Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

6 LAGU-LAGU CINTA

Jam setengah tiga. Purnama bulat sempurna. Bintangbintang
bertaburan menghias angkasa. Malam itu Kota Cairo
terasa sejahtera. Angin musim semi mengalir semilir. Pelan.
Berhembus dari utara ke selatan. Menerobos sela-sela pintu
dan jendela apartemen. Menebarkan kesejukan-kesejukan.
Dua ekor kucing bercengkerama. Sesekali mengeong.
Sesekali menjerit-jerit, melengking lengking memba-hana.
Keduanya kejar-kejaran dengan suara yang sangat gaduh
bagi yang mendengarnya. Di taman sebuah apartmen di kawasan
Mutsallats, dua ekor kucing itu menikmali indahnya musim
semi. Diiringi tasbih daun daun yang dibelai angin musim
semi, mereka saling merayu. Mereka mendendangkan laguKetika
Cinta Bertasbih Buku I
75
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lagu cinta. Ya. Lagu cinta yang sangat indah, yang hanya bisa
dipahami oleh mereka berdua.
Tak begitu jauh dari situ, sebuah kedai kopi tampak masih
ramai.Belasan orang terjaga menikmati musim semi
dengan minum kopi, menghisap shisha, main kartu dan berbincang
tentang apa saja. Ada yang sedang menikmati film
india. Ada juga yang sedang berdiskusi dengan serius. Temanya
meloncat-loncat, ke mana-mana.
Musim semi memang indah. Paginya indah. Siangnya
indah. Sorenya indah. Malamnya pun indah. Lebih lebih bagi
mereka yang menikmatmya dengan penghayatan ibadah.
Namun demikian, ada juga orang-orang yang sama sekali
tidak peduli dengan datangnya musim semi. Ada juga bahkan
yang tidak pernah merasakan datangnya musim semi. Mereka
bahkan nyaris tidak pernah merasakan adanya pergantian
musim. Semua itu, lantaran kerasnya kehidupan yang harus
mereka hadapi dan lalui. Lantaran mereka harus terus memeras
otak dan menghadapi hidup dengan kucuran keringat dan
bekerja tiada henti.
Di antara orang-orang yang nyaris tak pernah peduli
datangnya musim semi itu adalah ‘Mas Insinyur’ Khairul Az -
zam, dan beberapa orang mahasiswa yang bekerja dengannya.
Malam itu, di kamarnya yang berada di sebuah apartemen,
tepat di samping taman di mana ada dua ekor kucing
yang sedang mendendangkan lagu-lagu cinta, ia masih juga
belum istirahat dari pekerjaannya. Sementara teman-temannya
satu rumah sudah larut bermesraan dengan mimpi indahnya
masing masing.
Azzam masih sibuk berkutat dengan kacang kedelainya
yang telah ia beri ragi. Dengan penuh kesabaran ia harus
membungkusnya agar menjadi tempe. Sejak lamarannya pada
Anna Althafunnisa telah didahului oleh sahabatnya sendiri,
Habiburrahman El Shirazy
76
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azzam memutuskan untuk total bek erja. Sejak Ustadz Mujab
menyarankan agar ia mengukur dirinya, ia memutuskan untuk
total membaktikan diri pada ibu dan adik-adiknya di Indonesia.
Ia niatkan itu semua sebagai ibadah dan rahmah yang
tiada duanya. Ia juga meniatkannya sebagai tempaan dan pelajaran
hidup yang harus ia tempuh di universitas besar kehidupan.
Ia yakin, semua itu tidak akan sia-sia. Bukankah Allah
tak pernah menciptakan segala sesuah dengan kesia-siaan.
Ia tidak lagi memiliki mimpi yang melangit tentang calon
isteri. Ia sudah bisa mengaca diri. Ia yakin jodoh-nya telah
ada, telah disiapkan oleh Allah Swt. Maka ia tidak perlu kuatir.
Jodoh adalah bagian dari rezeki. Rezeki seseorang sudah ada
jatahnya. Dan jatah rezeki seseorang tidak akan diambil oleh
orang lain. Begitulah yang tergores dalam pikirannya. Maka ia
merasa tenang dan tenteram. Tetapi tempaan hidup, ilmu
hidup harus diusahakan. Allah tidak akan menambah ilmu
seseorang kecuali seseorang itu berusaha menambah ilmunya.
Ia merasa bekerja serius adalah bagian dari upaya menam-bah
ilmu dan bagian dari usaha mengubah nasib.
