Usai shalat Zuhur di masjid Al Azhar, Azzam melangkahkan
kakinya menuju kampus Fakultas Ushuluddin, Al Azhar
University . Ia keluar masjid lewat pintu utara. Menyusuri
trotoarAl Azhar Street yang melintas tepat di utara masjid.
Jalan raya itulah yang memisahkan Masjid Al Azhar dengan
kantor Grand Syaikh Al Azhar yang lama, kantor yang biasa
disebut Masyikhatul Azhar. Masjid Al Azhar, Universitas Al
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
109
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Azhar, pasar tradisional Al Azhar, serta Mustasyfa 21 Husein
berada di sebelah selatan jalan.
Sedangkan Masyikhatul Azhar yang lama, Masjid Sayyidina
Husein, Khan Khalili, dan toko buku paling populer di
sekitar kampus Al Azhar yaitu Dar El Salam, berada di sebelah
utara jalan. Lalu lintas di jalan ini cukup padat. Untuk
menghubungkan kawasan utara dan selatan ada terowongan
bawah tanah yang tepat berada di halaman barat Masjid Al
Azhar. Juga ada jembatan penyebe-rangan yang berada di
sebelah barat toko buku Dar El Salam. Kawasan ini, semuanya,
dikenal dengan Maydan Husein.
Masjid Al Azhar, dan kampus Universitas Al Azhar yang
lama dikenal berada di kawasan Maydan Husein. Sedangkan
kampus Al Azhar yang baru, termasuk rektorat Al Azhar
berada di Madinat Nasr atau dikenal juga dengan sebutan
Nasr City. Untuk kantor Grand Syaikh Al Azhar yang baru,
berada tepat di sebelah selatan Daarul Ifta'.
Daarul Ifta' adalah tempat dimana Mufti Mesir berkantor.
Keduanya berdiri tepat di tepi barat Shalah Salim Avenue,
yang membentang dari kawasan Cairo lama, tepatnya dari
kawasan Malik El Shaleh, terus melintas di depan Benteng
Shalahuddin hingga ke kawasan Abbasea. Shalah Salim Avenue,
ini termasuk jalan raya yang paling terkenal di Cairo,
karena banyak melintasi daerah daerah penting dan bersejarah.
Melintas di kawasan yang dianggap paling tua hingga
kawasan yang dianggap metropolis.
Letak Masyikhatul Azhar yang baru dan Daarul Ifta’ tidak
begitu jauh dari kampus Al Azhar, masih bisa ditempuh
dengan berjalan kaki. Tepat di depan Masyikhatul Azhar yang
baru dan Daarut Ifta' terbentang pekuburan terluas di Cairo.
Orang yang pertama kali datang ke Cairo dan melewati
21 Rumah Sakit
Habiburrahman El Shirazy
110
Ilyas Mak’s eBooks Collection
daerah ini tidak akan langsung tahu kalau kawasan itu adalah
pekuburan. Sebab banyak sekali bangunan berkubah. Beberapa
bangunan malah ada yang bermenara Ternyata bangunan
yang berkubah itu adalah kuburan para khalifah dan orang
orang penting. Bagi umat Islam, pekuburan ini adalah pekuburan
tertua setelah pekuburan yang ada di sebelah timur
Mesir lama atau Fusthath.
Di sebelah timur Mesir lama, ada daerah yang dikenal
dengan sebutan City of the Dead. Sebuah kawasan yang di situ
menyatu antara pekuburan dan perkampungan. Makam dan
Masjid Imam Syafi'i ada di sini. Makam Imam Waqi' yang
dikenal sebagai salah satu guru Imam Syafi'i juga ada di sini.
Imam Zakaria AL Anshari dan Imam Leits juga dimakamkan
di sini. Bahkan makam Imam Hasan Al Banna juga ada di sini.
Kawasan ini dulunya, merupakan tempat tinggalnya para
imam besar. Di sebelah utara daerah ini ada kawasan pekuburan
raja-raja Mameluk.
Sedangkan pekuburan di depan Masyikhatul Azhar yang
baru dan Daarul Ifta' dikenal sebagai tempat disemayamkannya
Dinasti Qaitbay. Pekuburan ini dikelilingi oleh beberapa
masjid bersejarah. Masjid Sultan Barquq ada di pinggir
utara kawasan ini. Sedangkan Masjid Qaitbay ada di pinggir
timur, tepat di samping jalan El Nasr. Dan di sebelah selatan,
beberapa ratus meter di utara Benteng Shalahuddin berdiri
Masjid Emir Khair Bey.
