Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesihatan dan keamanan

Minggu, 12 Desember 2010

7 SMS UNTUK ANNA

Gadis itu berjalan dengan hati berselimut cinta. Hatinya
berbunga-bunga. Siang itu, Cairo ia rasakan tidak seperti biasanya.
Musim semi yang sejuk, matahari yang ramah, serta
senyum dari Profesor Amani saat memberinya ucapan selamat
dan doa barakah. Semua melukiskan suasana indah yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasakan begitu dalam
rahmat dan kasih sayang Allah kepadanya.
Ia berjalan dengan hati berselimut cinta. Kedua matanya
basah oleh air mata haru dan bahagia. Itu bukan kali pertama
ia menangis bahagia. Ia pernah beberapa menangis bahagia.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
93
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Dulu, begitu kedua kakinya untuk pertama kalinya menginjak
tanah Mesir, ia menangis. Juga saat berhasil
lulus S.1 dua tahun yang lalu dengan predikat mumtaz,
atau summa cumlaude. Ialah mahasiswi dari Asia Tenggara pertama
yang berhasil meraih prestasi ini. Ia juga menangis penuh
rasa syukur ketika berhasil lulus ujian tahun kedua pasca
sarjana. Lulus setelah melewati ujian tulis dan ujian lisan yang
berat. Dalam ujian lisan ia harus berhadapan dengan empat
profesor. Lulus juga dengan nilai mumtaz, sehingga ia berhak
untuk mengajukan judul tesis. Saat itu ia merasakan betapa
dekatnya Allah 'Azza wa Jalla. Betapa sangat sayanya Allah
kepadanya. Doa dan usaha kerasnya senantiasa dijabahi oleh-
Nya.
Dan hari ini, ia kembali menangis. Menangis bahagia.
Hatinya dipenuhi keharuan -luar biasa. Batinnya terus bertasbih
dan bertahmid. Jiwanya mengalunkan gerimis Subhaana
Rabbiyal a'la wa bihamdih. Subhaana Rabbiyal a'la wa bihamdih.
Subhaana Rabbiyal a’1a wabihamdih... Ia bertasbih. Proposal
tesisnya langsung diterima tanpaa menunggu waktu yang
lama. Hanya satu bulan saja sejak proposal tesisnya itu ia ajukan
ke Qism Diraasat 'Ulya. 13
Ia kembali menangis. Ia kembali teringat kata abahnya
tercinta,
"Anakku, alangkah indahnya jika apa saja yang kau temui.
Apa saja yang kaurasakan. Suka, duka, nikmat, musibah,
marah, lega, kecewa, bahagia. Pokoknya apa saja, Anakku. Bisa
kau hubungkan derngan akhirat, dengan hari akhir. Dengan
begitu hatimu akan sangat peka menerima cahaya hikmah dan
hidayah. Hatimu akan lunak dan lembut Selembut namamu.
Dan tingkah lakumu juga akan tertib setertib namamu!"
13 Program Pascasarjana
Habiburrahman El Shirazy
94
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Wajah abahnya seperti di depan mata. Saat itu ia bingung
dengan maksud menghubungkan yang ditemui dan dirasakan
dengan akhirat. Abah sepertinya tahu akan kebingungannya,
maka abah langsung menyambung,
"Begini Anakku, jika suatu ketika kau dimurkai ibumu
misalnya, carilah sebab kenapa kau dimurkai ibumu. Hayati
perasaanmu saat itu, saat kau dimurkai. Ibumu murka kemungkinan
besar karena kau melakukan suatu kesalahan, yang
karena kesalahamnu itu ibumu murka. Dan saat kau dimurkai
pasti kau merasakan kesedihan, bercampur ketakutan dan juga
penyesalan atas kesalahanmu. Itulah yang kau temui dan kau
rasakan, saat itu. Lalu hayati hal itu sungguh sungguh, dan
hubungkan dengan akhirat. Bagaimana rasanya jika yang
murka kepadamu adalah Allah. Murka atas perbuatanperbuatanmu
yang membuat-Nya murka. Bagaimana perasaanmu
saat itu. Mampukah kau menanggungnya. Jika yang
murka adalah ibumu, kau bisa meminta maaf. Karena kau
masih ada di dunia. Jika di akhirat bisakah minta maaf kepada
Allah saat itu? "
Air matanya kembali meleleh.