Sejak peristiwa itu ia merasa harus lebih serius menghadapi
hidup. Ia mulai membangun diri untuk berproses tidak
hanya sukses secara bisnis, tapi juga sukses secara akademis.
Ia mulai menata diri untuk menyelesaikan S.1 tahun ini juga.
Setelah itu ia tetap akan belajar dan belajar tiada hentinya.
Wajahnya tampak lelah. Kedua matanya telah merah.
Namun sepertinva ia tak mau menyerah. Dalam kondisi sangat
letih, ia harus tetap bekerja. Ia tak mau kalah oleh keadaan. Ia
tak mau semangatnya luntur begitu saja oleh rasa kantuk
yang terus menderanya. Bila sudah begitu, ia selalu ingat
perkataan Al Barudi yang selalu melecut jiwanya,
Orang yang memiliki semangat.
Ia akan mencintai semua yang dihadapinya.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
77
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia
menghela nafas dalam-dalam. Sudah masuk ujung ma-lam, dua
jam lagi pagi datang. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya
dengan segera. Ia harus punya waktu untuk istirahat, meskipun
cuma satu jam memejam mata.
Ia lalu berdiri dan menggerak-gerakkan tubuhnya untuk
menghilangkan rasa linu dan pegal yang begitu terasa. Dua
menit ia melakukan gerakan senam ringan. Lalu kembali jongkok.
Dan kembali membungkus kedelai calon tempe dengan
penuh ketelitian dan kesabaran.
Tepat pukul tiga kurang lima menit ia berdiri dan
bernafas lega. Pekerjaannya telah usai. Masih ada sedikit waktu
untuk istirahat sebelum Subuh tiba. Alat-alat kerjanya ia
rapikan. Ia letakkan pada tempatnya. Segera ia membersihkan
tangannya dan mengambil air wudhu. Sebelum merebahkan
badannya di atas tempat tidur, terlebih dahulu ia sempatkan
dirinya untuk shalat tahajud dua rakaat lalu shalat Witir. Ia
membaca tasbih sambil mengatur jam bekernya. Lalu perlahan
tidur.
Baru saja matanya terpejam, ia mendengar namanya
dipanggil-panggil pelan. Pintu kamamya juga diketuk, pelan.
"Kang Azzam... Kang Azzam!"
Dengan perasaan sangat berat, kepala sedikit pusing, ia
bangkit.
"Siapa? " tanyanya.
"Hafez Kang."
Azzam turun dari tempat tidurnya dan beranjak membuka
pintu kamarnya. Di depan pintu kamarnya berdiri seorang
pemuda berkaca mata.
"Ada apa Fez?" tanya Azzam.
Habiburrahman El Shirazy
78
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Maaf Kang, saya tidak kuat lagi. Saya tidak bisa tidur
Kang. Saya tidak tahu harus bagaimana? Saya perlu orang
yang saya ajak bicara. Saya mau minta pertimbangan Kang
Azzam. Saya tidak kuat lagi Kang." Jelas Hafez dengan suara
serak.
"Masih tentang perasaanmu pada Cut Mala?"
"Iya Kang."
"Aku tahu kau pasti berat menanggung perasaan itu Fez.
Tapi afwan 11 , aku belum tidur. Aku harus istirahat. Bila tidak
aku bisa ambruk. Nanti saja kita bicarakan Setelah shalat
Subuh ya. Kau baca Al-Quran saja sana untuk menenangkan
jiwa sambil menunggu Subuh. Nanti kalau sudah Subuh aku
dan teman-teman dibangunkan. Gitu ya?"
"Tidak bisa sekarang Kang?"
"Aku tidak kuat Fez. Aku baru saja selesai membungkusi
tempe. Aku sangat lelah. Aku butuh istirahat."
"Baiklah Kang. Setelah shalat Subuh."
Pemuda berkaca mata itu beranjak ke kamamya. Azzam
menutup kamarnya. Tanpa dikunci. Ia merebahkan badannya.
Ia tahu Hafez menghadapi masalah serius. Tapi ia perlu istirahat.
Dan membicarakannya setelah Subuh ia rasa tidak
terlambat. Subuh sudah sangat dekat. Ia kembali berdoa,
memejamkan mata dan tidur. Lelap.
Sementara Hafez keluar dari kamamya dengan membawa
mushaf. Ia mengikuti saran Azzam. Di ruang tamu ia membaca
Al-Quran dengan suara pelan. Ia sama sekali tidak bisa
berkonsentrasi menghayati dan mentadabburi apa yang dibacanya.