Kawasan ini, sekarang tidak murni sebagai kawasan pekuburan.
Bangunan yang tampak kotak-kotak dan sebagian
berkubah yang memenuhi kawasan itu, banyak yang telah
dijadikan tempat tinggal orang-orang yang tidak punya tempat
tinggal. Daerah ini mungkin bisa disebut kawasan paling
aneh di Cairo, manusia yang masih hidup bisa sedernikian
nyaman dan akrabnya dengan jasad dan tulang-belulang
orang yang telah mati.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
111
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Daerah ini bahkan kini nyaris mirip perkampungan.
Namun fungsinya sebagai tempat menguburkan orang yang
merunggal dunia juga masih berjalan. Hampir semua mahasiswa
Asia Tenggara yang tinggal di Nasr City, jika berangkat
kuliah ke Al Azhar pasti melewati daerah ini.
Bagi mahasiswa Indonesia yang berasal dari Solo, atau
sangat paham, dengan Solo, setiap melintasa kawasan ini akan
diingatkan dengan kawasan pemakaman terluas di Solo, yaitu
makam Bonoloyo. Tidak sama persis memang. Paling tidak
diingatkan akan adanya manusia yang tinggal sehari-hari di
makam Bonoloyo. Makan dan tidur di Bonoloyo. Sehari-hari
hidup di atas kuburan. Hal itulah paling tidak titik persamaan
keduanya.
Ia masuk area kampus lewat pintu gerbang sebelah barat.
Seorang duf’ah 22 berseragam putih tersenyum padanya. Ia
membalas dengan senyum seraya mengucapkan salam. Ia terus
melangkah menuju gedung Fakultas Ushulud-din. Ia berjalan
menuju tempat penjualan muqarrar, atau diktat kuliah.
Buku muqarrar Tafsir Tahlili masih kurang satu.
Tempat penjualan muqarrar Pakultas Ushuluddin itu tak
lain adalah bangunan kecil beeukuran kira-kira 2 X 2 meter.
Terbuat dari kayu dan papan. Dicat hijau. Sangat sederhana
untuk nama besar Al Azar, sebagai universitas tertua dan
paling berpengaruh di dunia Islam. Seorang penjaga berada di
dalamnya. Tempat itu mirip warung penjual rokok dan makanan
kecil di pinggir-pinggir jalan di Indonesia. Ada pintu
kecil tempat penjaga itu keluar masuk dan ada jendela tempat
melayani mahasis-wa yang beli muqarrar.
Tempat peenjualan muqarrar itu agak sepi. Hanya satu
dua mahasiswa yang beli. Memang menjelang akhir semester,
22 Tentara wajib militer
Habiburrahman El Shirazy
112
Ilyas Mak’s eBooks Collection
hampir semua mahasiswa telah memegang muqarrar. Bahkan
muqarrar itu mungkin telah habis dibaca. Kecuali beberapa
mahasiswa yang memang terlambat beli muqarrar, termasuk
dirinya.
Buku kedua muqarrar Tafsir Tahlili sebenarnya sudah
keluar satu bulan yang lalu. Namun ia belum sempat untuk
mengambilnya. Karena kondisi pribadinya menghalanginya
untuk bisa benar-benar aktif kuliah seperti mahasiswa Al
Azhar pada umumnya. Kesibukan hariannya membuat tempe
dan memasarkannya nyaris menyita hampir sebagian waktu -
nya di Cairo. Apalagi jika ada order membuat bakso atau sate
ayam dari bapak bapak atau ibu-ibu KBRI, nyaris ia tidak bisa
menyentuh buku, termasul buku muqarrar yang semestinya ia
sentuh. Kecuali Al-Quran, dalam sesibuk apapun tetap merasa
harus menyentuhnya, membacanya meskipun cuma sete-ngah
halaman lalu menciumnya dengan penuh rasa takzim dan
kecintaan. Ia merasa, dalam perjuangan beratnya di negeri
orang, Al-Quran adalah pelipur dan penguat jiwa.
Sampai di depan jendela tempat penjualan muqarrar, ia
melongok. Sang penjaga lagi menulis sesuatu di atas kertas.
