Berulang kali Eliana menelpon kamar Azzam. Tak ada
yang menjawab. Ia ingin membuat perhitungan dengan Azzam.
Kata-kata Azzam tadi malam ia anggap sangat merendahkannya.
Ia sangat tersinggung. Apalagi tadi malam pemuda
kurus itu memutus pembicaraan dengannya secara sepihak.
Siapa dia berani-beraninya berlaku tidak sopan padanya? Baginya
tindakan Azzam itu tidak hanya tidak sopan, tapi sangat
menghinanya. Ia memang orang yang mudah emosi jika ada
sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan suasana hatinya.
Eliana mondar-mandir di lobby hotel. Ia memperhatikan
dengan seksama orang-orang yang duduk dan lalu lalang di
situ. Ia menanti Azzam untuk dilabraknya. Ia hendak memarahinya
seperti ia memarahi pembantu -pemban-tunya yang
melakukan sesuatu yang mem-buatnya murka.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
51
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Pagi itu suasa hotel sudah terasa sangat panas bagi Eliana.
Ia menanyakan keberadaan Azzam kepada semua orang
Indonesia. Para mahasiswa, rombongan Penari Saman, para
staf KBRI, bahkan ayahnya sendiri. Semua menjawab tidak
tahu pasti. Ada yang menjawab mungkin sedang jalan-jalan di
Pasar El Manshiya. Ada yang menjawab mungkin sedang
mencari sesuatu di Abu Qir. Ada yang menjawab mungkin
sedang ziarah ke Masjid Nabi Daniyal. Ada yang menjawab
mungkin sedang renang di pantai. Semua jawaban tidak ada
yang memuaskannya. Ia ingin segera bertemu dengan pemuda
tidak tahu diuntung itu. Ia ingin segera menumpahkan segala
murkanya. Ia ingin segera melumatnya jika bisa. Sementara
Azzam dan Pak Ali berjalan santai menelusuri pantai. Azzam
melepas sandalnya dan membiarkan kakinya telanjang menginjak
pasir pantai yang lembut.
"Pak Ali." Sapa Azzam pelan.
"Ya, Mas."
"Pak Ali sudah lapar?"
"Iya."
"Mau sarapan di hotel?"
"Entah kenapa ya Mas. Aku kok sudah bosen banget
sarapan di hotel."
"Saya juga Pak Ali. Kalau begitu kita cari tha'miyah bil
baidh 7 di luar hotel yuk?"
"Ayuk."
Mereka langsung berjalan mencari kedai tha'miyah, kedai
yang menjual makanan khas Mesir terdekat. Saat mereka
melintasi jalan raya menuju ke kedai itu seseorang memanggil-
manggil nama mereka. Mereka menengok ke arah suara.
Ternyata si Romi. Mahasiswa asal Madura yang dipercaya
7 tha'miyab bil baidh: Makanan khas Mesir, berbentuk sandwich isinya antara lain sayur, kentang
goreng, dan telor rebus yang dihancurkan bersama isi lainnya.
Habiburrahman El Shirazy
52
Ilyas Mak’s eBooks Collection
membuat dan menjaga stand Sate Madura. Anak asli Pamekasan
itu berjalan dengan setengah berlari ke arah mereka.
Tubuh kurusnya dibalut kaos hitam dan celana panjang hitam.
Tangan kanannya menenteng kantong plastik hitam.
"Ada apa Mi?" Sapa Azzam begitu jaraknya dengan Romi
tidak terlalu jauh.
"Anu, anu Mas Khairul. Kamu dicari-cari oleh Mbak
Eliana. Kelihatannya kok dia sedang marah. Segeralah kamu
ke lobby hotel. Jika tidak segera ke sana aku kuatir dia semakin
marah. Dan jika dia marah celakalah kita semua. Cepatcepatlah
kamu minta maaf?"
"Minta maaf atas apa Mi?"
"Ya tidak tahu. Yang penting minta maaf. Mungkin dia
tersinggung karena sesuatu yang tidak kamu sadari. Apa sih
beratnya minta maaf? Jangan sampai kemarahannya berimbas
pada bisnis kita."
"Wualah tho Mi, kamu kok berpikir terlalu jauh. Kenapa
kamu takut sekali rezeki kamu terancam oleh kemarahan seorang
Eliana. Apalagi dia. marahnya sama aku. Kok kamu yang
takut?"