Pikirannya tetap saja tertuju pada Cut Mala. Ia sendiri
tidak tahu kenapa satu bulan ini hati dan pikirannya tidak bisa
11 Maaf
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
79
Ilyas Mak’s eBooks Collection
lepas dari Cut Mala. Mahasiswi Al Azhar dari Aceh yang tak
lain adalah adik kandung teman yang paling akrab dengannya,
yaitu Fadhil. Ia tidak menyadari bahwa perasaan cintanya
pada gadis Aceh itu tumbuh dengan begitu lembut dan perlahan.
Dan sekarang perasaan itu sudah sedemikian membuncah.
Berbunga -bunga. Bahkan nyaris tak bisa dikuasainya.
Sedemikian membuncahnya perasaan itu, hingga ia tak
bisa berbuat apa-apa. Padahal saat itu, ia harus konsentrasi
memikirkan ujian Al Azhar yang tinggal satu bulan lagi. Yang
ada dalam pikiran dan hatinya selalu saja Cut Mala. Wajah
Cut Mala. Suara Cut Mala. Langkah kaki Cut Mala. Budi
bahasa Cut Mala. Gaya bahasa Cut Mala. Tingkah laku dan
perangainya yang halus, sopan, dan sangat menjaga diri. Prestasi
prestasinya yang selalu terukir dengan gemilang. Bahkan
pendapat-pendapatnya yang tertuang dalam pelbagai buletin
kemahasiswaan di Cairo.
Itu semua telah membuat hati Hafez begitu kagum padanya.
Ah, tak hanya kagum, tapi ada sesuatu yang aneh mendera-
dera hatinya, entah apa namanya. Ia merasa, di dunia ini tak
ada gadis yang ia anggap sempurna untuk menjadi pendamping
hidupnya, menjadi ibu dari anak-anaknya, selain gadis
dari Tanah Rencong itu.
Sehap kali ia mendengar nama itu disebut, hatinya sela lu
bergetar. Berdesir-desir. Disebut oleh siapa saja. Termasuk
ketika ia mendengar nama itu disebut oleh Fadhil kakak
kandung Cut Mala sendiri.
Dan setiap kali ia membaca nama gadis kelahiran Ulee
Kareng Banda Aceh itu tertulis di buletin, buletin apa saja.
rasa cintanya bertambah-tambah.
Ia merasa sudah nyaris gila. Ia sadar perasaan seperti itu
tidak boleh menjajah dirinya. Tapi entah kenapa ia merasa
sangat tidak berdaya. Ia membaca Al-Quran dengan perlahan
Habiburrahman El Shirazy
80
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dan ia kembali tidak berdaya. Cut Mala hinggap lagi di kelopak
matanya.
Sudah sekuat tenaga ia mengusir kelebatan bayangan Cut
Mala, tapi tak kuasa. Semakin ia coba mengusirnya, justru
semakin jelas bayangan Cut Mala bersemayam di benaknya. Ia
benarbenar tak berdaya.
Dalam ketidak berdayaan, kehadiran bayangan Cut Mala,
malah ia rasakan sebagai sebuah kegilaan dan kenikrnatan,
kenikmatan dan kegilaan. Bagaimana tidak. Saat ia berusaha
mentadabburi apa yang ia baca, saat itu justru muncul bayangan
yang tidak-tidak di benaknya: "Seandainya ia telah
menikah dengam Cut Mala, lalu di penghujung malam seperti
itu ia membaca Al-Quran bareng Cut Mala. Bergantian. Terkadang
ia yang membaca, Cut Mala yang mendengarkan. Atau
Cut Mala yang membaca, ia yang menyimak dengan seksama.
Alangkah indahnya. Alangkah indahnya.”
Ia memejamkan mata. Setetes airmata jatuh ke mushaf
yang ia baca.
Ia sesenggukan. Menangis dengan perasaan cinta, sedih,
rindu dan merasa berdosa bercampur jadi satu.
"Ya Allah, ampuni dosa hamba-Mu ini. Ya Allah, jika
yang kurasakan ini adalah sebuah dosa maka ampunilah dosa
hamba-Mu yang lemah ini."
Dalam doa dan istighfarnya, ia sangat berharap bahwa
Allah Swt. mengasihi orang-orang yang sedang jatuh cinta
seperti dirinya.
***
Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna merah.