Angka-angka. Mungkin menghitung uang yang masuk bulan
itu, serta membagi hasilnya pada para dosen penuhs muqarrar.
Ia tampak begitu serius sehingga tidak memperhatikan kehadirannya.
"Assalamu'alaikum ya Ammu Shabir." Sapanya dengan nada
nyaris sama dengan nada orang Mesir asli. Ia sangat kenal
nama penjaga itu, meskipun mungkin sang penjaga tidal
mengenalnya.
"Wa'alaikumussalam, lahdhah. " 23 Ammu Shabir menjawab
tanpa melihat ke asal suara.
23 Wa’alaikumussalam, sebentar!
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
113
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Ia tahu Ammu Shabir,24 penjaga buku muqarrar sedang
se-rius, tidak bisa diganggu. Ia menunggu sambil melihat-lihat
beberapa buku yang dipajang di daun jendela tempat
penjualan muqarrar. Yang dipajang biasanya, buku-buku terbaru
karya dosen-dosen Al Azhar University, atau buku penting
yang dicetak ulang. Ia perhatikan buku-buku baru itu
dengan seksama.
Prof. Dr.Abdul Muhdi Abdul Qadir Abdul Hadi, Guru
Besar Hadis Fakultas Ushuluddin mengeluarkan buku baru
yang sangat menarik, Ahaditsu Mu'jizatir Rasul, terdiri atas
dua juz, dicetak oleh Mathba'ah AL Madani, kover sampul
bukunya cukup sedap dipandang Buku buku Profesor hadis
yang disebut-sebut juga sebagai salah satu murid Syaikh
Nashiruddin AI Albani ini termasuk yang banyak diminati.
Kepakarannya di bidang sanad dan dibarengi kematangannya
dalam fiqhul hadits-lah yang membuat karya-karyanya dianggap
sangat berbobot.
Dalam hal fiqhul hadits bahkan banyak yang berpendapat
beliau lebih matang dibandingkan dengan gurunya, Syaikh
Jashiruddin Al Albani sekalipun. Prof. Dr. Thal'at Muhammad
Afifi Salim, Guru Besar Fakultas Dakwah, menulis buku baru
berudul "Akhlaqut Du'at Ilallah, An Nadhariyyah wat Tathbiq. "
Buku itu berwarna biru tua. Judulnya ditulis dengan warna
kuning keemasan. Diterbitkan oleh Maktab Al Iman, penerbit
yang bermar-kas dibelakang kampus Al Azhar, disebuah
lorong sempit, dikenal dengan harganya yang selalu murah
dari yang lain.
Sementara Sang Maestro Ilmu Tafsir Universitas Al
Azhar, Prof. Dr. Ibrahim Khalifah menulis buku "Ad Dakhil fit
Tafsir ", diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin. Buku tersebut
bersampul putih polos tanpa hiasan apa pun. Buku maestro
24 Ammu, artinya paman
Habiburrahman El Shirazy
114
Ilyas Mak’s eBooks Collection
tafsir ini, meskipun tanpa hiasan dan desain sampul yang
memikat tetap menunjukkan kelasnya. Nama Ibrahim Khalifah
adalah jaminan kualitas.
Prof. Dr. Hamdi Zaqzuq, Guru Besar Filsafat, JeboIan
Muenchen University, Jerman, yang dikenal pakar Orientalis
menerbitkan kembali bukunya berjudul "Al Istisyraq wal Khalfiyyah
Al Fikriyyah Lish Shira' Al Hadhari", diterbitkan oleh
Dar El Manar, penerbit yang bermarkas di samping Masjid
Sayyidina Husein.
Ia memandangi buku-buku itu dengan mata berkaca -kaca.
Ingin sekali rasanya memiliki buku buku baru itu, lalu mela -
hapnya dengan penuh konsentrasi seperti tahun pertama
hidup di Mesir dulu. Tahun pertama yang indah, saat ia bisa
menggunakan waktunya untuk belajar, bisa melampiaskan
obsesinya membaca buku sebanyak banyaknya.
Dulu, saat ia tidak harus membanting tulang dan memeras
keringat dan otak untuk mempertahankan hidupnya dan
adik-adiknya di Indonesia. Ia hanya berdoa, semoga kesem -
patan untuk belajar dan membaca dengan serius itu datang
lagi, suatu hari nanti. Dan semoga waktu yang ia jalani selama
di bumi Kinanah ini tetap diberkahi oleh Dzat yang mengatur
hidup ini.
