Seluruh mahasiswa Al Azhar, termasuk yang dari Indonesia
sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir tahun.
Ujian kenaikan tingkat. Bagi yang tingkat empat berarti ujian
kelulusan S. 1.
Azzam benar-benar belajar dengan serius. Ia meringkas
materi Tafsir Tahlili, sama seperti ketika ia tingkat satu dulu.
Ringkasannya itu telah ia kuasai di luar kepala. Ia benar-benar
siap menyongsong ujian. Ia benar-benar siap untuk lulus.
Teman-teman satu rumahnya, semuanya su-dah sampai pada
tahap konsentrasi penuh. Sudah siaga satu menghadapi ujian.
Fadhil sudah bisa menguasai dirinya untuk sementara
waktu. Masalahnya dengan Tiara sementara terlupakan dengan
sendirinya. Nasir sudah sering di rumah. Ia sudah lebih
tenang. Kasusnya berkaitan dengan Wail El Ahdali tak lagi
Habiburrahman El Shirazy
296
Ilyas Mak’s eBooks Collection
mengganggu pikirannya. Seorang maba-hits telah menemuinya
di rumahnya dan tidak bisa membuktikan ia terkait dengan
jaringan yang dicurigai pemerintah Mesir. Nanang berjuang
keras menghafalkan muqarrar Al-Qurannya. Ia harus lancar
enam juz. Sementara Ali seperti biasa, jika menghadapi ujian,
sering itikaf di Masjid Musa bin Nushair Hayyu Sabe'. Berangkat
jam sembilan pagi pulang jam delapan malam. Sementara
nun jauh di Katamea sana, Hafez sudah meringkas hampir
semua materi mata kuliah yang diujikan. Hafez sudah menemukan
kembali jati dirinya.
Di Masakin Utsman, Cut Mala dan teman-temannya sudah
jarang keluar rumah. Mereka sibuk dengan diktat masingmasing.
Semua sibuk menghadapi ujian. Semua tegang. Kecuali
Furqan. Ia sibuk menata barang-barangnya ke dalam kopernya.
Lusa dia akan terbang ke Indonesia. Keluarganya sudah
menunggunya. Mereka akan menjemputnya di Bandara
Soekarno-Hatta. Ibunya bahkan mengabarkan telah mempersiapkan
syukuran besar-besar atas prestasi-nya meraih predikat
summa cumlaude untuk gelar masternya.
Furqan sangat berbunga-bunga. Rasanya ia tidak sabar
menunggu satu hari saja. Ia ingin segera sampai ke Indonesia.
Jumpa keluarga. Syukuran. Lalu terbang ke Jogja dan berkunjung
ke rumah Anna Althafunnisa di Klaten sana.
Biasanya, orang yang mau pulang ke Tanah Air didatangi
oleh banyak teman. Baik yang cuma sekadar menjenguk
untuk memberikan sekadar doa selamat, maupun yang datang
untuk menitip sesuatu. Namun suasana di rumah Furqan
sangat sepi. Di rumah itu ia cuma sendiri. Rumah tiga kamar
itu hanya dihuni oleh tiga orang. Masing-masing menempati
satu kamar. Tiga orang itu adalah Furqan, Abduh dan Maftuh.
Ketiganya orang Jakarta. Dan ketiganya anak orang kaya.
Abduh sedang ke Dokki. Adapun Maftuh sedang ke Thub
Ramli.
Tak ada yang datang hari itu. Mungkin karena para
mahasiswa sedang konsentrasi belajar. Atau mungkin karena
Furqan sangat sering pulang. Tiap tahun pulang dua kali. Jadi
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
297
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tidak ada yang istimewa dengan kepulangannya. Mereka
menganggapnya hal yang biasa. Berbeda jika mahasiswa lain
yang pulang. Yang lima tahun tidak pernah pulang terus mau
pulang ke Tanah Air untuk selamanya. Terasa istimewa.
Maka banyak yang menjenguknya.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Furqan
merapikan kamarnya. Ia sangat berharap secepatnya kembali
lagi ke Cairo dengan membawa Anna Altha-funnisa sebagai
isterinya. Ia dan kedua temannya sudah sepakat bahwa siapa
yang duluan menikah berhak menempati rumah itu. Dan yang
tidak menikah terpaksa harus pindah. Ia yakin ialah yang akan
menempati rumah itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Masya Allah, aku belum membeli mushaf khusus untuk
mahar," lirihnya pada diri sendiri. "Insya Allah nanti bakda
Ashar aku akan ke Darussalam dan membeli mushaf untuk
mahar yang terbaik dan termahal untuk Anna," gumamnya.
Sayup-sayup ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Ya.