Fajar perlahan menyingsing. Sebuah menara mengumandangkan
azan. Disusul menara kedua.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
81
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Beberapa detik kemudian azan berkumandang dari beribu
menara yang menjulang di Kota Cairo. Azan dari menara
Masjid Ar Rahmah membangunkan Cut Mala yang tinggal di
kawasan Masakin Utsman. Tepatnya Masakin Utsman 72/
605, tak jauh dari Masjid Ar Rahmah yakni masjid yang oleh
orang-orang Indonesia disebut "Masjid Planet".
Disebut "Masjid Planet" karena bentuknya yang tidak
seperti masjid pada umumnya, tapi mirip bangunan dari planet
lain.Ada juga yang menyebut "Masjid UFO", karena bentuknya
agak mirip UFO.
Gadis Aceh itu membangunkan teman-temannya. Ketika
ia masuk kamar Tiara, ia mendapati kakak kelasnya itu masih
bersimpuh di atas sajadahnya dengan terisak-isak. Ia tidak
ingin mengganggunya.
Cut Mala atau lengkapnya Cut Malahayati, tinggal di
dalam flat yang cukup luas itu dengan empat orang mahasiswi.
Flat itu memiliki tiga kamar tidur berukuran cukup luas.
Satu dapur. Satu kamar mandi. Balkon. Dan ruang tamu yang
juga luas. Flat itu tergolong mewah. Semua lantainya full
karpet. Di ruang tamu ada seperangkat sofa yang diimpor dari
Italia. Dapur full keramik. Dan kamar mandi yang tak kalah
dengan hotel bintang tiga. Flat itu juga dilengkapi telpon,
pemanas air, kulkas, kompor gas bahkan pengatur suhu udara
diruang tamu.
Cut Mala dan teman-temannya bisa dikatakan beruntung.
Sebab untuk flat yang semewah itu mereka hanya
membayar tiga ratus pound perbulan. Untuk ke kuliah pun
seringkali ia memilih jalan kaki. Sebab flatnya dengan kuliah
banat tidaklah jauh.
Pemilik flat itu bernama Madam Zubaida. Seorang pengusaha
yang kaya. Ia memiliki perusahaan travel dan beberapa
toko sepatu di Cairo dan Alexandria. Madam Zubaida
Habiburrahman El Shirazy
82
Ilyas Mak’s eBooks Collection
sangat pemurah dan baik hati. Ia memiliki tiga orang anak.
Satu putri, dua putra. Dua anaknya berada di luar negeri.
Yang putri bemama Yasmin, sedang kuliah di Prancis, dan
telah menikah dengan seorang staf Kedutaan Mesir di Paris.
Anaknya yang nomor dua, kuliah di Istanbul. Hanya si Bungsu
yang menemaninya. Masih kuliah di Fakultas Kedokteran
Cairo University. Setahu Cut Mala, Madam Zubaida memiliki
tiga rumah di Cairo. Satu di kawasan Mohandisin yang ia
tempati bersama putra bungsunya. Yang kedua di kawasan
Ma'adi, dan yang ketiga di Masakin Utsman Nasr City yang
disewakan kepada mahasiswi dari Indonesia.
Tujuan Madam Zubaida menyewakan flatnya di Masakin
Utsman memang tidak semata mata untuk mendapatkan uang,
tapi agar flatnya ada yang menjaga, merawat dan mengurusnya.
Maka ia hanya percaya pada para maha-siswi. Khususnya
mahasiswi Indonesia. Kebetulan Madam Zubaida pernah
memiliki seorang pembantu perem-puan dari Indonesia.
Madam Zubaida sangat terkesan dengan kehalusan budi dan
ketelatenan pembantunya itu dalam mengurus rumahnya.
Maka sejak itu ia sangat percaya pada perempuan dari
Indonesia. Perempuan Indonesia memang luar biasa di mata
Madam Zubaida.
Setiap bulan Madam Zubaida datang mengontrol keadaan
flatnya pada hari yang tidak ia tentukan. Dan ia selalu
puas, karena para mahasiswi dari Indonesia yang meninggali
flatnya benar-benar menjaga dan merawat flatnya dengan
baik. Cut Mala dan teman temannya bahkan selalu menjaga
seluruh ruangan flat itu dengan pengharum ruangan, agar
selalu segar dan wangi udaranya.
Bisa dikatakan, seluruh penghuni rumah itu adalah mahasiswi
yang bernaung dalam Keluarga Mahasiswa Aceh. Cut
Mala dari Pidie dan Tiara dari Banda Aceh. Keduanya benarbenar
asli Aceh, maksudnya kedua orangtua mereka memang
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
83
Ilyas Mak’s eBooks Collection
asli Aceh. Selain mereka berdua ada Cut Rika dan Masyithah.