"Na'am ya Andonesi Enta ‘ais eh?"25 Suara penjaga membuyarkan
keasyikannya melihat buku-buku yang terpajang di
daun jendela tempat penjualan muqarrar."Muqarrar Tafsir
Tahlili juz dua, jurusan tafsir, tahun empat." Ia menjelaskan
spesifikasi buku muqarrar yang ia maksud.
"Mana juz pertamanya, kamu bawa?"
Ia membuka tas ranselnya, dan mengeluarkan buku berwarnabiru
muda.
25 Orang Indonesia, apa yang kau inginkan?
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
115
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Ini"
Sang penjaga lalu membuka halaman paling akhir. Ia
mencoret stempel bertuliskan "masih ada juz kedua" dengan
tinta merah. Kemudian mengambil sebuah buku yang juga
berwarna biru muda.
"Tafadhal, kudz dza ya Andonesi."26
Ia menerima dua buku yang diulurkan oleh penjaga, dan
memeriksanya sebentar. Tak perlu membayar lagi, sebab telah
ia bayar saat membeli juz satu.
"Syukran ya Ammu."27
"Afwan. "
Ia lalu melangkah menapaki tangga di depan pintu
masuk. Di sana ia mendapati pengumuman ditulis dengan
spidol warna hitam dan biru. Pengumuman sidang terbuka
ujian disertasi doktor seorang mahasiswa jurusan hadis dari
Syiria. Ia baca pengumuman itu dengan seksama. Matanya
berkaca-kaca. Ia tak sanggup membayangkan, mungkinkah
suatu saat nanti namanya ditulis dalam sebuah pengumuman
seperti itu. Pengumuman yang membanggakan, untuk diri
sendiri dan bangsa. Pengumuman yang dibaca oleh mahasiswa
dari pelbagai penjuru dunia. Ia hanya bisa mendesah untuk
kemudian pasrah pada takdir. Bisa lulus S.1 tahun ini saja
sudah alhamdulillah.
Dulu di awal tahun masuk Al Azhar, ia mungkin adalah
mahasiswa Indonesia paling idealis. Begitu namanya tercatat
sebagai mahasiswa Al Azhar Pakultas Ushuluddin, dan begitu
ia terima kartu mahasiswa, seketika ia proklamirkan sebuah
cita-cita: AKU TAK AKAN PULANG KE INDONESIA
26 Silakan ambil ini, hai orang Indonesia.
27 Terima kasih, paman.
Habiburrahman El Shirazy
116
Ilyas Mak’s eBooks Collection
SEBELUM MENGONDOL DOKTOR. DAN AKAN AKU
BIKIN REKOR SEBAGAI DOKTOR TERCEPAT DI AL
AZHAR!
Saat itu ia langsung teringat nama-nama besar jebolan
Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar. Nama-nama yang
sangat terkenal di dunia Islam: Syaikh Abdul Halim Mahmud,
Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh Yusuf AL Qardhawi,
Syaikh Abdullah Darraz, Prof. Dr. M. M. Al-Azami, Prof. Dr.
Ahmad Umar Hasyim, Prof. Dr. Hamdi Zaqzuq, Prof. Dr.
Abdul Muhdi, dan lain sebagainya. Sementara dari Indonesia
ada nama yang sangat terkenal yaitu Prof. Dr. M. Quraish
Shihab dan Prof. Dr. Roem Rowi. Mereka berdua adalah
lulusan Fakultas Ushuluddin Al Azhar University .
Ia masih ingat dulu, di atas meia belajarnya ia menuIis
semboyan yang membuatnya selalu bersemangat, semboyan
yang selalu membuatnya merasa optimis: AKU HARUS MENGUKIR
SEJARAH! Ia lalu menulis nama-nama besar itu
dan di deret paling akhir ia menulis namanya sendiri: Prof. Dr.
Khairul Azzam, MA. Ia tidak pernah mempedulikan beberapa
respon miring dari teman-temannya atas ulahnya itu. Baginya
itu adalah bagian dari strateginya untuk menjaga semangat
belajar dan mengejar cita -citanya.