"Terima kasih Abah!" Lirihnya. Kata-kata abahnya itu
memang sangat membekas dalam dirinya. Kata -kata abah saat
berusaha menghiburnya kala ia dimurkai ibunya liburan tahun
lalu. Ia dimurkai gara-gara asyik membaca saat diminta ibunya
mengupaskan mangga kepona-kannya si Kecil Ilham—
putra kakak sulungnya. Saat itu ia hanya menjawab "Inggih,
sekedap'' 14 dan ia masih konsentrasi membaca buku yang baru
ia beli dari Shopping Centre Jogja. Ia tidak memperhatikan
pisau dan mangga yang diletakkan oleh lbu di samping kanannya.
Sementara ia terus asyik membaca, si Kecil rupanya tidak
sabar. Diam-diam ia mengambil pisau dan berusaha mengupas
14 Ya Sebentar
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
95
Ilyas Mak’s eBooks Collection
sendiri. Akibatnya, jari si Kecil kepiris, darah mengalir dari
jarinya dan harus dilarikan ke puskesmas. Ia dimurkai ibunya
habis-habisan, buku yang ia baca dibakar oleh ibunya.
"Buku setan! Apa hidup hanya untuk membaca! Apa
belajar bertahun-tahun di Mesir masih kurang hah! Apa ilmu
hanya ada dalam buku! Peka pada anak kecil apa juga tidak
perlu ilmu! Apa gunanya jadi sarjana, lulusan Al Azhar kalau
tidak tanggap sasmita, kalau disuruh ibunya tidak segera
beranjak!"
Saat itu ia benar-benar sangat menyesal. Ia merasa begitu
kerdil. Kesalahannya seolah tidak bisa ditebus, tidak termaafkan.
Merasa menjadi orang paling berdosa di dunia. Ibu tidak
pernah marah bila ia membaca buku. Tapi saat itu beliau
sangat murka justru dikarenakan keasyikannya membaca
buku.
Abah menghiburnya. Itu baru ibu yang murka, bagaimana
jika Allah yang murka? Dan hari berikutnya, ibu sudah
tersenyum padanya, sudah melupakan semua kesalahannya. Si
Kecil Ilham seperti tidak merasakan sakit pada jarinya saat ia
ajak main bongkar-pasang balok susun.
Dia terus berjalan. Kakinya melangkah menyeberangi
jalan raya dan rel metro yang melintas di depan Kulyyatul
Banat. Sinar matahari begitu cerah dan bening, tidak seperti
saat musim panas atau musim dingin. Sesekali ia mengusap
matanya yang sembab dengan sapu tangannya.
Sesungguhnya yang membuat dia menangis tidaklah
semata-mata rasa bahagia karena proposal tesisnya diterima
dalam waktu begitu singkatnya, sementara ada mahasiswi
yang sudah dua kali mengajukan proposal tesis dan sudah
menunggu satu tahun tapi belum juga diterima. Namun yang
membuatnya menangis, karena ia teringat, bahwa yang dirasakannya
barulah kebahagiaan duniawi, belum ukhrawi.
Habiburrahman El Shirazy
96
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Begitu bahagianya ia, ketika jerih payahnya, kerja kerasnya
memeras otak, pontang-panting ke perpus-takaan Shalah
Kamil dan IIIT Zamalek, membuka dan menganalisis ratusan
referensi akhirnya membuahkan hasil yang melegakan jiwa.