Benar. Ia membuka pintu kamarnya dan keluar untuk mem -
buka pintu. Begitu pintu terbuka ia agak kaget. Seorang berpakaian
polisi. Setelah memberi salam polisi itu bertanya,
"Anda yang bernama Furqan?"
"Ya benar. Ada apa ya?"
"Saya diminta oleh Kolonel Fuad untuk membawa Anda
ke kantornya sekarang. Penting!" Kata polisi itu dengan nada
tegas dan terasa kurang ramah. Furqan jadi bertanya-tanya
dalam hati; ada apa gerangan? Apa yang ter-jadi?
"Sekarang?!" Furqan meminta ketegasan ulang.
"Ya sekarang juga! Saya tunggu!" jawab polisi itu.
"Baiklah."
Furqan masuk ke kamarnya untuk ganti pakaian. Lalu
keluar dan meluncur ke Abbasea bersama polisi itu.
Sampai di Abbasea ia disambut oleh Kolonel Fuad.
Habiburrahman El Shirazy
298
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Maaf mengganggumu Furqan.Tapi ini prosedur standar
dan ini penting," kata Kolonel Fuad sambil mengisyarat-kan
Furqan untuk duduk.
"Saya tidak paham dengan yang Kolonel maksud," tukas
Furqan bingung.
"Aku tahu kau besok pagi mau pulang ke Indonesia. Tapi
sayang rencana kepulanganmu agaknya harus tertunda."
"Apa maksud Kolonel! ?"
"Kau harus periksa darah dulu!"
"Kenapa untuk pulang saja harus periksa darah. Kalian
jangan membuat peraturan yang mengada-ada. Mentang
mentang ini negara kalian ya!" Furqan emosi mendengar
perintah Kolonel Fuad yang baginya sangat tidak masuk akal.
"Tenanglah dulu Furqan. Akan aku jelaskan duduk persoalannya.
Aku sebenarnya tak ingin merepotkan siapa saja.
Atau mencegah seseorang pulang ke negaranya. Tapi untuk
kebaikan bersama, kebaikan bagi kamu, teman-teman kamu,
negara kamu dan negara kami, maka prosedur ini harus dijalani.
Begini Furqan, penyelidikan kami menemukan hal yang
sangat tidak kita inginkan bersama. Perempuan brengsek
yang mengaku sebagai Miss Italiana itu memang benar-benar
orangnya Mosad. Selain dikirim ke Mesir ini sebagai mata -
mata, ternyata ia juga ditugaskan untuk merusak masyarakat
negeri ini. Korbannya ternyata sudah puluhan. Ada yang jadi
korban amoralnya dalam arti yang sesungguhnya. Ada yang
cuma menjadi korban intimidasinya. Lha kami tidak tahu
kamu ini termasuk jenis yang mana. Kamu tergolong yang
menjadi korban intimidasinya saja atau juga korban amoralnya?"
Furqan diam di tempat duduknya. Mendengar penjelasan
Kolonel Fuad itu tiba-tiba ada aliran kecemasan yang menyusup
ke dalam dadanya.
"Bisa lebih jelas lagi maksud Kolonel dengan korban
amoral dan korban intimidasi?" tanyanya.
Kolonel Fuad mengusap mukanya lalu menjawab.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
299
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Aku harap kau tidak kaget dengan penjelasanku ini.
Perempuan bule itu nama aslinya adalah Golda Olmetz. Ia
seorang pelacur profesional di Tel Aviv yang diambil Mosad
sebagai tentaranya. Perempuan itu seorang peng-idap AIDS.
Ia ditugaskan ke Mesir memang untuk menu-larkan virus itu
pada penduduk Mesir."
Mendengar hal itu muka Furqan langsung pucat pasi.
Bibirnya biru.Badannya dingin. Tulang-tulangnya seperti dilolosi.
Ia diam seribu bahasa. Kolonel Fuad melanjutkan
keterangannya,
"Sudah puluhan orang yang menjadi korban kebejatan
dan kejahatan Golda Olmetz ini. Hampir semuanya yang
pernah difoto bugil bersamanya terkena AIDS. Namun kami
juga menemukan ada empat orang yang tidak tertulari AIDS,
hanya menjadi korban intimidasi saja. Saya tidak tahu kamu
masuk kriteria korban yang mana. Sebab menurut ceritamu,
saat itu, kamu tidur tidak merasakan apa-apa, tiba-tiba bangun
dalam keadaan nyaris tak berbusana, dan menemukan foto itu.
Lha saat kamu tidur itu apa yang dilakukan perempuan itu
kepadamu kan kita tidak tahu. Untuk memastikan, kamu harus
periksa darah dulu."
Tubuh Furqan seperti lumpuh. Dunia terasa sangat menakutkan.