Keduanya tidak berdarah Aceh murni, namun tidak ada
bedanya dengan yang berdarah Aceh.Cut Rika, lahir di Peukan
Bada, Aceh Besar, tapi ia besar dan menghabiskan masa remajanya
di rumah neneknya di Bandung. Ayahnya asli Peukan
Bada, ibunya asli Bandung. Dan terakhir adalah Masyithah,
gadis paling cantik di rumah itu. Bahkan, mungkin mahasiswi
Indonesia paling cantik di Cairo. Hanya saja tidak banyak
yang tahu seperti apa sesungguhnya kecantikannya. Sebab,
dalam keseharian ia selalu memakai cadar.
Masyithah lahir di Aceh, ayahnya asli Syiria, ibunya asli
Pakistan. Jadi sama sekali tidak ada darah Aceh yang mengalir
dalam dirinya. Tapi sejak pertama kali melihat dunia ia telah
jadi orang Aceh.
Masyithah lahir di Banda Aceh saat ayahnya mendapat
tugas dari Rabithal 'Alam Islami untuk mengajar di IAIN Ar
Raniry. Saat melahirkannya, ibunya meninggal dunia Ayahnya
tetap teguh untuk menyelesaikan tugasnya berdahwah dan
mengajar di Aceh.
Ia dirawat oleh seorang gadis dokter yang membantu
kelahirannya. Entah bagaimana awalnya, akhimya dokter asli
Aceh yang merawatnya itu berhasil disunting ayahnya. Dialah
ibunya, yang ia kenal sekarang. Meskipun sesungguhnya ia
ibu tiri, tapi ia tak pernah merasa menjadi anak tiri. Sejak itu
ayahnya pindah kewarga-negaraan menjadi orang Indonesia.
Sekarang ayahnya bekerja di Kedutaan Besar Syiria di Jakarta.
Sementara ibunya bekerja di RSCM Jakarta. Masyithah sudah
bisa berbahasa Arab sejak kecil. Maka wajar jika ia paling fasih
berbahasa Arab di rumah itu. Selain bahasa Arab, ia juga fasih
berbahasa Indonesia dan Aceh.
Cut Mala dan teman-temannya menjalankan shalat Subuh
berjamaah. Mereka menggelar sajadah di ruang tamu. Yang
Habiburrahman El Shirazy
84
Ilyas Mak’s eBooks Collection
menjadi imam pagi itu Cut Rika. Mahasiswi tingkat tiga jurusan
tafsir itu membaca surat An Nisa'. Bacaannya tartil dan
fasih. Suaranya indah. Semuanya larut dalam penghayatan
kalam ilahi. Usai shalat mereka zikir, mengingat Allah Swt.,
lalu membaca Al Ma' tsurat. 12 Setelah itu mereka kembali ke
kamarnya masing-masing untuk tilawah.
Cut Mala mengikuti Masyithah masuk kamar. Mereka
berdua memang tinggal dalam kamar yang sama. Keduanya
lalu larut dalam tadarus Al-Quran. Cut Mala terus membaca.
Sementara Masyithah menyudahi baca-annya. Ia menyalakan
komputernya. Tiara mendekati Cut Mala. Cut Mala menyudahi
bacaannya.
"Mau aku ajak jalan jalan Dik Mala? " Lirih Tiara.
"Mau Kak."
"Yuk kita keluar. Kita ke Hadiqah Dauliyah. Sekalian
menghirup udara pagi. Aku ingin sedikit bicara denganmu."
"Ayuk."
Cut Mala melepas mukenanya. Memakai jubah hijau tuanya
dan memakai jilbab hijau mudanya. Setelah yakin dengan
penampilannya ia melangkah keluar kamar mengikuti Tiara.
Masyithah yang mengetahui ke mana me-reka akan pergi
berteriak,
''Jangan lupa nanti mampir beli roti."
"Insya Allah. " Jawab Cut Mala.
* * *
Usai shalat Subuh, Azzam tetap di masjid, demikian juga
Hafez. Azzam membaca dua halaman mushafnya lalu mendekab
Hafez yang duduk terpekur tak jauh darinya. Beberapa
12 Kumpulan dzikir dan doa dari Rasulullah Saw. Yang dibaca pada pagi dan sore hari
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
85
Ilyas Mak’s eBooks Collection
orang Mesir duduk melingkar untuk membaca Al-Quran bergantian.