Begitu hahagianya hatinya saat diberi ucapan selamat oleh
Profesor Amani. Benarlah kata pepatah, siapa menanam, dia
mengetam.
Baru proposal tesis yang diterima, ia begitu bahagianya.
Baru ucapan selamat dari Profesor Amani, ia begitu bangga -
nya. Kalimat Guru Besar Ushul Fiqh yang sangat dicintai para
mahasiswinya itu masih bergema dalam jiwanya :
"Selamat Anakku, semoga umurmu penuh barakah, ilmumu
bermanfaat. Teruslah belajar dan belajar!" Air matanya
kembali meleleh. Ia lalu berkata pada diri sendiri "Lantas
seperti apakah rasanya ketika kelak di hari akhir seseorang
mengetahui amalnya diterima Allah. Ia menerima catatan
amalnya dengan tangan kanan. Dan mendapatkan ucapan
selamat dari Allah, dari Baginda Nabi, dari malaikat penjaga
surga, dan dari seluruh malaikat, para nabi dan orang-orang
saleh. Saat surga menjadi tempat tinggal selama-lamanya.
Kebahagiaan semacam apakah yang dirasa?"
Ia melangkah. Matanya basah, "Rabbana taqabbal minna
innaka antas sami'ul 'aliim. Tuhan terimalah amal kami,
sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Lirihnya dalam hati, sambil menghayati dengan sepenuh
jiwa bahwa tiada prestasi yang lebih tinggi dari diterimanya
amal saleh oleh Allah dan dibalas dengan keridhaan-
Nya.
Ia terus melangkah menapaki trotoar di depan gedung
Muraqib Al Azhar, ke arah Abdur Rasul. Ia menengok ke kiri,
memandang gedung Muraqib sekejab. Di gedung itulah dulu
berkas-berkasnya masuk Universitas Al Azhar diproses. Di
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
97
Ilyas Mak’s eBooks Collection
gedung itulah ia pertama kali kenal antrean yang lumayan
panjang di Mesir. Di gedung itu juga ia berkenalan dengan
Wan Najibah Wan Ismail, mahasiswi dari Kedah, Malaysia
yang kini menjadi salah satu sahabat karibnya. Saat itu ia juga
antre untuk mendaftarkan diri masuk Al Azhar.
Bagi mahasiswa dan pelajar Al Azhar, gedung Muraqib
atau nama resminya Muraqabatul Bu'uts Al Islamiyyah pasti
menyisakan kenangan tersendiri. Bagi yang dapat bea siswar
maka mengurus beasiswanya juga tidak lepas dari Muraqib.
Bahkan bagi yang tidak mendapatkan beasiswa dari Al Azhar
dan ingin mengajukan permohonan beasiswa ke lembaga lain,
juga harus mendapatkan surat keterangan tidak menerima
beasiswa dari Muraqib. Seluruh lembaga pendidikan di dunia
yang ingin menyamakan ijazah mereka dengan ijazah Al
Azhar harus melalui proses di Muraqib.
"Pentingnya Muraqib bagi Al Azhar nyaris sama seperti
tangan bagi manusia", begitu kata Zuleyka, seorang mahasiswi
dari Turki, suatu kali kepadanya saat bertemu di depan
Muraqib. Mungkin ungkapan itu terlalu berlebihan. Namun
memang Muraqib jadi bagian pusat administrasi dan birokrasi
yang sangat vital bagi Al Azhar.
Begitu sampai di Tayaran Street ia melihat jam tangannya.
Sebelas kurang seperempat. Ia ingin segera sampai rumah,
dan mengabarkan kebahagiaannya kepada seluruh teman
rumah. Nanti setelah shalat Zuhur ia akan ke Daarut Tauzi’,
membeli beberapa buku dan kitab. Ia belum pernah ke toko
buku yang satu ini. Pulang dari Daarut Tauzi' setelah Ashar.