"Tidak gitu Mas Khairul. Saya hanya tidak mau ambil
risiko. Saya tidak mau susah. Marahnya orang kaya sering
membuat susah orang miskin. Marahnya pejabat sering mem -
buat susah rakyat. Eliana kalau membawa bawa ayahnya kan
bisa membuat kita repot. Bukan begitu PakAli?" Jelas Romi
sambil memandang PakAli. PakAli hanya menyahut ringan,
"Itu urusan kalian."
Azzam memandang Pak Ali. Wajah Pak Ali tetap seperti
semula, tak ada perubahan. Lalu sambil menepuk pundak
Romi, Azzam menenangkan,
"Jangan berpikir ke mana-mana. Tenanglah, tak akan terjadi
apa-apa. Akan segera kutemui Eliana."
Romi hanya diam saja.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
53
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Kau mau ke mana Mi? Kau kemari hanya untuk menemui
kami atau ada keperluan lain?" Tanya Azzam mengalihkan
pembicaraan.
"Aku mau renang di pantai. Terakhir sebelum pulang."
"Bawa salin?"
"Bawa. Ini." Jawab Romi sambil mengangkat kantong
plastiknya.
"Kok sendirian? Tidak ngajak teman?"
"Iya yang lain tak ada yang mau. Katanya sudah bosan.
Ya sudah, aku berangkat sendiri saja. Atau kau mau menemani?"
"Aduh aku masih banyak hal yang harus aku bereskan. Ya
sudah ya. Hati-hati."
"Ya."
Azzam dan Pak Ali melanjutkan perjalananke kedai tha'-
miya. Romi semakin mendekati pantai. Udara belum hangat
betul. Orang yang berenang di pantai bisa dihitung dengan
jari. Saat itu belum banyak pengunjung yang datang. Sebab
masih ada sisa-sisa musim dingin. Pantai itu akan menjadi
sangat ramai ketika libur musim panas datang.
"Mas Khairul. Saya sarankan kau damai saja sama putrinya
Pak Dubes itu. Tidak usah cari penyakit. Aku tidak tahu
masalahmu dengannya. Tapi damai adalah hal yang disukai
oleh fitrah umat manusia di mana saja." Saran Pak Ali.
Azzam lalu menjelaskan kejadian tadi malam setelah
pulang dari El Muntazah. Tentang telpon Eliana. Tentang hadiah
spesial berupa ciuman khas Prancis. Tentang jawabannya.
Tentang pemutusan pembicaraan secara sepihak darinya.
Pak Ali mendengarkan sambil berjalan.
"Ada saran tambahan Pak Ali?" Tanya Azzam sambil
mensejajarkan langkahnya dengan langkah Pak Ali yang agak
lambat.
Habiburrahman El Shirazy
54
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Saranku. Sebaiknya kau minta maaf. Lalu jelaskan dengan
detil dan baik-baik kenapa menolak ciuman itu. Tidak
usah dihadapi dengan emosi. Api bertemu api akan semakin
panas. Emosi lebih banyak merugikannya daripada menguntungkannya
"Aku sangat yakin dia sangat marah Pak. Trus bagaimana
cara meredamnya?"
"Gampang. Hati wanita mudah diluluhkan. Belikan dia
hadiah kejutan. Dia akanmerasa senang. Rasa senang bisa meredam
amarah. Sebab amarah itu datang biasanya karena rasa
tidak senang."
"Enaknya hadiahnya apa ya Pak?"
"Apa saja yang bisa didapat pagi ini. Tidak harus mahal."
"Pak Ali punya usul, barang apa begitu?"
Pak Ali mengerutkan dahi sesaat. Tiba-tiba wajahnya
seperti bersinar.
"Yah ini saja. Belikan saja rnakanan khas Mesir kesukaannya.
Ini mudah didapat pagi ini dan murah."
"Kalau dia sudah makan pagi bagaimana? Apa tidak jadi
mubazir?"
"Percayalah, dia belum makan pagi. Orang kalau sedang
marah malas makan. Dia akan makan kalau marahnya mulai
reda. Percayalah dia belurn makan pagi. Dan percayalah dia
juga sudah bosan dengan menu hotel."
"Apa makanan kesukaannya Pak?"