Biasanya Azzam menyempatkan ikut, tapi kali ini ia
sudah berjanji pada Hafez.
"Sebaiknya kita berbincang-bincang di luar sana sambil
berjalan-jalan dan menghirup udara pagi" kata Azzam pada
Hafez.
Hafez mengangguk. Keduanya keluar meninggalkan
masjid dan berjalan menelusuri trotoar ke arah Mahatta
Gami'.
"Kau bilang kau akan konsentrasi pada studimu Fez. Apa
kau lupa dengan itu?" Kata Azzam seraya menghentikan
langkahnya. Hafez juga menghentikan langkahnya.
"Aku inginnya begitu Kang. Tapi entah kenapa aku sama
sekali tidak bisa melupakan dia. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Aku bingung aku harus bagaimana. Saat shalat,
aku membayangkan jika shalat bersamanya. Saat membaca Al-
Quran aku membayangkan jika aku membaca Al-Quran
bergantian dengannya. Saat berdoa pun aku juga mengingat
dirinya. Aku harus bagaimana Kang?"
"Ini penyakit, kau harus sadar itu Fez!"
"Aku sadar Kang, sangat sadar. Aku tak boleh membayangkan
wajahnya. Itu tidak boleh. Itu haram.Tapi bayangan
wajahnya datang begitu saja Kang. Aku bisa gila Kang. Aku
rasa satu -satunya jalan aku harus berterus terang pada Fadhil,
bahwa aku mencintai adiknya dan aku langsung akan mela -
marnya dan menikahinya secepatnya"
Azzam tersenyum.
"Itu pikiran yang bagus. Menikah. Tapi masalahnya apa
kamu yakin adik si Fadhil. Siapa itu namanya Cut Nala?"
"Bukan Nala Kang, Mala."
Habiburrahman El Shirazy
86
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"O ya Cut Mala. Apa kamu yakin dia siap untuk menikah.
Dia baru tingkat dua. Sedang asyik-asyiknya merasakan
dinamika hidupnya sebagai seorang maha-siswi. Bahkan seorang
aktivis. Terus kalau dia siap menikah apa kamu yakin dia
mau menikah denganmu? "
"Lalu aku harus bagaimana Kang?"
"Kau harus melupakannya. Jika dia jodohmu, percayalah,
dia tidak akan ke mana-mana. Dia tidak akan diambil siapapun
juga."
"Tapi rasanya sangat susah Kang."
"Aku tahu. Selama kau masih satu rumah dengan Fadhil
kau takkan bisa melupakannya. Aku tahu setidaknya tiap dua
hari sekali Fadhil mendapatkan telpon dari adiknya, dan sebaliknya
Fadhil juga sering menelpon adiknya. Terkadang tanpa
sadar Fadhil menyebut nama adiknya itu di depanmu, di depan
kita-kita. Bagi orang lain yang tak memiliki perasaan apa-apa,
mendengar namanya mungkin tak ada masalah. Tapi bagi
kamu, itu sama saja air hujan menyirami tanaman yang mengharap
air. Belum lagi kalau adiknya itu datang mengantar
sesu-atu, yang terkadang mengantar makanan untuk kakaknya.
Ya untuk kakaknya, tapi kita ikut menyantap masakannya.
Bagi yang lain mungkin tidak masalah, tapi bagimu
menyantap masakannya akan mengobarkan bara asmara yang
mungkin susah payah kau padamkan. Jika kau nekat berterus
terang pada Fadhil saat ini, percayalah kau bisa merusak sega -
lanya. Kau bisa merusak dirimu sendiri. Merusak hubunganmu
dengan Fadhil. Bahkan juga bisa merusak Cut Mala."
"Kok bisa sejauh itu efeknya Kang?"
"Keinginan menikah itu baik. Keinginan melamar seseorang
juga tidak salah. Namun jika waktunya tidak tepat,
yang didapat bisa hal yang tidak diinginkan. Kau tentu tahu
saat ini sudah sangat dekat dengan ujian. Waktunya orang
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
87
Ilyas Mak’s eBooks Collection
konsentrasi pada ujian. Kalau kau membuka perasaan dan
keinginanmu saat ini, pasti bisa membuyarkan konsentrasi
Fadhil, juga adiknya Cut Mala. Bahkan jika Cut Mala pun siap
menerimamu. Konsentrasinya pada pelajaran akan buyar dan
beralih memikirkan lamaranmu. Apalagi jika ia sebenamya
tidak siap menikah. Fadhil juga akan sangat memikirkan hal
itu. Sebab, kau adalah temannya, dan Cut Mala adalah adiknya.