Ia tesenyum sendiri mengingat itu semua. Kini semuanya
jadi kenangan manis. Ia sangat sadar, betapa jauhnya ia saat
ini dari cita-citanya. Semuanya telah berubah. Ia tidak bisa lagi
konsentrasi seratus persen pada mata kuliah. Saat ini konsentrasinya
lebih banyak tercurah bagaimana mencari uang untuk
hidupnya sendiri di Cairo, juga kelangsungan hidup adik-adiknya
di Indonesia. Ia lebih banyak pergi ke Pasar Sayyeda
Zaenab untuk membeli bahan dasar membuat bempe dan
bakso daripada ke kampus untuk kuliah dan mendengarkan
uraian ilmiah para guru besar yang sesungguhnya sangatsangat
ia cintai.
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
117
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Tak terasa matanya berkaca -kaca. Dengan cepat ia menghapus
air matanya yang mau keluar. Kenapa ia harus meneteskan
air mata. Apa yang harus ditangisinya. Ia langsung tersadarkan,
kesuksesan sejati tidaklah semata-mata hanya bisa
diraih dengan meraih gelar Profesor Doktor. Dan kebahagiaan
sejati tidak harus berupa nama besar yang disebut di manamana.
Ia harus tahu siapa dirinya dan seperti apa kondisi dirinya
agar tidak menzalimi dirinya sendiri.
Ia lalu masuk ke gedung Fakultas Ushuluddin. Beberapa
mahasiswa lalu laIang. Ada yang turun dari lantai atas, ada
yang mau naik ke aias. Ada yang baru dari bagian kemahasiswaan
dan ada yang bergegas keluar mau pulang. Ketika ia
mau naik lantai satu, sekonyong-konyong ia mendengar seseorarlg
memanggil nama terkenalnya di kalangan mahasiswa
Indonesia di Cairo.
"Kang Insinyur!"
Ia menoleh ke asal suara. Seseorang melangkah ke arahnya
sambil tersenyum. Ia pun tersenyum. Ia tidak pernah protes
dipanggil ‘Kang Insinyur’, atau ‘Kang Ir.’, terkadang ada
juga yang membahasa-arabkan jadi ‘Kang Muhandis’. Tapi
orang-orang satu rumahnya biasa memanggil ‘Kang Azzam.’
Pada mulanya panggilan insinyur adalah panggilan ledekan
dari teman-teman satu angkatan, karena kepin-tarannya
membuat tempe dan bakso. Mereka menyebut-nya insinyur
tempe bakso, seringkali disingkat Ir. Tempe atau Ir. Bakso.
Lama-lama tinggal insinyur. Tempe dan baksonya tak ada.
Dan setiap kali ada acara dia selalu dikenalkan dengan nama
"Kang Insinyur Khairul" atau "Kang Insinyur Irul".
Sekarang panggilan insinyur jadi kebanggaan sekaligus
hiburan baginya. Seringkali ia mendapat undangan dari
organisasi kekeluargaan dan di sana tertulis: Yth. Mas Ir. H.
Habiburrahman El Shirazy
118
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Khairul Azzam. Siapa tidak bangga tanpa sekolah di fakultas
teknik sudah dapat gelar Ir. alias insinyur
Apapun kata orang tentang dirinya, selama ia merasa
dirinya tidak berbuat yang dilarang Allah ia tidak pernah peduli.
Dalam hal ini ia selalu dimotivasi oleh perkataan Pythagoras,
seorang filsuf dan ahli matematika Yunani yang hidup
580-800 S.M. Pytagoras pernah berkata:
"Tetaplah puas melakukan perbuatan yang baik. Dan biarkanlah
orang lain membicarakan dirimu sesuka mereka. "
"Hei kamu tho Mif, piye kabarmu?"28
"Alhamdulillah, baik-baik saja Kang."
Keduanya lalu berjabat tangan.
"Tumben kuliah Kang?"
"Nggak kuliah kok Mif. Ini baru datang. Ngambil muqarrar.
Trus mau nemui si Khaled, anak Mesir yang satu kelas
denganku. Mau minta tahdid. Aku janjian dengannya di
Mushala."
"Kang, ada berita menarik?"
"Apa itu? Nanti malam ada Syaikh Yusuf Al Qardhawi di
Darul Munasabat 29 Masjid Utsman bin Affan, Heliopolis.
Kalau mau datang, shalat Maghrib di sana. Tempat ter-batas.
Sampeyan kan pengagum abis Yusuf Al Qadhawi."
"Nggak tau ya Mif, bisa datang apa nggak ya nanti
malam."