"Habasy takanat." 8
"Yang benar Pak? Masak gadis selangsing dia suka
habasy takanat?
8 Makanan mirip tha'miyah bn baldh. hanya isinya lebih berrnacam- macam sehingga porsinya
lebih besar.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
55
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Iya. Habasy takanat itu tidak otomatis bikin gemuk Iho.
Bikin kenyang iya. Tapi bikin gemuk belum tentu."
"Ayo Pak kalau begitu kita segera beli."
Mereka berdua berdua mempercepat langkah. Sampai di
kedai yang dituju, mereka memesan empat tha'miyah bil baidh
untuk dimakan di situ dan dua habasy takanat, untuk dibungkus.
Pemilik kedai itu adalah orang Mesir gemuk dengan
jenggot hampir menutupi setengah wajahnya. Keangkeran
wajahnya sirna oIeh senyum dan keramahannya. Azzam senang
dengan keramahan itu. Sebab tidak sedikit pemilik kedai
tha'miyah yang tidak ramah. Ia masih ingat dengan pemilik
kedai tha'miyah di kawasan Hay El Ashir Cairo yang sangat
tidak ramah. Tak pernah senyum. Ia pernah diabaikan. Benarbenar
diabaikan. Pemilik itu melayani semua orang Mesir tapi
seolah-olah tidak melihat keberadaannya. Ia sama sekali tidak
dianggap. Ia sendiri tidak tahu, apa sebabnya.
Azzam melahap tha'miyah bil baidh dengan lahap. Pak Ali
juga. Setelah kenyang mereka menuju hotel. Di tengah jalan
Pak Ali menghentikan langkahnya dan berkata,
"Mas. Habasy takanat-nya biar saya saja yang memberikan.
Kalau sudah dia makan, saya akan mengatakan itu hadia
darimu. Kau Jalan jalan saja dulu. Kira-kira satu jam. Setelah
itu kau boleh datang. Dan insya Alaah semua akan damai dan
aman."
"Wah ide yang bagus itu Pak." Sahut Azzam berbinar. Ia
lalu menyerahkan bungkusan berisi habasy takanat itu kepada
Pak Ali. Pak Ali tersenyum. Lalu berjalan ke hotel. Sementara
Azzam langsung naik Eltramco ke Pasar El Manshiya. Ia
ingin membeli oleholeh untuk teman-teman satu rumahnya.
***
Begitu masuk hotel, Pak Ali langsung ditanya oleh Eliana
seolah-olah Eliana sudah lama menantinya.
"Pak Ali ke mana saja? Lihat tukang masak kurus itu
tidak?" Nadanya tidak lembut seperti biasanya.
Habiburrahman El Shirazy
56
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Saya dari jalan jalan menghirup udara pantai. Biar segar.
Tukang masak kurus itu yang Mbak Eliana maksud siapa? Si
Romi?"
"Bukan si Romi. Itu si Khairul."
"Kalau si Romi saya tahu. Dia sedang renang di pantai.
Kalau Khairul sekarang persisnya saya tidak tahu. Tadi sih
ketemu di jalan. Dia naik Eltramco ke El Manshiya."
Eliana mendengus. Wajah yang biasanya putih cemerlang
itu tampak merah padam. Ia lalu duduk di sofa. Tak jauh darinya
dua remaja putri Mesir sedang berbincang-bincang dengan
serunya. Sesekali terdengar suara cekikikan dari mereka.
Pak Ali duduk di depan Eliana.
"Eh ngomong-ngomong Mbak Eliana sudah makan
pagi?" Tanya Pak Ali.
"Belum Pak. Lagi tidak nafsu. Apalagi menu hotel. Sudah
bosan sekali rasanya."
Pak Ali tersenyum, lalu berkata,
"Kalau habasy takanat mau?"
Mendengar tawaran Pak Ali, wajah Eliana sedikit cerah.
"Wah itu boleh Pak. Sebenarnya saya lapar. Yuk kita keluar
cari habasy takanat Pak Ali yuk?"
"Tak usah keluar. Ini saya sudah bawa. Tadi saya baru
saja makan tha'miyah bil baidh. Ini saya bawa untuk Mbak Eliana."
Jawab Pak Ali sambil menyerahkan bungkusan dalam
plastik hitam berisi habasy takanat.
