Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

5 MEMINANG

Siang itu sebelum jam dua belas, semua orang dalam
rombongan "Pekan Promosi Wisata dan Budaya Indonesia di
Alexandria" sudah keluar dari hotel. Tepat jam setengah satu
mereka sudah bergerak meninggalkan Alexandria menuju
Cairo. Rombongan yang terdiri atas empat puluh lima orang
itu meluncur ke Cairo dengan dua mobil mewah KBRI, satu
bus dan satu mobil barang.
Azzam duduk di samping Romi. Pak Ali mengendarai
BMW bersama Pak Dubes dan teman Pak Dubes. Mobil
mewah satunya dikendarai oleh Atase Pendidikan dan Atase
Perdagangan. Yang lainnya ikut dalam bus yang tak kalah
nyaman. Baru keluar dari Alexandria Romi sudah harus ke
toilet. Ia tidak sempat membersihkan perutnya sebelum
berangkat sebab tergesa gesa. Ia tadi terlalu asyik berenang di
pantai dan nyaris lupa waktu. Kalau saja Pak Atase Perdagangan
tidak mengabsen semua orang di lobby, bisa jadi Romi
akan ketinggalan.
Habiburrahman El Shirazy
64
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Saat Romi pergi ke toilet itulah Eliana yang duduk agak
di belakang maju dan duduk di tempat duduk Romi yang kosong.
Azzam dan Eliana belum sempat berbincang sejak peristiwa
pemutusan pembicaraan tadi malam. Eliana mendahului
percakapan,
"Eh Mas Khairul, terima kasih atas kiriman habasy
takanat-nya ya? "
"Oh sama-sama. Oh iya, sama minta maaf atas sikap saya
yang mungkin tidak berkenan tadi malam. Mungkin itu mem -
buat Mbak Eliana marah. Saya dengat dari Romi tadi pagi
Mbak marah."
"Ah tidak. Hanya sedikit emosi saja. Kita lupakansaja itu
semua. Ini kalau boleh sayatanya, kenapa kau menjawab mendapat
ciuman Prancisitu musibah. Saya yakin Mas Khairul tadi
malam mengatakan dengan serius."
Azzam tersenyum. Ia geli sendiri mendengar perkataan
Eliana. Katanya lupakan saja semuanya, tapi masih bertanya
tentang jawabannya tadi malam. Namun ia tidak mau mengungkit
hal itu. Ia ingin langsung menjawab pertanyaan Eliana.
"Setiap orang punya prinsip. Dan prinsip seseoran itu
biasanya berdasar pada apa yang diyakininya. Iya kan Mbak?"
Kata Azzam mengawali jawabannya.
"Iya." Kata Eliana sambil mengangukkan kepala. Saat itu
ia sama sekali tidak memandang Azzam sebagai tukang masak,
tapi memandang Azzam sebagai seorang mahasiswa yang
memiliki satu sikap dan pendirian.
"Saya juga memiliki prinsip. Prinsip hidup. Prinsip hidup
Saya itu saya dasarkan pada Islam. Sebab saya paling yakin
dengan ajaran Islam. Di antara ajaran Islam yang saya yakini
adalah ajaran tentang menjaga kesucian. Kesucian lahir dan
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
65
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kesucian batin. Kenapa dalam buku-buku fikih pelajaran
pertama pasti tentang thaharah. Tentang bersuci. Adalah agar
pemeluk Islam senantiasa menjaga kesuciar lahir dan batin. Di
antara kesucian-kesucian yang dijaga oleh Islam adalah kesucian
hubungan antara pria dan wanita. Islam sama sekali tidak
membolehkan ada persentuhan intim antara pria dan wanita
kecuali itu adalah suami isteri yang sah. Dan ciuman gaya
Prancis itu bagi saya sudah termasuk kalegori sentuhan sangat
intim. Yang dalam Islam tidak boleh dilakukan kecuali
oleh pasangan suami isteri. Ini demi menjaga kesucian. Kesucian
kaum pria dan kaum wanita.