Jika Cut Mala menolak lamaranmu Fadhil pasti akan
sangat tidak enak padamu. Belum lagi hal-hal lain di luar
prediksi kita. Saya pernah mendapat cerita dari seorang bapak
di KBRI, ada seorang mahasiswi gagal ujiannya gara-gara
dilamar oleh seseorang lewat telpon dan mahasiswi itu tidak
siap menerima lamaran itu. Konsentrasinya buyar dan ujiannya
gagal. Apa tidak kasihan kalau itu terjadi pada Cut Mala."
"Terus saya harus bagaimana Kang?"
"Kau harus berhasil mengatasi dirimu. Kau harus bisa
mengatasi perasaanmu. Jangan kau korbankan orang lain.
Sebaiknya untuk sementara, kau mengungsilah yang jauh
supaya bisa konsentrasi belajar. Nanti setelah ujian selesai, aku
akan membanturnu membicarakan hal ini dengan Fadhil. Ini
lebih baik bagimu dan bagi semuanya. Percayalah, siapa
jodohmu, sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Kau jangan kuatir.
Jika memang yang tertulis untukmu adalah Cut Mala, Insya
Allah tidak akan ke mana-mana.
"Baiklah Kang. Aku ikut saranmu. Tapi janji ya Kang,
setelah ujian selesai nanti akan membanlu berbicara dengan
Fadhil."
"Ya, aku janji."
* * *
Cut Mala dan Tiara keluar flat dan turun menggunakan
lift. Mereka lalu berjalan ke selatan menuju Hadiqah Dauliyah.
Sebuah taman kota di Nasr City yang sangat dibanggakan
Habiburrahman El Shirazy
88
Ilyas Mak’s eBooks Collection
oleh orang Mesir. Taman yang terdiri hanya atas beberapa
hektar itu, mereka sebut Hadiqah Dauliyah, artinya International
Garden, Taman Internasional.
Mahasiswa Indonesia sering menertawakan orang Mesir
begini,"Kita saja orang Indonesia yang memiliki taman sangat
luas, replika dari suku bangsa Indonesia, untuk mengitarinya
tidak cukup dengan jalan kaki. Kita masih menamakan taman
mini. Kita menyebutnya Taman Mini Indonesia Indah. Sedangkan
ini taman yang cuma beberapa hektar saja sudah
disebut Taman Internasional. Terkadang orang Mesir menjawab
dengan santai, "Itulah bedanya orang Indonesia dengan
orang Mesir. Orang Indonesia terlalu rendah diri, terlalu minder
dengan kemampuannya, dan tidak bisa memotivasi diri.
Sedangkan orang Mesir selalu percaya diri. Selalu bisa memotivasi
diri! Kita bisa menginternasionalkan yang kecil." Maka
biasanya orang Indonesia akan diam sambil terus menggerutu
di dalam hati, "Dasar orang Mesir anak Fir'aun, sombong
sekali!"
Cut Mala dan Tiara sudah sampai di gerbang Hadiqah.
Gerbang baru saja dibuka. Beberapa orang Mesir masuk.
Mereka berpakaian olah raga. Dua gadis Aceh itu masuk.
Tiara mengajaknya duduk di sebuah bangku panjang. Langit
tampak cerah. Burung burung beterbangan dari pohon ke
pohon. Dari arah timur, di antara gedung-gedung bertingkat
muncul cahaya kemerahan yang perlahan menjadi kekuningkuningan.
Matahari muncul seolah tersenyum pada bumi.
"Mau bicara tentang apa Kak?" Tanya Cut Mala.
"Aku mau sedikit minta tolong padamu Dik." Jawab
Tiara.
"Apa itu Kak?"
"Begini, aku sedang sedikit menghadapi masalah serius.
Aku minta kamu tidak membuka hal ini kepada siapapun juga.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
89
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Kemarin aku mendapat telpon dari Aceh. Dari ayah. Beliau
bilang, aku dilamar oleh seorang Ustadz. Namanya Ustadz
Zulkifli. Dia adalah salah seorang ustadz di pesantren kakak
dulu. Namun dia tidak pernah mengajar kakak. Karena ketika
dia masuk pesantren, kakak sudah kelas dua aliyah. Dan dia
mengajar di kelas satu. Jadi kakak tidak tahu persis bagaimana
sebenamya dia. Ayah cerita, katanya Ustadz Zulkifli pernah
satu pesantren dengan Kak Fadhil, kakakmu. Aku minta tolong
sampaikanlah keadaanku ini pada Kak Fadhil. Aku
sebaiknya mengambil keputusan apa? Harus aku terimakah
lamarannya atau bagaimana? Dua hari lagi ayah mau menelpon
untuk meminta kepastianku. Ayah menyerahkan sepenuhnya
padaku."