"Wah terima kasih banget Pak ya. Wah enaknya langsung
dimakan saja ini. Pak temani saya ke restaurant yuk. Biar
ini saya makan di sana sambil minum the panas."
"Ayo."
Mereka berdua lalu masuk Lourantos Restaurant.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
57
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Desain interior restauran itu perpaduan Arab dan Eropa.
Menu yang dihidangkan pagi itu adalah menu Arab dan Italia.
Tapi habasy takanat tidak ditemukan di situ. Eliana menyantap
habasy takanat dengan lahap dan penuh semangat. Selesai
menyantap makanan khas Mesir itu Eliana lalu menyeruput
teh panasnya yang kental. Gadis itu kelihatan begitu menikmati
makan paginya. Dan Pak Ali melihatnya dengan hati
lega.
"Ada apa sih Mbak, kok mencari Mas Insinyur Khairul?
Kelihatannya ada urusan penting ya?"
"Ya. Aku sedang marah padanya?"
"Kenapa?"
"Ia berani menghinaku tadi malam."
"Ah yang benar saja Mbak. Saya sama sekaIi tidak percaya
anak itu berani menghina Mbak."
"Pak Ali percaya atau tidak percaya itu tidak penting "
"Bukanbegitu Mbak EIiana. Saya kuatir Mbak Eliana
salah paham. Sebab saat ketemu saya tadi Mas Khairul justru
memperlihatkan hal yang sebaliknya pada saya. Mas Khairul
begitu perhatian sama Mbak. Tadi saya dan Mas Khairul juga
bertemu Romi. Romi bilang Mbak Eliana marah besar pada
Khairul. Khairul malah tersenyum saja. Terus Khairul nitip
pada saya untuk memberikan habasy takanat ini pada Mbak."
"Apa!? Jadi bukan Pak Ali yang membelikan untuk saya?"
"Bukan. Yang membelikan itu Mas Khairul. Lha yang
membawa kemari saya."
"Pak Ali, PakAli kenapa tidak bilang dari tadi. Aduh,
aduh, aduh! Saya kira itu dari PakAli."
"Saya tadi kan bilang, ini saya bawa habasy takanat. Yang
membelikan adalah Khairul. Dititipkan pada saya."
"Kenapa tidak dia sendiri yang memberikan pada saya!?"
Tanya Eliana ketus.
Habiburrahman El Shirazy
58
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Saya tidak tahu Mbak Eliana. Kelihatannya dia tergesa
gesa. Dia bilang mau belibarang-barang di pasar. Tidak ada
waktu lagi katanya.Yang penting ini menunjukkan bahwa Mas
Khairul sendiri tidak merasa memiliki masalah pada Mbak
Eliana. Kalau dia merasa memiliki masalah mana mungkin
mau membelikan habasy takanat, makanan kesukaan Mbak.
Justru kelihatannya dia sangat menghormati Mbak. Dan ingin
membuat Mbak merasa senang."
Eliana diam. Kata-kata Pak Ali masuk ke dalam hatinya.
Menyejukkan panas amarahnya. Tapi ia belum bisa lega sepenuhnya.
Amarahnya belum mau juga sirna seluruhnya.
"Tapi tadi malam dia berkata kasar ditelpon pada saya
Pak. Dia juga memutus pembicaraan seenaknya saja! Apa itu
tidak penghinaan Pak Ali!?"
Pak Ali tersenyum.
"Mungkin saat itu Mas Khairul sedang capek. Letih.
Orang kalau letih itu pikirannya bisa tidak jernih. Cobalah
ingat, kemarin itu ia kerja sejak pagi sampai malam."
Penjelasan Pak Ali semakin meluluhkan hatinya.
"Semestinya Mbak Eliana harus berterima kasih pada
Mas Khairul. Enam hari ini tenaga dan waktunya ia curahkan
untuk membantu Mbak Eliana. Bahkan dalam kondisi sangat
letih, dia masih mau membakarkan ikan untuk membantu
Mbak Eliana. Dan pagi ini, dia mengirim sesuatu yang sangat
Mbak suka. Semestinya Mbak berterima kasih sama dia. Saya
dengar orang Barat yang terdidik itu mudah mengucapkan
terima kasih pada orang yang membantunya." Sambung Pak
Ali.