"Ketika saya mengatakan bahwa jika sampai saya melakukan
ciuman itu dengan wanita yang tidak halal bagi saya,
maka saya telah menodai kesucian saya sendiri dan menodai
kesucian wanita itu. Dan itu bagi saya adalah suatu musibah
yang luar biasa besarnya. Saya telah kehilangan kesucian bibir
saya. Tidak hanya itu, saya juga kehilangan kesucian jiwa
saya. Jiwa saya telah terkotori oleh dosa yang entah bagaimana
cara menghapusnya. Jika bibir ini kotor oleh gincu bisa
dibersihkan dengar air atau yang lainnya. Tapi jika terkotori
oleh bibir yang tidak halal, kotor yang tidak tampak bagaimana
cara membersihkannya. Meskipun bisa beristighfar,
meminta ampun kepada Allah tetap saja bibir ini pernah kotor,
pernah ternoda, pernah melakukan dosa yang menjijikkan.
Saya tidak mau melakukan hal itu. Saya ingin menjaga kesucian
diri saya seluruhnya. Saya ingin menghadiahkan kesucian
ini kepada isteri saya kelak. Biar dialah yang menyentuhnya
pertama kali. Biar dialah yang akan mewangikan jiwa dan raga
ini denga n sentuhan-sentuhan yang mendatangkan pahala."
"Itulah prinsip yang caya yakini. Mungkin saya akan
dikatakan pemuda kolot. Pemuda primitif. Pemuda kampungan.
Pemuda tidak tahu perkembangan dan lain sebagainya.
Tapi saya tidakpeduli. Saya bahagia dengan apa yang saya
Habiburrahman El Shirazy
66
Ilyas Mak’s eBooks Collection
yakini kebenarannya. Dan saya yakin Mbak Eliana yang
pernah belajar di negeri yang mengagungkan kebebasan
berpendapat itu akan bisa menghargai pendapat saya."
Azzam menjelaskan panjang lebar. Eliana mendengarkan
dengan seksama. Tak terasa air matanya berkaca -kaca. Ia belum
pernah mendengarkan penjelasan tentang kesucian seperti
itu sebelumnya.
"Aku mengerti." Lirih Eliana.
"Terima kasih atas penjelasannya. Lanjutnya.
Saat itu Romi keluar dari toilet. Eliana lalu kembali ke
tempatnya semula. Penjelasan Azzam masih membekas dalam
hatinya. Tiba-tiba ia merasa dirinya sangat kotor. Bibirnya entah
berapa kali bercium dengan pria yang belum menjadi
suaminya. Ia tidak bisa menghitungnya. Untuk pertama kalinya
ia merasa menjadi perempuan yang tidak berharga. Ia
teringat dengan saudara sepupunya yang tinggal di pelosok
Lumajang. Namanya Nurjanah. Sejak kecil selalu memakai jilbab.
Saat diajak salaman ayahnya saja tidak mau. Ayahnya
sempat tersinggung. Tap sepupunya yang sekarang menjadi
pengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyyah itu bersikukuh dengan
pendiriannya. Tidak mau bersentuhan kecuali dengan
lelaki yang halal baginya. Sekarang baru ia tahu rahasianya.
Itu karena ajaran kesucian itu. Nurjanah bersikukuh mempertahankan
kesucian dirinya secara utuh. Tiba-tiba ia merasa
gadis seperti Nurjanal alangkah lebih muliamya. Ia merasa
tidak ada apa apanya dibanding Nurjanah. Ada yang merem -
bes dari ujung kedua matanya.
Bus terus melaju membelah padang sahara yang luas.
Sejauh mata memandang yang tampak adalah hamparan padang
pasir kecoklatan. Ada yang rata, ada yang bergelombang
seperti berbukit-bukit. Eliana memandang ke jendela. Ia
melihat debu-debu berhamburan di pinggi jalan. Angin berKetika
Cinta Bertasbih Buku I
67
Ilyas Mak’s eBooks Collection
hembus sangat kencang. Namum bus terus melaju dengan
tenang.