"Sayang lho Kang kalau nggak datang. Apalagi selain
Syaikh Yusuf- Al Qardhawir ada Prof. Dr. Murad Wilfred
Hofmann, Mantan Dubes Jerman untuk Maroko yang masuk
28 Apa kabar?
29 Gedung serba guna
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
119
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Islam dan kini jadi pembela Islam di Eropa. Temanya tentang
Umat Islam dan Tatanan Dunia Baru. "
"Wis, doakan aja bisa datang Mif, eh itu yang kamu
pegang apa Mif, tashdiq ya?"
"Iya Kang, ini tinggal minta stempel."
"Cari tashdiq untuk apa Mif? Mau umrah?"
"Nggak Kang. Ini untuk memperpanjang visa. Bulan depan
habis."
"O, kirain mau umrah lagi. Kalau umrah lagi kan bisa
nitip. "
"Doakan Kang, habis ujian nanti saya mau umrah, insya
Allah."
"Masih bisa nitip kan?"
"Sama Miftah beres deh Kang. Saya jalan dulu Karg, mau
nyetempelin ini nih. Nanti keburu tutup bagian Stempel.
Ketemu diHeliopolis nanti malam Kang"
"Semoga. Salam untuk teman-teman di Darmalak ya
Mif'"
"Insya Allah Kang."
Ia mengiringi langkah Miftah dengan senyum. Miftah,
empat tahun lalu dia yang menjemput di Bandara. Dia iuga
yang membimbingnya empat bulan pertama hidup di Mesir.
Setelah itu pindah ke Darmalak bersama kakak-kakak kelasnya
dari Pesantren Maslakhul Huda, Pati.
Kini Miftah sudah di tingkat akhir sama dengan dirinya.
Selama ini hubungannya dengan teman-teman dari Pati di
Darmalak seperti layaknya saudara. Miftah sudah ia anggap
seperti adiknya sendiri. Hanya saja kesibukannya membuat
tempe sekaligus memasarkannya ke pelbagai titik di Kota
Habiburrahman El Shirazy
120
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Cairo membuatnya tidak punya banyak waktu untuk sila -
turrahmi.
Ia sendiri mengakui, bahwa silaturahminya ke Darmalak
seringkali dilakukannya bila ada teman Darmalak yang mau
pergi umrah atau haji. Atau saat ada yang datang dari umrah
atau haji. Ia seringkali nitip dibelikan ragi di Tanah Suci. Di
Mesir ia telah mencari ke sana kemari, tidak ada yang menjual
ragi yang merupakan bahan utama untuk membuat tempe.
Selain ragi, ia biasanya juga nitip kecap dan saos yang
sangat penting baginya dalam menyajikan baksonya saat dipesan
orang-orang KBRI. Kecap juga tidak bisa ia tinggalkan
saat membuat sate ayam. Dan ia tidak bisa menggunakan sem -
barang kecap. Kecap Cap Jempol buatan Boyolali yang ia anggap
paling pas untuk racikan bumbunya. Dan kecap Cap Jempol
itu tidakbisa ia dapatkan di Mesir. Kecap itu bisa didapatkan
dari Toko Asia, dekat Pasar Seng di Makkah. Temanteman
yang pergi umrah atau hajilah yang menjadi penolongnya
dalam mendatangkan kecap Cap Jempol itu. Biasanya
sebagai ucapan terima kasih dia akan membawakan beberapa
lembar tempe untuk mereka.
Di Cairo, tempe termasuk makanan istimewa bagi mahasiswa
Indonesia. Sama istimewanya dengan daging ayam. Bahkan
jika disuruh memilih antara telor dan tempe, banyak mahasiswa
Indonesia yang lebih memilih tempe.
Ia terus melangkah menuju mushala. Ada yang menyesak
dalam dada. Kabar adanya ceramah Dr. Yusuf Al Qardhawi
yang datang dari Qatar bersama Dr. Murad Wilfred Hofmann
di Heliopolis membuncahkan ke-inginannya untuk hadir, tapi
ia merasa itu sulit. Ulu hatinya seperti tertusuk paku. Pedih
dan ngilu. Ia harus bersabar dengan pekerjaan rutinnya mengantar
tempe ke beberapa tempat. Masakin Utsman, Abbas
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
121
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Aqqad, dan Hay El Thamin. Paling cepat selesai jam sembilan
malam. Ia tidak mungkin mengejar ke Heliopolis.