Amarah Eliana perlahan mereda. Ruang di hatinya yang
semula berisi amarah yang meluap-luap pada Azzam perlahan
berubah diisi rasa kasihan. Ia menyesal sudah sedemikian emosi
dan marah, sementara orang yang akan dimarahinya sedemikian
tulus padanya. Diam-diam menyusup ke dalam dadanya
rasa malu pada dirinya sendiri. Ia menyadari apa yang
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
59
Ilyas Mak’s eBooks Collection
disampaikan Pak Ali ada benarnya. Penjual tempe yang pandai
masak itu memang sudah banyak membantunya.
"Pak Ali. Nanti kalau ketemu Mas Khairul sampaikan
terima kasih saya ya atas habasy takanat-nya. Saya mau mandi
dan berkemas-kemas." Kata Eliana dengan wajah lebih cerah.
"Insya Allah, tapi kalau menyampaikan sendiri tentu lebih
baik." Jawab Pak Ali dengan senyum mengembang.
"Ya. Nanti kalau ketemu dia." Tukas Eliana sambil bangkit
dari duduknya.
* * *
Di sebuah toko buku di El Manshiya, Azzam bertemu
dengan Furqan. SeteIah berpelukan, Furqan mengajak Azzam
menemaninya makan roti kibdah 9 di samping sebuah masjid
tua sambil berbincang-bincang. Azzam menuruti ajakan teman
lamanya itu dengan senang.
"Saya ini sedang bingung menentukan pilihan." Kata
Furqan sambil mengunyah roti kibdah-nya.
"Pilihan apa?" Sahut Azzam kalem. Matanya memandang
ke arah seorang kakek berjubah abu-abu yangberjualan tasbih
dan kopiah putih. Kakek itu duduk termenung Matanya
memandang ke arah jalan. Azzam berusaha mereka-reka apa
yang ada dalam pikiran kakek itu saat itu.
"Bingung memilih dua gadis yang sama-sama memiliki
kelebihan untuk aku nikahi." Jawaban Furqan membuatAzzam
langsung mengalihkan pandangannya dari kakek berjubah
abu-abu ke wajah Furqan yang masih asyik dengan roti
kibdah-nya.
"Ceritanya bagaimana?" Tanya Azzam dengan nada serius.
9 Roti kibdah: terrnasuk makanan khas Mesir berbentuk roti berbentuk panjang diisi hati sapi.
Habiburrahman El Shirazy
60
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Furqan menghentikan makannya. Ia meneguk air putih
untuk membersihkan tenggorokannya. Lalu memandang Az -
zam lekat-lekat.
"Aku akan cerita. Tapi janji tidak kaubocorkan siapa
siapa. Masyi ?" 10
"Masyi."
"Begini. Aku saat ini sedang dikejar-kejar sama Eliana.
Putri Pak Dubes itu?"
"Dikejar-kejar Eliana? Ah yang benar Fur!?" Azzam
kaget mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Benar. Aku tidak bohong. Kau tahu sendirilah Rul. Eliana
itu bukan mahasiswi Al Azhar yang sangat menjaga akhlak.
Ia lulusan Prancis. Ia langsung saja bicara terus terang padaku.
Tadi malam dia menanyakan lagi jawabanku. Aku belum
jawab. Eliana aku lihat sudah berusaha fair dan jujur. Ia telah
menceritakan semua hubungannya dengan pacar-pacarnya
yang gagal. Ia sudah pernah ganti pacar lima kali. Sekali waktu
di SMA. Empatkali waktu di Prancis. Dua pacarnya yang
terakhir adalah orang bule. Eliana menyadari tidak cocok
dengan mereka. Ia ingin hidup yang lurus-lurus saja. Dia
bilang ingin memiliki suami yang bisa membimbingnya. Jujur
saja Rul. Aku tertarik padanya. Aku tertarik tidak semata -
mata karena kecantikan wajahnya. Tapi aku tertarik karena
potensi yang ada dalam dirinya yang jika diarahkan di jalur
yang benar bisa sangat bermanfaat bagi umat."
"Potensi itu misalnya apa Fur?"