Dan si Zahraza, mahasiswi asal Kedah yang satu rumah dengannya
tak usah repot repot masak. Setelah shalat Maghrib,
ia mau mengajak orang satu rumah makan di Palace,
restaurant milik mahasiswa Thailand di kawasan Rab'ah El
Adawea yang terkenal Tom Yam dan nasi gorengnya.
Habiburrahman El Shirazy
98
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Dan saat pulang dari PaIace ia akan mampir ke rumah
Laila yang menjadi agen Malaysia Air Lines. Ia akan pesan
tiket pulang ke Tanah Air dengan transit dua minggu di
Kuala Lumpur. Kalau tidak, ia akan pesan pada Laila lewat
telpon saja. Rencananya ia hendak melakukan penelitian di
Malaysia untuk bahan tesisnya. Maka ia merasa, sebaiknya ia
berangkat minggu ini. Sebab Wan Aina mahasiswi asal Selangor
yang tinggal serumah dengannya mau pulang ke
Malaysia minggu ini.
Putri bungsu orang penting di Malaysia itu pulang hanya
dua minggu untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Pikirnya,
ia bisa bersama Wan Aina selama di Kuala Lumpur. Sehingga
urusan penelitian untuk tesisnya tentang "Asuransi Syariah di
Asia Tenggara" akan menjadi lebih mudah. Ia berencana hendak
melakukan penelitian di Perpustakaan ISTAC-IIUM di
Petaling Jaya, Perpustakaan IIUM di Gombak, dan Perpustakaan
Universiti Kebangsaan Malaysia di Kajang. Dan kakak
Wan Aina yang hendak menikah adalah dosen di IIUM. Wan
Aina sendiri berjanji akan menemaninya selama mela-kukan
penelitian di Malaysia.
Itulah rencana yang telah tersusun dalam kepalanya saat
ini. Yang paling penting ia harus segera pulang ke Tanah Air
sambil melakukan penelitian serius untuk tesisnya. Ia ingin
segera pulang untuk berbagi rindu, cerita, dan rasa bahagia
dengan abah dan ibundanya tercinta.
Begitu menyeberang Tayaran Street, hand phone-nya
berbunyi. Ada SMS masuk. Ia menghentikan langkah dan
melihat layar hand phone, dari Mbak Zulfa, isteri Ustadz
Mujab, yang masih bisa digolongkarl sepupu dengannya.
Kakek ayah Ustadz Mujab adalah juga kakek abahnya. Jadi
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
99
Ilyas Mak’s eBooks Collection
antara dirinya dan Ustadz Mujab masih erat pertalian darahnya.
Ia buka pesan yang masuk :
"Ass. Wr. Wb. Dik Anna, bagaimana Istikharahnya? — Sdh ada kepastian? Td Ust.
Furqan ngebel ke Ust. Mujab, katanya besok mau dolan. Mungkin mau menanyakan
hasilnya."
Ia tertegun sesaat, sesuatu yang nyaris dia lupakan, kini
ditanyakan. Memang sudah tiga bulan yang lalu ia diberitahu
Mbak Zulfa tentang keseriusan Furqan yang ingin mengkhitbahnya.
Saat itu ia sedang konsentrasi ujian, jadi ia anggap
angin lalu. Apalagi Furqan bukan yang pertama mengutarakan
keseriusan kepadanya. Ia telah menerimanya belasan
kali. Baik yang melalui orang ketiga seperti Furqan, atau yang
langsung blak-blakan lewat telpon, sms, email, surat maupun
disampaikan langsung face to face. Semuanya telah mampu ia
selesai-kan dengan baik.
Namun lamaran dari Furqan, Mantan Ketua Umum
PPMI, dan kandidat M.A. dari Cairo University, ia rasakan
agak lain. Tidak mudah baginya untuk mengatakan "tidak",
seperti sebelum-sebelumnya. Juga tidak mudah untuk mengatakan
"ya."
Ia sama sekali tidak menemukan alasan untuk menolak.