* * *
Sampai di Cairo. Azzam langsung meluncur pulang kerumahnya
di Hay El Asher. Tepat menjelang Maghrib ia sampai
di rumah. Teman satu rumahnya menyambutnya dengan penuh
kerinduan. Ia minta mereka untuk membuka kardus berisi
oleh-olehnya. Isinya kurma isi kacang. Buah Zaitun. Kacang
Arab berwarna hijau. Dan Makaronah untuk dimasak. Tak ada
yang istimewa Sernua adalah makanan Mesir yang sebenarnya
ada di Cairo. Namun mereka tetap menyambut oleh-oleh itu
dengan penuh antusias dan gembira.
Azzam langsung mandi. Setelah itu ia langsung pamitan
pergi.
"Ceritanya nanti saja ya. Aku ada urusan penting sekali
malam ini." Kata Azzam pada mereka. Mereka pun mengangguk
paham.
Azzam meluncur ke Hay El Sabe'. Ia shalat Maghrib di
Masjid Ridhwan. Tujuannya setelah itu hanya satu, yaitu ke
rumah Ustadz Saiful Mujab, untuk melamar Anna Althafunnisa.
Ia sampai ke masjid itu saat imam sudah rakaat kedua. Ia
bahagia melihat Ustadz Mujab ada. Di shaf kedua. Ia takbir di
shaf ketiga. Selesai shalat ia bertemu dengan Ustadz Mujab.
Dan Ustadz Mujab tersenyum gembira berjumpa dengannya.
"Lho, aku dengar kau ikut rombongan KBRI ke Alexandria.
Kok sudah di sini, Rul?" Sapa Ustadz Mujab.
"Iya Ustadz. Baru pulang menjelang Maghrib tadi dan
langsung meluncur kesini." Jawab Azzam.
"Ada urusan apa? Kok kelihatannya penting sekali sampai
tidak istirahat segala. Malah langsung kemari?"
Habiburrahman El Shirazy
68
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Saya ada urusan pribadi yang sangat penting. Saya ingin
membicarakannya pada Ustadz. Ustadz ada waktu?"
"O begitu. Boleh-boleh. Ayo kita ke rumah"
Mereka la lu pergi ke rurnah Ustadz Mujab yang tak jauh
dari Masjid Ridhwan itu. Ustadz Mujab yang sedang S. 2 di
Institut Liga Arab itu hidup di Cairo bersama keluarganya.
Bersama anak dan isterinya. Rumahnya sederhana. Namun
rurnah itu membuat betah siapa saja yang berkunjung ke sana.
Tak lain dan tak bukan, karena keramahan pemilik rumahnya.
Yaitu Ustadz Mujab dan isterinya.
Setelah duduk diruang tamu beberapa saat, dan teh panas
dikeluarkan bersama satu piring roti cokelat, ustadz Mujab
bertanya pada Azzam dengan mata memandang lekat-lekat,
"Ada urusan apa? Apa yang bisa kubantu?"
"Saya sebenarnya malu Ustadz. Saya tidak tahu dari mana
saya harus memulai." JawabAzzam.
"Tidak usah malu. Jika kebaikan yang dicari tidak usah
malu."
"Baiklah Ustadz. Saya ingin minta bantuan Ustadz untuk
melamar seseorang untuk saya." Kata Azzam dengan suara
bergetar.
"Oh itu. Begitu saja kok malu. Kamu memang sudah saatnya
kok Rul." Ustadz Mujab biasa memanggilnya ‘Rul’ kependekan
dari ‘Khairul’ yang diambil dari namanya ‘Khairul
Azzam’. Jadi di Cairo ada yang memanggilnya ‘Mas Khairul’,
‘Mas Insinyur’, ‘Rul’, ‘Irul’ dan ada yang memanggil dengan
nama belakangnya yaitu ‘Azzam’. Yang memanggil dengan
panggilan Azzam hanya orang orang satu rumahnya saja. Itu
pun atas permintaannya. Sedangkan di luar rumah banyak
yang memanggil ‘Khairul’ dan ‘Insinyur’.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
69
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Aku akan membantu sebisanya. Siapa nama gadis yang
kaupilih itu. Dan siapa nama orang tuanya. Orang mana?