Langit seolah mau runtuh menimpanya. Tanpa
terasa airmatanya mengalir di pipinya. Kolonel Fuad menatap
wajah Furqan yang sayu kehilangan harapan hidupnya. Maka
ia berusaha sedikit menenangkan,
"Aku tahu berita ini sangat berat bagimu Furqan. Tapi
kamu harus tegar menghadapinya. Aku percaya sepenuh-nya
kau orang baik. Kau hanya korban. Semoga kau tetap bersih
tidak tertulari virus AIDS itu. Jika ternyata kau terkena AIDS,
kau adalah orang yang beriman. Itulah takdirmu. Kau harus
sabar menerimanya. Kau akan diantar Sersan Shabur ke Ru -
mah Sakit Ains Syams untuk periksa darah. Semua biaya kami
yang menanggung. Tiga hari lagi akan ketahuan hasilnya.
Sekarang kau boleh berangkat." Kata Kolonel itu lalu memanggil
anak buahnya. Lalu Furqan dibawa ke Rumah Sakit
Ains Syams untuk diambil darahnya guna diperiksa. Tiga hari
Habiburrahman El Shirazy
300
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lagi ia diminta datang untuk mengambil hasilnya. Dari rumah
sakit Furqan langsung diantar pulang ke flatnya.
Begitu ia tiba di kamarnya, Furqan tak kuasa menahan
tangisnya. Ia menangis meraung-raung seperti anak kecil.
Untunglah saat itu hanya ia sendiri yang ada di rumah itu. Ia
merasakan kecemasan yang paling hebat. Kecemasan yang
belum pernah ia alami sebelumnya. Ia juga merasakan keta -
kutan yang luar biasa. Ketakutan yang juga belum pernah ia
alami sebelumnya. Dan ia juga mengalami kesedihan yang
nyaris membinasakannya. Ia merasa menjadi manusia paling
sengsara di dunia. Ia menangis sambil menyebut-nyebut nama
Allah.
"Ya Allah, ya Allah, ya Allah! Ya Allah kasihanilah hamba-
Mu yang lemah ini ya Allah!"
Ia tak tahu harus berbuat apa saat itu. Dan ia tidak kuat
membayangkan jika hasil test darah itu memvonisnya positif
terkena HIV. Hancur sudah masa depannya. Jika itu yang
terjadi, ia merasa akan menjadi bangkai yang berjalan. Ia akan
dianggap lebih menjijikkan dari kotoran dan lebih busuk dari
sampah yang paling busuk. Jika itu yang terjadi, ia merasa
riwayatnya telah tamat sebelum ia mati.
Ia terus meratap kepada Allah.
Ia baru merasa betapa lemah, kerdil dan tiada berdaya
dirinya. Semua rasa optimisnya lenyap. Ka lkulasi-kalkulasi
dan prediksi-prediksinya yang selarna ini ia agungkan sebagai
pilar paling vital untuk menentukan hukum-hukum takdir
yang diyakininya sama sekali sirna. Tak ada lagi kalkulasi matematis.
Tak ada lagi hitung-hitungan strategis. Tak ada lagi
prediksiprediksi logis. Semua lenyap di hadapan rasa cemas,
takut dan sedih tia-da terkira. Semuanya lenyap di hadapan
kenyataan yang dialaminya.
Begitu cepat kondisi berubah. Baru saja ia merasa sangat
optimis, sangat yakin akan memboyong Anna Althafun-nisa
sebagai isterinya ke Cairo dan menempati rumahnya, ia
bahkan merencanakan akan membeli mushaf mahar paling
baik dan paling mahal untuk Anna, tiba-tiba semua berubah.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
301
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Rasa optimisnya tak tersisa sedikit pun. Yang ada hanya rasa
takut dan sedih tiada terkira.
Ia merasa begitu kecil dan kerdil. Begitu tidak ada artinya.
Ia baru merasa bahwa manusia sesungguhnya tidak bisa
menentukan takdirnya. Manusia sama sekali tidak bisa som -
bong bisa menentukan takdirnya. Kewenangan yang diberikan
Tuhan untuk manusia hanyalah berikhtiar dan berusaha.
Adapun takdir sepenuhnya ada-lah hak dan keputusan Tuhan
Yang Maha Kuasa. Tuhan-lah yang berhak memutuskan
segala-galanya. Dan Dialah Yang Maha Pemberi keputusan
lagi Maha Menge-tahui. 68
68 QS. Saba' (Kaum Saba') [34]: 26.
Minggu, 12 Desember 2010
23 PERIKSA DARAH
Posted by Dini Ariani on 23.00





0 komentar:
Posting Komentar