Namun juga belum mendapatkan kemantapan hati untuk menerimanya.
Pikirannya masih terpaku pada tesisnya. Namun ia
juga sadar bahwa waktu terus berjalan, dan usianya hampir
seperempat abad. Memang sudah saatnya ia membina rumah
tangga, menyempurnakan separo agama.
Ia melangkah sambil memasukkan hand phone ke dalam
tas birunya. Jilbab putih yang menutupi sebagian jubah biru
lautnya berkibaran diterpa semilir angin sejuk musim semi. Ia
mencoba menghadirkan bayangan wajah Furqan. Namun
spontan ada yang menolak dan dalam jiwanya. Ia tersadar,
dalam kenikmatan, dalam kelapangan selalu ada ujian. Dalam
Habiburrahman El Shirazy
100
Ilyas Mak’s eBooks Collection
setiap hembusan nafas dari aliran darah selalu ada setan yang
ingin menye-satkan. Ia langsung istighfar dan ber-ta'awudz. Ia
juga sadar bahwa dirinya adalah manusia biasa yang punya
nafsu, bukan malaikat suci yang tak memiliki nafsu.
Yang pasti, sunah Nabi tetap harus diikuti, dan suatu saat
nanti ia harus mengatakan "ya" atau "tidak" untuk Furqan.
Ya, suatu saat nanti tidak harus saat ini. Musim semi kali ini ia
tidak ingin diganggu siapa saja, termasuk apa saja yang
berkenaan dengan Furqan.
* * *
Sementara itu di belahan lain Kota Cairo, tampak sebuah
sedan Fiat putih keluar dari pelataran Fakultas Darul Ulum,
Cairo University. Sedan itu melaju pelan di Sarwat Street lalu
belok kanan ke Gami'at El Qahirah Street, kemudian belok
kanan melintas di depan Zoological Gardeen dan terus melaju
ke arah sungai Nil.
Tak lama kemudian Fiat putih itu telah berada di atas El
Gama'a Bridge, salah satu jembatan utama Kota Cairo yang
melintang gagah di atas sungai Nil. Begitu sampai di kawasan
El Manyal yang berada di Geziret El Roda, sedan itu belok
kanan menyusuri Abdel Aziz Al Saud Street yang membentang
di tepi sungai Nil dari ujung selatan Geziret sampai
ujung utara. Sedan putih buatan Italia itu terus melaju ke
ujung utara, hingga melintasi Cairo University Hospital. Tepat
di ujung utara Geziret, tampak Meridien Hotel berdiri gagah.
Sedan terus melaju dengan tenang hingga masuk di
pelataran Meridien. Begitu menemukan tempat yang tepat di
pelataran parkir, sedan itu berhenti. Seorang pemuda berwajah
Asia keluar dari sedan. Ia mengeluar-kan tas ransel dan tas
jinjing hitam. Setelah mengunci mobil ia melangkah ke arah
pintu masuk hotel. Dua orang pelayan hotel berkemeja hijau
muda dengan rompi dan celana hijau tua menyambutnya
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
101
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dengan senyum manis. Seorang di antara mereka menawarkan
untuk membawakan tasnya, tapi ia menolak. Pemuda itu
berjalan tenang melewati lobby hotel menuju resepsionis. Dua
orang petugas resepsionis dengan aura kecantikan khas gadis
Mesir menyambutnya dengan senyum. Seorang di antara
mereka menyapa,
"Good Afternoon, Sir. Can I help you? "
Pemuda itu membalas dengan senyum seraya menunjukkan
paspornya. Saat menyerahkan paspornya, ia sempat mem -
baca nama dua resepsionis itu. Dina dan Suzan. Si Dina menerima
paspor itu dengan senyum lalu menulis sesuatu di
komputer. Sebelum Dina berkata, sang Pemuda telah mendahuluinya
dengan sebuah kalimat dalam bahasa Arab,
"Lau samahti ya Anesa Dina...." 15
"Na'am," Resepsionis bernama Dina tampak terkejut,
"Hadratak bitakallim 'arabi? " 16
"Alhamdulillah, fiin Anesa Yasmin? Heya musy gaiya el
yom?" 17
"Heya hategi bil leil, insya Allah." 18
Dina lalu melihat data di komputer. "Kamar Anda 615,
Tuan Furqan"
"Kalau boleh 919."