Kalau di Al Azhar, tingkat berapa?" Ustadz Mujab melanjutkan.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya ia menjawab
dengan suara bergetar. Dan dengan hati bergetar pula,
"Namanya Anna Althafunnisa Putri Pak Kiai Luffi Hakim.
Asal Klaten. Kalau tidak salah sekarang sedang program
pascasarjana di Kuliyyatul Banat, Al Azhar."
Ustadz Mujab kaget mendengar kata-kata yang keluar
dari mulut Azzam. Ia seperti mendengar suara petir yang nyaris
merobohkan apartemen di mana dia dan keluarganya tinggal.
"Anna Althafunnisa?" Tanya Ustadz Mujab tidak percaya.
Azam mengangguk dengan tetap menundukkan kcpala.
Ustadz Mujab menghela nafas panjang. Ia seperti hendak
mengeluarkan sesuatu yang menyesak di dadanya.
"Siapa yang mengabarkan kamu tentang Anna Althafunnisa?"
"Ada. Tapi dia tidak mau disebut-sebut namanya Ustadz,"
Ustadz Mujab kembali menghela nafas panjang.
"Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh
aku ingin membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki
aku bisa membantumu kali ini. Anna Althafunnisa itu
masih terhitung sepupu denganku. Aku tahu persis keadaan
dia saat ini. Sayang kau datang tidak tepat pada waktuya.
Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh
temanmu sendiri.
Habiburrahman El Shirazy
70
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Sudah dilamar temanku sendiri? Siapa?"
"Furqan! Ia sudah dilamar Furqan satu bulan yang lalu."
Mendengar hal itu tulang-tulang Azzam bagai dilolosi
satu per satu. Lidah dan bibirnya terasa kelu. Furqan lagi. Ia
berusaha keras mengendalikan hati dan perasaannya untuk
bersabar.
"Maafkan aku Rul. Aku sarankan kau mencari yang lain
saja. Mahasiswi Indonesia di Al Azhar kan banyak. Dunia
tidak selebar daun kelor." Ustadz Mujab berusaha menenteramkan.
"Iya Ustadz. Tapi saya akan mencari yang sekualitas
Anna Althafunnisa."
Ustadz Mujab terhenyak mendengar jawaban Khairul
Azzam. Begitu mantapnya ia memasang standar. Ia seolah lah
sudah tahu persis Anna Althafunnisa.
"Apa kamu sudah pernah ketemu Anna?"
"Belum."
'Sudah pernah tahu wajahnya?"
"Belum."
"Aneh. Bagaimana mungkin kau begitu mantap memilih
Anna Althafunnisa? Bagaimana mungkin kau menjadikan
Anna sebagai standar."
"Firasat yang membuat saya mantap Ustadz."
"Tapi menikah tidak cukup memakai firasat Rul. Jujur
Rul aku sangat kaget dengan standarmu ini. Baiklah aku buka
sedikit. Anna adalah bintangnya Pesantren Daaru Quran.
Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi, dan prestasi
selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S.1 -
nya di Alexandria dengan predikat mumtaz. Kalau ingin memiKetika
Cinta Bertasbih Buku I
71
Ilyas Mak’s eBooks Collection
liki isteri seperti dia. Cobalah kau menstandarkan dirimu dulu
seperti dia. Kalau aku jadi orang tuanya, dan ada dua mahasiswa
Al Azhar yang satu serius belajarnya yang satu hanya
sibuk membuat tempe. Maaf Rul, pasti aku akan memilih yang
lebih serius belajamya. Kau tentu sudah paham maksudku.
Bukan aku ingin menyinggungmu, tapi aku ingin kau mem -
perbaiki dirimu. Aku ingin kau lebih realistis. Cobalah kauraba
apa opini di Cairo tentang dirimu."
"Iya Ustadz. Terima kasih. Ini akan jadi nasihat yang sangat
berharga bagi saya." Jawab Azzam dengan mata berlinang.
