali ia mengutuk dirinya sendiri,
betapa dungu akal pikirannya. Terkadang muncul rasa berdaya,
rasa bisa mengatasi segala, rasa untuk tidak mundur dari
apa yang telah diputuskannya.
Habiburrahman El Shirazy
282
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Namun rasa menyesal datang bagai badai yang membuatnya
terpelanting tiada berdaya. Lebih dari itu, ia juga
didera rasa berdosa, "Pastilah Tiara merasakan sakit yang lebih
dari yang aku rasa. Pastilah ia merasakan kekecewaan
tiada terkira!" Ia meratap sendiri. Ia berharap andai waktu bisa
diputar ke belakang beberapa hari saja. Ia akan melamar Tiara
sebelum gadis itu mengabar-kan dilamar oleh orang lain.
Andai saja...
Tiba-tiba ia ingat beberapa tahun yang lalu sebelum ia
berangkat ke Mesir. Setelah lulus dari pesantren, ia ditu gaskan
untuk mengabdi di Pesantren Daarul Hikmah, Meulaboh.
Ia mengajar hanya setengah tahun. Mengajar di kelas dua
Madrasah Aliyah. Di kelas itulah ia menemukan murid perempuan
yang cerdas dengan wajah biasa saja, tapi memiliki
pesona yang kuat. Murid itu adalah Tiara. Setelah itu ia pergi
ke Mesir.
Tak disangka ternyata Tiara menyusulnya kuliah di
Cairo. Dialah yang dulu ke sana kemari mengurus administrasi
Tiara masuk Al Azhar University. Dia pula yang menca -
rikan rumah. Dia pula yang mempertemukan Tiara dengan
Madam Zubaida pemilik flat mewah di Masakin itu. Sehingga
akhirnya Tiara dan teman-temannya pin-dah ke flat itu sampai
sekarang. Dia pula yang mengusa-hakan Tiara bisa mendapat
beasiswa.
Dan tatkala Cut Mala datang, ia titipkan adiknya itu pada
Tiara. Selama ini ia bersikap wajar dan biasa. Ia tidak mengisyaratkan
rasa simpatik dan tertariknya pada Tiara. Apalagi
isyarat cinta. Namun sungguh, ia tidak bisa membohongi hatinya
sendiri bahwa sejak mengajar di pesantren dulu, ia sudah
menaruh hormat, bangga dan juga cinta pada mahasiswi Al
Azhar yang memiliki lesung pipi kalau tersenyum itu. Ia
mengenang sejuta ke-nangan dengan hati tak tenang. Amboi...
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
283
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Mengingat itu semua jiwanya seperti terbakar. Api penyesalan,
api kecemburuan, api cinta tak kesampaian, api pem -
bodohan atas keputusan diri sendiri yang tak berpenghabisan,
semuanya menyatu jadi satu, membumbung ke awan biru.
"Astaghfirullaaah!!" Fadhil menjerit dan meninjukan tangannya
ke tembok kamarnya. Ia merasa hatinya seakan mau
pecah dan hancur. Ia lalu duduk perlahan, sejurus kemudian
menelentangkan tubuhnya di atas karpet. Air matanya bercucuran.
Wajah Tiara berkelebatan di pikiran. Setiap kali
datang berkelebat, seolah menancapkan satu duri di hati. Terasa
perih dan nyeri. Telpon di ruang tamu berdering-dering.
Ia berdiri pelan-pelan. Begitu ia angkat, telpon itu mati. Ia
menghela nafas dalam-dalam. Ia letakkan gagang telpon itu
kembali. Telpon berdering lagi. Ia angkat,
"Ya."
"Assalamu'alaikum, ini Mala Kak."
"Ada apa Dik?"
"Ingin memastikan saja, kalau kakak baik-baik saja."
"Ya kakak baik-baik saja kok Dik."
"Sudah dibaca semua muqarrar-nya Kak?"
"Ada yang sudah, ada yang belum. Kamu sendiri bagaimana
Dik?"
"Alhamdulillah semua muqarrar sudah Mala baca. Sekarang
mulai meringkas."
"Alhamdulillah. Oh ya bagaimana kabar Tiara?" tanya Fadhil
sambil kaget pada dirinya sendiri kok tiba tiba menanyakan
kabar Tiara. Hal yang selama ini tidak pernah ia
lakukan. Biasanya adiknya yang tanpa dia minta bercerita.
Habiburrahman El Shirazy
284
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Seperti yang kakak tahu, Kak Tiara sudah menerima
lamaran Ustadz Zulkifli. Namun entah kenapa Kak Tiara
sepertinya murung saja Kak. Kayaknya ia kecewa pada Kakak.
Mala tahu persis kalau Kak Tiara itu memang sungguhsungguh
menaruh hati pada Kakak."
Mendengar hal itu, air mata Fadhil meleleh. Satu persatu
air matanya jatuh ke lantai. Namun entah kenapa setiap kali
berbicara di telpon muncul sifat tinggi hatinya.
"Semoga dia bisa menerima kenyataan yang ada. Bukankah
Al-Quran menjelaskan tidak semua yang diharap manusia
itu akan ia dapat. Insya Allah, Zulkifli akan menjadi yang
terbaik baginya."
"Iya Kak. Ini dulu ya. Jangan lupa jaga kesehatan ya Kak.
Assalamu'alaikum."
"Wa 'alaikum salam wa rahmatullah."
Fadhil meletakkan gagang telpon. Telinganya masih penuh
dengan kata -kata adiknya tentang Tiara: "Namun entah
kenapa Kak Tiara sepertinya murung saja Kak. Kayaknya ia
kecewa pada Kakak. Mala tahu persis kalau Kak Tiara itu
memang sungguh-sungguh menaruh hati pada Kakak."
"Astaghfirullah, aku telah menyakiti orang lain dan menyakiti
diriku sendiri. Rabbana zhalamna anfusana wa in lan
taghfir lana wa tarhamna lanakuunanna minal khasi-riin." Ratap
Fadhil dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design