Matanya kembali berkaca -kaca. Ada yang terasa menyesak
dalam dada. Sebenarnya sangat ingin ia bertemu langsung
dengan Dr. Yusuf Al Qardhawi. Ulama moderat jebolan Al
Azhar yang sangat brilian pemikiran- pemikirannya. Ia juga
sangat ingin bertemu Prof. Dr. Murad Wilfred Hofmann.
Bukunya berjudul Islam fil Alfiyyah Ats Tsalitsah atau Islam di
Millineum Ketiga, yang sempat ia baca dua puluh lima hala -
man saja itu sangat mengesan di hatinya. Dan ia harus rela
menelan rasa pahit. Keinginannya yang sesungguhnya sangat
besar itu harus ia simpan rapat-rapat di dalam satu ruang
mimpinya.
Itu bukan rasa pahit yang pertama ia rasakan. Telah berkali-
kali ia merasakan hal seperti itu. Ia hanya berharap semoga
suatu kelak nanti Alkah memberikan gantinya. Jika pun ia
harus pulang ke Tanah Air nanti dengan bekal yang pas-pasan
karena hari-harinya lebih banyak ia habiskan usaha berjualan
tempe, bakso dan sate daripada membaca kitab, menghadiri
kuliah, seminar dan diskusi, ia berharap yang pas-pasan, yang
sedikit itu berkah dan bermanfaat. Harapan itulah yang
menghibur hatinya.
Ia terus melangkahkan kakinya menuju mushala fakultas.
Ia berharap semoga Khaled, mahasiswa Mesir itu masih berada
di mushala. Biasanya mahasiswa berwajah putih bersih
dari Desa Sanhur yang terletak antara Kota El Faiyum dan
Danau Qarun itu me-muraja'ah 30 hafalan Quran-nya di
mushala. Setiap hari habis shalat Zuhur. Ia akrab dengannya
sejak berkenalan dengannya di acara itikaf sepuluh hari terakhir
bulan Ramadhan di Masjid Ar Ridhwan, Hayyu Tsabe
tahun lalu. Sudah beberapa kali Khaled mengunjungi flatnya
30 Mengulang hafalan Al -Quran agar tidak lupa.
Habiburrahman El Shirazy
122
Ilyas Mak’s eBooks Collection
dan sudah dua kali ia diajak Khaled ke desanya sekaligus melihat
Danau Qarun yang letaknya hanya beberapa kilo dari
desanya. Tempat yang kini berwujud danau itu diyakini sebagai
tempat ditenggelamkannya seluruh harta Qarun ke dalam
bumi oleh Allah karena Qarun mengingkari nikmat Allah.
Danau itu kini jadi salah satu tempat wisata yang cukup terkenal
di Mesir.
Ia terus melangkah Mushala ada di depan mata. Tiga
mahasiswa dari Rusia keluar dari mushala. Seorang mahasiswa
berkulit hitam sedang melepas sepatunya. Masih ada jamaah
yang sedang shalat. Ia masuk dengan tenang. Hatinya senang
ketika matanya menangkap sosok berjalabiyah putih dan
berkopiah putih duduk di salah satu sudut mushala menghadap
kiblat. Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit
melantunkan ayat ayat suci Al-Quran dengan irama cepat. Ia
mendekat. Benar dugaannya. Sosok itu adalah Khaled.
Ia meletakkan tas, dan duduk di samping Khaled. Punggungnya
ia rebahkan ke dinding mushala. Kedua kakinya ia
selonjorkan. Ia menarik nafas pelan. Meme-jamkan mata. Lalu
larut khusyuk mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran.
Bacaan yang cepat, fasih dan enak didengar. Tidak keras juga
tidak lirih. Ia menyimak dengan sepenuh hati. kesejukan yang
tiada terkira. Kesejukan yang melebihi embun pagi musim
semi.
Sepuluh menit kemudian bacaan ayat-ayat Ilahi itu berhenti.
Ia membuka mata dan menyapa,
"Assalamu'alaikum ya Akhi."
Khaled menolehke arahnya. Sedikit kaget.
"Wa 'alaikumussalam wa rahmatullah. Masya Allah, Akhi
Azzam, sudah lama?"