"Sebentar saya cek dulu."
Furqan menangkap bau semerbak wangi parfum yang
menyengat. Bau itu begitu menteror dirinya. Ia menoleh ke
15 Maaf Nona Dina. (Anesa, atau Anisah adalah sapaan untuk petempuan yang belum menikah)
16 Anda bisa berbahasa Arab?
17 Alhamdulillah, mana Nona Yasmin? Dia tidak datang hari ini?
18 Dia akan datang nanti malam, Insya Allah.
Habiburrahman El Shirazy
102
Ilyas Mak’s eBooks Collection
arah datangnya bau itu. Seorang perempuan Mesir berambut
jagung dan berpakaian ketat melintas. Tangannya digandeng
seorang turis bule. Dalam hati ia istighfar, ia berdoa semoga
suatu kali nanti perempuan itu tahu adab memakai pakaian
dan parfum. Mengenai bule yang menggandengnya ia tidak
mau berpurbasangka. Mungkin itu adalah suaminya. Ia kem -
bali memperhatikan Dina. Pada saat yang sama Dina menoleh
ke arahnya.
"Ada isinya, Tuan."
"Kalau begitu coba 819."
"Baik, sebentar."
Dina kembali melihat layar komputer sementara jari jarinya
menari di atas keyboard dengan indahnya. Furqan melihat
jam tangannya, dua belas lebih tiga menit.
"Alhamdulillah, kosong!"
"Breakfast-nya sekali saja ya."
"Baik, Tuan."
Dina lalu memasukkan data. Mengambil key card, dan
memasukkannya ke dalam wadah berlipat tiga dari karton
berwarna kuning keemasan. Menuliskan nama Furqan, nomor
kamar dan mengambil kupon merah muda.
"Ini kunci dan kupon breakfast-nya."
"Mutasyakkir ya Anesa." 19
"Afwan." 20
Furqan memeriksa sebentar key card dan kupon yang ia
terima, lalu tersenyum tipis pada Dina dan Suzan. Keduanya
19 Terima kasih nona.
20 Maaf
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
103
Ilyas Mak’s eBooks Collection
membalas dengan senyum dan anggukan ringan. Furqan
lantas melangkahkan kaki ke arah lift. Ia tidak sadar kalau
Dina terus mengikuti gerak tubuhnya sampai hilang ditelan
pintu lift.
Furqan naik lift bersama dua turis dari Jepang. Dua muda-
mudi yang sedang melakukan riset tentang alat transportasi
Mesir kuno. Keduanya ternyata mahasiswa Kyoto University.
Kamar mereka dilantai yang sama dengan kamar Furqan.
Mereka begitu antusias ketika Furqan menjelaskan dia juga
seorang mahasiswa. Furqan memperkenalkan dirinya sebagai
mahasiswa pascasarjana Cairo University, jurusan tarikh wal
hadharah, sejarah dan peradaban. Sebelum berpisah untuk
menuju kamar masing-masing, Furqan sempat bertukar kartu
nama dengan mereka.
Sampai di pintu kamar 819, dengan mengucap basmalah,
Furqan membuka pintu kamar dengan key card-nya. Lalu memasukkan
key card-nya ke tempat bertuliskan "insert your card
here" untuk menyalakan listrik. Furqan langsung merasakan
kesejukan dan kemewahan kamarnya. Kemewahan Eropa
kontemporer hasil perkawinan arsitektur Italia dan Turki
modern.