"Kau tahu sendiri kepiawaiannya menulis dalam bahasa
Inggris dan Prancis. Pesona keartisan dirinya. Dia bercerita
akan main dalam sebuah film garapan sutradara Mesir. Dan ia
juga sudah ditawari main film di Indonesia. Tak lama lagi dia
akan menjadi artis Rul. Dan kau bayangkan jika artis itu bisa
10 Masyi: setuju.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
61
Ilyas Mak’s eBooks Collection
memberikan teladan yang baik. Maka masyarakat yang
mengaguminya akan meniru kebaikannya. Jika keartisannya
nanti digunakan untuk berdakwah, apa tidak dahsyat Rul."
"Kalau yang terjadi sebaliknya bagaimana? Misalnya ia
jadi artis terus gaya hidupnya yang hedonis sebagaimana artis
pada umumnya bagaimana? Apa kau sudah benar-benar tahu
siapa Eliana?"
Furqan terdiam sesaat. Ia lalu berkata,
"Aku melihat kesungguhan Eliana untuk baik. Itu yang
meyakinkan aku. Dia akan baik jika dibimbing oleh yang
mampu membimbingnya."
"Terus yang kau bingungkan apa? Kelihatanrnya kau
sudah mantap begitu"
"Masalahnya aku sudah terlanjur melamar seseorang. Dia
mahasiswi Al Azhar. Tapi sampai sekarang dia belum mem -
beri jawaban. Aku bingung.Kalau aku batalkan lamaranku dan
aku memilih Eliana yang sudah jelas mengejarku aku takut
dianggap lelaki plin-plan. Aku takut dianggap memainkan
anak orang. Tapi kalau aku menunggu terlalu lama, aku takut
akhirnya lamaranku itu ditolak, dan aku khawatir Eliana
sudah berubah pikiran. Aku bingung Rul."
"Begitu kok bingung. Percayalah padaku, tak ada mahasiswi
Cairo yang akan menolak lamaranmu, kecuali mahasiswi
itu sudah punya calon atau ia sudah dilamar orang. Siapa yang
menolak lamaran pemuda tampan, cerdas kaya dan kandidat
master dari Cairo University? siapa? Hanya gadis tolol yang
akan menolak. Yang cerdas itu ya Eliana. Ia mengejar kamu
karena dia cerdas. Aku yakin Eliana sudah tahu reputasi kamu
dengan baik. Maka percayalah mahasiswi yang kau lamar itu
pasti mau. Kalau begitu sebenarnya kau sudah bisa memutuskan
apa yang harus kauputuskan."
"Kau tidak tahu sih siapa mahasiswi itu."
"Memangnya dia siapa?"
Habiburrahman El Shirazy
62
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Furqan ragu untuk menjawab. Akhirnya dia tidak mau
berterus terang.
"Ah sudahlah kalau itu rahasia. Aku tidak enak menyebutnya."
Lirihnya.
"Ya sudah. Kalau begitu ya istikhara saja."
"Ya, insya Allah. Kau ada nasihat untukku?"
Azzam tersenyum.
"Tinggalkan apa yang meragukan bagimu, dan ambillah
yang tidak meragukan bagimu."
"Terima kasih. Yuk kita ke hotel. Pakai taksi saja. Biar
aku yang bayar."
"Ayo"
Sebelum pergi terlebih dahulu Furqan membayar roti
kibdah yang dibawanya. Cerita Furqan semakin mengukuhkan
hati Azzam bahwa ia tidak boleh mengharapkan Eliana. Bisa
jadi Eliana akan menjadi isteri sahabatnya itu. Ia tidak mau
mengarah apa yang kelihatannya diarah juga oleh sahabatnya.
Namun ia masih ragu apakah bisa orang seperti Eliana diajak
untuk berdakwah dan berkomitmen menjalankan agama dengan
baik. Apakah orang seperti Eliana tidak akan melihat
aturan-aturan agama sebagai dogma yang membatasi kebebasannya
sebagai manusia? Apa reaksi Furqan jika Eliana hendak
memberihadiah ciuman khas Prancis padanya? Ia hanya
bisa berharap bahwa sahabatnya itu akan ditunjukkan yang
terbaik oleh Allah Swt. Sebab tak ada yang baik di dunia ini
kecuali datangnya dari Allah Subhanahu wa ta'ala.
Minggu, 12 Desember 2010
4 CERITA FURQAN
Posted by Dini Ariani on 23.19





0 komentar:
Posting Komentar