Kalimat Ustadz Saiful Mujab sangat berat ia terima. Ia
sangat tersindir. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa. Dengan
bahasa lain, sebenamya Ustadz Mujab seolah ingin menga -
takan bahwa dia sama sekali "tidak berhak" melamar Anna.
Atau lebih tepatnya sama sekali "tidak layak" melamar Anna.
Hanya mereka yang berprestasi yang berhak dan layak
melamarnya.
Dan lagi-lagi, prestasi yang dilihat adalah prestasi akademis.
Dan di mata orang orang yang mengenalnya di dunia
akademis, ia sangat dipandang remeh karena tidak juga lulus
dari Al Azhar. Padahal sudah delapan tahun lebih ia menjalaninya.
Azzam lalu minta diri. Dalam perjalanan ke rumahnya ia
meneteskan air mata. Ia berusaha tegar dan sabar. Namun
setegar-tegarnya ia adalah manusia biasa yang memiliki air
mata. Ia bukan robot yang tidak memiliki perasaan apa-apa. Ia
mengusap air matanya. Ia tidak bisa menyalahkan siapa saja
jika ada yang meremehkannya. Karena memang kenyataannya
ia belum juga lulus. Ia berusaha meneguhkan hatinya bahwa
hidup ini terus bergulir dan berproses.
"Baiklah saat ini aku belum berhasil menunjukkan
prestasi. Tapi tunggulah lima tahun kedepan. Akan aku buktiHabiburrahman
El Shirazy
72
Ilyas Mak’s eBooks Collection
kan bahwa, aku, Khairul Azzam berhak melamar gadis salehah
yang mana saja."
Sampai di rumah ia langsung ke kamarnya untuk istirahat.
Diatas meja masih tergeletak surat dari Husna, adiknya
di Indonesia yang mengabarkan bahwa si kecil Sarah perlu
operasi amandel. Dan perlu biaya seragam pondok pesantren.
Ia langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai kakak
tertua. Ia menangis. Ia merasakan betapa sayangnya Allah
kepadanya. Allah masih ingin ia fokus pada tanggung
jawabnya membiayai adik-adiknya. Inilah hikmah yang ia dapat
dari peristiwa kekecewaannya karena Anna telah dilamar
orang lain.
"Allah belum mengijinkan aku menikah. Aku masih harus
memperhatikan adik-adikku sampai ke gerbang masa depan
yang jelas dan cerah. Kalau aku menikah saat ini, perhatianku
pada adik-adikku akan berkurang." Ia berbisik pada dirinya
sendiri. Ia bertekad untuk menutup semua pintu hatinya. Dan
akan ia buka kembali saat nanti sudah pulang ke Indonesia.
Setelah ia sudah selesa S.1 dan adik-adiknya sudah bisa ia
percaya mampu meraih masa depannya.
Tiba-tiba ia tersenyum.
"Bodohnya aku kenapa aku memasukkan Eliana dan Anna
ke dalam hati. Bodohnya aku. Tugas yang jelas di mata menuntut
tanggung jawab saja masih panjang kok malah tergoda
dengan yang tidak jelas." Gumamnya lagi pada diri sendiri.
Ia menancapkan tekadnya untuk bekerja lebih keras lagi.
Dan ia akan belajar lebih keras. Ia ingin sukses dua duanya. Ia
lalu teringat harus segera mengirimkan uang ke Indonesia. Ke
rekening Husna, agar si Sarah bisa belajar dengan tenang di
pesantrennya. Ia ingin adik bungsunya itu menghafal Al-
Quran. Tiba-tiba ia rindu seperti apa adik bungsunya itu. Ia
tidak tahu seperti apa wajah adiknya itu sebenarnya. Ia hanya
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
73
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tahu wajahnya yang ada di foto. Sebab ia belum pernah bertemu
dengannya sama sekali. Saat ia meninggalkan Indonesia
dulu, Sarah masih berada dalam kandungan ibunya.
"Ah semua sudah ada yang mengatur. Yaitu Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Jika saatnya ketemu nanti akan ketemu juga."
Gumamnya dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design