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
123
Ilyas Mak’s eBooks Collection
Khaled selalu menyambutnya hangat dan selalu memanggilnya
dengan sebutan akhi di depan namanya, Azzam. Itulah
nama yang ia kenalkan pada Khaled saat pertama kali kenalan
tiga tahun yang lalu. Setiap Khaled memanggil namanya, ia
merasakan ada keakraban yang kuat terjaga.
"Ada sedikit waktu untuk bincang-bincang, Akhi Khaled?"
"Tentu, dengan senang hati. Seluruh waktuku untukmu
Akhi. "
"Bisa dijelaskan tahdid yang telah ada. Mana-mana yang
muhim, muhim jiddan, makhdzuf, dan mana yang qiraah faqad?"
"Dengan senang hati, ya Siddi." 31
Khaled lalu membuka buku catatannya, dan menjelaskan
kepada Azzam tahdid semua mata kuliah yang telah ia
dapatkan selama mengikuti kuliah. Ia menjelaskan satu per
satu dengan detil dan sabar. Ia juga memberi kesempatan
kepada Azzam untuk bertanya. Dan semua pertanyaan ia
jawab panjang lebar, sampai Azzam merasa puas.
"Ada hal lain yang bisa saya bantu ya Syaikh Azzam.? "
"Cukup, insya Allah. Jangan kapok kalau saya tanya iniitu."
"Ana fi khidmatik ya Siddi."32
"Jazaakallah khairan."33
"Sekarang gantian saya. Sebenarnya sejak dua hari yang
lalu aku mencarimu untuk suatu urusan. Boleh kan saya
menyampaikan sesuatu padamu?"
31 Siddi, tuanku.
32 Saya selalu siap membantumu, Tuanku.
33 Semoga Allah membalas (kebaikanmu) dengan kebaikan.
Habiburrahman El Shirazy
124
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Dengan senang hati jika ada yang bisa saya bantu."
"Masih ingat kunjunganmu ke kampungku dua bulan
yang lalu? "
"Ya. Kunjungan yang menyenangkan. Kampung yang
menenteramkan. Dan sambutan yang hangat dan penuh persaudaraan.
Saya sangat terkesan. Jazakumullah khaira."
"Ingat ketika engkau kubawa ke rumah Syaikh Abbas? "
"Yang Imam masjid itu?"
"Tepat."
"Ingat saat kita dijamu dirumanya."
"Masya Allah, jamuan yang tidak akan pernah saya
lupakan. Keluarga yang ramah dan sangat berpen-didikan."
"Ingat seseorang yang menyajikan makanan dan minuman."
"Isteri Syaikh Abbas dan seorang perempuan bercadar."
"Kau tahu siapa perempuan bercadar itu?"
"Mungkin puteri beliau. "
"Tepat."
"Ada apa dengan puteri beliau?"
"Begini, Saudaraku...."
Belum sempat Khaled menjelaskan lebih lanjut, seorang
mahasiswa Mesir memakai jubah seragam khas Al Azhar
memanggil Khaled dari pintu mushala,
"Ya Khaled, sur'ah! " 34
"Ada apa?"
34 Khaled, cepat!
Ketika Cinta Bertasbih Buku I
125
Ilyas Mak’s eBooks Collection
"Doktor Yahya memanggilmu di ruang kerjanya. Kau
harus ke sana sekarang. Penting!"
"Sekarang?"
"Ya ayo cepat. Beliau tergesa-gesa mau ada urusan!"
"Mmm. Baik"
Khaled memasukkan buku yang tadi dibacanya ke dalam
tas. Lalu berkata pelan, "Akhi Azzam, afwan, saya tinggal
dulu. Kita lanjutkan pembicaraan kita di lain kesempatanya."
"O ya baik. Salam buat Doktor Yahya."
"Insya Allah."
Khaled bergegas keluar. Sementara Azzam, ia terpekur di
mushala dengan sebagian hati didera penasaran: apa sesungguhnya
yang akan dibicarakan Khaled tentang putri bungsu
Syaikh Abbas itu? Sementara sebagian hatinya yang lain telah
mengembara di Pasar Sayyeda Zainab. Ya ia harus ke sana
untuk belanja bahan baku membuat tempe dan bakso. Ia harus
ke sana jika ingin tetap bisa hidup dan menyelesaikan kuliah di
Cairo.
Minggu, 12 Desember 2010
8 SIANG DI KAMPUS MAYDAN HUSEIN
Posted by Dini Ariani on 23.15





0 komentar:
Posting Komentar