"Sebenarnya dari hati nurani paling dalam Kak Tiara
bagaimana? Menerima atau menolak? "
"Aku tidak tahu Dik."
"Reaksi hati pertama kali mendengar lamaran itu
bagaimana Kak?"
"Biasa-biasa saja. Karena sebenarnya aku belum ingin
menikah. Aku ingin menikah setelah selesai kuliah. Tapi ayah
bilang jika aku mau, Ustadz Zulkifli akan menyusul ke Mesir.
Aku belum bisa mengambil keputusan. Tolong ya sampaikan
hal ini pada Kak Fadhil. Aku ingin tahu pendapat dia sebagai
pertimbangan. Dia mungkin kenal baik Ustadz Zulkifli, dan
dia juga tahu tentang diriku."
"Baiklah Kak, amanah kakak segera saya tunaikan, Insya
Allah."
Hati Tiara merasa lega mendengar jawaban Cut Mala.
Sebenarnya ia ingin mengatakan pada Cut Mala, bahwa ia
mencintai Fadhil, kakaknya, tapi ia tidak sampai hati menyampaikannya.
Rasa malulah yang menghalanginya. Selama ini ia
hanya bisa meraba tanpa bisa memastikan apakah Fadhil
Habiburrahman El Shirazy
90
Ilyas Mak’s eBooks Collection
memiliki perasaan yang sama ataukah tidak. Ia ingin mendengar
komentar Fadhil tentang masalahnya untuk sedikit
mencari petunjuk dan isyarat seperti apa sesungguhnya sikap
Fadhil kepadanya.
Ia ingin mencari petunjuk bahwa Fadhil juga mencintainya.
Jika ya, ia akan lebih memilih hidup bersama orang
yang dicintainya. Ia sangat yakin Fadhil orang yang baik dan
saleh, demikian juga Ustadz Zulkifli. Jika demikian, bila disuruh
memilih yang sama baiknya, tentu ia akan memilih yang
telah diterima oleh hatinya. Namun, ia merasa jodoh terkadang
tidak bisa dipilih. Jodoh dalam keyakinannya adalah
dipilih. Ya, dipilihkan oleh Allah. Manusia hanya berusaha,
berikhtiar. Dan apa yang ia lakukan pada pagi buta dimusim
semi itu ia yakini sebagai salah satu dari ikhtiarnya.
Ia tidak bisa menampik bahwa ia mencintai Fadhil,
dengan diam-diam. Namun ia tidak yakin cinta seperti yang ia
rasakan akan kekal. Baginya, cinta yang kekal adalah untuk
orang yang secara sah menjadi suaminya, Dan ia tidak
memungkiri, ia ingin orang itu adalah Fadhil. Sekali lagi jika
boleh memilih.
Tiara bangkit diikuti Cut Mala. Keduanya berjalan
mengitari taman. Orang-orang Mesir semakin banyak berdatangan.
Ada yang berlari-lari kecil. Ada yang hanya berjalan
jalan.
"Berarti Ustadz Zulkifli itu pernah belajar di Pesantren
Ar Risalah Medan Kak?" tanya Cut Mala. Ia bertanya begitu
karena Fadhil, kakaknya menyelesaikan pendi-dikan menengahnya
di pesantren itu.
"Iya. Setahu saya, dia waktu MTs dan Aliyahnya di
Pesantren Ar Risalah, lalu kuliah di LIPIA Jakarta Prograrn
I’dadul Lughah, setelah itu ia mengajar di pesantren kakak."
Jelas Tiara panjang lebar.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
91
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Dia tampan nggak Kak?"
"Aku tak ingat lagi wajahnya Dik. Kenapa kau tanya
begitu.?"
"Memang tidak boleh, Kak?!"
"Ya boleh saja. Tapi kenapa kau tanya begitu?"
"Kalau dia tampan, ya diterima saja Kak."
"Kalau tidak tampan?"
"Ya terserah Kakak. Kan Kakak yang mengambil keputusan,
dan kakak pula yang akan menjalaninya bukan Mala,
hi... hi... hi...." Cut Mala cekikikan. Dua lesung di pipinya
menambah pesona wajahnya.
Tiara gemas dibuatnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design