Furqan meletakkan tas jinjing dan tas ranselnya di atas
meja pendek di samping kanan almari televisi. Ia lalu beranjak
membuka tabir jendela kamarnya. Dan terhamparlah di hadapannya
panorama sungai Nil. Kamarnya tepat menghadap
sungai Nil. Dari jendela kamamya ia bisa melihat hampir semua
panorama sungai Nil. Ke arah utara ia bisa melihat El
Tahrir Bridger, jembatan paling utama yang melintas sungai
Nil. Ia juga bisa melihat Gezira Sheraton Opera House, Cairo
Tower, bahkan menara Television and Broadcasting Studio di
kejauhan.
Habiburrahman El Shirazy
104
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ke arah barat ia bisa melihat gedung Papyrus Institute,
arus lalu lintas di El Nil Street yang berada tepat di sepanjang
tepi barat sungaiNil, membentang dari Giza hingga Imbaba.
Ke arah selatan ia bisa melihat El Gama'a Bridge, bendera
Kedutaan Israel, dan terminal transportasi air yang letaknya
tak begitu jauh dari El Gama'a Bridge dan tentu saja beberapa
menara masjid.
Cairo memang terkenal dengan kota seribu menara.
Sangat mudah menemukan menara masjid di kota ini. Sebab
hampir di setiap titik ada masjidnya
Furqan merebahkan badannya di atas springbed. Punggungnya
terasa nyaman. Perlahan-lahan kedua matanya hendak
terpenjam. Tiba-tiba hand phone-nya berdering mengingatkan
saatnya shalat. Ia bangkit, menggerak-gerakkan
badannya untuk melemaskan otot ototnya lalu duduk di kursi.
Di kepalanya telah tergambar jadwalnya selama berada di
hotel. Setelah wudhu ia akan keluar sebentar untuk shalat
Zuhur di masjid terdekat dari hotel. Ada masjid di dekat Cairo
University Hospital yang terletak di sebelah selatan Meridien.
Setelah itu istirahat sebentar. Satu jam sebelum Ashar,
bangun untuk mulai membaca isi tesisnya. Untuk seterusnya
konsentrasi memperdalam isi tesisnya yang siap diujikan
dalam sidang terbuka tiga hari lagi. Hanya diselingi shalat,
makan dan mandi. Selain tesis yang telah paripurna penyuntingannya,
bahan-bahan terpenting telah ia bawa yaitu beberapa
buku penting, data -data penting yang telah ia simpan
rapi dalam laptop serta beberapa data dalam berlembar-lembar
fotocopy. Itulah jadwal yang telah tersusun di kepalanya.
Saat ia bangkit hendak ke kamar mandi telpon yang ada
di kamarnya berdering. Ia kaget, dalam hati ia bertanya siapa
yang telpon, baru saja sampai sudah ada yang telpon.
"Ya, hello. Ini siapa ya?"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
105
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Ini Sara, Tuan Furqan. "
"Sara siapa ya?"
"Sara Zifzaf, mahasiswi Cairo University yang berkenalan
dengan Tuan diperpustakaan dua bulan yang lalu. "
"Sebentar, Sara yang tinggal di Mohandisin itu ya?"
"Iya benar."
"Kok bisa tahu saya di sini!?" Tanya Furqan heran. Ia
heran bagaimana mungkin ada orang yang tahu ia ada di hotel
itu dan tahu nomor kamarnya. Apalagi dia adalah gadis Mesir
yang berkenalan tidak di sengaja di Perpustakaan. Setelah itu
tidak pernah bertemu lagi sama sekali. Ia berkenalan dengan
Sara di perpustakaan. Gara garanya, saat itu perpustakaan
penuh. Tidak ada lagi kursi kosong kecuali satu kursi di dekat
seorang gadis Mesir. Ia terpaksa duduk di situ. Ia membaca
dan menulis hal-hal penting dengan laptop-nya di samping
gadis itu. Entah kenapa gadis itu lalu mengajaknya bicara dan
terjadilah perkenalan itu.
Gadis itu adalah Sara. Dia memperkenalkan diri sebagai
mahasiswi Cairo University yang tinggal di Mohandisin. Gadis
itu ingin mengajaknya banyak bicara, Tapi ia minta maaf tidak
bisa banyak bicara, sebab banyak yang harus ditulisnya.
"Kebetulan tadi saya menemani ayah saya bertemu
koleganya di hotel ini. Saat saya hendak meninggalkan lobby
saya sempat melihat Tuan Furqan di meja resepsionis. Maka
saya tanya pada resepsionis untuk meyakinkan saya bahwa
yang saya lihat tidak salah. Dan ternyata benar. Sebenarnya
saya ingin bertemu langsung dengan Tuan Furqan. Tapi
sayang saya ada janji dengan seorang teman di Giza. Ini saya
menghubungi Tuan di jalan, dalam perjalanan ke Giza."
"Ada keperluan apa Anda menghubungi saya, Nona?'
Habiburrahman El Shirazy
106
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Saya ingin mengundang Anda makan malam bersama?"
"Ya makan malam bersama?"
Furqan kaget, ia baru sekali bertemu dengan gadis Mesir
itu. Tapi gadis Mesir itu bisa tidak lupa padanya. Ia saja jika
bertemu lagi dengan gadis itu di jalan mungkin sudah lupa.
Terus baru sekali bertemu sudah berani mengundang makan
malam. Ia heran. Itu bukanlah watak asli gadis Mesir. Watak
asli gadis Mesir adalah menjaga diri dengan rasa malu yang
berlapis lapis.
"Saya mengundang Tuan nanti malam jam 19.30 di Abu
Sakr Restaurant di Qashr Aini Street, tepat di depan Qashr El
Aini Hospital. Setelah berkenalan dengan Tuan di perpustakaan
itu, saya lalu mencari data lebih jauh tentang Tuan di bagian
kemahasiswaan. Saya jadi mengetahui banyak hal tentang
Tuan. Saya juga sering melihat Tuan melintas di gerbang
kampus, tapi Tuan pasti tidak tahu. Saya harap Tuan bisa memenuhi
undangan saya malam ini" Suara Sara itu terasa indah
ditelinga. Bahasa 'Amiya Mesir jika diucapkan oleh gadis
Mesir memiliki sihir tersendiri. Sihir yang tidak dimiliki jika
diucapkan oleh kaum laki-laki. Furqan berpikir sejenak lalu
menjawab dengan tegas,
"Maaf, mungkin saya tidak bisa Nona. Ada yang harus
saya kerjakan."
"Tidak harus Tuan jawab sekarang. Lihat saja nanti
malam, jika ada waktu silakan datang. Jika tidak, tidak apa.
Namun saya sangat senang jika Tuan bisa datang. Ini saja
Tuan, maaf mengganggu. Sampai bertemu nanti malam.
Syukran."
"Afwan."
Seketika ada tanda tanya besar dalam kepala Furqan,
kenapa gadis yang baru begitu ia kenal itu mengundangnya
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
107
Ilyas Mak’s eBooks Collection
makan malam? Sangat aneh untuk adat wanita Mesir kebanyakan.
Ia merasa heran.
"Ah, emang gua pikirin. Gua ke sini bukan untuk memenuhi
undangan makan, tapi untuk persiapan sidang tesis tiga
hari yang akan datang. Ah sekarang shalat, makan siang, istirahat
lalu belajar dengan tenang." Kata Furqan pada diri sendiri,
meskipun undangan makan malam dari Sara di salah satu
restauran berkelas itu, mau tidak mau, hinggap juga di pikiran
dan menimbulkan seribu tanda tanya.
Di luar hotel, angin musim semi mencumbui sunga Nil
dengan mesra. Sinar matahari memancarkan kehangatan dan
rasa bahagia.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Cheap Web Hosting | new york lasik surgery | cpa website design